Category: <span>Artikel</span>

Asap, Polusi Udara, dan Kesehatan Paru: Waspadai Bahaya PM2.5 bagi Pernapasan

Oleh:Susilawati.S.K.M

Kualitas udara menjadi salah satu perhatian penting dalam menjaga kesehatan paru. Paparan polusi udara, termasuk asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama ketika konsentrasi partikel halus di udara meningkat.

   Salah satu polutan yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yaitu partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya yang sangat kecil, PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga bagian terdalam paru-paru.

Kementerian Kesehatan RI pada Agustus 2026 mengingatkan masyarakat di wilayah yang terdampak asap karhutla untuk menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk dan membatasi aktivitas di luar ruangan. Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan asma atau penyakit paru perlu mendapatkan perhatian lebih.

Apa Itu PM2.5?

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain pembakaran bahan bakar, kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran sampah, kebakaran hutan dan lahan, serta sumber polusi lainnya.

Menurut World Health Organization (WHO), partikulat seperti PM2.5 dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan bahkan masuk ke aliran darah. Paparan partikulat dalam jangka pendek maupun jangka panjang berhubungan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Mengapa Polusi Udara Berbahaya bagi Paru?

Ketika seseorang menghirup udara yang tercemar, partikel dan zat berbahaya dapat masuk ke saluran pernapasan. Pada sebagian orang, paparan tersebut dapat menyebabkan iritasi dan memperburuk gejala penyakit pernapasan yang sudah ada.

Paparan polusi udara diketahui dapat berhubungan dengan:

  • Batuk dan tenggorokan terasa mengganjal
  • Sesak atau napas terasa berat
  • Iritasi saluran pernapasan
  • Memburuknya gejala asma
  • Peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan
  • Penurunan fungsi paru
  • Perburukan penyakit paru kronis, termasuk PPOK
  • Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan kanker paru dalam paparan jangka panjang

WHO menyebutkan bahwa kualitas udara yang buruk dapat memperburuk kesehatan pernapasan dan berkontribusi terhadap penurunan fungsi paru. Paparan asap rokok, polusi udara luar ruangan, polusi udara dalam rumah, debu, asap, dan bahan kimia di lingkungan kerja juga merupakan faktor yang dapat memengaruhi kesehatan paru.

Siapa yang Paling Berisiko?

Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap polusi udara.

Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain:

1. Anak-anak

Sistem pernapasan anak masih berkembang sehingga paparan polusi udara perlu diminimalkan. Anak yang terpapar asap atau polusi dapat mengalami batuk, sesak, maupun gangguan pernapasan lainnya.

2. Lansia

Pada kelompok lanjut usia, paparan polusi dapat memperburuk penyakit kronis yang sudah ada. Kementerian Kesehatan menyoroti bahwa paparan polutan ekstrem dapat memperberat PPOK dan meningkatkan berbagai gangguan kesehatan lainnya pada lansia.

3. Ibu Hamil

Ibu hamil termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk. WHO memasukkan ibu hamil sebagai salah satu kelompok yang lebih rentan terhadap dampak kesehatan akibat polusi udara.

4. Orang dengan Asma dan Penyakit Paru

Orang yang memiliki asma, PPOK, atau penyakit paru lainnya dapat mengalami perburukan gejala ketika terpapar polusi udara atau asap.

5. Pekerja yang Banyak Beraktivitas di Luar Ruangan

Pekerja lapangan, petugas konstruksi, pengemudi, dan kelompok lain yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan dapat mengalami paparan polusi lebih lama.

Bagaimana Melindungi Paru dari Polusi Udara?

Ketika kualitas udara menurun, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi paparan.

Pantau kualitas udara

Sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, perhatikan informasi kualitas udara di wilayah tempat tinggal atau tempat beraktivitas. Jika kualitas udara sedang buruk, pertimbangkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Gunakan masker yang sesuai

Ketika berada di wilayah dengan paparan asap atau partikulat tinggi, penggunaan masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel yang terhirup.

Kementerian Kesehatan RI secara khusus mengimbau penggunaan masker ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.

Kurangi aktivitas berat di luar ruangan

Aktivitas fisik berat menyebabkan seseorang bernapas lebih cepat dan lebih dalam sehingga jumlah udara yang masuk ke paru-paru meningkat. Ketika kualitas udara buruk, sebaiknya aktivitas berat di luar ruangan dikurangi atau dilakukan di tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.

Hindari asap rokok

Jangan menambah paparan polutan dengan merokok. Hindari pula paparan asap rokok dari orang lain karena asap rokok merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap gangguan kesehatan paru.

Pastikan sirkulasi udara di dalam rumah baik

Kualitas udara dalam ruangan juga penting. Hindari aktivitas yang menghasilkan asap di dalam rumah, seperti membakar sampah atau menggunakan sumber pembakaran yang menghasilkan banyak asap tanpa ventilasi yang memadai.

Jangan Abaikan Gejala Pernapasan

Paparan polusi udara dapat menyebabkan keluhan ringan hingga memperburuk penyakit paru yang sudah ada. Segera perhatikan apabila muncul gejala seperti:

  • Batuk yang menetap atau semakin berat
  • Sesak napas
  • Napas berbunyi atau mengi
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada
  • Demam disertai keluhan pernapasan
  • Mudah lelah saat melakukan aktivitas
  • Gejala penyakit asma atau PPOK yang semakin sering kambuh

Apabila keluhan terasa berat, semakin memburuk, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Menjaga Paru Dimulai dari Udara yang Kita Hirup

Polusi udara bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan. Data terbaru WHO menunjukkan bahwa paparan polusi udara masih menjadi salah satu risiko kesehatan lingkungan terbesar di dunia. Pada 2026, WHO juga menegaskan bahwa kemajuan dalam pengendalian paparan PM2.5 masih belum merata dan masyarakat di negara berpendapatan rendah dan menengah menghadapi risiko paparan yang lebih tinggi.

Karena itu, menjaga kesehatan paru perlu dilakukan bersama melalui pengurangan sumber polusi, perlindungan diri, pemantauan kualitas udara, serta pemeriksaan kesehatan apabila muncul keluhan pernapasan.

Paru sehat adalah investasi untuk hidup aktif dan produktif. Jangan tunggu sampai sesak untuk mulai peduli pada kesehatan paru.

