Category: <span>Buletin</span>

In House Training (IHT) Medication Error

Oleh: Pokja PKPO

Medication error merupakan setiap kejadian yang dapat dicegah, yang menyebabkan penggunaan obat tidak tepat (membahayakan pasien), saat pengobatan berada dalam kendali professional perawatan kesehatan, pasien, atau konsumen (NCCMERP). Klasifikasi medication error antara lain prescribing error, dispensing error, medicine preparation error, administration error, monitoring error. Beberapa penyebab terjadinya medication error antara lain kurangnya pelatihan terapeutik, pengetahuan dan pemahaman yang tidak memadai, dan komunikasi yang buruk antara professional perawatan kesehatan dan dengan pasien.

Kejadian medication error dapat mengakibatkan pasien meninggal, cidera, cacat tetap, pemanjangan lama rawat, dan kerugian lain bagi pasien, oleh karena itu perlu dilakukan suatu update atau refresh pengetahuan dan pemahaman tentang medication error bagi tenaga medik, farmasi, keperawatan, dan fisioterapi. Kegiatan tersebut merupakan upaya rumah sakit dalam meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit. Berdasarkan uraian singkat tersebut, maka Pokja PKPO RS Paru Respira bermaksud menyelenggarakan IHT Medication Error agar seluruh petugas yang berwenang dapat memahami keselamatan pasien terkait obat dan meningkatkan kualitas pelayanan.

Rumah Sakit Paru Respira memiliki tenaga medik sejumlah 21 orang, tenaga farmasi sejumlah 17 orang, tenaga keperawatan sejumlah 48 orang, dan tenaga fisioterapi sejumlah 4 orang. Pelayanan obat dilakukan  Instalasi Farmasi kepada tenaga professional kesehatan lain untuk selanjutnya diberikan kepada pasien di Instalasi Rawat Inap, instalasi Gawat Darurat, dan Instalasi Rehabilitasi Medik. Selain itu Instalasi Farmasi memberikan pelayanan obat langsung kepada pasien rawat jalan.

Rumah Sakit Paru Respira mengatur tentang medication safety untuk mengarahkan penggunaan obat yang aman serta meminimalkan resiko kesalahan penggunaan obat melalui Pedoman Pelayanan di Instalasi Farmasi. Kejadian medication error dilaporkan oleh tenaga kesehatan yang bertugas kepada tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit untuk selanjutnya dilakukan monitoring dan evaluasi dalam rangkan peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Upaya deteksi dan pencegahan, serta upaya menurunkan kejadian medication error dilakukan oleh rumah sakit melalui analisis RCA  yang melibatkan Instalasi Farmasi. Rumah sakit juga melakukan update dan refresh pemahaman tentang medication error kepada tenaga kesehatan yang berwenang secara berkala.

Berdasar latar belakang tersebut, Rumah Sakit Paru Respira mengadakan IHT medication eror yang dilaksanakan pada tanggal 26 September 2022 di aula RS paru Respira dengan narasumber dr. Diana Septiyanti, Sp.P., FAPSR. Adapun materi yang disampaikan pada kegiatan tersebut adalah:

  1. Materi 1 (Medication Error):
  2. Pengertian medication safety.
  3. Faktor resiko kejadian medication error.
  4. Klasifikasi medication error.
  5. Upaya pencegahan kejadian medication error.
  • Materi 2 (Manajemen Resiko Pelayanan Obat Rumah Sakit):
  • Dokumentasi medication error
  • Pelaporan medication error.
  • Sistem pencegahan.
  • Monitoring dan evaluasi medication error.

 Perserta IHT tersebut adalah seluruh tenaga medik, farmasi dan keperawatan RS Paru Respira yang bekerja di Instalasi Farmasi, Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, Instalasi Bedah, Instalasi Rehabilitasi Medik  dan Instalasi Gawat Darurat. Dengan diadakannya In House Training ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang medication error terhadap petugas baru dan memberikan refresh and up date pengetahuan bagi petugas lama di RS Paru Respira.

Rangkul Pasien Tuberkulosis Resisten Obat dengan Diskusi Bersama

Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO) merupakan penyakit yang berdampak pada kesehatan masyarakat, dengan jumlah kasus yang semakin meningkat sehingga memerlukan upaya penanggulangan yang komprehensif dari semua pihak. Tatalaksana penanggulangan TB-RO telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2009 dan telah ditetapkan menjadi bagian dari Program Penanggulangan TB Nasional.

