Category: <span>Artikel</span>

KONSUMSI MIE INSTAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN

Oleh : Nur Handayani, S.KM

Mie instan merupakan salah satu makanan praktis yang sangat populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kemudahan dalam penyajian, harga yang relatif murah, rasa yang beragam, serta ketersediaannya yang luas membuat mie instan menjadi pilihan makanan favorit bagi berbagai kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, mahasiswa, hingga pekerja dengan aktivitas padat. Dalam kondisi tertentu, mie instan sering dianggap sebagai solusi cepat untuk mengatasi rasa lapar.

Di balik popularitasnya, konsumsi mie instan yang terlalu sering perlu mendapatkan perhatian karena kandungan gizinya belum mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh secara seimbang. Sebagian besar mie instan mengandung karbohidrat dan
natrium dalam jumlah cukup tinggi, namun rendah protein, serat, vitamin, dan mineral. Pola konsumsi yang tidak terkontrol dapat memberikan dampak terhadap kesehatan,baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Kandungan Gizi Mie Instan

  1. Cepat Lapar dan Kurang Kenyang

Kandungan karbohidrat sederhana pada mie instan dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dengan cepat, tetapi juga turun dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat seseorang lebih cepat merasa lapar kembali dibandingkan setelah mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

  • Risiko Kelebihan Berat Badan

Konsumsi mie instan secara berlebihan, terutama tanpa diimbangi aktivitas fisik dan pola makan sehat, dapat memicu kelebihan kalori yang berujung pada peningkatan berat badan dan obesitas.

  • Tekanan Darah Tinggi

Asupan natrium yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko hipertensi. Jika berlangsung terus-menerus, hipertensi dapat memicu komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.

  • Kekurangan Nutrisi

Mie instan tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi harian apabila dikonsumsi sebagai makanan utama secara terus-menerus. Kekurangan protein, vitamin, dan mineral dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, serta menurunnya daya tahan tubuh.

  • Risiko Penyakit Tidak Menular

Pola makan yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, penyakit kardiovaskular,dan gangguan metabolisme lainnya.

Cara Mengonsumsi Mie Instan Secara Lebih Sehat


Meskipun memiliki beberapa risiko kesehatan, mie instan tidak harus dihindari sepenuhnya. Konsumsi mie instan masih    dapat dilakukan secara bijak dengan memperhatikan frekuensi dan cara penyajiannya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menambahkan sumber protein seperti telur, ayam, ikan, tahu, atau tempe.
  • Menambahkan sayuran seperti sawi, wortel, kubis, atau bayam agar kandungan serat dan vitaminnya meningkat.
  • Mengurangi penggunaan bumbu instan untuk menekan asupan natrium.
  • Tidak mengonsumsi mie instan terlalu sering atau menjadikannya makanan utama setiap hari.
  • Mengimbangi pola makan dengan konsumsi buah, air putih yang cukup, serta aktivitas fisik teratur.

Kesimpulan


Mie instan merupakan makanan praktis yang digemari masyarakat karena mudah disajikan dan memiliki rasa yang beragam. Namun, kandungan gizinya belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh secara seimbang. Konsumsi mie instan yang terlalu sering dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, seperti cepat lapar, peningkatan berat badan, hipertensi, hingga risiko penyakit tidak menular.

Oleh karena itu, konsumsi mie instan perlu dilakukan secara bijak dengan memperhatikan frekuensi, porsi, dan keseimbangan nutrisi. Penambahan sumber protein dan sayuran dapat membantu meningkatkan kualitas gizi makanan sehingga tubuh tetap memperoleh nutrisi yang dibutuhkan.

Daftar Pustaka

World Health Organization. (2012). Guideline: Sodium Intake for Adults and Children. Geneva: WHO.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kemenkes RI.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. (2023). The Nutrition Source. Boston: Harvard University.