Kapan Sebaiknya Memeriksakan Paru?

Jika Anda mengalami batuk yang menetap, sesak napas berulang, mudah lelah saat beraktivitas, atau memiliki faktor risiko penyakit paru, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

RS Paru Respira hadir untuk memberikan pelayanan kesehatan paru yang komprehensif, mulai dari promotif, preventif, pemeriksaan, pengobatan, hingga rehabilitasi sesuai kebutuhan pasien.

Sumber

  1. World Health Organization (WHO). Health effects of air pollution: evidence and implications: technical brief, 21 June 2026.
  2. World Health Organization (WHO). New SDG data shows stalled progress on air pollution and health, 29 June 2026.
  3. World Health Organization (WHO). Lung health.
  4. World Health Organization (WHO). Air quality, energy and health – Health impacts.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menkes: Pakai Masker dan Pantau Kualitas Udara untuk Cegah Dampak Asap Karhutla, 21 Agustus 2026.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes Perkuat Perlindungan Kelompok Rentan Hadapi Karhutla, Agustus 2026.

MALAS GERAK APAKAH TIDAK SEHAT?

Mari, Mulai Aktif dari Hal-Hal Kecil!

Oleh:Nur Handayani, S.KM

Pernahkah Anda berniat beristirahat sejenak, tetapi tanpa terasa sudah berjam-jam duduk sambil menggulir media sosial? Di tengah kesibukan kuliah, pekerjaan, tugas, rapat daring, hingga hiburan digital, duduk terlalu lama dan minim bergerak memang mudah menjadi kebiasaan. Sesekali beristirahat tentu bukan masalah. Namun, ketika sebagian besar waktu dalam sehari dihabiskan tanpa banyak bergerak, tubuh kehilangan kesempatan untuk memperoleh berbagai manfaat aktivitas fisik.

Aktivitas fisik tidak selalu berarti olahraga berat atau harus pergi ke pusat kebugaran. Menurut World Health Organization (WHO), aktivitas fisik mencakup berbagai gerakan tubuh yang menggunakan energi, termasuk berjalan kaki, bersepeda, bermain, melakukan pekerjaan rumah tangga, serta aktivitas rekreasi. Artinya, berjalan kaki ke minimarket, menggunakan tangga, membersihkan kamar, bersepeda, atau berjalan ketika memiliki kesempatan pun merupakan bagian dari aktivitas fisik. Jadi, aktivitas fisik tidak harus selalu identik dengan olahraga yang melelahkan. Setiap gerakan tetap berarti.

Mengapa Tubuh Perlu Bergerak?

Ketika tubuh terlalu lama berada dalam kondisi pasif, berbagai dampak terhadap kesehatan dapat muncul. Kurangnya aktivitas fisik berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit tidak menular, antara lain penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes melitus tipe 2, serta beberapa jenis kanker. WHO juga menempatkan aktivitas fisik yang tidak memadai sebagai salah satu faktor risiko penting bagi kesehatan.

Karena itu, bergerak bukan hanya tentang menjaga berat badan atau penampilan. Aktivitas fisik merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan, kebugaran, dan kualitas hidup dalam jangka panjang. Tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Ketika gerakan semakin jarang menjadi bagian dari keseharian, kesempatan tubuh untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas fisik juga semakin berkurang.

Ketika Rutinitas Membuat Tubuh Terlalu Lama Diam

               Bagi generasi muda dan pekerja, tantangannya sering kali bukan karena tidak mengetahui pentingnya aktivitas fisik. Kesibukan dan kebiasaan menggunakan perangkat digital justru membuat aktivitas duduk semakin sulit disadari.Duduk mengerjakan tugas, bekerja di depan komputer, mengikuti rapat daring, menonton film, bermain gim, hingga menggulir media sosial dapat membuat waktu berlalu tanpa terasa.

   Dalam kondisi seperti ini, aktivitas fisik sering kali baru dilakukan ketika sudah memiliki waktu luang. Padahal, waktu luang yang panjang belum tentu selalu tersedia. Karena itu, kebiasaan bergerak tidak harus menunggu adanya waktu khusus. Gerakan dapat disisipkan di tengah rutinitas yang sudah ada.

Tidak Harus Langsung Berat

               WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit per minggu, atau kombinasi keduanya. Selain itu, orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas penguatan otot yang melibatkan kelompok otot utama setidaknya dua hari dalam seminggu.

Rekomendasi tersebut merupakan target umum yang dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kemampuan, dan kebiasaan masing-masing. Namun, untuk mulai bergerak, seseorang tidak harus langsung mencapai target tersebut dalam satu waktu. Kebiasaan aktif dapat dibangun secara bertahap.

   Berjalan kaki selama 10–15 menit, melakukan peregangan setelah duduk cukup lama, memilih menggunakan tangga apabila memungkinkan, berjalan sebentar setelah belajar atau bekerja, melakukan pekerjaan rumah, atau bergerak mengikuti musik favorit dapat menjadi langkah awal yang sederhana. Sedikit tetapi konsisten jauh lebih baik daripada menunggu waktu yang sempurna untuk mulai bergerak.

Mulai dari Gerakan Kecil

               Aktivitas fisik tidak harus selalu dilakukan dalam waktu khusus. Gerakan dapat menjadi bagian alami dari rutinitas sehari-hari. Berjalan ketika menerima telepon, mengambil minum sendiri, memilih berjalan kaki untuk jarak yang memungkinkan, melakukan pekerjaan rumah, atau berjalan sebentar setelah belajar dan bekerja merupakan cara sederhana untuk membuat tubuh tetap aktif.

               Kebiasaan kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat membantu meningkatkan jumlah aktivitas fisik dalam sehari. Bergerak juga tidak selalu membutuhkan pakaian olahraga, tempat khusus, atau waktu yang panjang. Yang terpenting adalah memberikan tubuh kesempatan untuk bergerak di sela-sela aktivitas.Dengan demikian, aktivitas fisik tidak perlu dipandang sebagai kewajiban yang berat atau sesuatu yang harus dilakukan dengan terpaksa. Aktif bergerak dapat menjadi bagian dari keseharian yang sederhana, menyenangkan, dan realistis.