Tuberkulosis disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis (M.TBC). TB
dapat disembuhkan dengan pengobatan obat anti Tuberkulosis (OAT) yang tepat. Namun kuman TB dapat berkembang menjadi resistan atau kebal terhadap OAT, salah satunya dikarenakan
ketidakpatuhan pengobatan. Munculnya resistansi terhadap OAT telah menjadi masalah
kesehatan masyarakat yang signifikan di sejumlah negara dan menjadi ancaman dalam
pengendalian TB.

Menderita TB-RO merupakan suatu kondisi sulit dalam melakukan kehidupan dan
diperlukan kemampuan untuk menghadapi kondisi tersebut. Jangka waktu pengobatan
yang panjang, efek samping pengobatan yang ditimbulkan, biaya yang dikeluarkan untuk
pengobatan, stigma, diskriminasi serta perasaan bahwa penyakitnya tidak akan sembuh
membuat banyak pasien TB RO tidak ingin melanjutkan proses penyembuhan dan lebih
memilih untuk berhenti (dropped out). Pasien TB RO rentan mengalami stress dan
menghadapi stigma sosial dan karenanya memiliki suatu kebutuhan yang mendesak untuk
dilakukan intervensi dalam aspek ini.

RS Paru Respira bersinergi dengan LSM Siklus Indonesia melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) untuk pasien TB-RO yang masih melaksanakan pengobatan rutin. Kegiatan ini merupakan momen kebersamaan antar pasien dan membangun ikatan antar personal untuk bisa berbagi apa yang menjadi kendala dalam pengobatan mereka. Diskusi ini menjadi media untuk belajar dari kasus satu sama lain dan menemukan solusi atas permasalahannya. Sehingga kesulitan yang dihadapi selama pengobatan dapat diatasi dan tetap melanjutkan terapi sampai tuntas dan sembuh.

Kami mendukung kegiatan ini dengan menghadirkan pembicara untuk memberikan informasi mengenai kesehatan. Pada pertemuan ini diisi oleh tim ahli gizi RS Paru Respira dengan tema zat gizi makro dan mikro. Bapak Tito Arianto Nugroho, A.Md Gz menjelaskan pola makan, porsi makan dan kandungan zat gizi makro dan mikro yang baik untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit dan meningkatkan kekebalan tubuh. Diskusi juga didampingi fasilitator medis lain yang membantu memperdalam materi tersebut.

Harapannya dengan FGD rutin ini pasien TB-RO dapat lebih semangat untuk sembuh, rutin berobat dan kontrol, disiplin minum obat, tetap aktif beraktivitas dan bekerja dengan semangat dan sehat. Dengan demikian kasus putus berobat dapat berkurang dan keberhasilan terapi dapat meningkat menuju Indonesia bebas TB tahun 2030.

Rencana Pengembangan RS Paru Respira

Rencana Pengembangan Rumah Sakit Paru Respira Di Kalurahan Palbapang, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan dari Pengembangan adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan paru dan Pernapasan bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berikut Kami lampirkan Surat Pemberitahuan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta

Tips Aman dan Sehat Konsumsi Daging Kurban

Oleh : Nur Handayani, S.KM

Idul Adha merupakan salah satu hari raya yang diperingati oleh umat muslim. Hari raya ini identik dengan penyembelihan hewan kurban. Hewan sapi dan kambing adalah jenis hewan yang paling umum untuk hewan kurban di Indonesia. Dalam Hari Raya Idul Adha, daging kurban dibagikan kepada yang berhak termasuk yang berkurban dan keluarganya. Dalam hari raya ini pula masyarakat berkesempatan makan daging. Sudah menjadi rahasia umum bila ada anggapan bahwa makan daging kurban identik dengan penyakit darah tinggi dan kolesterol. Tapi apakah benar daging kambing maupun sapi tidak baik dikonsumsi?