Food and Agriculture Organization. (2019). Healthy Diet Guidelines. Rome: FAO. Almatsier, S. (2019). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Perbandingan Konsumsi Rokok dan Real Food Ditinjau dari Aspek Kesehatan

Oleh : Nur Handayani. SKM

Perilaku konsumsi sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap kondisi kesehatan seseorang, terutama pada kelompok usia muda. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah penggunaan uang dalam jumlah yang sama untuk membeli rokok dibandingkan dengan membeli makanan sehat atau real food. Pilihan ini terlihat sederhana, namun memiliki konsekuensi yang sangat berbeda bagi tubuh dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dengan nominal yang relatif sama, misalnya sekitar Rp30.000, seseorang dapat membeli satu bungkus rokok atau satu porsi makanan bergizi yang terdiri dari karbohidrat, protein, dan sayuran. Perbandingan ini menjadi menarik karena keduanya memberikan dampak yang bertolak belakang terhadap kesehatan.

Rokok diketahui mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, di mana sebagian besar bersifat toksik dan karsinogenik. Zat seperti nikotin, tar, dan karbon monoksida berperan dalam merusak sistem pernapasan, jantung, dan pembuluh darah. Konsumsi rokok secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti kanker paru, penyakit jantung koroner, dan stroke.

Dari sisi fisiologis, nikotin dalam rokok dapat menyebabkan ketergantungan. Efek yang dirasakan seperti relaksasi atau penurunan stres hanyalah sementara, dan justru memperkuat siklus adiksi. Hal ini membuat seseorang cenderung mengulang konsumsi rokok secara terus-menerus.

Sebaliknya, real food merupakan makanan alami yang minim proses dan kaya akan zat gizi. Makanan seperti nasi, sayuran, buah, serta sumber protein seperti ayam, ikan, atau tempe mengandung nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi metabolisme secara optimal.

Dari sisi energi, makanan sehat memberikan asupan kalori yang dapat digunakan tubuh untuk beraktivitas. Karbohidrat menyediakan energi utama, protein berperan dalam perbaikan jaringan, dan lemak sehat mendukung fungsi organ. Berbeda dengan rokok yang tidak memberikan kontribusi energi sama sekali.

Dalam jangka pendek, konsumsi makanan sehat memberikan rasa kenyang, meningkatkan konsentrasi, serta menjaga stabilitas kadar gula darah. Sebaliknya, merokok justru dapat menurunkan kapasitas paru-paru sehingga suplai oksigen ke jaringan tubuh menjadi berkurang. Dalam jangka panjang, kebiasaan merokok berdampak pada penurunan kualitas hidup. Individu yang merokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit degeneratif yang memerlukan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Selain itu, produktivitas kerja juga dapat menurun akibat kondisi kesehatan yang memburuk.

               Sebaliknya, konsumsi makanan sehat secara konsisten dapat meningkatkan kualitas hidup. Tubuh menjadi lebih bugar, sistem imun lebih kuat, dan risiko penyakit menurun. Hal ini berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan secara keseluruhan. Dari perspektif ekonomi, kebiasaan membeli rokok setiap hari merupakan pengeluaran yang tidak memberikan nilai tambah bagi kesehatan. Jika dihitung dalam jangka panjang, biaya yang dikeluarkan untuk rokok dapat mencapai jumlah yang signifikan.

Jika dana tersebut dialihkan untuk membeli makanan sehat, maka hal ini dapat dianggap sebagai investasi kesehatan. Nutrisi yang baik akan membantu mencegah penyakit, sehingga mengurangi biaya pengobatan di masa depan. Generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan gaya hidup sehat. Kesadaran untuk memilih antara konsumsi rokok dan makanan sehat perlu ditanamkan sejak dini agar terbentuk kebiasaan yang baik.

Selain itu, tren gaya hidup sehat saat ini semakin berkembang. Banyak anak muda mulai menyadari pentingnya pola makan seimbang dan aktivitas fisik. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran pola pikir menuju kehidupan yang lebih sehat. Setiap keputusan kecil yang diambil setiap hari, termasuk dalam hal konsumsi, akan membentuk pola hidup jangka panjang. Oleh karena itu, memilih makanan sehat dibandingkan rokok merupakan langkah sederhana namun berdampak besar.

Dengan demikian, perbandingan antara membeli rokok dan real food dengan jumlah uang yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Pilihan terhadap makanan sehat tidak hanya memberikan manfaat bagi tubuh saat ini, tetapi juga menentukan kualitas hidup di masa depan.

