Category: <span>Artikel</span>

AYO….CEK PARU DENGAN SPIROMETRI DI RUMAH SAKIT PARU RESPIRA !!

Oleh : Susilawati, S.KM

  1. Apa Itu Pemeriksaan Spirometri ?
    Spirometri adalah pemeriksaan fungsi paru untuk mengukur jumlah udara yang dapat dihirup dan dihembuskan, serta kecepatan aliran udara saat bernapas. Pemeriksaan ini menggunakan alat bernama spirometer dan merupakan standar pemeriksaan fungsi paru di fasilitas kesehatan. Spirometri bersifat aman, cepat, non-invasif, dan tidak menimbulkan rasa sakit.
  2. Tujuan Pemeriksaan Spirometri
    Pemeriksaan spirometri bertujuan untuk:
    Menilai fungsi paru secara objektif
    Mendeteksi dini gangguan pernapasan
    Membantu menegakkan diagnosis penyakit paru
    Menilai tingkat keparahan penyakit paru
    Memantau respons dan keberhasilan pengobatan
  3. Penyakit Yang Dapat Dideteksi Dengan Spirometri
    Spirometri dapat membantu dalam diagnosis dan pemantauan:
    Asma
    Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
    Bronkitis kronik
    Penyakit paru restriktif
    Gangguan fungsi paru akibat rokok atau paparan polusi
  4. Siapa Yang Dianjurkan Melakukan Spirometri ?
    Pemeriksaan spirometri dianjurkan bagi:
    Pasien dengan keluhan sesak napas, batuk lama, atau napas berbunyi
    Penderita asma atau PPOK
    Perokok aktif maupun pasif
    Pekerja dengan paparan debu, asap, atau bahan kimia
    Pasien yang sedang atau telah menjalani terapi penyakit paru
    Masyarakat yang ingin memantau kesehatan paru secara rutin
  5. Prosedur Pemeriksaan Spirometri
    Pasien akan diberi penjelasan oleh petugas kesehatan
    Pasien diminta menarik napas sedalam mungkin
    Pasien menghembuskan napas sekuat dan secepat mungkin ke alat spirometer
    Pemeriksaan dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan hasil terbaik
    Hasil dicetak dan dievaluasi oleh dokter
  6. Persiapan Sebelum Pemeriksaan
    Tidak merokok minimal 1 jam sebelum pemeriksaan
    Tidak makan terlalu kenyang
    Menggunakan pakaian yang nyaman
    Mengikuti instruksi petugas selama pemeriksaan
  7. Keunggulan Pemeriksaan Spirometri Di Rumah Sakit Paru Respira
    Dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih
    Menggunakan alat spirometri modern dan terkalibrasi
    Hasil pemeriksaan akurat dan terpercaya
    Evaluasi langsung oleh dokter spesialis paru
    Pelayanan cepat, aman, dan nyaman
     
    Kesimpulan
    Pemeriksaan spirometri merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan paru, mendeteksi gangguan pernapasan sejak dini, serta meningkatkan kualitas hidup. RS Paru Respira menyediakan layanan spirometri profesional sebagai bagian dari komitmen menjaga kesehatan pernapasan masyarakat.
    Sumber :
    ·  Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Penyakit Paru dan Pernapasan.
    ·  American Thoracic Society (ATS) & European Respiratory Society (ERS). Standardisation of Spirometry.
    ·  Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Penyakit Paru.

Pentingnya Postur Duduk yang Benar

Oleh: Nur Handayani, SKM

Duduk terlalu lama dengan posisi yang tidak tepat dapat menyebabkan berbagai keluhan pada tubuh, seperti punggung pegal, leher kaku, nyeri pinggang, hingga menurunnya produktivitas. Kebiasaan ini, jika dibiarkan, dapat menimbulkan masalah otot dan tulang jangka panjang.

Tips Postur Duduk Sehat :

✅ 1. Atur Posisi Duduk

Pastikan punggung tegak dan tersandar pada sandaran kursi.

Bahu rileks, tidak terangkat.

Kedua kaki menapak lantai, tidak menggantung.

Lutut sejajar atau sedikit lebih rendah dari pinggul.

✅ 2. Sesuaikan Posisi Layar

Letakkan layar sejajar dengan tinggi mata.

Jarak ideal layar dengan mata ± 50–70 cm.

Hindari menunduk terlalu lama karena dapat menegangkan otot leher.

✅ 3. Ciptakan Lingkungan Kerja yang Sehat

Pastikan pencahayaan cukup dan tidak menyilaukan mata.

Meja kerja rapi membantu fokus lebih baik.

Atur suhu ruangan agar tetap nyaman.

✅ 4. Gunakan Kursi Ergonomis

Pilih kursi yang mendukung bentuk alami tulang belakang.