              Melihat dari kandungan gizi, tidak ada yang salah dengan daging sapi maupun kambing.  Dalam 100 gram daging kambing mengandung 149 Kkal, 16,6 gr protein, 9,2 gr lemak, 11 mg kalsium dan 1 mg zat besi. Sedangkan untuk 100 gram daging sapi mengandung 201 Kkal, 18,8gr protein, 14 gr lemak, 11 mg kalsium dan 2,8 mg zat besi. Protein dalam daging tersebut berfungsi membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, memproduksi hormon, enzim, dan zat kimia lain dalam tubuh, membentuk otot, tulang, kulit, dan darah, serta sumber tenaga (menghasilkan 4 kalori per 1 gram lemak). Lemak pun berfungsi membantu penyerapan vitamin yang larut lemak (A, D, E, dan K) dan mineral, sumber energi (menghasilkan 9 kalori per 1 gram lemak), dan menunjang fungsi otak.   Warna merah yang dihasilkan dari daging sapi dan kambing mengandung banyak zat besi. Zat besi inilah yang memproduksi hemoglobin yang nantinya akan mengantarkan oksigen dari darah ke seluruh sel otot. Nah,ternyata daging kambing maupun sapi baik untuk kita konsumsi, hanya saja ada yang perlu kita ketahui supaya kita aman dan tetap sehat saat mengkonsumsi daging. Ini tidak terlepas dari berapa banyak yang kita konsumsi, jenis pemilihan dagingnya, cara mengolah dan cara kita memasak.

              Ada beberapa tips terkait cara pengolahan daging kurban, antara lain :

  • Pilih daging daging segar, dagingnya berwarna merah segar dan kenyal, daging tidak berlendir dan lembek, tidak berbau busuk;
  • Sebelum dimasak, cucilah daging hingga bersih;
  • Masak daging sampai matang sempurna. Hindari memasak daging setengah matang, karena dikhawatirkan bila masih setengah matang masih terdapat bakteri ataupun virus yang menempel pada daging.

Semisal kita mempunyai daging tetapi tidak ingin segera dimasak, ada cara penyimpanan daging yang perlu diperhatikan yaitu :

  • Ketika mempunyai daging segeralah simpan dalam kulkas. Jika daging tidak ingin langsung dimasak, jangan dicuci dulu. Masukkan daging ke dalam kantong plastik atau wadah tertutup rapat. Apabila Anda akan memasak daging tersebut dalam 2-3 hari, simpan dibagian bawah kulkas. Jika berencana menyimpan daging dalam waktu lama, letakkan daging di dalam freezer. Ketahanan daging mentah saat disimpan dalam freezer adalah sekitar 3-4 bulan.
  • Hindari defrost daging dengan suhu ruangan

Defrost adalah proses mencairkan daging yang baru saja dikeluarkan dari freezer. Dalam melakukan defrost, sebaiknya hindari meletakkan daging begitu saja dengan suhu ruangan. Mencairkan daging beku dapat dilakukan dengan cara memasukkan ke dalam kulkas bawah, air dingin, atau menggunakan microwave. Dengan begini bakteri tidak akan berkembang biak didalam daging secara cepat.

              Agar kita aman dan sehat dalam mengkonsumsi daging, ada yang dapat kita lakukan, antara lain :

  • Sebaiknya daging dimasak secara matang sempurna. Daging yang digoreng akan menambah kadar lemak dari minyak goreng. Sedangkan bila dibakar, akan berisiko menambah zat karsinogen penyebab kanker;
  • Sebaiknya memasak daging dengan cara direbus dan dikonsumsi bersama dengan sayur dan buah agar seimbang. Pilih karbohidrat yang berserat tinggi;
  • Pilih area daging yang kurang berlemak. Sengkel, misalnya. Hindari area perut apalagi jeroan;
  • Jika masak dengan santan, usahakan sekali masak sekali dimakan habis. Jangan dihangatkan apalagi dimasak kembali;
  • Makan daging kambing atau sapi jangan berlebihan dalam waktu singkat;
  • Usahakan jangan makan daging selambat-lambatnya 2 jam sebelum tidur;
  • Kurangi makan berlemak lain seperti konsumsi coklat dan keju selama sedang mengonsumsi banyak makan daging;
  • Sebaiknya sehabis makan dengan daging kambing atau sapi tidak mengkonsumsi minuman berkalori tinggi seperti teh manis atau sirup;
  • Batasi penggunaan garam dan gula;
  • Minum yang cukup 8-10 gelas sehari untuk mencegah sembelit;
  • Tetap melakukan olah raga ringan selama masa hari raya Idul Adha.

