Category: berita

“TAK KENAL MAKA TAK KEBAL YUK”CARI TAU VAKSIN COVID 19

Oleh : Susilawati, S.KM

Pandemi Covid 19 yang kita alami pada saat sekarang ini memberikan banyak sekali dampak perubahan pada kebiasaan seluruh umat manusia yang ada di muka bumi ini. Dengan adanya pandemi Covid 19 ini kita jadi belajar bahwa kebersihan dan kedisiplinan adalah sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk menghindari berbagai penyakit terutama Covid 19 yang sedang kita alami saat ini.

            Berbagai cara sudah dilakukan untuk memutus mata rantai penularan dari covid 19 yang sudah melanda bumi selama satu tahun lamanya mulai dari Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan dengan Sabun dan air mengalir serta Menghindari kerumunan. Dan sekarang yang terbaru adalah pemberian Vaksin Covid 19 kepada masyarakat secara gratis untuk membentuk kekebalan atau Imunitas ditengah-tengah masyarakat.

Sebelumnya ada baik nya kita pahami terlebih dahulu tentang apa itu Vaksin, Vaksinasi, Imunisasi dan Imunitas.

  • Vaksin adalah produk atau zat yang dimasukkan kedalam tubuh manusia yang akan menstimulasi sistem kekebalan (imun) tubuh manusia atau imunitas.
  • Vaksinasi adalah prosedur untuk memasukkan vaksin ke dalam tubuh, untuk menstimulasi sistem imun tubuh dan akhirnya bisa memproduksi imunitas terhadap suatu penyakit.
  • Imunisasi adalah proses yang membuat tubuh manusia terlindung dari suatu penyakit melalui proses Vaksinasi.
  • Imunitas adalah kemampuan kekebalan tubuh melawan suatu penyakit. Dengan imunisasi akan terbentuk Imunitas, dan akhirnya masyarakat bisa terlindungi dari penyakit menular.

Vaksin Covid 19 bukanlah obat .Vaksin mendorong pembentukan kekebalan spesifik pada penyakit Covid 19 agar terhindar dari tertular ataupun kemungkinan sakit berat. Dampak Vaksin Covid 19 terhadap pandemi akan bergantung pada beberapa faktor. Seperti Efektifitas Vaksin, Seberapa cepat Vaksin disetujui untuk digunakan, Proses produksi dan Pengiriman serta berapa banyak target jumlah orang yang akan di Vaksinasi. Pemerintah menargetkan setidaknya 60% penduduk Indonesia akan di Vaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok ( herd immunity ).

Secara umum, efek samping yang timbul dapat beragam, pada umumnya ringan dan bersifat sementara dan tidak selalu ada, serta bergantung pada kondisi tubuh. Efek samping ringan seperti demam dan nyeri otot atau ruam-ruam pada bekas suntikan adalah hal yang wajar namun tetap perlu di monitor. Perlindungan yang akan diberikan Vaksin Covid 19 nantinya, perlu tetap diikuti dengan kepatuhan menjalankan protokol kesehatn 3M : memakai masker dengan benar, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, serta mencuci tangan menggunakan sabun.

Pada tahap awal pemberian Vaksin Covid 19 akan diberikan kerpada orang dewasa sehat usia 18-59 tahun sedangkan untuk anak-anak masih dalam tahap pengembangan dan perencanaan. Meski pada saat darurat dan dibutuhkan dengan cepat, keamanan dan efektivitas vaksin adalah prioritas utama. Pengembangan vaksin tetap harus melalui tahapan pengembangan yang berlaku internasional yang secara umum tediri dari :

  • Tahap praklinik
  • Tahap klinis
  • Penetapan penggunaan Vaksin

“TAK KENAL MAKA TAK KEBAL” Vaksin melatih tubuh untuk kenal, lawan, dan kebal penyebab penyakit seperti virus, atau bakteri. ‘Yuk..mulai sekarang jangan takut lagi untuk di vaksin Covid 19 karena vaksin menyelamatkan jiwa, melindungi diri, keluarga dan masyarakat dari penyakit Covid 19. Dengan kamu mau menerima untuk di Vaksin Covid 19 berarti kamu sudah melindungi diri, dan melindungi negri dari penyakit Covid 19.

