Category: berita

VAPE: APAKAH LEBIH AMAN DARI ROKOK?

Dr. Diana Septiyanti, Sp.P, FAPSR

Rokok elektrik atau vape adalah suatu alat dengan baterai sebagai daya untuk memanaskan suatu cairan dan menghantarkan suatu produk aerosol kepada penggunanya. Herbert A Gilbert adalah orang yang pertama kali mendaftarkan paten atas rokok elektrik pada tahun 1965 dan akhirnya diproduksi secara massal pada tahun 2003 berdasarkan hak paten atas nama Hon Lik dari Cina. Selang 1 tahun, rokok elektrik mulai beredar di dunia.

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2019 bahwa peredaran vape di seluruh dunia mengalami peningkatan, dan sebagaimana provinsi lain di Indonesia, Yogyakarta juga mengalami fenomena baru menjamurnya penggunaan vape. Global Youth Survey tahun 2011 menyatakan 0.3% remaja di Indonesia adalah pengguna rokok elektrik. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2018 juga mengadakan survei dengan hasil yang menunjukkan anak usia sekolah dasar juga merupakan kelompok yang menggunakan vape secara aktif. Hal ini sejalan dengan mudahnya mendapatkan toko yang menyediakan kebutuhan vape di sekitar kita. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan no 146 tahun 2017, peredaran rokok elektrik di Indonesia bersifat legal dengan diberlakukan cukai sebesar 57%. Hal ini yang menjadi payung peredaran rokok elektrik ke semua kalangan termasuk anak dan remaja. Anak dan remaja merupakan target penyebaran penggunaan vape karena iming-iming berbagai wangi buah dan permen pada saat menggunakan vape, sehingga mereka tidak menyadari bahaya dan efek kecanduan menghirup vape.

Informasi bahwa rokok elektrik itu aman karena tidak mengeluarkan asap dan tidak beracun masih bisa ditemui di masyarakat awam, bahkan sebagian orang menganggap rokok elektrik merupakan alternatif pengganti rokok atau merupakan media jembatan bagi perokok yang ingin berhenti merokok. Informasi dan penelitian yang dapat dijadikan sumber referensi bahaya atau tidaknya rokok elektrik sudah semakin banyak seiring dengan berjalannya waktu. Pemilihan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya masih belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, sehingga diharapkan masyarakat lebih bijak dalam menerima informasi mengenai rokok elektrik.

Berdasarkan berbagai penelitian yang ada saat ini, rokok elektrik mengandung berbagai zat sama bahayanya dengan rokok konvensional. Beberapa zat berbahaya tersebut antara lain:

  1. Bahan karsinogenik.

Bahan karsinogenik adalah zat tersebut dapat memicu munculnya kanker. Zat karsinogenik memiliki kemampuan merangsang sel tubuh normal untuk berubah sifatnya menjadi sulit dikendalikan. Bahan karsinogen yang terdapat di vape antara lain propylene glycol, gliserol, formaldehid, nitrosamine. Zat tersebut tidak hanya menyebabkan kanker paru, namun juga kanker tenggorok dan rongga mulut.

  • Nikotin

Nikotin adalah zat yang bertanggung jawab terhadap sifat addiksi atau ketagihan terhadap rokok konvensional mau pun vape. Nikotin yang masuk ketubuh kemudian beredar ke otak dan menempati reseptor yang ada di otak. Dengan bertemunya reseptor tersebut dnegan nikotin, maka diproduksi suatu zat yang disebut dopamine. Dopamine memiliki efek menenangkan dan membuat nyaman sehingga apabila orang tersebut mendapat asupan nikotin akan menjadi gelisah dan tidak nyaman. Sifat nagih ini yang membuat seseorang sulit lepas dari vape dan menimbulkan gejala penolakan apabila dihentikan mendadak.

Nikotin juga bertanggung jawab terhadap tingginya kejadian infeksi Tuberkulosis (TBC) di kalangan perokok baik konvensional maupun vape. Nikotin dapat menginduksi terjadinya perubahan gen yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah bakteri penyebab TBC (M. tb) di paru sehingga resiko sakit TBC juga meningkat 2 kali lipat pada pengguna vape dibandingkan bukan perokok.

  • Radikal bebas

Efek buruk vape terkait infeksi di paru diakibatkan terdapatnya 7×1011 zat radikal bebas pada setiap hirupan vape yang dapat mengakibatkan peningkatan sifat oksidatif dan mengubah sistem kekebalan sel. Hal ini sama halnya kerusakan akibat rokok konvensional. Beberapa zat toksik lain seperti logam berat, silikat, berbagai nanopartikel dan particulate matter dengan ukuran yang sangat kecil dan dapat berpeluang menimbulkan iritasi, peradangan, menurunkan sistem kekebalan lokal pernapasan, peningkatan sensitivitas saluran napas, asma, gejala pernapasan dan bronkitis. Gangguan pencernaan, sistem kekebalan dan gangguan pembekuan darah merupakan efek lain yang bisa ditimbulkan akibat penggunaan vape.

Beberapa pengguna vape menjadikan alasan vape sebagai jembatan untuk usaha berhenti merokok. Apakah hal itu benar? Sayangnya hal tersebut adalah tidak benar. Badan Kesehatan Dunia dalam konferensi WHO Framework Convention On Tobacco Control tahun 2014 menyatakan dengan tegas bahwa tidak terdapat cukup bukti bahwa penggunaan vape dapat membantu seseorang berhenti merokok. Sebuah penelitian di Polandia menunjukkan bahwa 30% remaja berusia 15-19 tahun yang menggunakan vape pada tahun 2013-2014 sebanyak 72.4% diantaranya adalah pengguna rokok dan vape secara bersamaan. Penelitian oleh Uhamka tahun 2018 di Jakarta menunjukkan bahwa diantara 11.8% siswa SMA pengguna vape, sebanyak 51% diantaranya adalah dual users.