Gaya Hidup Sehat Dibangun Bersama

               Aktif bergerak merupakan salah satu bagian dari gaya hidup sehat, tetapi bukan satu-satunya. Tubuh membutuhkan dukungan dari berbagai kebiasaan baik yang dilakukan secara seimbang. Pola makan bergizi seimbang membantu memenuhi kebutuhan nutrisi. Tidur yang cukup memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri. Kemampuan mengelola stres membantu menjaga keseimbangan fisik dan mental. Menghindari rokok serta menjaga kesehatan mental juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan kualitas hidup. Tidak ada satu kebiasaan yang dapat menggantikan kebiasaan sehat lainnya. Kesehatan dibangun dari berbagai pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Bergerak dengan Cara yang Disukai

   Setiap orang memiliki kemampuan, kondisi, dan kesukaan yang berbeda. Ada yang merasa nyaman berjalan kaki, bersepeda, berenang, menari, bermain olahraga bersama teman, atau melakukan latihan kekuatan. Tidak perlu mengikuti aktivitas yang dilakukan orang lain jika aktivitas tersebut tidak sesuai dengan kemampuan atau minat. Pilihlah aktivitas yang aman, nyaman, menyenangkan, dan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Ketika aktivitas fisik terasa menyenangkan, menjadikannya sebagai kebiasaan akan menjadi lebih mudah.

   Bagi seseorang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau mengalami keluhan saat melakukan aktivitas fisik, pemilihan jenis dan intensitas aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan dapat dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Rebahan Boleh, Bergerak Jangan Lupa

               Beristirahat setelah menjalani aktivitas sepanjang hari merupakan hal yang wajar. Rebahan, menikmati hiburan, atau sekadar bersantai dapat menjadi bagian dari waktu istirahat. Namun, tubuh tetap membutuhkan gerakan agar tidak terus-menerus berada dalam kondisi pasif. Satu langkah kecil dapat menjadi awal yang berarti. Berdiri dari kursi setelah duduk cukup lama, berjalan beberapa menit, melakukan peregangan, menggunakan tangga, atau melakukan pekerjaan rumah dapat menjadi kesempatan untuk membuat tubuh lebih aktif.

               Tidak perlu menunggu perubahan besar. Tidak perlu langsung melakukan aktivitas yang berat. Mulailah dari gerakan sederhana yang dapat dilakukan hari ini, kemudian lakukan secara bertahap dan konsisten. Pada akhirnya, hidup sehat bukan tentang menjadi sempurna. Hidup sehat adalah tentang memberikan perhatian kepada tubuh melalui berbagai kebiasaan baik yang dapat dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa menit bergerak mungkin terasa kecil. Namun, ketika dilakukan berulang kali, gerakan kecil tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, terbentuk gaya hidup. Dan dari gaya hidup yang lebih aktif, terbuka peluang untuk memiliki tubuh yang lebih sehat dan kehidupan yang lebih berkualitas.

Referensi

  1. World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: World Health Organization.
  2. World Health Organization. (2024). Physical activity. WHO.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  5. World Health Organization. (2020). Healthy diet. WHO.

Tips Menjaga Paru-Paru Tetap Sehat di Musim Kemarau

Penulis : Ayesha Amanda Larasati (Mahasiswa PKL – D!V Promkes UNY)
Editor : Shukhalita Swasti A.,S.KM

Musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering di sejumlah
wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak
musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli-September 2026.
Musim kemarau ditandai dengan kondisi cuaca yang lebih kering, minimnya curah hujan, serta
pergerakan udara yang cenderung melambat. Kondisi ini menyebabkan polutan lebih mudah
terakumulasi di atmosfer.
Namun, musim kemarau tidak hanya identik dengan cuaca panas. Musim kemarau yang panjang
kerap disertai peningkatan konsentrasi debu dan partikel polutan di udara, sementara kualitas udara
merupakan salah satu komponen lingkungan yang sangat menentukan derajat kesehatan
masyarakat. Pencemaran udara akibat aktivitas manusia seperti transportasi bermotor, kegiatan
industri, pembangunan perkotaan, serta pembakaran bahan bakar dan limbah secara terbuka, yang
mana telah menyebabkan penurunan kualitas udara di berbagai wilayah.
Penurunan kualitas udara tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada
anak-anak yang sistem pernapasannya masih berkembang dan cenderung lebih sensitif
dibandingkan orang dewasa. Paparan debu berlebih dapat menyebabkan iritasi saluran napas,
memperburuk asma dan bronkitis, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA).
Dampak polusi udara tidak berhenti pada keluhan sesaat. Paparan yang berlangsung terus-menerus
dapat menyebabkan perubahan fungsi paru, baik yang masih dapat dipulihkan maupun yang
bersifat permanen. Bahkan, polusi udara juga berisiko memengaruhi kesehatan jantung.
Sejumlah faktor risiko dapat memperberat dampak polusi udara terhadap kesehatan, di antaranya:

  1. Usia balita (0-5 tahun)
    Paru-paru balita masih dalam tahap perkembangan, dan anak yang lahir prematur memiliki
    risiko yang lebih tinggi.
  2. Riwayat alergi atau asma
    Debu merupakan salah satu pemicu (trigger) utama serangan asma dan rinitis alergi.
  3. Lokasi tempat tinggal
    Tinggal di dekat jalan raya yang tidak beraspal, area konstruksi, atau lahan kosong yang
    kering meningkatkan risiko paparan debu.
  4. Kondisi rumah
    Rumah dengan ventilasi buruk, karpet tebal, atau gorden yang jarang dibersihkan dapat
    menjadi tempat menjebaknya debu.
  5. Kebiasaan merokok
    Asap rokok yang bercampur dengan debu menciptakan efek sinergis yang jauh lebih
    beracun bagi saluran pernapasan, terutama pada anak.