Daftar Pustaka

  1. Buku Saku #Infovaksin. Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional
  2. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Kementrian Kesehatan. Republik Indonesia.  Buku ajar Imunisasi. 2014
  3. WHO & UNICEF . Tanya jawab / FAQ imunisasi dalam konteks Pandemi Covid 19. 16 April 2020
  4. WHO. Tanya jawab / FAQ Coronavirus desease (Covid 19) : Vaccines. 28 Oktober 2020
  5. Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan. Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi pada Masa Pandemi Covid 19. 2020
  6. Situs covid19.co.id dan akun media sosial resmi @lawancovid19_id

Bahaya Narkoba Terhadap Psikologi

Penyalahgunaan NAPZA masih sangat membahayakan di negara kita. Tidak hanya melibatkan orang dewasa, namun juga terjadi di kalangan remaja.
Sehingga kita perlu untuk bersama-sama mencegah penyalahgunaan NAPZA di mulai dari diri sendiri dan orang di sekitar kita. Yuk download Leaflet nya!!

Download Leaflet

Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2020 “Solidaritas Global, Tanggungjawab Bersama”

Oleh: Nur Handayani, SKM

Kasus HIV AIDS di dunia dari tahun ke tahun meningkat. Data WHO tahun 2017 menyatakan bahwa hingga akhir tahun 2017 terdapat 36,9 juta orang hidup dengan HIV, dengan 1,8 juta infeksi baru di tahun yang sama. Berdasarkan Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Infeksi Seksual Menular Tahun 2017 oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah kumulatif infeksi HIV sampai dengan Desember 2017 di Indonesia adalah sebanyak 280.263 kasus, dengan jumlah kumulatif AIDS sebanyak 102.667 kasus terhitung dari tahun 1987 hingga Desember 2017.  Sejak pertama kali dilaporkan di Indonesia tahun 1987 sampai bulan Maret tahun 2019, kasus HIV AIDS yang telah dilaporkan adalah 461 (89,7%) dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa kasus HIV AIDS cenderung meluas keberadaannya di Indonesia.

            Data terakhir, sampai Maret 2019, jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan adalah sebanyak 338.363, yaitu 58,7% dari estimasi ODHA tahun 2016 sebanyak 640.443. Saat ini ada 5 provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi yaitu DKI Jakarta (60.501 kasus) diikuti Jawa Timur (50.060 kasus), Jawa Barat (35.529 kasus), Papua (33.485 kasus) dan Jawa Tengah (29,048 kasus). Jumlah AIDS yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2019 relatif stabil setiap tahunnya. Jumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai dengan bulan Maret tahun 2019 sebanyak 115.601 orang. Sementara itu, saat ini ada 5 propinsi dengan jumlah AIDS terbanyak yaitu Papua (22.544 orang), Jawa Timur (20.113 orang), Jawa Tengah (10.548 orang), DKI Jakarta (10.116 orang) dan Bali (8.147 orang).

            Bila menilik kasus HIVAIDS, setiap orang dapat terinfeksi. Beberapa kelompok orang dengan risiko penularan tinggi antara lain komunitas Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT), pekerja seksual, pengguna jarum suntik bersama dan penghuni lapas. Remaja bisa menjadi salah satu kelompok rentan terinfeksi HIV, risiko menjadi besar bila ternyata remaja tersebut kurang pengetahuan tentang HIV AIDS. Masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) menjadi salah satu sebab terhalangnya edukasi masyarakat tentang pentingnya deteksi  HIV melalui Konseling dan tes Sukarela (KTS). Sehingga akibatnya di masyarakat kasus HIV AIDS masih tinggi dan kurangnya akses terhadap Antiretroviral Therapy (ART). Menurut data WHO dalam program “Ends by 2030” dari 25,9 juta orang dengan HIV AIDS tidak mengakses pengobatan ART.

            Berkaitan dengan HIV AIDS, setiap tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Tema Hari AIDS Sedunia untuk tahun ini adalah “Solidaritas global, tanggungjawab bersama (Global solidarity, shared responsibility)”, tema nasional “Perkuat kolaborasi, Tingkatkan Solidaritas”. Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pegawai informasi publik untuk Global Programme on AIDS di World Health Organization (WHO) di Jenewa, Swiss. Bunn dan Netter mengajukan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Director of the Global Programme on AIDS (sekarang dikenal dengan nama UNAIDS). Mann menyukai konsep tersebut dan menyetujui rekomendasi bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia jatuh pada 1 Desember 1988. Tanggal 1 Desember direkomendasikan oleh Bunn karena dianggap akan mengoptimalkan liputan tentang Hari AIDS Sedunia oleh media Barat, karena jaraknya cukup lama dari Pemilu AS yang biasanya jatuh pada bulan November, tetapi sebelum memasuki libur Natal.

            Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi Negara-negara didunia termasuk Indonesia. Pandemi Covid-19 menjadikan keprihatinan kita semua. Pandemi juga mengakibatkan krisis kesehatan yang berdampak pula krisis pada sektor lain. Di masa pandemi ini yang masuk dalam kelompok rentan salah satunya adalah orang dengan HIV AIDS. Pandemi yang berkepanjangan ini mengakibatkan orang dengan HIV AIDS sulit dalam mengakses perawatan kesehatan, terlebih kemudian terjadi krisis sosial ekonomi yang sangat berdampak pada masyarakat tingkat sosial menengah ke bawah.

            Sama halnya seperti pandemi Covid-19, Mengakhiri HIV AIDS juga hampir sama dengan langkah penanganannya. Yang menjadi kunci adalah kita semua. Kasus penularan COVID-19 tidak akan dapat ditekan bilamana pemerintah telah membuat kebijakan tentang pencegahan penularan, tapi masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan. Begitu juga kasus HIV AIDS. HIV AIDS merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemangku kepentingan, komunitas, tokoh agama, tokoh masyarakat dan masyarakat itu sendiri harus bergerak bersama-sama memutus rantai penularan HIV AIDS dan saling bersinergi tolong menolong dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS.     

            Dalam momen hari AIDS sedunia diharapkan muncul kesadaran bagi masyarakat untuk lebih peduli tentang kesehatan terutama tentang pencegahan HIV AIDS. Masyarakat yang beresiko tinggi mau sukarela untuk melakukan tes HIV untuk mengetahui status sejak dini, sehingga dapat menekan jumah virus dalam tubuhnya dan dapat segera melakukan pengobatan ARV. Dari sisi pemerintah sendiri juga telah berkomitmen melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS. Pemerintah  juga diharapkan berupaya melakukan peningkatan dan perluasan akses masyarakat pada pelayanan diagnosa dan pengobatan HIV/AIDS yang komprehensif dan bermutu. Perlu kita ketahui pula, pemahaman terhadap informasi tentang HIV AIDS juga dapat membantu kita dalam pencegahan HIVAIDS. Kita terutama remaja sebagai generasi yang cerdas harus memperbanyak pengetahuan tentang HIV AIDS yang benar dan perlu membekali diri dengan pendidikan agama sejak dini. Sesuai dengan tema Hari AIDS Sedunia tahun ini, momen Hari AIDS Sedunia menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran dan kemauan untuk bergerak bersama-sama membentuk kolaborasi bersama dan mengemban tanggungjawab bersama antara pemerintah dan semua elemen masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIVAIDS. Sehingga kasus HIV AIDS dapat ditekan dan dapat memutus rantai penularan untuk mencapai Ending AIDS tahun 2030. Yuk, tetap menjalankan protokol kesehatan dan tetap menjalankan pola hidup sehat. Sehat itu plilihan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Happy Hawra, dkk. Hari AIDS Sedunia, KPA Banten Perkuat Kolaborasi dan Solidaritas. https://www.biem.co tanggal 22 November 2020
  2. Adminkominfo. Saya Berani Saya Sehat, Talkshow Peringatan Hari AIDS Sedunia. https://kominfo.kulonprogokab.go.id tanggal 11 Desember 2017
  3. WHO Rilis Tema Hari Aids Sedunia 2020, Akhiri Wabah HIV
  4. Agus Tri Harsanto, dkk. WHO Rilis Tema Hari Aids Sedunia 2020, Akhiri Wabah HIV. https://batam.tribunnews.com tanggal 1 Desember 2019
  5. Lee Yan. Tema Hari AIDS Sedunia 2020. Solidaritas Global, Tanggung Jawab Bersama. https://www.kompasiana.com tanggal 18 November 2020.
  6. Diperingati Setiap 1 Desember, Ini Sejarah Hari AIDS Sedunia
  7. Anggraini, Ariska Puspita. Diperingati Setiap 1 Desember, Ini Sejarah Hari AIDS Sedunia. https://www.kompas.com tanggal 30 November 2019
  8. Putri. Data Juni 2019, Penderita HIV/AIDS di Indonesia Sebanyak 349.883. http://infopublik.id tanggal 3 Desember 2019
  9. What is World AIDS Day? 2020. https://www.unaids.org
  10. World AIDS Day. https://www.who.int
  11. Iman. Kemenkes: Kasus HIV/AIDS di Indonesia Alami Kenaikan Tiap Tahun. https://rri.co.id tanggal 30 November 2019

Satukan Tekad Menuju Indonesia Sehat Momentum Hari Kesehatan Nasional ke-56, Yuk Jaga Diri, Keluarga dan Masyarakat, Selamatkan Bangsa dari Pandemi Covid-19