Daftar Pustaka

World Health Organization. (2020). WHO Report on the Global Tobacco Epidemic.

Centers for Disease Control and Prevention. (2022). Health Effects of Cigarette Smoking.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Bahaya Merokok bagi Kesehatan.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. (2023). The Nutrition Source.

Food and Agriculture Organization. (2019). Healthy Diet Guidelines.

Gibney, M.J., et al. (2019). Introduction to Human Nutrition. Wiley-Blackwell.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026

“Bangkit Tanpa Asap, Hidup Lebih Sehat”

Oleh : Susilawati, SKM

Setiap tanggal 31 Mei, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penggunaan tembakau terhadap kesehatan, lingkungan, dan kualitas hidup. Tahun 2026 menjadi pengingat penting bahwa berhenti merokok bukan hanya pilihan pribadi, tetapi langkah nyata untuk melindungi diri sendiri, keluarga, dan generasi mendatang.

Sebagai rumah sakit khusus paru, RS Paru Respira terus berkomitmen mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan paru dan menciptakan lingkungan bebas asap rokok.

Mengapa Rokok Berbahaya?

Asap rokok mengandung ribuan zat kimia berbahaya yang dapat merusak hampir seluruh organ tubuh. Tidak hanya perokok aktif, perokok pasif juga berisiko mengalami gangguan kesehatan serius.

Dampak Rokok terhadap Kesehatan:

  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
  • Kanker paru
  • Tuberkulosis (TB)
  • Penyakit jantung dan stroke
  • Gangguan pernapasan pada anak
  • Penurunan daya tahan tubuh
  • Gangguan kehamilan dan janin

Paru-paru yang sehat sangat penting untuk mendukung aktivitas sehari-hari, olahraga, produktivitas kerja, hingga kualitas hidup jangka panjang.

Manfaat Berhenti Merokok

Tidak ada kata terlambat untuk berhenti merokok. Tubuh mulai memperbaiki diri hanya dalam beberapa jam setelah berhenti.

Setelah berhenti merokok:

  • 20 menit: tekanan darah dan denyut nadi membaik
  • 24 jam: kadar karbon monoksida menurun
  • 2–12 minggu: fungsi paru dan sirkulasi meningkat
  • 1 tahun: risiko penyakit jantung menurun drastis
  • 5 tahun ke atas: risiko stroke dan kanker menurun

Berhenti merokok juga membantu:

  • Nafas lebih lega
  • Tidur lebih nyenyak
  • Lebih hemat pengeluaran
  • Meningkatkan kualitas hidup keluarga

Tips Memulai Berhenti Merokok

Berikut beberapa langkah sederhana untuk mulai hidup bebas asap:

1. Tentukan alasan kuat

Misalnya ingin hidup lebih sehat, melindungi keluarga, atau meningkatkan kualitas hidup.

2. Tentukan tanggal berhenti

Pilih hari khusus untuk mulai berhenti dan berkomitmen menjalankannya.

3. Hindari pemicu merokok

Kurangi kebiasaan yang sering memicu keinginan merokok seperti kopi, begadang, atau lingkungan perokok.

4. Cari aktivitas pengganti

Olahraga ringan, minum air putih, mengunyah permen bebas gula, atau melakukan hobi dapat membantu mengalihkan keinginan merokok.

5. Dapatkan dukungan profesional

Konseling dan pendampingan medis dapat meningkatkan keberhasilan berhenti merokok.

Peran Keluarga dan Lingkungan

Keberhasilan berhenti merokok akan lebih mudah dicapai dengan dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Mari bersama menciptakan:

  • Rumah bebas asap rokok
  • Tempat kerja sehat
  • Sekolah ramah anak tanpa rokok
  • Komunitas peduli kesehatan paru

Layanan Konseling Berhenti Merokok di RS Paru Respira

RS Paru Respira menyediakan layanan edukasi dan konseling berhenti merokok yang didampingi tenaga kesehatan profesional untuk membantu masyarakat memulai hidup sehat tanpa tembakau.

Layanan meliputi:

  • Konsultasi dokter
  • Edukasi kesehatan paru
  • Pendampingan berhenti merokok
  • Pemeriksaan kesehatan paru
  • Monitoring dan evaluasi berkala

Ayo Mulai Hari Ini!