Berbagai faktor risiko tersebut menegaskan pentingnya menjaga dan mempertahankan kualitas
kesehatan tubuh selama musim kemarau panjang berlangsung. Beberapa langkah yang dapat
dilakukan antara lain:

  1. Cek kualitas udara secara berkala
  2. Gunakan masker saat kualitas udara memburuk
  3. Perbanyak minum air putih serta batasi konsumsi alkohol atau kafein
  4. Hindari asap rokok dan sumber polusi lainnya
  5. Kurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara buruk dan tutup ventilasi saat tingkat
    polusi tinggi
  6. Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
  7. Lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus
  8. Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika muncul keluhan pernapasan

Merujuk pada poin terakhir, penting untuk mengetahui tanda-tanda yang mengharuskan seseorang
segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Jangan tunda untuk memeriksakan ke dokter jika mengalami tanda-tanda berikut:

  1. Batuk yang menetap lebih dari 2 minggu, terutama jika semakin memberat pada malam
    atau pagi hari.
  2. Sesak napas ditandai dengan tarikan dinding dada bagian bawah masuk ke dalam (retraksi),
    lubang hidung kembang kempis, atau tampak kesulitan berbicara akibat napas yang
    pendek.
  3. Mata merah, bengkak, atau keluar kotoran mata (belek) yang tidak kunjung membaik
    meski sudah dibersihkan.
  4. Demam tinggi disertai batuk produktif (berdahak), yang dapat mengindikasikan
    pneumonia.
  5. Anak tampak lemas, menolak menyusu atau makan, atau produksi urine berkurang yang
    mana merupakan tanda dehidrasi atau infeksi berat.
  6. Sianosis (kebiruan pada bibir atau kuku), kondisi ini gawat darurat dan memerlukan
    penanganan segera.

REFERENSI
1. Jannah, R. (2026, 19 Juli). Kemarau ekstrem ancam kesehatan pernapasan. NU Online.
https://www.nu.or.id/nasional/kemarau-ekstrem-ancam-kesehatan-pernapasan-vJ8Xy
2. Media Indonesia. (2026, 26 Juni). Musim kemarau, Bicara Udara luncurkan Knowledge Hub
polusi udara. https://mediaindonesia.com/humaniora/904620/musim-kemarau-bicara￾udara-luncurkan-knowledge-hub-polusi-udara
3. Rahmadania, S. R. (2026, 19 Juni). Waspada kemarau panjang di RI, Kemenkes bagikan tips jaga
kesehatan tubuh. detikHealth. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-
8537572/waspada-kemarau-panjang-di-ri-kemenkes-bagikan-tips-jaga-kesehatan-tubuh

4. Rumah Sakit Pusat Pertamina. (2026, 11 Juni). Panduan menjaga kesehatan anak dari polusi debu
musim kemarau. https://rspp.co.id/artikel-detail-1180-Panduan-Menjaga-Kesehatan-Anak￾dari-Polusi-Debu-Musim-Kemarau.html
5. Najwa, H., Lende, J., Akbar, M., Safa, S., Atfal, B., & Hadiatun, N. (2026). Jurnal Sains Natural
(JSN) Hubungan Kualitas Udara dengan Kejadian ISPA pada Dewasa: Analisis Kluster
Epidemiologi dan Uji Korelasi Biostatistik (The Relationship Between Air Quality and the
Incidence of Acute Respiratory Infections (ARI) in Adults: Epidemiological Cluster
Analysis and Biostatistical Correlation Test). Agustus, (2). https://doi.org/10.35746/v4i2.970

Strategi Komprehensif Penanggulangan TBC: RS Paru Respira Perkuat Perubahan Diagnosis, Terapi, hingga Edukasi Pasien

Amarta (15/08/2026) — Sebagai upaya mendukung percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC), Rumah Sakit (RS) Paru Respira menggelar kegiatan sosialisasi mendalam mengenai penatalaksanaan TBC terkini. Acara ini dihadiri oleh tenaga medis, pemerhati kesehatan, serta masyarakat guna menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas layanan penanganan TBC di fasilitas kesehatan.

Penanggulangan TBC memerlukan langkah komprehensif mulai dari akurasi diagnosis, penanganan efek samping obat, edukasi psikososial pasien, hingga tata laksana khusus pada pasien dengan kondisi penyerta seperti HIV.

Sosialisasi ini berfokus pada percepatan penanggulangan TBC dengan mengupas tuntas empat pilar utama penanganan TBC modern, yang meliputi:

  • Perubahan Penegakan Diagnosis dan Terapi TBC Sensitif Obat (SO) & Resisten Obat (RO): Membahas pembaruan standar pemeriksaan agar diagnosis lebih cepat dan akurat serta pemilihan rejimen terapi yang tepat.
  • Manajemen Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT): Memberikan panduan praktis mengenali dan mengatasi berbagai efek samping obat selama masa pengobatan.
  • Edukasi Pasien TB: Strategi komunikasi terapeutik dan pendampingan psikososial untuk memastikan pasien patuh berobat hingga sembuh.
  • Penatalaksanaan TBC pada Koinfeksi HIV: Panduan klinis penanganan pasien yang mengalami TBC sekaligus HIV secara bersamaan guna menekan angka morbiditas dan mortalitas.

Acara ini menghadirkan para pakar klinis dan tenaga kesehatan profesional dari RS Paru Respira yang ahli di bidangnya masing-undang:

  • dr. Ramaniya Kirana, Sp.P — Memaparkan materi mengenai Perubahan Penegakan Diagnosis dan Terapi TBC SO dan TBC RO.
  • dr. Diana Septiyanti, Sp.P — Menjelaskan materi seputar Efek Samping OAT dan Penanganannya.
  • Atikah Rasa Fauzia, S.Kep.Ns — Membawakan sesi penting mengenai Edukasi Pasien TB dari sudut pandang keperawatan.
  • dr. Dian Fitria Kusumawardani, Sp.PD — Mengupas tuntas Penatalaksanaan TBC pada HIV berdasarkan pedoman medis terbaru.

Kegiatan sosialisasi ini dilangsungkan sebagai bagian dari program berkala RS Paru Respira dalam rangka memperkuat jejaring layanan kesehatan paru di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya guna mencapai target eliminasi TBC nasional.