Sandaran dapat menyesuaikan posisi tubuh.

Kursi dapat diatur tinggi-rendah sesuai kebutuhan.

✅ 5. Lakukan Peregangan Rutin

Setiap 30–60 menit, berdiri dan lakukan stretching ringan.

Putar bahu, regangkan leher, atau berjalan sebentar.

Gerakan kecil ini bisa mengurangi ketegangan otot secara signifikan.

🌟 Kesimpulan

Postur duduk yang benar adalah investasi kesehatan jangka panjang. Dengan memperbaiki cara duduk, Anda bukan hanya mencegah nyeri otot dan sendi, tetapi juga meningkatkan fokus, kenyamanan, dan produktivitas.

Mulai dari sekarang, yuk biasakan duduk yang sehat!

Referensi

  1. World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. World Health Organization.
    https://www.who.int/publications/i/item/9789240015111
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2022). Ergonomics and Musculoskeletal Disorders (MSDs).
    https://www.cdc.gov/niosh/topics/ergonomics
  3. Occupational Safety and Health Administration (OSHA). (2021). Computer Workstations eTool: Good Working Positions.
    https://www.osha.gov/etools/computer-workstations
  4. American Chiropractic Association. (2021). Posture and spinal health recommendations.
    https://www.acatoday.org
  5. Mandal, A. C. (2014). The seated man — The seated work position: Theory and practice. Applied Ergonomics, 45(6), 1367–1376.
    https://doi.org/10.1016/j.apergo.2013.09.011
  6. Waersted, M., Hanvold, T. N., & Veiersted, K. B. (2010). Computer work and musculoskeletal disorders of the neck and upper extremity: A systematic review. BMC Musculoskeletal Disorders, 11(79).
    https://doi.org/10.1186/1471-2474-11-79
  7. Grandjean, E., & Kroemer, K. H. E. (1997). Fitting the Task to the Human: A Textbook of Occupational Ergonomics. Taylor & Francis.
  8. Straker, L., & Mathiassen, S. E. (2009). Increased physical work loads in modern work life: The concept of work intensification. Ergonomics, 52(10), 1215–1225.

Nikmat Sesaat, Dampak Jangka Panjang? Mengulas Risiko Kesehatan BBQ di Malam Tahun Baru

Oleh: Arifah BN, S.KM

Malam tahun baru selalu dimulai dengan tawa, kembang api, dan aroma daging yang terbakar. Bara menyala, asap mengepul, dan rasa hangat menyelimuti kebersamaan. Namun di balik aroma yang menggoda itu, ada sesuatu yang tak terlihat, senyawa yang ikut terbentuk bersama api, perlahan menempel pada makanan, dan diam-diam masuk ke dalam tubuh.

Momen berkumpul bersama keluarga atau sahabat sering terasa kurang lengkap tanpa acara BBQ. Daging yang dipanggang dengan aroma menggoda menjadi teman setia di suasana dingin yang penuh keakraban. Meski demikian, kebiasaan ini menyimpan potensi risiko kesehatan yang perlu mendapat perhatian.

Mengapa Makanan yang Dibakar Bisa Berisiko bagi Kesehatan?

Memasak makanan dengan cara dibakar atau dipanggang pada suhu tinggi, terutama daging, dapat menghasilkan senyawa kimia berbahaya yang berpotensi mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Saat daging dimasak pada suhu sangat tinggi (di atas ±150°C), dapat terbentuk dua jenis senyawa utama:

  • Heterocyclic Amines (HCAs)

HCAs terbentuk dari reaksi antara protein daging, asam amino, dan panas tinggi. Senyawa ini bersifat mutagenik, artinya dapat merusak DNA sel dan berpotensi meningkatkan risiko kanker.

  • Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs)

PAHs terbentuk ketika lemak dari daging menetes ke bara api, menghasilkan asap yang kemudian menempel kembali pada permukaan makanan. PAHs juga diketahui memiliki sifat karsinogenik.

Menurut National Cancer Institute (NCI), kedua senyawa ini dapat terbentuk terutama pada daging yang dibakar hingga gosong atau hangus.

Apa Dampaknya bagi Tubuh?

Penelitian menunjukkan bahwa paparan HCAs dan PAHs dalam jangka panjang dapat:

  • Merusak DNA sel
  • Meningkatkan stres oksidatif dalam tubuh
  • Berpotensi meningkatkan risiko kanker, terutama kanker kolorektal

American Institute for Cancer Research (AICR) menyebutkan bahwa konsumsi daging merah dan daging olahan yang sering dimasak dengan cara dibakar atau dipanggang pada suhu tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko kanker tertentu. Penting dicatat bahwa BBQ sesekali tidak serta-merta menyebabkan kanker, namun risiko akan meningkat jika dilakukan terlalu sering tanpa memperhatikan cara memasak yang aman.