Hari Tanpa Tembakau bukan sekadar peringatan, tetapi ajakan untuk mengambil langkah nyata menuju hidup yang lebih sehat.

“Berhenti Merokok Hari Ini, Bernapas Lebih Baik Esok Hari.”

Mari bersama wujudkan masyarakat yang lebih sehat, aktif, dan bebas asap rokok bersama RS Paru Respira

Sumber :

  • World Health Organization
    World No Tobacco Day (WNTD)
    Membahas dampak tembakau terhadap kesehatan global dan kampanye berhenti merokok.
  • World Health Organization – Tobacco Fact Sheet
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
    Pedoman Pengendalian Tembakau dan Upaya Berhenti Merokok
  • Kementerian Kesehatan RI
  • Centers for Disease Control and Prevention
    Informasi manfaat berhenti merokok dan dampak rokok terhadap kesehatan paru.

Rokok VS Vape, Tren, Risiko, dan Tanggung Jawab kita

YOGYAKARTA , 13 Mei 2026 Menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap 31 Mei, diskursus mengenai bahaya produk tembakau kembali mengemuka. Melalui narasumber ahli dalam Special Talkshow di Radio Yasika FM bertajuk “Rokok VS Vape: Tren, Risiko, dan Tanggung Jawab Kita”, masyarakat diajak untuk melihat lebih dalam fakta medis dan regulasi di balik tren konsumsi nikotin saat ini.

Dilema Tren: Apakah Vape Benar-Benar Lebih Aman?

Banyak pengguna beralih dari rokok konvensional ke rokok elektrik atau vape dengan asumsi bahwa perangkat tersebut adalah alternatif yang “lebih sehat”. Namun, dr. Wahyuni H. Sp.P, Dokter Spesialis Paru dari RS Paru Respira, memberikan penegasan medis yang kontras dengan persepsi publik tersebut.

“Bukan masalah mana yang lebih ringan, tapi keduanya memberikan dampak beban bagi organ paru. Vape tetap mengandung zat kimia, nikotin, dan perasa yang jika dipanaskan dapat memicu peradangan pada jaringan paru-paru,” ujar dr. Wahyuni.

Perbandingan Risiko: Rokok Konvensional vs. Vape

AspekRokok KonvensionalVape (Rokok Elektrik)
Kandungan UtamaTar, Karbon Monoksida, NikotinCairan Nikotin, Propilen Glikol, Perasa
Dampak ParuPPOK, Kanker Paru, BronkitisEVALI, Iritasi Saluran Napas, Penyakit Jantung
PaparanAsap pembakaran (asap samping berbahaya)Uap kimia (aerosol)

Tanggung Jawab Kolektif dan Payung Hukum

Selain sisi kesehatan, fenomena ini juga menuntut perhatian dari sisi kebijakan publik. Tustiyani, SH, Anggota DPRD DIY, menyoroti pentingnya regulasi yang ketat untuk menekan angka perokok pemula yang kini kian bergeser ke arah vape.

Menurutnya, tanggung jawab menjaga kesehatan lingkungan bukan hanya tugas individu, melainkan juga memerlukan dukungan aturan yang membatasi ruang gerak distribusi produk tembakau di bawah umur.

Poin-poin penting tanggung jawab kita:

  • Edukasi Keluarga: Memutus rantai kebiasaan merokok dari unit terkecil.
  • Kawasan Tanpa Rokok (KTR): Mematuhi area bebas asap untuk melindungi perokok pasif.
  • Kesadaran Diri: Memilih gaya hidup sehat sebagai investasi jangka panjang.

Kesimpulan: Pilihan Tepat untuk Paru Sehat

Pesan utama dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau tahun ini adalah kejujuran terhadap diri sendiri. Baik rokok maupun vape, keduanya memiliki potensi merusak kualitas hidup. Paru-paru yang sehat tidak dimulai dari pencarian alternatif tembakau, melainkan dari keputusan untuk berhenti sama sekali.

Mari jadikan momen 31 Mei ini sebagai titik balik untuk lebih bijak menjaga kesehatan diri dan keluarga. Karena pada akhirnya, paru yang sehat dimulai dari pilihan yang tepat.