Isu penting lain terkait penggunaan vape adalah vape dapat menjadi pintu masuk baru beragam jenis narkoba. Penelitian yang dilakukan oleh Blundell tahun 2018 menyatakan 39.5% dari 861 responden menggunakan vape sebagai media menghisap narkoba, baik narkoba konvensional (ganja, kokain dan heroin) atau pun narkoba jenis baru (ganja sintetis atau katinona sintetis).

Kejadian sakit paru karena penggunaan vape sudah dilaporkan sebelumnya walaupun julahnya tidak banyak, namun cukup angka kematiannya cukup tinggi. Pada bulan Juli 2019, Departemen Pelayanan Kesehatan Wisconsin dan Departemen Kesehatan Masyarakat Illinois, Amerika Serikat menerima laporan penyakit paru terkait vape dan mengadakan investigasi kesehatan terhadap semua kasusnya. Terdapat 53 kasus dengan riwayat penggunaan vape 90 hari sebelum muncul gejala dan didapatkan kerusakan paru yang luas. Kerusakan tersebut tidak terkait dengan penyebab lain setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan. Rerata usia pada kasus tersebut adalah 19 tahun dan 94% diantaranya harus dirawat inap, 32% diantaraya harus menjalani intubasi dan menggunakan ventilator, 1 kasus dilaporkan meninggal. Semua kasus memiliki gambaran kerusakan paru yang sama yaitu kerusakan luas di kedua paru. Saat ini para klinisi dan ilmuwan di seluruh dunia mengumpulkan berbagai kasus dan data mengenai vape sehingga diharapkan masyarakat dapat menerima informasi yang valid dan dapat dipercaya.

Vape, Apakah lebih aman dari rokok

Dikalangan masyarakat banyak didapati Informasi bahwa rokok elektrik itu aman karena tidak mengeluarkan asap dan tidak beracun , bahkan sebagian orang menganggap rokok elektrik sebagai jembatan bagi perokok yang ingin berhenti merokok. Benarkah demikian?

Generasi Millenial 4.0 Pahlawan Eliminasi TBC

Oleh: Arifah Budi Nuryani

Generasi millenial yang berdaya saing diharapkan mampu berkontribusi dalam program eliminasi TBC di era industri 4.0. Pada era ini generasi millenial sangat terbuka kesempatannya untuk belajar, berlatih, berinovasi, berimajinasi, berkarya serta berkontribusi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta keikutsertaan dalam pendidikan kesehatan. Generasi millenial yang sangat akrab dengan teknologi dan dunia automasi diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam pembangunan di bidang kesehatan melalui upaya promotif dan preventif  P2 TBC (Pencegahan dan Pengendalian TBC). Generasi millenial ini harus dibekali dengan pendidikan kesehatan dalam hal ini yang berkaitan dengan bahaya TBC agar mampu mendukung keberhasilan program eliminasi TBC.

Sejak era Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, peran serta potensi besar generasi muda telah diakui oleh Presiden Ir. Soekarno. “Beri Aku Sepuluh Pemuda, Niscaya Akan Kuguncangkan Dunia”. Kutipan pidato tersebut menyiratkan pesan yang sangat kuat bahwa pemuda bisa menciptakan perubahan yang sangat besar bagi Bangsa Indonesia. Generasi muda saat ini lebih sering kita kenal dengan istilah generasi millenial. Millenial generation atau generasi millenial, memang tidak memiliki demografi khusus, namun para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun lahir. Penggolongan ke dalam generasi millenial mencakup mereka yang lahir pada tahun 1980 hingga awal tahun 2000-an.

William Strauss dan Neil Howe percaya bahwa setiap generasi mempunyai karakteristik umum yang akan menjadi karakter generasi itu sendiri dengan 4 pola yang berulang. Mereka berhipotesis bahwa generasi millenial akan mirip dengan generasi yang lebih berwawasan sipil dengan empati yang kuat terhadap komunitas lokal dan global. Bangsa Indonesia sangatlah mengharapkan peran generasi millenial untuk menjadi agen perubahan (Agent of Change). Harapan tersebut tercipta mengingat generasi millenial memiliki ide-ide yang selalu segar, pemikiran yang kreatif dan inovatif yang diyakini akan mampu mendorong terjadinya transformasi dunia ini ke arah yang lebih baik melalui berbagai upaya hingga tercipta perubahan dan perkembangan.

Berbicara mengenai generasi millenial mengingatkan pada fakta bonus demografi yang dimiliki Indonesia. Bonus demografi merupakan suatu kondisi struktur penduduk usia produktif sangat besar, sementara  proporsi penduduk yang  tidak produktif  semakin kecil  dan belum banyak. Penduduk tidak produktif merupakan penduduk yang berusia  kurang dari 14 tahun dan di atas 64 tahun. Dilihat dari struktur demografinya, pada tahun 2020-2030 Indonesia berpeluang untuk  mengalami bonus demografi. Negara ini akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif.  Penduduk dengan usia tidak produktif berkurang menjadi 60 juta jiwa. Hal ini berarti bahwa 10 orang usia produktif hanya akan menanggung  3 – 4 orang usia tidak produktif.  Namun, ibarat pedang bermata dua, di samping bonus demografi di Indonesia bisa memberikan dampak positif bagi tujuan pembangunan nasional, dapat juga memberikan dampak negatif pada upaya pembangunan bangsa. Tanpa diiringi sumber daya manusia yang baik, bonus demografi tersebut akan menjadi beban bangsa.

