Berita

Generasi Rebahan: Ancaman Nyata Bagi Kebugaran Anak Indonesia

Oleh: Nur Handayani, S.KM

Pernah mendengar istilah “Generasi Rebahan”? Istilah ini muncul seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Masa sekarang ini, semua hal berbau digital. istilah “generasi rebahan” untuk menggambarkan anak muda yang lebih senang duduk manis atau berbaring dengan gadget ketimbang bergerak aktif. Fenomena ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan ancaman nyata bagi kebugaran anak Indonesia. Dengan derasnya arus konten media sosial, hiburan tanpa batas, hingga layanan serba instan, tubuh anak-anak kita semakin jarang digerakkan sebagaimana mestinya.

Potret Kebugaran Anak Indonesia

Sejumlah survei menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan:

  • Berdasarkan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2023, dari 1.578 anak usia 10–15 tahun di 34 provinsi, kebugaran jasmani anak Indonesia masih tergolong kurang bugar.
  • Survei SKI 2023 menemukan bahwa 7–8 dari 10 peserta didik usia 13–17 tahun tidak aktif secara fisik minimal 60 menit per hari (76,2%).
  • Bahkan, 62% anak usia sekolah tidur kurang dari 8 jam per hari.

Fenomena ini menunjukkan bahwa anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan bergerak. Jika dibiarkan, generasi muda akan menghadapi risiko kesehatan yang serius.

Dampak Kurang Aktivitas Fisik

Kurangnya aktivitas fisik tidak hanya menurunkan kebugaran, tetapi juga membawa konsekuensi jangka panjang :

  • Kurangnya aktivitas fisik pada anak menimbulkan berbagai risiko kesehatan:
  • Obesitas

Menurut Riskesdas 2018, prevalensi obesitas pada anak usia 5–12 tahun di Indonesia mencapai 18,8% dan angka ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

  • Menurunnya Kebugaran Jasmani

Anak yang jarang bergerak mengalami penurunan kekuatan otot, fleksibilitas, dan daya tahan tubuh. Mereka juga lebih cepat lelah saat melakukan aktivitas sederhana.

  • Penyakit Tidak Menular (PTM)

Kebiasaan rebahan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia muda.

  • Gangguan Mental dan Sosial

WHO (2020) melaporkan bahwa screen time berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, serta berkurangnya interaksi sosial pada anak dan remaja.

Rekomendasi WHO untuk Anak dan Remaja

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2020) memberikan panduan penting :

  • Anak dan remaja (5–17 tahun) melakukan aktivitas fisik intensitas sedang–berat minimal 60 menit per hari.
  • Membatasi waktu duduk berlebihan dan screen time rekreasional tidak lebih dari 2 jam per hari.

Artinya, aktivitas fisik bukan hanya kebutuhan, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang harus dibiasakan sejak dini.

Cara Mencegah “Generasi Rebahan”

Beberapa langkah pencegahan yang dapat kita lakukan :

  • Jadwalkan Olahraga Teratur:

Luangkan waktu setiap minggu untuk aktivitas fisik seperti berjalan, bersepeda, atau berenang minimal 150 menit per minggu atau 30 menit per hari.

  • Orang tua: membatasi penggunaan gawai, membiasakan olahraga bersama, serta memberi contoh gaya hidup aktif kepada anak-anaknya
  • Tingkatkan Aktivitas Sehari-hari, misalnya
  • Gunakan tangga daripada lift.
  • Lakukan pekerjaan rumah tangga, seperti berkebun.
  • Berdiri atau berjalan-jalan sebentar saat menonton televisi atau berbicara di telepon.
  • Perhatikan Waktu Duduk yang Panjang:
  • Sisihkan waktu setiap jam untuk melakukan peregangan ringan atau berjalan-jalan sebentar untuk melancarkan peredaran darah.
  • Jika pekerjaan membutuhkan duduk lama, cari cara untuk bergerak lebih sering saat istirahat, misalnya ke toilet atau mengambil air.
  • Manfaatkan Teknologi :

Gunakan perangkat pelacak aktivitas atau aplikasi kebugaran di ponsel untuk memantau langkah Anda dan memotivasi diri untuk tetap aktif.

  • Cari Kegiatan yang Menyenangkan :

Temukan hobi yang melibatkan aktivitas fisik, seperti menari, memasak, atau bersepeda, agar aktivitas lebih menyenangkan.

“Generasi rebahan” bukan sekadar istilah populer, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan anak Indonesia. Jika tidak segera diatasi, generasi muda akan rentan terhadap masalah kesehatan fisik dan mental yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Membiasakan gaya hidup aktif sejak dini adalah investasi besar untuk Indonesia yang lebih sehat dan produktif.

Referensi

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

World Health Organization. (2020). Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: WHO.

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2021. Jakarta: Kemenkes RI.

Tremblay, M. S., et al. (2016). Sedentary Behaviour Research Network (SBRN) Terminology Consensus Project. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 13(1), 75.

Warsito, O., et al. (2021). “Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kebugaran Jasmani pada Anak Sekolah Dasar di Indonesia.” Jurnal Gizi dan Kesehatan, 13(2), 45–52.

Sharing is caring!

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pekan Olahraga KORPRI (PORPRI) Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta 2026

Jumat 24 Juli 2026, Pembukaan Pekan Olahraga KORPRI (PORPRI) Pemda DIY kembali hadir pada tahun 2026 ini. Ajang olahraga …

Peringati Hari Anak Nasional 2026, RS Paru Respira Tegaskan Komitmen Wujudkan Generasi Sehat dan Berkarakter

Bantul, (23/7) Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta kembali mengajak …

Meningkatkan Mutu Pelayanan: Pelatihan Service Excellence RS Paru Respira

Bantu,16Juli2026.Di dunia kesehatan, pelayanan bukan sekadar tugas administratif atau tindakan medis; pelayanan adalah bentuk …

Es Teh Manis Setiap Hari? Segar Sesaat, Dampaknya Bisa Lebih Lama

Oleh : Nur Handayani, S.KM Di tengah cuaca yang semakin panas, segelas es teh manis sering menjadi pilihan utama untuk melepas …

Edukasi Sejak Dini: RS Paru Respira Gelar Penyuluhan Bahaya Rokok dan Vape di MPLS SMP IT LHI

Bantul(14/7)-Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan momen krusial bagi para siswa baru untuk beradaptasi dengan …

RS Paru Respira Terima Kunjungan UPTD Klinik Utama Lawamena dalam Upaya Memperkuat Kolaborasi Pelayanan Kesehatan

Bantul, (13/7) – RS Paru Respira menerima kunjungan dari UPTD Klinik Utama Lawamena, Bhakti Kesehatan Provinsi Maluku dalam …