              Dengan memperhatikan tips di atas semoga kita menjadi paham bagaimana cara yang aman dan sehat mengkonsumsi daging kurban. Perlu kita ingat bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak baik. Begitu pula dengan konsumsi daging, sebaiknya kita dapat mengontrol porsi makan daging. Konsumsi sumber protein hewani sebaiknya beraneka ragam, tidak hanya bersumber dari daging tetapi dapat bersumber dari ikan, ayam, dan telur. Dan tentu akan lebih baik bila kita menerapkan “Isi Piringku”, dimana  1 piring berisi ½ porsi piring makan terdiri dari sayur dan buah-buahan yang beragam jenis dan warna, ¼ piring makan diisi dengan protein (ikan,ayam,daging, kacang-kacangan dan lainnya), ¼ piring makan diisi dengan karbohidrat/makanan pokok (biji-bijian utuh, nasi, gandum, jagung dan lainnya). Jangan lupa konsumsi air putih yang cukup. Yuk, terapkan pola hidup sehat mulai sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Eka Prawira, Aditya. 2015. 8 Tips Aman dan Nyaman Menyantap Daging Kurban. https://www.liputan6.com tanggal 23 September 2015

Kementrian Kesehatan RI. 2017. Cara Sehat Mengonsumsi Daging Kurban. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id tanggal 31 Agustus 2017

Kementrian Kesehatan RI. 2018. Kandungan lemak dan kolesterol dalam 100 gr bahan makanan Daging Ayam, Daging Kambing dan Daging Sapi. http://p2ptm.kemkes.go.id tanggal 22 Maret 2018

Kementrian Kesehatan RI. 2018. Isi Pringku. https://kesmas.kemkes.go.id tanggal 25 Juni 2018

Kholisdinuka, Alfi. 2019. Mana yang Lebih Sehat, Daging Sapi atau Kambing? https://health.detik.com tanggal 26 November 2016

Mustinda, Lusiana. 2016. Ini Dia Kandungan Nutrisi Setiap 100 Gram Daging Sapi dan Kambing. https://food.detik.com tanggal 11 September 2016

E-Cigarette, RACUN YANG BERBALUT TEKNOLOGI

E-Cigarette, RACUN YANG BERBALUT TEKNOLOGI

Oleh Aisyah, SKM

Gaya hidup ‘‘menghisap’’ semakin variatif. Nggak cuma rokok, tren menghisap mulai banyak dilakukan dengan shisha dan vape atau vapor atau rokok elektronik. Akhir-akhir ini muncul tren rokok elektrik di Indonesia.

Electronic cigarette (rokok elektronik) atau e- cigarette merupakan salah satu NRT yang menggunakan listrik dari tenaga baterai untuk memberikan nikotin dalam bentuk uap dan oleh WHO disebut sebagai Electronic Nicotine Delivery System (ENDS).

Rokok elektrik dirancang untuk memberikan nikotin tanpa pembakaran tembakau dengan tetap memberikan sensasi merokok pada penggunanya.

Perilaku merokok merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di dunia. Badan kesehatan dunia WHO, merilis bahwa  dampak buruk yang diakibatkan oleh perilaku ini membunuh sekitar 6 juta orang per tahun, dimana lebih dari 5 juta dari korban tersebut adalah perokok aktif, mantan perokok dan pengguna “smokeless tobacco” (jenis tembakau hisap tanpa proses pembakaran). Ironisnya, lebih dari 600 ribu korban merupakan perokok pasif atau orang yang berada di sekitar perokok dan turut menghirup asap/uap rokok secara tidak langsung.

Sejarah Rokok Elektronik

Konon, sejak 1963 rokok elektronik sudah ada dan  ditemukan  pertama kali oleh Herbert A Gilbert. Namun sosok yang  pertama kali memproduksinya secara modern adalah Hon Lik, warga berkebangsaan Tiongkok tahun 2003 sehingga ia  lebih dikenal sebagai sosok yang mengawali kehadiran rokok  elektronik, selanjutnya dipatenkan tahun 2004 dan mulai  menyebar ke seluruh dunia pada tahun 2006-2007 dengan  berbagai merek. Seperangkat rokok elektronik merupakan alat  yang berfungsi mengubah zat-zat kimia menjadi bentuk uap dan  mengalirkannya ke paru dengan menggunakan tenaga listrik. WHO mengistilahkannya sebagai  Electronic Nicotine Delivery  System (ENDS) karena menghasilkan nikotin dalam bentuk uap yang kemudian dihirup oleh pengguna.