Beban bangsa yang dimaksud satunya ialah beban dalam pencegahan dan pengendalian penyakit. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia menargetkan eliminasi TBC di tahun 2030. Jika negara tidak mempersiapkan diri untuk mengahdapi tantangan besarnya angka kejadian TBC di Indonesia, maka bonus demografi menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat di Indonesia, demikian seperti dikutip dari pernyataan Menteri Kesehatan dr. Nila F. Moeloek bahwa bonus demografi yang diprediksi menjadi generasi emas Indonesia akan berbalik menjadi bencana jika kita tidak bermitra untuk mengakhiri TBC.

Perlu kita ketahui bersama bahwa tuberkulosis atau yang sering kita dengar dengan istilah TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri penyebab TBC cenderung menyerang paru-paru, namun bakteri ini juga mampu menyerang organ lain di tubuh, seperti laring, tulang, selaput otak, ginjal, kelenjar getah bening, serta saluran pencernaan.

Pada tahun 2017  terdapat 1,3 juta kasus kematian akibat TBC dengan HIV negatif, dan sekitar 300.000 kasus kematian akibat TBC dengan HIV posistif. Berdasarkan laporan WHO Global Report pada tahun 2018, insidensi kasus TBC di Indonesia mencapai 842.000 kasus dengan angka kematian mencapai 107.000 kasus. Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan tertinggi ketiga di dunia untuk beban kasus TBC setelah India dan Cina. Risiko penularan TBC dapat dikurangi jika semua pasien TBC dapat ditemukan dan diobati sampai sembuh. Akan tetapi, dewasa ini, Balitbang Kemenkes menemukan bahwa dari 842.000 kasus, baru 53% yang ternotifikasi dan diobati, sisanya belum diobati atau sudah diobati namun belum dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan. Selain itu, TBC kebal obat atau dalam dunia kesehatan dikenal dengan multi drugs resistant TB (MDR TB) serta TBC yang menyerang orang HIV posistif atau TB HIV juga merupakan masalah terkait tuberkulosis yang perlu mendapat perhatian. Estimasi insiden TB HIV sebesar 36.000 kasus, dengan mortalitas 9.400 kasus, sedangkan TB MDR diperkirakan sebanyak 23.000 kasus.

Berikut ini adalah data penyakit TBC dari WHO. Dari ketiga negara dengan angka kejadian TBC terbesar di dunia, yaitu India, China, dan Indonesia. Berdasarkan data tersebut dapat kita lihat bahwa angka kecakupan pengobatan TBC dan angka keberhasilan pengobatan TBC di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Cina bahkan India. Namun begitulah fakta yang terjadi di Indenesia.

Gb 3. Data Penyakit TBC Di Indonesia
Gb 1. Data Penyakit TBC Di China

Gb 2. Data Penyakit TBC Di India

TBC memberikan dampak yang sangat besar terhadap kondisi sosial dan keuangan pasien, keluarga dan masyarakat, yang tentu saja hal ini akan berpengaruh pada kesehatan masyarakat dalam skala nasional maupun global. Sebagian besar infeksi TBC terjadi pada usia produktif antara 15 dan 54 tahun, yang secara langsung akan berpengaruh pada produktivitas penderitanya. Meskipun diagnosis dan pengobatan tuberkulosis gratis, pasien TBC harus menanggung biaya transportasi, akomodasi, gizi dan kerugian akibat ketidakmampuan untuk bekerja yang mengakibatkan kehilangan penghasilan. Beban keuangan yang tinggi dapat menyebabkan pasien tidak mendapatkan diagnosis, tidak memulai pengobatan, bahkan dapat berhenti pengobatan. Kondisi tersebut akan berisiko tinggi menularkan penyakit TBC ke orang lain dan yang lebih fatal lagi dapat berkembang menjadi TBC kebal obat atau Multidrug Resistant TB (MDR-TB).

Beban terbesar dari kerugian yang dialami oleh pasien TBC merupakan dampak dari kehilangan waktu produktif karena kecacatan dan kematian dini. Beban TBC di Indonesia per tahun sebesar Rp. 24,7 Milyar, sedangkan TBC MDR yaitu 5,5 milyar. Dampak kerugian ekonomis akibat penyakit TBC sekitar 130,5 milyar, TB-MDR sebesar 6,2 milyar. Selain itu, TBC juga berdampak pada sektor swasta, seperti pada skala makro dimana suatu korporasi dapat mengalami penurunan produktivitas akibat kematian prematur dan kesakitan yang dialami oleh pekerja karena TBC.

Pemerintah telah mengeluarkan program TOSS TB (Temukan dan Obati Sampai Sembuh) sebagai upaya untuk eliminasi TBC. Namun, upaya promotif dan preventif untuk mengakhiri TBC tetap harus digalakkan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui program pendidikan kesehatan. Prinsip promosi kesehatan yaitu melakukan tindakan promotif dan preventif atau pencegahan sedini mungkin. Tindakan pencegahan TBC yang dilakukan melalui upaya pendidikan kesehatan akan melibatkan kerjasama dari berbagai sektor, termasuk diantaranya yaitu sektor pendidikan.