Update Penatalaksanaan Terkini PPOK, Asma dan Forum Konsultasi Publik 2026 di Auditorium Klinik Pratama IDI Bantul

BANTUL – Sebagai upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mutu pelayanan kesehatan di wilayah Yogyakarta, RS Paru Respira menyelenggarakan rangkaian kegiatan strategis bertajuk “Update Penatalaksanaan Terkini PPOK dan Asma” yang dirangkaikan dengan Forum Konsultasi Publik (FKP) Tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Klinik Pratama IDI Bantul, mempertemukan para praktisi kesehatan serta elemen masyarakat.

Penyelarasan Standar Penatalaksanaan PPOK & Asma

Mengingat prevalensi penyakit saluran pernapasan yang dinamis, RS Paru Respira memberikan perhatian khusus pada pembaruan tata laksana Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan Asma. Sesi ini menghadirkan tinjauan medis terkini mengenai penggunaan terapi inhalasi yang tepat, manajemen eksaserbasi, serta peran skrining melalui Spirometri sebagai standar emas deteksi dini.

Pembaruan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh lini layanan kesehatan, baik di tingkat RS maupun mitra klinik, memiliki kesamaan standar dalam menangani pasien guna menurunkan angka kekambuhan dan meningkatkan kemandirian pasien dalam mengelola kondisi pernapasannya.

Forum Konsultasi Publik: Mendengar Suara Masyarakat

Sejalan dengan komitmen transparansi dan akuntabilitas, RS Paru Respira juga menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP). Forum ini menjadi ruang dialog terbuka antara manajemen rumah sakit dengan masyarakat, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan di Bantul.

Beberapa poin utama yang dibahas dalam FKP 2026 meliputi:

  • Penyempurnaan Maklumat Pelayanan: Mendengar masukan langsung pengguna layanan untuk perbaikan prosedur pendaftaran dan aksesibilitas.
  • Sosialisasi Program Kerja 2026: Pemaparan rencana strategis rumah sakit, termasuk perluasan jangkauan skrining TBC dan optimalisasi layanan rawat inap isolasi.
  • Peningkatan Budaya Keselamatan: Menekankan komitmen rumah sakit dalam menjaga standar keselamatan pasien di setiap aspek tindakan medis.

Membangun Komitmen Bersama

Direktur RS Paru Respira dalam sambutannya menekankan bahwa pemilihan lokasi di Auditorium Klinik Pratama IDI Bantul merupakan simbol kolaborasi yang erat antara rumah sakit pemerintah dengan organisasi profesi kedokteran.

“Kesehatan paru bukan hanya urusan medis di dalam ruang periksa, melainkan hasil dari edukasi yang konsisten dan sistem pelayanan yang adaptif terhadap kritik masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan RS Paru Respira tetap menjadi Sahabat Paru dan Pernapasan Anda yang unggul dan terpercaya,” ungkap pihak manajemen.

Dengan adanya pembaharuan klinis dan penguatan tata kelola melalui konsultasi publik ini, RS Paru Respira optimis dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan masyarakat Bantul dan sekitarnya yang lebih sehat di tahun 2026.

Active Case Finding Tuberculosis (ACF) TBC di Balai Desa Krembengan Kulon Progo

Rabu, 22 April 2026, Balai Desa Krembangan, KAB Kulon Progo. Kegiatan Active Case Finding Tuberculosis (ACF) di Kabupaten Kulon Progo dilaksanakan sebagai upaya proaktif dalam menemukan kasus penyakit paru secara dini di masyarakat. Kegiatan ini didukung dengan layanan mobile rontgen yang menjangkau langsung ke lokasi sasaran, sehingga memudahkan masyarakat mendapatkan pemeriksaan tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan.

Pelaksanaan ACF ini didukung oleh tim profesional yang terdiri dari satu dokter spesialis radiologi, satu dokter umum, serta dua tenaga radiografer yang berpengalaman. Dengan kolaborasi tim dan fasilitas yang memadai, diharapkan deteksi dini dapat dilakukan secara cepat dan tepat guna meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Kabupaten Kulon Progo.