Oleh : Nur Handayani, SKM

Bulan November menjadi salah satu bulan bersejarah untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia  dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan. Setiap tanggal 12 November, rakyat Indonesia memperingati sebagai hari kesehatan nasional. Diperingati sebagai hari kesehatan nasional, berawal dari adanya wabah  malaria sekitar tahun 1950an. Sekitar ratusan ribu korban jiwa berjatuhan akibat wabah ini. Kemudian Tahun 1959 pemerintah membentuk Dinas Pembasmian Malaria. Kemudian bulan Januari tahun 1963, dinas ini berubah nama menjadi Komando Operasi Pemberantasan Malaria (KOPEM). Indonesia bersama WHO dan USAID merencanakan tahun 1970 malaria sudah lenyap dari bumi Indonesia. Proses pemberantasan malaria pertama dilakukan secara simbolis oleh Presiden Sukarno tanggal 12 November 1959 di tanggal 12 November 1959 di Desa Kalasan, Yogyakarta. Selanjutnya, kegiatan penyemprotan insektisida Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) juga dibarengi dengan kegiatan pendidikan kesehatan atau penyuluhan kepada masyarakat.

            Usaha keras pemerintah memberantas malaria berbuah manis, 5 tahun setelah dilakukan penyemprotan insektisida Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) ke beberapa wilayah di Indonesia. Rakyat Indonesia dapat terlindungi dan wabah malaria mulai lenyap di Indonesia. Karena keberhasilan pemerintah tersebut, 12 November 1964 diperingati sebagai

Hari Kesehatan Nasional. Hari itu menjadi  titik awal kebersamaan seluruh komponen bangsa dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

            Saat ini, tidak hanya Indonesia tapi hampir seluruh Negara di dunia sedang dilanda wabah Covid-19. Kasus di dunia mencapai lebih dari 35 juta kasus sedangkan yang meninggal dunia akibat Covid-19 telah mencapai lebih dari satu juta kasus. Di Indonesia sendiri, hampir di seluruh wilayah sudah ada kasus Covid-19. Dlihat dari data harian, jumlah kasus masih saja ada, belum ada tanda-tanda penurunan. Data BNPB tanggal 8 Oktober 2020 menunjukkan adanya  lonjakan jumlah kasus positif yang mencapai 4.850 kasus. Saat ini per 30 Oktober 2020, kasus terkonfirmasi telah tembus ke angka 406.945 orang, kasus sembuh sebanyak 334.295 orang dan kasus meninggal dunia mencapai 13.782 orang. Melihat pertambahan kasus dimana belum terlihat tanda-tanda penurunan, mengingatkan kita bahwa pandemi belum berakhir.

            Masa pendemi ini sedikit banyak berpengaruh terhadap berbagai sektor, berdampak terhadap sektor kesehatan, sosial ekonomi dan mengganggu berbagai bidang pelayanan lainnya. Makin bertambahnya kasus Covid-19 masih dapat bertambah bila sejalan dengan masih banyaknya masyarakat yang belum mau menjalankan protokol kesehatan dan belum menyadari pentingnya tindakan pencegahan terhadap Covid-19. Persepsi masyarakat terhadap bahaya COVID-19 umumnya cenderung merasa takut dan khawatir terhadap virus corona, namun demikian masih ada sekitar 17% masyarakat Indonesia yang tidak yakin terhadap keberadaan COVID-19 (BPS, 2020).

            Penting sekali untuk kita semua tetap berjuang bersama untuk dapat bebas dari belengggu Covid-19. Kita harus bersama-sama mau berusaha untuk mau melindungi diri, keluarga dan orang di sekitar kita dengan menerapkan protokol kesehatan. Penyebaran virus Covid-19 ini akan masih bisa terjadi bila masyarakat tidak mau menerapkan protokol kesehatan.

            Melalui momentum hari kesehatan nasional inilah, diharapkan masyarakat dapat menjalankan pola hidup sehat. Merubah perilaku lama menjadi perilaku kebiasaan baru dimana ada 3 hal penting didalamnya dalam upaya pencegahan penularan Covid-19. Yang pertama memakai masker bila keluar rumah, selalu jaga jarak dan menghindari kerumunan serta sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer bila dalam kondisi tidak memungkinkan untuk cuci tangan. 3 Hal penting ini menjadi hal yang mendasar untuk dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan virus Covid-19. Selain itu, ada hal lain yang perlu juga dilakukan, yaitu kita harus tetap menjaga imunitas tubuh, agar tetap baik dengan berolahraga secara rutin, mengkonsumsi gizi seimbang, istirahat yang cukup, tidak merokok, dan mengendalikan penyakit penyerta.             Semua protokol kesehatan harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pola hidup sehat haruslah membudaya dalam masyarakat kita. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam menekan angka kasus Covid-19 tidak akan berhasil bila tanpa dukungan masyarakat dalam menjalankan pola hidup sehat. Cepat atau lambatnya penurunan angka penyebaran Covid-19 tergantung dari kemauan dan kesadaran masyarakat untuk mau menjalankan protokol kesehatan. Untuk itu perlu semua komponen bangsa mengumpulkan tekad berjuang bersama menyelamatkan bangsa dari Covid-19. Hal ini sesuai tema hari kesehatan nasional yang ke-56 ini. Yuk jadikan momentum ini untuk mengajak semua elemen masyarakat untuk mau belajar bertanggungjawab terhadap kesehatan diri dengan wujud berperilaku hidup sehat, menjalankan pola hidup sehat sehingga terhindar dari penyakit. Harapannya, derajat kesehatan masyarakat tercapai setinggi-tingginya dan dapat segera menuju Indonesia Sehat.