Peran generasi milenial yang sudah sangat akrab dengan teknologi dapat disalurkan dengan turut serta aktif dalam pencegahan penularan TBC dimulai dari pendidikan kesehatan mengenai TBC sehingga para pemuda millenial menyadari bahwa TBC sangat berbahaya. Pendidikan kesehatan dapat berdampak pada perubahan perilaku sehingga pemuda milenial dapat turut serta dalam eliminasi TBC 2030.

Dengan dibekali pendidikan kesehatan mengenai TBC, para generasi millenial akan mengetahui hal-hal yang harus dilakukan jika mengetahui jika diri atau keluarga, kerabat, maupun teman mengalami tanda dan gejala penyakit TBC. Jika hal buruk (seperti tertular TBC) terjadi, maka dapat segera memeriksakan diri di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Begitu pula motivasi untuk sembuh lebih mungkin untuk meningkat jika para millenial sudah memiliki pengetauan tentang TBC, sebab artinya mereka dapat menjadi penyemangat agar penderita TBC tidak mengalami putus obat, yang berakibat pada berkembangnya kasus TBC menjadi TBC kebal obat. Dan yang lebih berbahaya lagi, bahwa penderita TBC yang tidak terobati secara tuntas akan tetap memungkinkan untuk menular pada orang lain.

Pendidikan kesehatan tantang TBC juga dapat dilakukan melalui berbagai aplikasi berbasis android, seperti misalnya TBpedia, sembuh TB, bye TB, yang tidak hanya memuat informasi mengenai penyakit TBC namun juga dilengkapi dengan fitur pengingat untuk minum obat TBC. Tidak menutup kemungkinan, jika para generasi millenial juga dapat menunjukkan karya dan inovasi seperti menciptakan berbagai aplikasi yang lebih baik daripada beberapa aplikasi tersebut untuk mendukung eliminasi TBC.

Sudah saatnya kita para pemuda, generasi millenial menyadari bahaya TBC. Kita harus menyadari bahwa siapapun berisiko untuk tertular TBC karena TBC tidak mengenal gender, usia, jabatan maupun pekerjaan kita. Buka mata dan bangun dari mimpi panjang bahwa stigma TBC hanya menyerang orang kalangan menengah ke bawah. Bukan waktunya lagi untuk bersantai-santai dalam menghadapi bahaya TBC. Mari kita ubah mindset kita menjadi paradigma sehat. Memang tidak mudah untuk mengatasi masalah pengobatan TBC di Indonesia, tetapi kita bisa bersama-sama mengambil langkah promotif dan preventif untuk mencegah penularan TBC. Mulailah dari sekarang untuk kita berperan aktif menyadarkan orang-orang di sekitar kita tentang bahaya TBC. Bersama-sama kita bisa mencegah penularan TBC. Kita harus membuktikan bahwa generasi millenial mampu mengguncangkan Indonesia dengan mewujudkan Indonesia bebas TBC dan program eliminasi TBC 2030 bukan hanya sekadar impian. Dimulai dari diri kita sendiri, karena kita semua berisiko. Menjadi pahlawan tak hanya harus menenteng senjata di medan perang, tetapi menyukseskan program eliminasi TBC juga dapat menjadi pahlawan bagi banyak orang. Bersama generasi millenial 4.0, Indonesia bebas TBC.

Daftar Pustaka

Aji, Purnama Tirta. 2019. Peran Generasi Millenial Bagi NKRI. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia:  https://setkab.go.id/peran-generasi-milenial-bagi-nkri-2/. Diakses pada 8 September 2019.

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI. 2018. Kerjasama Mulisektor untuk Menurunkan Stunting dan Eliminasi TB. http://www.depkes.go.id/article/print/18112300002/kerjasama-multi-sektor-untuk-menurunkan-stunting-dan-eliminasi-tb.html. Diakses pada 10 September 2019.

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI. 2019. Sektor Swasta Upayakan Model Baru Atasi TBC. http://www.depkes.go.id/article/view/19080400001/sektor-swasta-upayakan-model-baru-atasi-tbc.html. Diakses pada 8 September 2019.

Handayani, Nur. 2019. Mensana Informasi Kesehatan dan Media Sehat. Yogyakarta: Dinas Kesehatan DIY.

Media Indonesia. 2019. Eliminasi Tuberkulosis 2030 Perlu Sinergi Lintas Sektor. https://mediaindonesia.com/read/detail/254412-eliminasi-tuberkulosis-2030-perlu-sinergi-lintas-sektor. Diakses pada 9 September 2019.

Moeloek. Nila F. 2016. Bonus Demografi dan Investasi Pembangunan Kesehatan dan Gizi. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20161028/2318577/bonus-demografi-dan-investasi-pada-pembangunan-kesehatan-dab-gizi/. Diakses pada 9 September 2019.

WHO. 2018. Global Tuberculosis Report 2018. https://www.who.int/tb/publications/global_report/en/. Diakses pada 10 September 2019.

FISIOTERAPI DADA PADA ANAK ANAK

Oleh : Prayitno.S.ST.Ftr

Pada tulisan sebelumnya telah kami sampaikan mengenai tehnik – tehnik terapi untuk mengeluarkan dahak yang dapat diterapkan pada orang dewasa. Bagaimana dengan penanganan fisioterapi dada pada anak anak?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka pada pembahasan kali ini akan kami fokuskan kepada bagaimanakah teknik fisioterapi dada untuk anak anak terutama usia dibawah tiga tahun yang belum dapat mengeluarkan dahak sendiri.