Struktur dasarnya terdiri  dari 3 elemen utama yaitu baterai, pemanas logam (atomizer)  dan katrid berisi cairan zat kimia. Struktur ini terus mengalami  modifikasi dan  modernisasi  mengikuti  perkembangan  teknologi, hingga saat ini telah berevolusi hingga pada generasi yang ke-3  menggunakan sistem tangki dan semakin  user friendly , bahkan  ada yang modelnya tidak nampak seperti rokok dan terintegrasi  dengan perangkat  handphone. Di peredaran, rokok elektronik  identik dengan istilah  vape, personal vaporizer (PV),  e-cigs, vapor,  electrosmoke, green cig, smartcigarette , dll. Cairan isi dalam katrid  diistilahkan  e-juice,  e-liquid Sementara aktivitas merokok dengan  menggunakan rokok elektronik diistilahkan dengan  vaping.

Perkembangan Rokok Elektrik

 

Rokok electric generasi pertama

  • bentuknya seperti rokok konvensional
  • Disposable (sekali pakai)

Rokok elektrik generasi 2

  • Bentuk seperti pena
  • Banyak variasi warna dan model cartridge
  • Cartridge dan atomizer terpisah
  • Kapasitas battery lebih besar

Rokok electric generasi 3

  • Menggunakan system tangki
  • Seluruh komponen terpisah
  • Modifikasi mudah
  • USB stick, bluetooth

 

Apa yang terkandung dalam rokok elektrik (vape)?

Kandungan pada cairan rokok elektronik berbeda-beda, namun pada umumnya berisi larutan terdiri dari 4 jenis campuran yaitu nikotin, propilen glikol, gliserin, air dan flavoring (perisa).

  • Nikotin ditemukan dalam konsentrasi yang berbeda-beda, antara 0-100 mg/ml dalam satu rokok elektrik. Nikotin adalah zat yang sangat adiktif yang dapat merangsangsistem saraf, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.Selain itu, nikotin terbukti memiliki efek buruk pada prosesreproduksi, berat badan janin dan perkembangan otak anak.
    Efek kronis yang berhubungan dengan paparan nikotin antara lain gangguan pada pembuluh darah, seperti penyempitan atau pengentalan darah. Kandungan kadar nikotin dalam likuid rokok elektronik bervariasi dari kadar rendah hingga kadar tinggi.
    Namun seringkali kadar nikotin yang tertera di label tidak sesuai dan berbeda signifkan dari kadar yang diukur sebenarnya. Beberapa studi di dunia telah membuktikan inkonsistensi kadar nikotin tersebut.
  • Propilen glikol adalah zat dalam kepulan asap buatan yangbiasanya dibuat dengan “fog machine” di acara-acara panggungteatrikal, atau juga digunakan sebagai antifrezee, pelarut obatdan pengawet makanan. Zat ini jika dihirup menyebabkaniritasi pernapasan, dan secara kronis menyebabkan asma,mengi (wheezing), sesak dada, penurunan fungsi paru-paru, danobstruksi jalan pernapasan.

 

Beberapa zat berbahaya lainnya yang ditemukan antara lain:

  • Tobacco-specific nitrosamines (TSNAs).
  • Diethylene glycol (DEG).
  • Logam: partikel timah, perak, nikel, aluminium dan kromiumdi dalam uap rokok elektronik dengan ukuran sangat kecil(nano-partikel) sehingga dapat masuk jauh ke dalam salurannapas di paru.
  • Karbonil: karsinogen potensial antara lain formaldehida,asetaldehida dan akrolein. Juga senyawa organik volatile(VOCs) seperti toluena dan p,m-xylene.
  • Zat lainnya: kumarin, tadalafl, rimonabant, serat silika.

Rokok elektronik pada awalnya memang pernah digunakan sebagai salah satu alat bantu berhenti merokok atau terapi pengganti nikotin (Nicotine Replacement Therapy, NRT) dengan cara mengurangi kadar nikotin rokok elektronik secara bertahap di bawah supervisi dokter. Namun pada tahun 2010, WHO tidak lagi merekomendasi penggunaannya sebagai NRT karena beberapa studi menemukan kandungan zat yang dapat menjadi racun dan karsinogen sehingga dinyatakan tidak memenuhi unsur keamanan. Selain kandungannya yang tidak aman dan masalah inkonsistensi kadar di atas, beberapa dampak buruk rokok elektronik lain yang ditimbulkan dan disebutkan dalam literatur ilmiah sebagai berikut:

  • Menimbulkan masalah adiksi. Hal ini karena kandungannikotin pada bahan likuid dapat menimbulkan rasa ketagihan,selanjutnya peningkatan kadar plasma nikotin pada penggunarokok elektronik akan menyebabkan peningkatan adrenalindan tekanan darah, serta juga meningkatkan kadar plasmakarbon monoksida dan frekuensi nadi yang dapat mengganggu Efek akut lain berupa penurunan kadar nitritoksida udara ekshalasi dan peningkatan tahanan jalan napas,yang semua berakibat buruk bagi kesehatan. Di AmerikaSerikat, The American Association of Poison Control Centers(AAPCC) melaporkan terjadinya peningkatan keracunanakut akibat nikotin rokok elektronik hingga mencapai jumlah3784 laporan di tahun 2014, meningkat lebih dari 14 kali lipatdari tahun 2011.
  • Dapat disalahgunakan dengan memasukkan bahan berbahayailegal seperti mariyuana, heroin dan lain-lain. Hal ini karenapengguna dapat melakukan modifkasi alat sehingga adapeluang dimasukkannya bahan berbahaya tersebut.
  • Bahan perisa yang digunakan dapat membahayakan Studi menunjukkan bahwa bahan perisa mungkinsaja aman kalau dimakan, tapi tidak aman kalau dihisap keparu. Ada dua hal sehubungan bahan perisa ini. Pertama,bahan perisa sangat kid friendly sehingga menarik buat anakanak dan remaja.Saat ini lebih dari 8000 variasi
    jenis rasa bahan perisa. Kedua, untuk rokok elektronik nonnikotin, bahan perisa digunakan sebagai unsur yang dominan sebagai pengganti nikotin, perilaku sengaja memasukkan bahan perisa ke dalam paru tentu bukan hal yang baik bagi kesehatan karena paru kita seharusnya menghisap oksigen dari udara segar.
  • Risiko bertambahnya perokok pemula. Studi menunjukkanbahwa seorang yang belum pernah merokok akan mulaimencoba rokok konvensional jika sebelumnya pernahmenghisap rokok elektronik dengan atau tanpa nikotin. Halini karena produk tanpa nikotin juga dapat dianggap sebagailangkah awal bagi pemula,lalu kemudian dapat saja dimasukkannikotin dan lama-lama kadar nikotinnya dinaikkan.Jadi,sepertisengaja “dilatih” untuk jadi perokok. Data penggunaan rokokelektronik di beberapa negara terus mengalami peningkatanbeberapa tahun terakhir,terutama pada usia remajadan pelajar/mahasiswa. Contohnya di Amerika Serikat,penggunanya bertambah tiga kali lipat hanya dalam rentangsetahun yaitu antara tahun 2013 dan 2014, dari 4,5 persen
    menjadi 13,4 persen, atau diperkirakan mencapai dua juta siswa SMA dan 450.000 siswa SMP telah menjadi pengguna.
  • Risiko bertambahnya perokok ganda (dual user) yaitupengguna yang menggunakan rokok konvensional dan rokokelektronik secara bersamaan.
  • Mantan perokok kembali merokok karena adanya klaimaman produk rokok elektronik.
  • Me-renormalisasi perilaku merokok, maksudnya bahwarokok elektronik dapat meningkatkan daya tarik terhadapmerokok konvesional, karena berdasarkan format dan desaindapat dianggap produk rokok elektronik adalah produkimitasi dari rokok konvensional, sehingga pada akhirnyaperilaku merokok konvensional dianggap perilaku yang tidaknegatif dan biasa-biasa saja. Dengan demikian penggunaan rokok elektronik dapat meningkatkan penerimaan sosial dariperilaku merokok.
  • Rokok Elektronik dapat mengganggu kebijakan KTR(Kawasan Tanpa Rokok), yang di tingkat global diistilahkandengan Smoke-Free Areas.

 

      Referensi

 

  1. https://jurnalpriangan.com/2016/10/29/inilah-fakta-terbaru-bahaya-rokok-elektrik-vape/
  2. http://www.fctcuntukindonesia.org/content/berita/dinkes_samarinda_himbau_bahaya_rokok_elektrik_secara_medis
  3. http://jurnalrespirologi.org/wp-content/uploads/2012/01/jri-2012-32-1-531.pdf