Padasan: Budaya Gesang Ingkang Saras Saking Leluhur

Dening: Arifah Budi Nuryani, S.KM

Bebendu virus korona punika ngedahaken kula lan panjenengan sedanten kedah mangertosi babagan  wigatosipun prakawis keresikan. Wiwit, tiyang kulinten mengucek-ucek soca saben wekdal, tanpa wigatosaken kawontenan astanipun. Ananging ing wekdal sapunika, tiyang langkung ngrumaosi menawi asta punika saged dados sarana nularaken pagebluk.

Bilih dipuntingali saking sejarah lan antropologis, kedahipun kawula Nusantara punika mboten kaget sanget kaliyan budaya mijiki asta, samparan, pasuryan, ngginakaken toya resik sampun dados perangan gesang sadinten-dinten leluhur wonten nusantara. Malah wonten Kraton Sriwijaya, ing era 650-1377 M, para biksu sampun kagungan pranatan ingkang paten babagan mijiki asta.

Adhedhasar buku Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Lautan Selatan karya Yi Jing [It-sing] ingkang dipunterjemahaken saking A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelaho dening J. Takakusu, B.A., Ph.D,, dipun trehaken kados pundi tata cara gesang ingkang saras dening kawula nusantara. Adhedhasar wucalan Buddha, ingkang dipuntindakaken para biksu wonten India saha Sriwijaya.

Tata cara gesang ingkang saras, mbok bilih ugi dipuntindakaken dening masyarakat limrah. Amargi, piyambakipun sedanten [ngangsu piwulang budha] punika pitados salira ingkang saras saha miyos gampil tumuju resiking batin/ moksa.

Pramila, kalimrahan mijiki asta, ngresikaken dhiri, saha dhaharan ingkang sae, ugi dipuntindakaken saperangan ageng masyarakat wonten wanci kanalendran sriwijaya. Biksu inggih punika tiyang ingkang dipunpitadosi, mila pitutur saking piyambakipun sedaya mesthi kathah ingkang nindakaken, utaminipun ingkang nganut agami Buddha.

Sejatosipun, pakulinan kanthi saras dipuntindakaken dening masyarakat ing Nusantara, boten namung ing wanci Kedatuan Sriwijaya, ananging ugi, rikala jaman Kenalendran Majapahit ugi kesultanan sanesipun.

Sedaya agami, kados Islam, Katolik, Protestan, Hindu, ugi Buddha, mucalaken ngelmu bab gesang kanthi saras. Punapa malih ing wucalan agami Islam punika, babagan mijiki asta lan perangan awak sanes ing setunggal dinten kirang langkung kaping gangsal dipuntindakaken, inggih punika rikala nindakaken wudhu.

Budaya mijiki asta, ngreksa salira, ngresiki salira saksampunipun bebuwang, olahraga, ngagem agemanan ingkang resik, sarta dhaharan ingkang sae, sampun dados perangan gesang ing masyarakat.

Salah satunggaling ‘artefak’ budaya mijiki asta nusantara inggih punika padasan, genthong gerabah ingkang limrah dipunpanggihi ing budaya masyarakat Jawi. Padasan dipunpapanaken ngajenging latar, wonten jawi pager, ingkang wujudipun genthong kaliyan pancuran alit , utawi ingkang ngginakaken gayung saking bathok klapa (siwur).

Genthong padasan kagungan gegayutan kaliyan budaya Islam (wudhu), amargi rumiyinipun pirantos punika dados pirantos syiar dening setunggaling tiyang panyebar agami Islam, inggih punika Kanjeng Sunan Kudus. Rikala punika], adhedhasar cathetan sri mulyati (2006) ing buku Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka, Sunan Kudus ndamel padasan cacah wolong pancuran, dados akulturasi budaya Jawi saking agami Islam. Ing wekdal punika, masyarakat ing papan punika sampun tepang agami Hindu lan Buddha, pendhudhuk ugi tepang punapa ingkang dipunsebat dados Asta Sanghika Marga. Padasan kaliyan pancuran ingkang cacahipun wolu punika dipunkjengaken Sunan Kudus dados wolung tumindak becik kagem ngresikaken dhiri.