Sosialisasi diselenggarakan di RS Paru Respira, sebuah rumah sakit rujukan terkemuka yang berkomitmen penuh dalam pelayanan kesehatan paru dan pernapasan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penerapan materi dari para narasumber dijabarkan melalui langkah-langkah taktis berikut:

  • Akurasi & Kecepatan Diagnosis (dr. Ramaniya Kirana, Sp.P): Peralihan menuju metode deteksi dini yang lebih sensitif (seperti Tes Cepat Molekuler/TCM) menjadi kunci utama untuk membedakan secara cepat antara TBC Sensitif Obat dan TBC Resisten Obat demi pemilihan terapi yang tepat sasaran.
  • Mitigasi Efek Samping (dr. Diana Septiyanti, Sp.P): Pasien dibekali pemahaman mengenai efek samping ringan hingga berat dari OAT (seperti gangguan lambung atau perubahan warna urine), disertai langkah penanganan medis yang tepat agar pasien tidak panik dan memutuskan menghentikan pengobatan secara sepihak.
  • Pendekatan Edukasi Holistik (Atikah Rasa Fauzia, S.Kep.Ns): Peran perawat sangat vital dalam memberikan dukungan moril, memastikan keteraturan minum obat melalui Pengawas Menelan Obat (PMO), serta memberikan edukasi pencegahan penularan di lingkungan rumah tangga.
  • Integrasi Terapi Koinfeksi (dr. Dian Fitria Kusumawardani, Sp.PD): Penanganan pasien TBC dengan HIV memerlukan sinkronisasi pengobatan Antiretroviral (ARV) dan OAT secara hati-hati untuk meminimalkan risiko interaksi obat serta efek simpang (rebound inflamasi).

Catatan Penting: Keberhasilan penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada kecanggihan medis di rumah sakit, melainkan juga sinergi yang kuat antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan lingkungan sosial untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia Bebas TBC.

Penguatan Mutu Layanan Kesehatan: Mengintip Situasi Terkini Penanggulangan TBC RO di DIY Melalui Audit Klinis Kolaboratif

RS Paru Respira Amarta (13/08/2026) . Penanggulangan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) di Indonesia, termasuk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menghadapi tantangan kompleks mulai dari kepatuhan pasien, manajemen efek samping, hingga hambatan psikososial dan stigma. Guna mendongkrak angka keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate) dan mengevaluasi mutu layanan secara komprehensif, sebuah langkah strategis lintas sektor diwujudkan melalui Audit Klinis Layanan TBC RO.

Kegiatan utama yang disoroti adalah Audit Klinis Layanan TBC RO (Tuberkulosis Resistan Obat). Audit klinis ini merupakan proses evaluasi dan peninjauan secara sistematis terhadap rekam medis, tata laksana klinis, kepatuhan pedoman nasional, serta respons pengobatan pasien.

Dalam kerangka penanggulangan TBC RO terkini, fokus utama diarahkan pada penerapan rejimen pengobatan jangka pendek (6 bulan) yang memberikan manfaat lebih baik bagi pasien maupun tenaga kesehatan. Namun, evaluasi mendalam tetap diperlukan guna menekan angka kegagalan dan kasus putus obat (loss to follow-up) yang masih menjadi tantangan di lapangan.

Keberhasilan penanggulangan TBC RO di DIY tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi pentahelix yang melibatkan berbagai unsur penting, antara lain:

  • Tenaga Ahli Klinis Eksternal dari RSUP Dr. Kariadi: Berperan sebagai expert reviewer yang memberikan supervisi, pandangan objektif, serta asistensi klinis tingkat lanjut.
  • Dinas Kesehatan DIY & Dinas Kesehatan Kab. Bantul: Sebagai pemangku kebijakan wilayah yang mengoordinasikan regulasi, sinkronisasi data kohort, dan distribusi logistik layanan kesehatan.
  • Tim TB RO RS Paru Respira DIY: Sebagai garda terdepan fasilitas kesehatan rujukan yang mengelola perawatan langsung bagi pasien TBC RO.
  • Komunitas Siklus Indonesia & Yayasan TERBESAR (Yayasan Penyintas Tuberkulosis Terbesar Yogyakarta): Organisasi berbasis komunitas dan paguyuban penyintas yang memegang peranan krusial dalam memberikan dukungan psikososial, pendampingan minum obat, pelacakan kontak, serta penghapusan stigma bagi pasien TBC RO.

Program dan intervensi audit klinis ini berpusat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta , dengan cakupan implementasi yang menyentuh fasilitas kesehatan rujukan utama seperti RS Paru Respira serta fasyankes pendukung di tingkat kabupaten/kota.

Pelaksanaan audit klinis dan evaluasi kohort TBC RO ini berjalan secara berkesinambungan sepanjang tahun 2025 dan 2026. Mengingat dinamika penanganan kasus yang terus diperbarui menyesuaikan pedoman Kementerian Kesehatan RI, koordinasi rutin antar-fasyankes dan komunitas diadakan secara berkala—baik secara tatap muka maupun hibrida—untuk memastikan tidak ada pasien yang luput dari pantauan medis.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa kegiatan audit klinis dan penguatan jejaring TBC RO ini sangat krusial dilakukan di DIY:

  • Belum Tercapainya Target Keberhasilan Optimal: Meskipun ada perbaikan tren kesehatan, angka keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate) masih harus terus didorong naik guna mencegah mortalitas dan resistensi obat yang lebih parah (Extensively Drug-Resistant TB / XDR-TB).
  • Identifikasi Masalah Dini: Audit klinis bertujuan mendeteksi secara dini kendala klinis maupun hambatan program (seperti manajemen efek samping obat yang berat) agar intervensi dapat segera dieksekusi.
  • Peran Strategis Komunitas: Pasien TBC RO membutuhkan dukungan mental yang kuat. Keterlibatan komunitas seperti Yayasan TERBESAR dan Siklus Indonesia terbukti efektif mencegah pasien drop out (putus berobat) berkat pendekatan humanis dari sesama penyintas.

Penanggulangan TBC RO di DIY dijalankan melalui serangkaian langkah taktis dan terpadu:

  1. Review Rekam Medis Komprehensif: Tim ahli klinis eksternal (RSUP Dr. Kariadi) bersama tim internal RS Paru Respira menelaah riwayat pengobatan pasien, hasil uji kepekaan obat, hingga kecocokan dosis.
  2. Penguatan Jejaring Layanan dan Kohort: Dinkes DIY dan Dinkes Kab. Bantul memperkuat sinkronisasi sistem pencatatan nasional serta memperketat evaluasi kohort berkala.
  3. Pendampingan Berbasis Komunitas: Kader dari Komunitas Siklus Indonesia dan Yayasan TERBESAR mendampingi pasien secara langsung di lapangan, memastikan kepatuhan minum obat (KPMO), serta merangkul keluarga pasien untuk meminimalisir stigma sosial di tengah masyarakat.