Banyaknya anak dibawah lima tahun yang mengalami / terkena penyakit paru yang dapat kami lihat dari kunjungan Poli Anak RSP Respira yang semakin hari semakin banyak yang berkunjung dan priksa bahkan sampai dirawat, bisa dijadikan sebuah gambaran betapa semakin bertambahnya anak anak yang mengalami penyakit paru. Mengapa demikian? Umumnya penyakit paru menghampiri mereka yang memiliki daya imunitas yang rendah atau sering terpapar oleh polusi yang dapat memudahkan terserang penyakit paru.

Usia anak dibawah lima tahun memiliki kecenderungn daya imunitas yang belum kuat sehingga mudah sekali terserang batuk, flu, demam dll, dampak dari kondisi tersebut menjadikan nafsu makan juga menurun, anak menjadi sulit makan bahkan kadang sampai harus dipaksa untuk makan, yang kemudian diikuti dengan penurunan berat badan, sehingga anak yang terkena penyakit paru biasanya sulit untuk menaikkan berat badannya sebelum kondisi parunya membaik.

Masalah paru pada anak yang sering ditemukan adalah napasnya grok-grok yang menandakan adanya dahak di saluran pernapasan. Dahak tersebut harus dikeluarkan agar tidak menjadikan masalah dikemudian hari. Dahak yang tidak keluar tentunya dapat mengakibatkan pemburukan kondisi keluhan batuk akan mnejadi lebih sering, bahkan kadang disertai sesak napas dampaknya anak menjadi lemah dan tidak ada nafsu makan, yang pada akhirnya dapat menurunkan berat badan bahkan bila terjadi dalam jangka panjang dapat menjadikan adanya gangguan pada tumbuh kembangnya.

Fisioterapi dada pada anak ditujukan untuk meningkatkan pengeluaran mukus diantaranya menggunakan teknik postural drainage, perkusi / vibrasi / tapotemen. Pemberian tindakan fisioterapi dada pada anak sangat sederhana dan mudah dilakukan namun diperlukan keberanian dan memahami pemeriksaan auskultasi paru pada pada anak untuk menentukan area paru sisi makan yang banyak dahaknya.

Berikut ini akan kami jelaskan mengenai teknik postural drainage dan tapotemen yang dilakukan untuk membantu mengeluarkan dahak pada anak anak.

  1. Posisioning ( Postural Drainage)

Merupakan teknik yang digunakan dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi, dengan cara paru diposisikan sedemikain rupa untuk mengalirkan dahak dari saluran yang lebih kecil ke saluran yang lebih besar sehingga dahak lebih mudah saat dikeluarkan. Waktu yang digunakan untuk melakukan teknik postural drainge ini adalah 20 – 30 menit/bagian paru. Paru-paru  memiliki banyak cabang perjalanan saluran udara sehingga memiliki banyak posisi dalam melakukan postural drainage. Peralatan yang digunakan pada teknik ini bisa menggunakan bantal dan atau guling.

Berikut posisi postural draiange pada anak anak.

  1. Untuk paru kanan dan kiri bagian atas sisi depan.

anak diposisikan tidur terlentang dan bersandar (45 derajat) pada bantal/ dengan posisi seperti pada gambar

  • Untuk paru paru kanan dan kiri bagian atas sisi belakang

anak diposisikan duduk dengan memeluk guling/ bantal membentuk sudut 45 derajat seperti pada contoh gambar

  • Paru kana dan kiri bagian tengah sisi depan

Pada posisi ini anak cukup dengan tidur terlentang

  • Paru bagian tengah sisi belakang

anak diposisikan tidur tengkurap beralaskan bantal atau guling seperti gambar disamping

  • Paru bagian atas sisi kanan belakang

Anak diposisikan tidur tengkura dengan sedikit dimiringkan kerah kanan atau kiri dimana paru yang ada dahaknya diposisikan diatas

            Sedangkan untuk melakukan postural drainage untuk paru bagian bawah anak diposisikan kepala berada di bawah dan dilakukan secara hati hati agar tidak ada keluhan yang menyertai.

  • Percusion/Vibrasi/Tapotemen

Merupakan tepukan yang ritmis dan cepat pada area dada yang ditujukan untuk menggetarkan dahak yang ada didalam paru agar dahak lebih cepat mengalir ke saluran paru yang lebih besar. Berikut bentuk telapak tangan saat melakukan tapotemen

Dalam memberikan teknik ini tidak boleh terlalu keras, ritmik, lembut dan tidak menyakitkan bahkan anak bisa tertidur saat di lakukan tepukan ini,  telapak tangan diposisikan seperti mangkuk agar tidak sakit/panas dikulit( seperti tampak pada gamabar),jumlah tepukan yang disarankan adalah 25 kali tiap 10 detik. Dilakukan selama 3 sampai 5 menit perbagian paru yang akan dikeluarkan dahaknya.  Tepukan diberikan pada punggung anak atau dada depan bersamaan dengan posisi postural drainage.

Setelah diberikan tepukan ditambahkan vibrasi/getaran pada rongga dada dengan, dimanan vibrasi diberikan saaat ekspirasi

Membantu mengeluarkan dahak pada anak bisa dilakukan sendiri oleh orang tua sehingga dapat dilakukan sehari dua kali pagi setelah bangun tidur dan sore hari menjelang tidur bahkan bisa dilakukan sewaktu waktu bila mana perlu ( banyak dahak di paru paru).

Silahkan mencoba tips diatas, bila kurang jelas silahkan berkujung ke fisioterapi di RSP Respira.

Sumber :

Jeane A.D and Carole A.Graybill. : Cardiopulmonary physical therapy “ Physical therapy for the child with respiratory dysfunction., second edition, st louis, 1990,Philadelphia.