LAYANAN KONSELING BERHENTI MEROKOK RS PARU RESPIRA

Oleh : Susilawati, SKM

Ingin hidup lebih sehat tanpa rokok? Kami siap membantu Anda!

Merokok bukan hanya kebiasaan, tetapi juga ketergantungan yang membutuhkan penanganan tepat. Melalui layanan Konseling Berhenti Merokok RS Paru Respira, Anda akan mendapatkan pendampingan profesional untuk membantu Anda lepas dari rokok secara aman dan bertahap.

Mengapa Memilih Layanan Kami?

✔ Ditangani oleh tenaga medis berpengalaman
✔ Pendekatan personal sesuai kondisi pasien
✔ Konseling motivasi dan terapi perilaku
✔ Edukasi lengkap tentang bahaya rokok
✔ Dukungan berkelanjutan hingga berhasil berhenti

Siapa yang Bisa Mengikuti?

  • Perokok aktif yang ingin berhenti
  • Perokok dengan riwayat penyakit paru atau kronis
  • Siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas hidup

Manfaat Berhenti Merokok

  • Pernapasan lebih lega
  • Risiko penyakit paru menurun
  • Kualitas hidup meningkat
  • Lebih hemat dan produktif

Jangan Tunggu Sakit untuk Berhenti

Mulailah langkah kecil hari ini untuk hidup yang lebih sehat bersama kami.

📍 Kunjungi layanan Konseling Berhenti Merokok di RS Paru Respira
📞 Hubungi kami untuk informasi dan pendaftaran

Berani berhenti, berani hidup lebih baik!

Gagal Diet Meski Sudah Mengurangi Makan: Waspadai Minuman Tinggi Gula dan Kurangnya Aktivitas Fisik

Oleh : Nur Handayani, S.K.M
Banyak orang merasa sudah menjalani diet dengan baik: porsi makan dikurangi, nasi dikontrol, camilan dibatasi. Namun berat badan tetap tidak turun, bahkan bertambah. Salah satu penyebab yang sering luput disadari adalah konsumsi minuman dengan kandungan gula tinggi serta kurangnya aktivitas fisik.

MINUMAN TINGGI GULA ; SUMBER KALORI TERSEMBUNYI

Minuman manis seperti teh kemasan, kopi susu, minuman boba, minuman bersoda, sirup, dan minuman berenergi mengandung gula tambahan yang tinggi. Berbeda dengan makanan padat, kalori dari minuman tidak memberikan rasa kenyang sehingga mudah dikonsumsi berlebihan tanpa disadari. Satu botol minuman manis kemasan rata-rata mengandung 20–40 gram gula, setara dengan 4–8 sendok teh gula. Jumlah ini sudah melebihi anjuran konsumsi gula harian.

BAGAIMANA GULA MENJADI LEMAK DALAM TUBUH

Ketika kita mengonsumsi gula berlebih, tubuh akan mengubahnya menjadi glukosa. Glukosa yang tidak digunakan sebagai energi akan disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan otot. Jika cadangan glikogen sudah penuh, kelebihan glukosa akan diubah menjadi lemak dan disimpan di jaringan adiposa. Proses ini terjadi lebih cepat bila seseorang jarang bergerak atau tidak berolahraga. Akibatnya, meski asupan makan utama dikurangi, timbunan lemak tetap bertambah.

DAMPAK KONSUMSI GULA BERLEBIH

Konsumsi gula berlebih tidak hanya menyebabkan kegagalan diet, tetapi juga meningkatkan risiko:

  • Kegemukan dan obesitas
  • Resistensi insulin
  • Diabetes melitus tipe 2
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Perlemakan hati (fatty liver)
  • Gigi berlubang

PERAN OLAHRAGA DALAM KEHIDUPAN SEHAT
Olahraga membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi sehingga mencegah penumpukan gula dan lemak. Aktivitas fisik juga meningkatkan metabolisme, memperbaiki sensitivitas insulin, serta membantu pembakaran lemak.