Jaman semanten sadayaning masyarakat nyaosaken padasan wonten ngajenging griya/pidalem. Padasan punika dipunpapanaken wonten njawi pager supados sinten kemawon mboten pakewuh  anggenipun ngginakaken toya kangem ngresekaken samparan. Langkung semanten, rikala toya wonten Jawi taksih wening, toya padasan nggih saged ugi dipununjuk. Ingkang kagungan dalem ugi mesthekaken ngiseni padasan punika supados toyanipun tansah kebak. Kejawi gentong utawi tempayan ingkang dipunparingi bolongan, kala-kala padasan ugi dipunjangkepi kaliyan gayung tradhisional saking bathok klapa, ingkang limrah dipunsebat siwur.

Padasan ugi dipunpapanaken wonten pinggiring mergi, kanthi maksud supados sintena kemawon ingkang mbetahaken toya saged ngginakaken toyanipun. Ing mangsa jawah, toya wonten ing padasan saged kagem ngresikaken samparan ingkang kenging cipratan toya reged. Ugi semanten rikala ing mangsa ketiga, padasan limrahipun dipunagem ngresiki pasuryan tiyang-tiyang ingkang ngliwati. Samboten-mbotenipun keparing nyukani raos seger ing wanci mangsa benter.

Menawi tirta isi padasan saestu resik ugi aman dipununjuk, panggina sekaliyan saged lajeng ngunjuk dados panglukar salit. Misepuh kita sedaya kathah ingkang dados petani, nalika badhe dhateng sabin utawi  tumuju wanci rahina badhe kondur datheng dalem, salajeng raup rumiyin kaliyan reresik ngagem toya ing padasan. Prakawis punika saleresipun mucalaken kula lan panjenengan sami supados  tansah njagi resiking badan rikala badhe nyambut damel saha saderengipun mlebet griya.

Punapa malih, wargi jawi taksih mitadosi sawanan (kesurupan), bilih wonten bayi wonten griya lan menawi wonten tiyang ingkang mlebet griya mboten mijiki asta lan langsung nyepeng bayi, mila bayi punika asring nandang sawanen.

Wucalan filosofis kasaenanipun padasan inggih punika:

  • Krenteg Sesarengan

Bilih wonten priyantun ingkang ngginakaken padasan, priyantun punika kagungan krenteg kedah kemutan ngginakaken toya sacekapipun senaosa mboten wonten paugeran ingkang keserat. Padasan punika dipunpapanaken ing pinggir margi, amargi saget kagem sinten kemawon, supados tiyang sanes saged keduman.

Kathah piwulang edukatif ingkang kekandhut ing tradhisi nyamektakaken padasan wonten ngajenging griya, kados ta raos lila legawa. Kanthi raos lila legawa, ingkang nggadhahi padasan sregep ngisi supados saged dipunagem sinten kemawon ingkang mbetahaken toya resik, tanpa preduli tepang punapa mboten kaliyan tiyang kasebat.

  • Peparing tumrap tiyang sanes saking bab ingkang alit.

Amargi sinten mawon ingkang liwat pareng ngginakaken toya padasan sanadyan mboten tepang ingkang kagungan. Bilih ingkang nggadhahi ugi tansah mriksa punapa toyanipun taksih wonten utawi sampun telas. Senaosa namung namung toya, nanging punika ingkang dipunwucal saking sesepuh kula panjenengan inggih punika pakulian nyaosi tumrap liyan wiwit saking bab ingkang alit kadosta toya.

  • Toya ing padasan punika kados ngilmu ing akal

Toya ingkang wonten ing genthong punika sami kados ngilmu ingkang wonten ing akal kula panjenengan sedanten. Boten angsal dipunwulangaken kemawon, ugi mboten pareng dipunkempalaken mawon tanpa dipunwulangaken, utawi naming dipunginakaken dening saliranipun piyambak, nanging dipuncakaken kagem tiyang sanes. Ing wucalan agami Islam prakawis punika kelebet salah satunggaling amal ingkang mboten pedhot sanadyan kula panjenengan sampun seda inggih punika amal jariyah lan ngelmi ingkang murakabi.