Situasi penanggulangan TBC RO di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan progres yang progresif berkat sinergi yang solid antara pemerintah, rumah sakit rujukan, tenaga ahli eksternal, dan gerakan komunitas. Melalui Audit Klinis Layanan TBC RO, mutu pelayanan kesehatan diharapkan terus meningkat, sehingga eliminasi TBC di Yogyakarta pada tahun 2030 bukan lagi sekadar target, melainkan kenyataan yang dapat diwujudkan bersama.

Pelatihan In-House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) ke-4: Kunci Tanggap Darurat Henti Jantung Lewat Simulasi Praktis Pentingnya Kesiapsiagaan Menghadapi Kegawatdaruratan Medis

RS Paru Respira, RuangAmarta (12/08/2026) – Kesehatan dan keselamatan jiwa merupakan prioritas utama di berbagai lingkungan, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan maupun area publik. Henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan menimpa siapa saja tanpa mengenal waktu.

Sebagai langkah taktis dalam meningkatkan mutu keselamatan pasien serta membekali tenaga kerja agar sigap menghadapi situasi krisis, program In-House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) diadakan secara berkala bagi tenaga medis maupun non-medis.

In-House Training Bantuan Hidup Dasar (IHT BHD) adalah program pelatihan internal untuk melatih keterampilan dasar penyelamatan nyawa. Dalam pelatihan ini, fokus utama pembelajaran berkisar pada penanganan kondisi darurat seperti:

  • Henti Jantung (Cardiac Arrest): Kondisi ketika jantung mendadak berhenti berdetak, menyebabkan pasokan darah dan oksigen ke otak serta organ vital terhenti total.
  • Sistem Code Blue: Kode darurat internal rumah sakit atau instansi yang diaktifkan seketika untuk memanggil tim medis khusus kegawatdaruratan kardiorespirasi.
  • Resusitasi Jantung Paru (RJP / CPR): Rangkaian teknik kompresi dada dan bantuan napas guna mengalirkan darah beroksigen secara buatan ke organ vital.

Pelatihan ini wajib diikuti oleh seluruh unsur civitas hospitalia atau staf instansi—tidak hanya dokter dan perawat, melainkan juga tenaga non-medis seperti staf administrasi, petugas keamanan (security), hingga petugas kebersihan (cleaning service). Pelatihan ini dipandu oleh instruktur tersertifikasi atau dokter spesialis anestesi/kegawatdaruratan yang ahli di bidangnya.

IHT BHD umumnya diselenggarakan di dalam area instansi terkait, seperti di aula utama rumah sakit, puskesmas, atau balai diklat perusahaan guna memastikan seluruh skenario evakuasi dan simulasi terintegrasi langsung dengan kondisi tata ruang tempat kerja sehari-hari.

Pelatihan ini dilaksanakan secara berkala sesuai dengan kalender mutu institusi, terutama sebagai persiapan menghadapi audit akreditasi tahunan atau sebagai program penyegaran (refreshment course) kompetensi karyawan secara rutin setiap tahunnya.

Pelatihan ini sangan krusial karena :

  • Golden Period (Waktu Emas): Kerusakan otak permanen atau kematian dapat terjadi dalam waktu 5 hingga 6 menit jika pasien henti jantung tidak segera mendapatkan pertolongan.
  • Standar Akreditasi: Sertifikasi BHD merupakan syarat mutlak pemenuhan mutu fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Membangun Budaya Keselamatan (Safety Culture): Memastikan setiap individu memiliki keberanian dan refleks tanggap darurat alih-alih panik saat menghadapi korban tidak sadarkan diri.

Pelatihan ini menggabungkan teori dan simulasi praktis langsung menggunakan manekin medis. Praktik lapangan mengikuti alur penanganan baku Chain of Survival:

  1. Safety & Response Check (3A & Cek Kesadaran):
    • Memastikan 3A (Aman diri, Aman lingkungan, Aman pasien).
    • Mengecek respons korban dengan menepuk bahu dan memanggil suara keras, serta memeriksa ada tidaknya napas normal.
  2. Aktivasi Bantuan / Code Blue:
    • Jika di rumah sakit, segera aktifkan Code Blue melalui telepon darurat internal, atau hubungi nomor darurat 119 jika di fasilitas umum
  3. Pelaksanaan CPR / RJP Berkualitas Tinggi (High-Quality CPR):
    • Kompresi Dada: Dilakukan di tengah dada dengan kedalaman 5 hingga 6 cm (untuk orang dewasa).
    • Kecepatan Kompresi: Ritme stabil antara 100 hingga 120 kali per menit.
    • Recoil Sempurna: Berikan kesempatan dada mengembang kembali secara penuh di setiap tekanan.
    • Rasio Bantuan: Menerapkan siklus kompresi dan ventilasi napas buatan sesuai protokol (contohnya 30 kali kompresi berbanding 2 kali tiupan napas/ventilasi).
  4. Evaluasi dan Penggunaan AED: Mengintegrasikan alat Automated External Defibrillator (AED) jika alat tersebut telah tersedia di lokasi kejadian.

Catatan Penting: Keberhasilan resusitasi sangat bergantung pada kecepatan tindakan awal penolong. Melalui simulasi langsung di dalam IHT BHD, otot dan mental peserta dilatih terlatih merespons secara otomatis demi menyelamatkan nyawa sesama.

Sosialisasi Standar Akreditasi untuk Pelayanan Prima di Rumah Sakit Paru Respira

Selasa (11/08/2026) Komitmen terhadap mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien terus ditingkatkan oleh Rumah Sakit Paru Respira Sebagai langkah nyata dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, manajemen Rumah Sakit Paru Respira belum lama ini menggelar kegiatan Sosialisasi Standar Akreditasi Rumah Sakit.

Kegiatan strategis ini dirancang untuk memperkuat pemahaman seluruh pegawai terhadap instrumen akreditasi terbaru, sekaligus menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Pelayanan Prima (Service Excellence) di seluruh unit kerja rumah sakit.

Sosialisasi Standar Akreditasi Rumah Sakit yang berfokus pada implementasi mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Program ini mencakup pemahaman mendalam mengenai pemenuhan elemen penilaian akreditasi, mulai dari tata kelola rumah sakit, manajemen fasilitas, hingga peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien (PMKP).