Jenis olahraga yang dianjurkan antara lain:

  • Jalan cepat 30 menit per hari
  • Bersepeda
  • Senam atau aerobic
  • Renang
  • Latihan kekuatan otot

STRATEGI SUKSES DIET SEHAT
Diet yang berhasil bukan hanya soal mengurangi makan, tetapi juga mengatur minuman dan meningkatkan aktivitas fisik. Beberapa tips yang bisa diterapkan:

  • Ganti minuman manis dengan air putih atau infused water
  • Batasi konsumsi gula tambahan maksimal 4 sendok teh per hari
  • Biasakan membaca label gizi pada kemasan
  • Lakukan olahraga minimal 150 menit per minggu
  • Tidur cukup dan kelola stres

KESIMPULAN
Diet akan sulit berhasil jika masih mengonsumsi minuman tinggi gula tanpa diimbangi aktivitas fisik. Mengurangi gula, memilih minuman sehat, dan rutin berolahraga adalah kunci utama menjaga berat badan ideal dan kesehatan jangka panjang.DAFTAR PUSTAKA
1. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Gizi Seimbang.
2. World Health Organization. Guideline: Sugars intake for adults and children.
3. Harvard T.H. Chan School of Public Health. The Sweet Danger of Sugar.
4. American Heart Association. Added Sugars and Health.

RS Paru Respira Gelar Orientasi Pegawai dan Mahasiswa Baru: Perkuat Layanan dengan Edukasi PPI

BANTUL – Dalam rangka menjaga kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien, Rumah Sakit Paru (RSP) Respira Yogyakarta menyelenggarakan agenda orientasi bagi pegawai baru dan peserta didik pada Senin, 9 Maret 2026. Acara yang berlangsung di Ruang Amartha Lantai 3 ini menyasar berbagai elemen tenaga kerja, mulai dari CS hingga mahasiswa praktik dari berbagai universitas ternama.

Sebagai institusi pendidikan dan pelayanan, RSP Respira rutin menerima mahasiswa dari berbagai institusi seperti Poltekkes Surakarta, UMS, dan UNISA untuk mengasah kompetensi klinis mereka.

Pilar Utama Orientasi: PPI dan Budaya Cuci Tangan

Salah satu materi krusial dalam orientasi ini adalah Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Bagi pegawai baru seperti tenaga driver dan cleaning service, serta mahasiswa fisioterapi, memahami PPI adalah kewajiban mutlak untuk memutus rantai penularan penyakit di lingkungan rumah sakit.

Komponen paling sederhana namun berdampak besar dalam PPI adalah tata cara cuci tangan. Sesuai standar WHO yang diterapkan di RSP Respira, seluruh personel wajib memahami 6 langkah cuci tangan:

  1. Ratakan sabun dengan menggosok kedua telapak tangan.
  2. Gosok punggung tangan dan sela-sela jari secara bergantian.
  3. Gosok telapak tangan dan sela-sela jari.
  4. Jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci.
  5. Gosok ibu jari berputar dalam genggaman tangan kanan dan sebaliknya.
  6. Gosokkan dengan memutar ujung jari-jari di telapak tangan.

Selain itu, peserta orientasi ditekankan untuk mematuhi 5 Momen Cuci Tangan, yaitu: sebelum kontak dengan pasien, sebelum tindakan aseptik, setelah terkena cairan tubuh pasien, setelah kontak dengan pasien, dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien.

Olahraga di Bulan Puasa: Tetap Aktif, Tetap Aman, dan Tetap Bertenaga

Oleh : Nur Handayani, S.KM

Bulan puasa membawa perubahan besar pada pola makan, jam tidur, dan ritme aktivitas harian. Tidak sedikit orang memilih mengurangi bahkan menghentikan olahraga karena khawatir lemas, pusing, atau dehidrasi. Padahal, dengan strategi yang tepat, olahraga tetap bisa dilakukan secara aman dan justru membantu menjaga kebugaran selama Ramadan. Kuncinya bukan berhenti bergerak, tetapi menyesuaikan waktu, jenis, dan intensitas latihan.

               Secara fisiologis, saat berpuasa tubuh akan menggunakan cadangan energi secara bertahap. Setelah beberapa jam tanpa asupan makanan, kadar gula darah menurun dan tubuh mulai memanfaatkan glikogen serta lemak sebagai sumber energi. Dalam kondisi ini, olahraga ringan hingga sedang masih dapat ditoleransi dengan baik oleh individu sehat. Bahkan, aktivitas fisik yang teratur membantu menjaga metabolisme, massa otot, dan kebugaran jantung.