Wonten wekdal sapunika, minangka para taruna, ingkang mboten mangertosi padasan saged ngecakaken piwulang edukatif minangka warisan budaya Jaw. Mawi mratelakaken peparing kanthi raos lila legawa dhumateng sinten mawon ingkang mbetahaken,  nyamektakaken padasan wonten ngajenging griya piyambakipun.

Pagebluk covid-19 taksih mbebayani, kula panjenengan sedanten saged nyamektakaken padasan wonten ngajenging griya. Senaosa padasan sanes gerabah, saged kagem papan toya ingkang langkung enggal. Kadadosan punika kula panjenengan kedah saged ndherek nyegah sumebaring virus corona kanthi wiyar. Kula panjenengan kedah langkung sregep anggenipun mijiki asta, sami kaliyan paugeran saking WHO supados dipuntebihaken saking bebendu covid-19. Dados kearifan lokal, padasan dados sarana sanes kagem masyarakat supados purun mijiki asta. Ing wekdal punika kahanan bebendu covid-19 taksih dereng bibar, mila padasan kaliyan sabun punika saged njagi keresikan lan ngulintenaken wijik ngagem sabun (CTPS) kanthi cara ingkang leres.

Sumber:

Azis, Muhammad Abdul. 2020. Padasan : Budaya Lama yang Dipaksa Muncul Kembali. https://medium.com/@azismuhammad094/budaya-lama-yang-dipaksa-untuk-kembali-cf5c45976b5b

Khusnikma, Misla. 2020. Kembalinya Tradisi Padasan di Tengah Pandemi. http://saa.iainkediri.ac.id/padasan-tradisi-yang-kembali-hidup-selama-pandemi/

Nelana, Narwan Sastra. 2020. Lewat Padasan Nenek Moyang Telah Ajarkan Kebersihan Diri. https://siedoo.com/berita-30033-lewat-padasa-nenek-moyang-telah-ajarkan-kebersihan-diri/

Wijaya, Taufik. 2020. Refleksi Covid-19: Sejak Dulu Bangsa Indonesia Rajin Mencuci Tangan. https://www.mongabay.co.id/2020/05/15/refleksi-covid-19-sejak-dulu-bangsa-indonesia-rajin-mencuci-tangan/

Budaya Nginang Masyarakat Jawi

Dening: Shukhalita Swasti Astasari, S.KM

Majengipun pangrembakaning jaman, kabudayan nginang sampun wiwit ical. Bab menika saksampunipun wonteni odol kanthi raosipun ingkang seger nggantosaken kawontenan mupangatipun nginang ingkang raosipun pait. Para nem-neman sampun mboten wonten ingkang nginang. Sanadyan owah gingsiring jaman, nanging piwulang filosofi nginang ampun ngantos ical.

Sedhah punika pralambang nedahakaen sipat andhap asoring penggalih, remen peparing, saha tansah ngajeni priyantun sanes. Jarwi punika saking upakara thukulipun sedhah ingkang mrambat tanpa ngrisakaken tetanduran utawi napa mawon papan panggenanipun. Kapur nedahakaen panggalih ingkang pethak resik saha setya satuhu, nanging bilih kawontenan, saged adamel dados agresif sanget saha duka.

Gambir ugi dipunginakaken dados usada, upaminipun kagem ngresiki labet lan kudis, nyegah sakit diare ugi disentri, saha dados pelembab lan mantunaken labet wonten kerongkongan. Gambir ngagungani raos sakedhik pait, nunjukaken tataging panggalih. Piwulang menika katingal saking warni jene ron gambir saha mbetahaken setunggaling tata cara tertamtu supados pikantuk sarinipun satemah saged dipundhahar,. Dipunjarweni menawi bilih nggayuhaken punapa-napa kemawon, kula lan panjenengan sami kedah sareh nindakaken kahanan supados saged dados kasunyatan.

Sayektosipun, kejawi dipuneses kados udud, sata ugi dipungilut kanthi cara nginang, kathah tiyang asring nambahaken sata ing lebeting ron sedhah rikala nginang sinaosa mboten wonten kukusipun, nginang kasunyatanipun ngagungani bebaya ngrisak kasarasan ingkang sami kaliyan eses.

Nginang menika gadhah paedah kagem njagi kasarasan waja ugi padharan. Amargi nggilut ron sedhah lan wiji jambe saged ngasilaken idu, ingkang ngandhut warni-warni jinising protein lan mineral ingkang sae kagem njagi kekiyatan waja saha nyegah lelara gusi. Kejawi punika, ugi tansah ngresiki waja lan gusi saking tirahipun dhaharan ingkang nempel ing waja.