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh jajaran manajemen, tenaga medis (dokter dan perawat), tenaga kesehatan penunjang, hingga staf administrasi dan pelayanan umum di lingkungan Rumah Sakit Paru Respira. Keterlibatan lintas profesi ini memastikan bahwa standar akreditasi dipahami dan dijalankan secara kolaboratif oleh seluruh elemen rumah sakit.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari agenda rutin berkala rumah sakit untuk memastikan kesiapan institusi dalam menghadapi evaluasi mutu berkelanjutan serta menjaga konsistensi standar operasional prosedur (SOP) harian.

Sosialisasi dilaksanakan melalui metode kombinasi, mulai dari pemaparan materi oleh narasumber ahli mutu rumah sakit, diskusi kelompok terpumpun (FGD), hingga evaluasi pemahaman melalui simulasi pelayanan di masing-masing unit kerja.

Setiap kepala unit dan penanggung jawab pelayanan diwajibkan untuk menerjemahkan standar akreditasi ke dalam bentuk panduan operasional praktis yang dapat langsung diaplikasikan dalam melayani pasien sehari-hari.

Komitmen Berkelanjutan Rumah Sakit Paru Respira

Melalui kegiatan sosialisasi standar akreditasi ini, Rumah Sakit Paru Respira optimis dapat terus menghadirkan pelayanan kesehatan paru yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia secara berkesinambungan menjadi kunci utama bagi RS Paru Respira untuk senantiasa menjadi fasilitas kesehatan rujukan yang tepercaya di Yogyakarta dan sekitarnya.

Tingkatkan Kesiapsiagaan Darurat, RS Paru Respira Gelar In House Training Bantuan Hidup Dasar (BHD) 2026

BANTUL – Rumah Sakit Khusus Paru (RSKP) Respira menggelar kegiatan In House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada Senin, 10 Agustus 2026. Mengusung tema “Tingkatkan Pengetahuan, Siap Tanggap, Selamatkan Nyawa”, pelatihan ini berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 13.00 WIB di Ruang Amartha RS Paru Respira.

Kegiatan ini diselenggarakan guna meningkatkan kompetensi, kewaspadaan, serta kesiapsiagaan seluruh jajaran civitas hospitalia dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan medis secara cepat, tepat, dan terukur.

Menghadirkan Narasumber Ahli

Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu:

  1. dr. Nur Ika Anggraini

  2. dr. Amri Hasan Fauzi

Kedua pemateri memberikan pemaparan materi komprehensif sekaligus mendampingi para peserta dalam sesi simulasi dan praktik langsung.

Fokus Materi dan Sesi Praktik

Dalam kegiatan ini, para peserta dibekali materi teori dan keterampilan teknis Bantuan Hidup Dasar yang mencakup:

  • Pengenalan Rantai Kelangsungan Hidup: Pemahaman alur penanganan darurat yang efektif dan sistematis.

  • Penilaian Respons & Pernafasan: Langkah penting awal untuk mengidentifikasi kondisi kritis pasien atau korban.

  • Resusitasi Jantung Paru (RJP / CPR): Praktik teknik High Quality CPR untuk menjaga sirkulasi darah dan oksigen.

  • Penggunaan AED (Automated External Defibrillator): Tata cara pengoperasian alat kejut jantung otomatis.

  • Penanganan Tersedak (Choking): Teknik pertolongan pertama pada sumbatan jalan napas.

Melalui penyelenggaraan IHT BHD ini, RS Paru Respira terus berkomitmen untuk memperkuat kualitas pelayanan medis dan memastikan keselamatan pasien (patient safety) serta pengunjung di lingkungan rumah sakit terjamin secara optimal.

Untuk informasi dan layanan RS Paru Respira, silakan kunjungi website resmi kami di rsprespira atau hubungi WhatsApp Customer Service di 08970377779.

Sukses Tingkatkan Kesiapsiagaan Medis, RS Respira Gelar In-House Training Bantuan Hidup Dasar (IHT BHD)

Yogyakarta, 6 Agustus 2026 — Dalam upaya nyata untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat medis, Rumah Sakit Paru (RS) Respira sukses menyelenggarakan kegiatan In-House Training Bantuan Hidup Dasar (IHT BHD). Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 06 Agustus 2026 ini berjalan dengan lancar, tertib, dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta.

Pelatihan berkala ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan RS Respira dalam memastikan seluruh tenaga medis maupun non-medis selalu siap tanggap dalam memberikan pertolongan pertama yang cepat dan tepat.

Sesi Materi dan Narasumber Ahli

Kegiatan IHT BHD ini menghadirkan narasumber serta instruktur yang kompeten di bidangnya untuk membekali para peserta dengan pengetahuan teoretis sekaligus keterampilan praktis:

  • Materi Code Blue & Henti JantungSesi pemaparan materi utama disampaikan secara mendalam oleh dr. Nur Ika Setyowati Anggraeni. Beliau memaparkan prosedur standar penanganan Code Blue serta langkah-langkah kritis dalam mengenali dan menangani pasien henti jantung di lingkungan fasilitas kesehatan.
  • Simulasi & Praktik RJP/CPRSesi interaktif berupa simulasi dan praktik langsung Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) dipandu secara profesional oleh Paula Sivananda, S.Kep., Ns. Pada sesi ini, para peserta berkesempatan mempraktikkan teknik kompresi dada dan bantuan napas yang benar sesuai standar medis terkini menggunakan alat peraga (manikin).

Komitmen untuk Keselamatan Pasien

Melalui penyelenggaraan pelatihan ini, manajemen RS Respira berharap seluruh civitas hospitalia—baik tenaga medis maupun staf pendukung—semakin terampil, sigap, dan memiliki rasa percaya diri tinggi dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan di area rumah sakit.

Pelatihan berkala seperti ini akan terus rutin dilaksanakan sebagai bagian dari budaya mutu keselamatan pasien (patient safety), demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang prima, cepat, dan berorientasi penuh pada keselamatan jiwa di RS Respira.