               Waktu olahraga yang tepat saat puasa menjadi pertanyaan yang paling sering muncul. Secara umum, ada tiga waktu yang direkomendasikan. Pertama, 30–60 menit sebelum berbuka puasa. Waktu ini cocok untuk olahraga ringan karena setelah selesai, tubuh dapat segera mengganti cairan dan energi. Kedua, 1–2 jam setelah berbuka puasa, ketika tubuh sudah mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Ini adalah waktu paling ideal untuk latihan dengan intensitas sedang. Ketiga, setelah sahur, namun hanya untuk aktivitas sangat ringan seperti peregangan atau jalan santai, karena risiko dehidrasi di siang hari tetap perlu dipertimbangkan.

               Lalu, olahraga seperti apa yang aman dilakukan? Untuk kebanyakan orang, aktivitas aerobik ringan seperti jalan cepat, bersepeda santai, atau senam low impact sangat dianjurkan. Selain itu, latihan kekuatan dengan beban ringan hingga sedang juga bermanfaat untuk mempertahankan massa otot. Yoga dan pilates menjadi pilihan baik karena membantu fleksibilitas sekaligus relaksasi. Bagi yang sudah terbiasa berlatih intensitas tinggi, latihan tersebut tetap bisa dilakukan, tetapi sebaiknya dipindahkan ke waktu setelah berbuka.

               Durasi olahraga selama puasa sebaiknya dibatasi sekitar 30–45 menit. Intensitas dapat dijaga pada tingkat ringan hingga sedang, ditandai dengan masih bisa berbicara saat berolahraga tanpa terengah-engah berat. Prinsip ini membantu mencegah kelelahan berlebihan serta menjaga keseimbangan cairan tubuh.

               Asupan nutrisi juga sangat menentukan keberhasilan olahraga saat puasa. Saat berbuka, awali dengan air putih dan makanan ringan yang mudah dicerna, kemudian lanjutkan dengan makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta sayur dan buah. Saat sahur, pilih makanan tinggi serat dan protein agar energi bertahan lebih lama. Kecukupan cairan dari waktu berbuka hingga sahur sangat penting untuk mencegah dehidrasi saat beraktivitas di siang hari.

Beberapa tips aman berolahraga saat puasa antara lain:

  • Hindari olahraga di bawah terik matahari langsung.
  • Gunakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat.
  • Perhatikan tanda bahaya seperti pusing berat, mual, jantung berdebar tidak normal, atau pandangan kabur.
  • Prioritaskan kualitas tidur agar pemulihan tubuh optimal.
  • Jangan memaksakan diri jika tubuh terasa sangat lemah.

               Olahraga saat puasa bukan hanya berdampak pada fisik, tetapi juga kesehatan mental. Aktivitas fisik terbukti membantu meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, dan memperbaiki kualitas tidur. Dalam suasana Ramadan yang penuh aktivitas ibadah dan sosial, tubuh yang tetap bugar tentu mendukung produktivitas dan kekhusyukan.

               Meski demikian, individu dengan kondisi medis tertentu seperti diabetes yang tidak terkontrol, penyakit jantung, gangguan tekanan darah, atau riwayat dehidrasi berat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menyusun program olahraga saat puasa. Penyesuaian khusus mungkin diperlukan agar tetap aman.

               Pada akhirnya, puasa dan olahraga bukan dua hal yang bertentangan. Dengan pengaturan waktu yang tepat, pemilihan jenis olahraga yang sesuai, serta perhatian pada nutrisi dan hidrasi, tubuh tetap bisa aktif dan sehat sepanjang bulan Ramadan. Bergeraklah dengan bijak—bukan nekat—agar manfaat puasa dan olahraga dapat dirasakan secara optimal.

Referensi :

World Health Organization. (2020). Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour.

American College of Sports Medicine. (2021). ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang dan Aktivitas Fisik.

Mayo Clinic. (2022). Exercising While Fasting: Safety and Hydration Considerations.