Kagem padharan, toya idu nggadhahi paedah damel lembut dhaharan. Pramila, kula panjenengan saged ngeleg lan kersanipun dhaharan saged tumuju kerongkongan, usus, ugi lambung kanthi lancar. Bab punika tamtu mbiyantu nggampilaken sistem pencernaan.

Kejawi punika, nyedhah ugi dipunestuni dados sumber energi. Amargi, wiji jambe punika ngandhut zat psikoaktif ingkang memper sanget kaliyan nikotin, alkohol, ugi kafein. Pramila salira punika medalaken hormon adrenalin.

Sanadyan tradhisi nyedhah/nginang saged nuwuhaken paedah, para dokter saha sapanunggalanipun punika ngemutaken babagan bebaya nyedhah/nginang. Miturut laporan saking para panaliti, dipunmangertosi menawi nyedhah/nginang punika kasunyatanipun murugaken risiko ingkang saged nuwuhaken pinten-pinten lelara ingkang mboten saged dipunanggep entheng, umpamanipun kanker.

1.    Kanker ing Lathi

Pawartos saking situs resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO), nyedhah/nginang punika nggadhahi risiko inggil murugaken kanker, utaminipun wonten lathi. Dudutan punika adhedhasar panaliten ingkang dipuntindakaken international agency for research on cancer wonten ing Asia Selatan lan Asia Tenggara.

Kasunyatanipun piranthi ron sedhah, wiji jambe, kapur, saha sata menawi dipunaworaken dados setunggal kagungan sipat karsinogenik (saged nuwuhaken kanker). Bilih ngginakaken piranti nginang kasebat langkung dangu, saged nyebabaken nandang kanker ing tutuk, gampil ngalami kanker lathi, kanker esofagus (kerongkongan), kanker tenggorokan, kanker laring.

2.    Labe ting Rongga Lathi

Nggilut sedhah jambe nuwuhaken risiko lesi mukosa ing lathi, inggih punika wonten labet (lesi) ing salebeting lathi. Lalara utawi iritasi dipunsebabaken piranti nyedhah/nginang setunggal kaliyan piranti sanesipun nggadhahi sipat awrat sanget kagem lathi. Punapa malih menawi nyedhah/nginang sampun dados padatan ingkang mboten saged dipunicali. Bebaya awonipun dados tansaya enggal tuwuh saha rekaos dipunhusadani.

Bilih sampun awrat badanipun, saged nyebabaken lidhah kraos kaku saha tutuk rekaos dipunobahaken. Ngantos wekdal punika dereng wonten usada utawi jampi ingkang saged ndanganaken lesi mukosa ing lathi. Usada punika namung saged ngentengaken tandha-tandha lelara ingkang wonten.

3.    Mbebayani jabang bayi

Dereng kathah ingkang dipunmangertosi bilih ibu ingkang mbobot punika kedah eling saha waspada tumrap bebayanipun nginang. Nginang nalika mbobot saged ngewahi genetik ing DNA jabang bayi. Ewah-ewahanipun punika saged mbebayani jabang bayi, kados dene eses saged nuwuhaken risiko cacat janin. Ibu ingkang mbobot menawi nyedhah/nginang ugi nggadhahi risiko mbabaraken bayi ingkang bobotipun ing ngandhapipun bayi sanes. Pramila, WHO ugi para medis sampun wanti-wanti supados ibu ingkang mbobot mboten pareng nyedhah/nginang.

Pakulinan awon wonten ing dhusun-dhusun inggih punika waton ngidu. Kaliyan warni idunipun ingkang sak werni punika, kalimrahan niku tamtu kemawon badhe nilaraken tandha wujudipun werni abrit wonten ing pundi-pundi. Sejatosipun masyarakat Indonesia kados ing Jawi kagungan ambeng kagem ngidu, wujudipun omplong alit ingkang kawastanan tempolong. Masalah lingkungan saged dirampungaken bilih sedaya tiyang ingkang nginang kagungan ambeng kados wujud punika.

Wonten jaman enggal kados wekdal punika nginang sampun kegantosaken dening odol ingkang ngemot bab ingkang migunani saha aman. Ananging nginang dados salah satunggaling tradhisi tilaranipun leluhur ampun dumugi kesupen filosofinipun kados ingkang sampun kawastananaken wonten inggil, pramila masyarakat keparing gesang ingkang saras, katebihaken saking bebendu, nanging tetep njagi lestantunipun budaya.

Sumber:

Tim Kumparan. 2017. Filososfi Budaya “Nginang”. https://kumparan.com/potongan-nostalgia/filosofi-budaya-nginang/full

Setiawan, Andreas Wilson, dr. 2020. Membongkar Manfaat dan Bahaya di balik Tradisi Menyirih. https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/manfaat-dan-bahaya-menyirih/#gref