Asap Manis, Bahaya Nyata: Membongkar Mitos di BalikVape dan Rokok

Oleh : Nayla Zahra Gusnindy Putri (Mahasiswa PKL DIV Promkes – UNY)

Disunting Oleh : Tim PKRS

Vape sering digambarkan sebagai versi “modern” dan “lebih aman” dari rokok konvensional. Tapi benarkah di balik uap yang beraroma manis, tampilan yang kekinian, dan menarik, serta anggapan bahwa vape lebih aman dibanding rokok konvensional membuat banyak orang beralih. Namun benarkah kedua hal ini berbeda ?

Faktanya, baik rokok konvensional maupun vape sama-sama mengandung zat yang dapat membahayakan tubuh. Meski cara kerjanya berbeda, keduanya tetap dapat meningkatkan risiko gangguan pada paru-paru, jantung, pembuluh darah, hingga organ lainnya. Maka dari itu masyarakat perlu memahami fakta ilmiah mengenai bahaya dari dua produk ini.

Mengenal Vape dan Rokok Konvensional

Vape merupakan perangkat elektronik yang berfungsi memanaskan cairan (e-liquid) hingga menjadi aerosol atau uap yang dihirup pengguna. vape menghasilkan uap (aerosol) dari pemanasan cairan, bukan pembakaran.

Sementara itu, rokok merupakan lintingan atau gulungan tembakau yang digulung / dibungkus dengan kertas, daun, atau kulit jagung, biasanya dihisap seseorang setelah dibakar ujungnya. Rokok konvensional bekerja dengan membakar tembakau. Proses pembakaran ini menghasilkan asap yang mengandung ribuan zat kimia berbahaya.

Mengapa Vape dan Rokok Sama-Sama Berbahaya?

Masih Banyak masyarakat yang terjebak dengan kata “lebih aman” vape dari pada rokok. Padahal paparan jangka panjang terhadap vape maupun rokok membawa risiko nyata bagi hampir seluruh sistem tubuh:

  1. Kesehatan Paru                 : EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury), PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), bronkitis kronis, gangguan fungsi paru, Kanker Paru.
  2. Kesehatan Jantung            : PJK (Penyakit Jantung Koroner), Stroke, Hipertensi
  3. Kesehatan Otak                : gangguan perkembangan otak, kecanduan nikotin
  4. Kesehatan Mulut               : Kanker mulut, kanker tenggorokan,  penyakit gigi dan gusi
  5. Kehamilan                         : Gangguan kehamilan, kelahiran prematur

Kesimpulannya baik rokok maupun vape sama-sama dapat menyebabkan kerusakan serius pada tubuh. Perbedaannya hanya terletak pada seberapa cepat efek tersebut akan muncul.

Kandungan Berbahaya dalam Vape dan Rokok

Rokok dan Vape memilik perbedaan kandungan kimia. Rokok konvensional mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, sedangkan vape mengandung cairan kimia (e-liquid) yang menghasilkan senyawa toksik saat dipanaskan.

ROKOKVAPE
NikotinNikotin
TarPropilen Glikol (PG)
Karbon monoksida (CO)Gliserin Nabati (GN)
AmoniaZat perasa (flavoring)
FormaldehidaFormaldehida
BenzenaAsetaldehida
ArsenikAkrolein
TimbalNikel serta kromium

Meskipun pada vape tidak menghasilkan tar, efek jangka panjang dari zat-zat yang lain tetap memiliki potensi merusak paru-paru dan pembuluh darah.

Jangan Mudah Percaya Mitos tentang Vape

Salah satu anggapan yang masih banyak beredar adalah vape hanya menghasilkan uap air sehingga tidak berbahaya. Padahal aerosol yang dihasilkan vape mengandung berbagai zat kimia yang dapat masuk ke dalam paru-paru dan memberikan efek buruk bagi kesehatan.

Selain itu, banyak orang menganggap vape dapat menjadi cara aman untuk berhenti merokok. Pada kenyataannya, penggunaan vape justru dapat mempertahankan ketergantungan terhadap nikotin, bahkan pada sebagian orang menjadi awal munculnya kecanduan .

Langkah Nyata untuk Berhenti

Menghentikan kebiasaan merokok maupun vape memang membutuhkan waktu dan komitmen yang kuat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menghindari situasi yang memicu keinginan merokok, mengurangi konsumsi secara bertahap, memperbanyak aktivitas fisik, serta meminta dukungan dari keluarga dan orang terdekat. Dan bila diperlukan, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan terapi berhenti merokok yang sesuai.

Manfaat yang Menanti Setelah Berhenti

Nikotin memiliki efek kecanduan dan susah untuk mendorong orang untuk berhenti merokok. Namun, mengenali manfaat berhenti merokok bisa menjadi motivasi kuat untuk berhenti.

  1. Daya tahan tubuh meningkat, sehingga mengurangi risiko terkena penyakit
  2. Raut wajah terlihat lebih muda dan segar
  3. Potensi stres berkurang
  4. Gigi terlihat lebih cerah dan bau mulut berkurang
  5. Hasrat seksual dan kesuburan meningkat

Kesimpulan

Baik rokok konvensional maupun vape sama-sama memiliki risiko terhadap kesehatan. Perbedaan bentuk dan cara penggunaannya tidak membuat salah satunya menjadi pilihan aman. Menghindari rokok dan vape merupakan langkah awal untuk menjaga kesehatan paru-paru, jantung, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Referensi

Alodokter. (n.d.). Lebih bahaya rokok atau vape? Ini fakta di baliknya. https://www.alodokter.com/lebih-bahaya-rokok-atau-vape-dan-fakta-dibaliknya

Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Cara berhenti merokok. https://ayosehat.kemkes.go.id/cara-berhenti-merokok

Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Masih kecanduan merokok? Simak tips berhenti merokok berikut. https://ayosehat.kemkes.go.id/masih-kecanduan-merokok-simak-tips-berhenti-merokok-berikut

Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Mengenal bahaya rokok elektrik (vape). https://ayosehat.kemkes.go.id/mengenal-bahaya-rokok-elektrik-vape

Halodoc. (n.d.). Lebih bahaya mana, rokok atau vape? Cek faktanya. https://www.halodoc.com/artikel/lebih-bahaya-mana-rokok-atau-vape-cek-fakta

Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta. (n.d.). Bahaya rokok elektrik (vape) dan pod. https://rsprespira.jogjaprov.go.id/bahayarokokelektrikvapedanpod/