BANTUAN HIDUP DASAR

Oleh dr. Ni Made Erna P

Kejadian henti napas dan henti jantung dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, serta dapat menimpa siapa saja. Bila seseorang yang mengalami henti napas dan henti jantung tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka otak dan jantung akan mengalami kematian dalm waktu 4-10 menit. Sehingga sangat penting kita memahami cara melakukan Bantuan Hidup Dasar yang tepat.

Bantuan Hidup Dasar  adalah serangkaian usaha awal untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada seseorang yang mengalami henti nafas dan atau henti jantung (cardiac arrest).

Bantuan hidup dasar harus bisa dilakukan oleh seluruh civitas hospitalia.

Tujuan dari melakukan Bantuan Hidup dasar adalah:

  • Mencegah berhentinya pernafasan
  • Mencegah berhentinya sirkulasi atau
  • Memberikan bantuan external terhadap

 sirkulasi dan ventilasi dari pasien yang

 mengalami henti jantung atau henti nafas

 melalui resusitasi jantung paru ( RJP)

Bantuan Hidup Dasar diusahakan dilakukan secepat mungkin karena jika terjadi keterlambatan 1 menit, kemungkinan berhasil mencegah kematian adalah 98%. Terlambat 3 menit, kemungkinannya menurun sampai 50%. Dan jika terlambat sampai 10 menit, hanya ada 1% kemungkinan dapat menyelamatkan korban henti jantung dan henti napas.

Selain harus cepat memulai resusitasi jantung paru (RJP), sangat penting juga bagi kita untuk memahami cara           melakukan resusitasi jantung paru yang berkualitas.

Syarat RJP dikatakan berkualitas adalah :

  1. Kompresi di titik tengah dada dengan siklus 30:2 (30x kompresi, 2x napas buatan)
  2. Kedalaman kompresi sekitar 5-6 cm
  3. Kecepatan kompresi 100-120x/menit
  4. Beri kesempatan dada untuk mengembang sempurna stelah kompresi
  5. Interupsi minimal Bebaskan jalan napas dengan posisi head tilt, chin lift (dahi didongakkan, dagu ditahan), atau posisi jaw thrust(menahan tulang rahang) apabila curiga ada trauma leher.
  6. Berikan ventilasi secara adekuat.
  7. Jika alat defibrillator sudah datang, segera lakukan cek irama dan kejut jantung jika memungkinkan.

RSP Respira secara rutin melaksanakan pelatihan BHD untuk seluruh karyawan dan pekerja di lingkungan rumah sakit. Dengan tujuan agar seluruh jajaran karyawan dan pekerja mampu melakukan pertolongan segera apabila menemukan kejadian henti jantung dan atau henti napas di lingkungan rumah sakit maupun di luar rumah sakit.

Oleh sebab itu peserta tidak hanya terbatas pada petugas medis, akan tetapi melibatkan seluruh karyawan baik medis dan non medis, serta pekerja di lingkungan rumah sakit (juru parkir, satpam, petugas kebersihan, bagian laundry, bagian dapur)  Pada acara ini seluruh peserta diajarkan cara melakukan resusitasi jantung paru yang berkualitas.

Langkah-langkah RJP

D  Danger yaitu pastikan keamanan penolong, pasien, lingkungan

R  Respon,cek kesadaran/respon korban, kemudian .

S   Shout, yaitu minta tolong,

C  Circulation lakukan kompresi segera

A  Airway adalah membebaskan jalan napas

B  Breathing. Yaitu memberikan pernapasan buatan

Ayo Dukung Ibu Sukses Menyusui

By : Nur Handayani, SKM

Penilaian keluarga sehat yang menjadi program Kementrian kesehatan terdiri dari 12 indikator. Salah satu indicator tersebut adalah bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI). Pada setiap tanggal 1-7 Agustus diperingati sebagai Pekan ASI Sedunia. Pada tahun 2019 ini Mengambil tema Pekan ASI Sedunia adalah “Empower Parents Enable Breastfeed”, sedangkan Kementrian Kesehatan Mengambil tema “Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui” dengan slogan “Ayo Dukung Ibu Sukses Menyusui”. Tujuan dari tema ini adalah demi menciptakan kesadaran bahwa menyusui bukan hanya tugas ibu, melainkan tugas kedua orangtua. Artinya, ayah juga wajib terlibat dalam membantu kenyamanan anak dan ibu menyusui. Selain itu, kampanye ini juga menekankan pentingnya kebijakan ramah keluarga agar memungkinkan pemberian ASI, serta membantu orangtua dalam mengasuh dan menjalin ikatan dengan anak-anak sejak awal kehidupan.

              Momentum Pekan Asi Sedunia merupakan salah satu upaya WHO dan UNICEF untuk mendukung ibu menyusui seluruh dunia. WHO mengkampanyekan bahwa ASI adalah nutrisi terbaik bagi bayi hingga berusia enam bulan. Sehingga WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif di enam bulan pertama kehidupan bayi dan dilanjutkan hingga berusia dua tahun atau lebih dengan dilengkapi makanan pendamping ASI (MPASI).

            ASI merupakan susu terbaik untuk bayi karena memiliki kandungan gizi lengkap; seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, serta vitamin. Berikut komposisi dari ASI:

  • ASI mengandung air sebanyak 87.5%, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu lagi mendapat tambahan air walaupun berada di tempat yang mempunyai suhu udara panas. Kekentalan ASI sesuai dengan saluran cerna bayi, sedangkan susu formula lebih kental dibandingkan ASI. Hal tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya diare pada bayi yang mendapat susu formula
  • Kolostrum

Kolostrum merupakan ASI yang keluar pertama kali pada 1-5 hari pasca melahirkan. Kolostrum yang berwarna kekuningan ini mengandung immunoglobulin A yang tinggi. Bayi yang baru lahir perlu mengeluarkan mekonium, yaitu tinja yang terakumulasi sebelum lahir untuk mengurangi risiko penyakit kuning. Kolostrum membantu proses ini dengan berperan sebagai cairan pencahar alami. Meski hanya beberapa tetes, kandungan ASI pertama yang sering disebut sebagai imunisasi pertama bayi ini juga memiliki kadar gula dan kadar lemak lebih rendah daripada ASI yang muncul kemudian.

  • Karbohidrat

Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir 2 kali lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu formula.

  • Protein

Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi. Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri dari protein whey dan Casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein Casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi

  • Lemak

Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibanding dengan susu sapi dan susu formula. Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Terdapat beberapa perbedaan antara profil lemak yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi atau susu formula. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan pada perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI juga mengandung banyak asam lemak rantai panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan saraf dan retina mata

  • Karnitin

Kartinin yang terkandung dalam ASI memiliki peran membantu proses pembentukan energi. Hal ini diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh

  • Vitamin dan Mineral

ASI juga kaya akan vitamin dan mineral. Vitamin E berfungsi untuk ketahanan sel darah merah. Vitamin A untuk kekebalan tubuh dan pertumbuhan si kecil. Terdapat pula vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B, C, dan asam folat yang berfungsi untuk perkembangan otak dan daya tahan tubuh. Untuk kandungan mineralnya, antara lain kalsium yang berfungsi untuk perkembangan tulang dan otot, serta mengandung zinc untuk membantu metabolisme

              Melihat kandungan ASI di atas, tentunya bisa diketahui bahwa ASI merupakan nutrisi terbaik. Ada periode yang dinamakan 1000 hari pertama kehidupan, yaitu 270 hari selama dalam kandungan dan 730 hari pertama setelah bayi yang dilahirkan. Pada masa tersebut, merupakan periode emas yaitu masa dimana menentukan kualitas kehidupan. Karena pada saat itulah, terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dibanding usia lain. Nah, saat itulah anak mempunyai hak untuk mendapatkan ASI. Di Indonesia proporsi Inisiasi Menyusui Dini (IMD) berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 berada pada angka 34,5% dan pada tahun 2018 telah mengalami peningkatan menjadi 58,2%. Sedangkan Proporsi ASI eksklusif masih menurut Riskesdas 2018 berada pada angka 37,3%.

              Kalau menilai proporsi ASI eksklusif ternyata angka tersebut masih sangat kurang. Masih banyak orangtua di Indonesia yang menyepelekan hal menyusui padahal hal ini dapat memberi banyak manfaat untuk bayi bahkan membawa manfaat bagi ibu. Menurut Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, hal menyusui ini perlu diperbaiki karena menyangkut masalah masa depan negara. Anak yang lahir di Indonesia nantinya akan menjadi sumber daya manusia dan jika mereka tidak sehat, akan menjadi masalah bagi negara. Bahkan Presiden Jokowi juga menyatakan keprihatinannya karena masih ditemukan kasus stunting di Indonesia yang salah satunya karena kurangnya pemberian asi pada bayi. Menurut presiden, Titik dimulainya pembangunan SDM adalah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan anak usia sekolah. Ini merupakan umur emas untuk mencetak manusia Indonesia unggul ke depan.  

              Menyusui bukanlah hal yang mudah, butuh dedikasi, usaha dan waktu. Selain itu juga butuh dukungan dari banyak hal. Dukungan dari ayah sebagai suami, keluarga, petugas kesehatan, masyarakat serta lingkungan mempunyai andil dalam keberhasilan ibu untuk menyusui. Itulah kemudian Kementrian Kesehatan menaruh isu penting pada Pekan ASI Sedunia tahun 2019 ini, yaitu Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui.  Kenapa ayah dikaitkan peran dalam keberhasilan menyusui? Pada saat menyusui untuk pertama kalinya, tidak semua bayi langsung pandai menyusu. Belum lagi bila ternyata saat harus menyusui, tetapi ASI nya belum keluar. Ini kemudian bisa menyebabkan ibu stress menghadapi situasi yang ada. Awal menyusui umumnya ibu lebih emosional. Bila ibu stress, justru akan memperburuk jumlah ASI yang dihasilkan. Dikutip dari Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, Satu dari lima ibu memutuskan untuk berhenti menyusui karena kurangnya dukungan. Oleh karena itulah dalam proses menyusui, ibu perlu dukungan dari ayah dan keluarga.              

              Dikutip dari facebook AyahASI, ada beberapa tips “jadi ayah baru” untuk membantu ibu menyusui, antara lain :

  • Ikut mengasuh bayi
  • Membantu mengurus pekerjaan rumah tangga, misalnya bikin kopi sendiri, mencuci piring sendiri.
  • Saling bercerita, misal berkomunikasi antara ayah dan ibu tentang pengasuhan bayi
  • Bagi tugas jaga malam, misalnya bergantian waktu berjaga malam saat pengasuhan bayi antara ayah dan ibu, ayah bisa menyiapkan asi perahan untuk diberikan ke bayi saat si ibu kelelahan
  • Minta bantuan, misal ayah bisa meminta bantuan konselor ASI saat ibu ada kesulitan dalam hal menyusui.

Sedangkan menurut Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jateng, ada beberapa pihak yang dapat memberikan dukungan kepada ibu menyusui. Beberapa pihak tersebut, antara lain :

  1. Tenaga kesehatan :
  • Memberikan informasi tentang keuntungan menyusui saat pemeriksaan kehamilan
  • Membantu kontak kulit/IMD ibu dan bayi segera setelah bayi lahir
  • Membantu untuk mengenal tanda lapar bayi
  • Mengenalkan berbagai posisi menyusui
  • Mengecek pelekatan menyusui
  • Dukung ibu untuk melanjutkan menyusui
  • Membantu mengatasi masalah menyusui
  • Yakinkan bahwa ASI yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi selama 6 bulan pertama
  • Tidak mempromosikan produk-produk pelanggar kode WHO yang dapat menghambat proses menyusui.
  • Fasilitas kesehatan :
  • Membuat kebijakan adanya kontak kulit segera/IMD dan rawat gabung segera setelah bayi lahir
  • Melatih tenaga kesehatan untuk menjadi konselor menyusui
  • Tidak bekerjasama dan mempromosikan produk pelanggar kode WHO yang dapat menghambat menyusui
  • Memastikan kebijakan berjalan dengan baik
  • Bekerja sama dengan komunitas pendukung menyusui untuk membantu ibu menyusui setelah pulang dari faskes dan meningkatkan dukungan pelayanan faskes.
  • Ayah :
  • Memastikan istri cukup istirahat
  • Membantu menyendawakan bayi setelah menyusu, menggendong bayi, membantu memandikan dan mengganti popok bayi
  • Menemani bermain anak-anak yang lebih besar
  • Belanja dan memasak
  • Membelikan masakan kesukaan ibu
  • Menjadi tempat curhat istri

Banyak hal yang berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Tapi bila mengingat banyaknya manfaat dari ASI, tentulah itu menjadi hal penting sebagai investasi untuk generasi penerus kita. Berikut beberapa manfaat ASI :

  • ASI dapat mengurangi tingkat depresi pada ibu.
  • ASI meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi.
  • ASI membantu memperkuat ikatan emosional antara anak dan ibu mereka.
  • ASI membuat anak lebih cerdas
  • ASI mengurangi risiko obesitas
  • ASI menjadikan anak-anak berperilaku lebih baik
  • Nutrisi dalam ASI membantu otak anak berkembang sempurna dan lebih baik daripada nutrisi dalam susu formula.
  • ASI membantu ibu menurunkan berat badan.
  • ASI mengurangi risiko kanker pada ibu, terutama kanker payudara dan indung telur.
  • ASI membantu keluarga menghemat anggaran rumah tangga karena gratis.

Begitu besar manfaat ASI, bahkan bisa mencegah stunting. Dengan menyusui merupakan investasi besar untuk masa depan anak. Manfaat ASI jangka panjang adalah menunjang kesehatan mental anak. Salah satu penelitian tahun 2010, anak-anak yang disusui akan terhindar dari autisme, menarik diri dari pergaulan, gangguan cara berpikir, kenakalan remaja dan sikap agresif. Selain itu, bayi akan jarang sakit, memiliki SQ,EQ dan IQ lebih tinggi. Oleh karena itu, jika menginginkan generasi yang hebat, salah satu nya adalah dengan menyusui dan tentunya diimbangi dengan pola asuh yang tepat. Yuk dukung ibu sukses menyusui!!

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sekarsari, Bebby. 2016. 4 Tantangan Ibu Menyusui. www.1health.id tanggal 14 Oktober 2016
  2. _____.2016. 5 Tantangan Ibu Menyusui. www.littlebaby.co.id tanggal 3 Februari 2016
  3. Kementrian Kesehatan RI. 2016. Berikan ASI Eksklusif Agar Anak Sehat dan Cerdas. www.depkes.go.id tanggal 5 Agustus 2016
  4. Kementrian Kesehatan RI. 2018. Pengetahuan dan Tekad Kuat Ibu Berdampak Pada Keberhasilan Menyusui. www.depkes.go.id tanggal 21 Agustus 2018
  5. Kementrian Kesehatan RI. 2016. Beri ASI Sampai 2 Tahun Untuk Wujudkan Keluarga Sehat. www.depkes.go.id tanggal 10 Agustus 2016
  6. Kementrian Kesehatan RI. 2018. Rahasia Anak Berkembang Optimal dan Tidak Mudah Sakit : beri ASI Eksklusif dan Pola Asuh yang Tepat. www.depkes.go.id tanggal 20 Agustus 2018
  7. Dewi, Marsia. 2016. Hari-hari Awal Menyusui. https://aimi-asi.org tanggal 6 Oktober 2016
  8.  Fitria, Linda. 2018. Pekan ASI Sedunia 2018, Mengulik Segudang Manfaat ASI Bagi Ibu dan Anak. www.grid.id tanggal 2 Agustus 2018
  9. Iswandiari, Yuliati. 6 Hal yang Wajib Anda Ketahui di Minggu Pertama Menyusui. www.hellosehat.com
  10. Rezkisari, Indira. 2015. Tantangan Ibu Menyusui. www.republika.co.id tanggal 12 Februari 2015
  11. Andriani, Dewi. 2018. Kualitas ASI Maksimal Jika Ibu Rileks dan Tidak Stress Saat Menyusui. https://m.bisnis.com tanggal 1 Agustus 2018
  12. Kementrian Kesehatan RI. 2017. Menyusui Dapat Menurunkan Angka Kematian Bayi. www.depkes.go.id tanggal 9 Agustus 2017
  13. Tips Jadi Ayah Baru dari facebook AyahAsi
  14. Dukungan Untuk Ibu Menyusui dari facebook AIMI Jateng

Kementrian Kesehatan RI. 2018. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018.