Risiko Tambahan: Asap dari Proses Pembakaran

Selain dari makanan itu sendiri, asap BBQ juga mengandung PAHs dan partikel halus yang dapat mengiritasi saluran pernapasan. Paparan asap secara intens, terutama di ruang terbuka yang sirkulasi udaranya buruk, dapat memperburuk kondisi pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru.

Tips BBQ Lebih Aman dan Sehat Saat Tahun Baru

Agar tetap bisa menikmati BBQ tanpa rasa khawatir berlebihan, berikut beberapa tips yang direkomendasikan lembaga kesehatan:

  • Marinasi daging sebelum dibakar, terutama dengan bumbu berbahan asam (jeruk, lemon, cuka) untuk mengurangi pembentukan HCAs.
  • Hindari membakar hingga gosong atau berwarna hitam pekat.
  • Gunakan metode panas tidak langsung atau suhu lebih rendah.
  • Potong dan buang bagian yang hangus sebelum dikonsumsi.
  • Batasi daging merah dan daging olahan (sosis, hot dog).
  • Perbanyak sayuran panggang, seperti jagung, paprika, jamur, dan zucchini.

Kesimpulan

BBQ di malam tahun baru boleh saja dilakukan sebagai bagian dari kebersamaan dan tradisi. Namun, penting untuk memahami bahwa makanan yang dibakar pada suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa berbahaya jika dikonsumsi terlalu sering atau dimasak hingga gosong. Dengan cara memasak yang lebih aman, porsi seimbang, dan pilihan bahan yang lebih sehat, risiko kesehatan dapat diminimalkan tanpa harus menghilangkan momen kebahagiaan saat pergantian tahun.

Senyawa karsinogenik dari makanan yang dibakar tidak bekerja dalam hitungan jam atau hari. Mereka bekerja pelan, memengaruhi sel demi sel, tanpa gejala yang terasa. Itulah mengapa pencegahan sering diabaikan, karena ancaman yang paling berbahaya adalah yang tidak langsung terlihat.

Rayakan malam tahun baru dengan bijak. Nikmati BBQ secukupnya, pilih cara memasak yang lebih aman, dan imbangi dengan makanan sehat agar tubuh tetap terlindungi. Sehat tetap jalan, momen bahagia pun tetap terasa.

Referensi:

American Institute for Cancer Research. 2014. Guide to Healthy Grilling. https://www.aicr.org/news/guide-to-healthy-grilling/?utm_source=chatgpt.com

American Institute for Cancer Research. 2025. Grilling and Cancer Risk: What You Need to Know for A Healthier Barbecue. https://www.aicr.org/resources/blog/grilling-and-cancer-risk-what-you-need-to-know-for-a-healthier-barbecue/?utm_source=chatgpt.com

IQAir. 2022. Is Your Backyard barbecue a Health Hazard?. https://www.iqair.com/newsroom/your-backyard-barbecue-health-hazard

National Cancer Institute. 2017. Chemicals in Meat Cooked at High Temperatures and Cancer Risk. https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/diet/cooked-meats-fact-sheet?utm_source=chatgpt.com

Hidup Lebih Sehat dengan PPOK: Tips Gaya Hidup yang Bisa Dilakukan

Oleh : Monica Ayu Prabowoslatri, A.Md. Kep

Pernahkah Anda mendengar istilah PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis)?

Penyakit ini adalah gangguan pada paru-paru yang membuat penderitanya sulit bernapas karena adanya hambatan pada saluran napas. PPOK biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok bertahun-tahun, paparan asap, debu, atau polusi.

Meski terdengar menakutkan, kabar baiknya adalah penderita PPOK tetap bisa menjalani hidup yang berkualitas dengan melakukan perubahan gaya hidup sederhana. Yuk, simak tipsnya!

  1. Katakan “Selamat Tinggal” pada Rokok

Langkah paling penting bagi penderita PPOK adalah berhenti merokok. Asap rokok tidak hanya memperburuk kondisi paru, tetapi juga mempercepat kerusakan. Dengan berhenti merokok, penderita memberi kesempatan paru-paru untuk bernapas lebih lega.

  • Makan Sehat, Nafas Lebih Nyaman
  • Pilih makanan kaya gizi seperti buah, sayuran, ikan, dan biji-bijian.
  • Batasi makanan asin karena bisa menyebabkan penumpukan cairan.
  • Lebih baik makan sedikit tapi sering agar perut tidak penuh dan memudahkan bernapas.
  • Bergerak dengan Bijak

Olahraga ringan tetap penting untuk menjaga kebugaran tubuh, misalnya jalan santai, yoga, atau latihan pernapasan sederhana. Aktivitas ini dapat membantu paru bekerja lebih efisien. Jangan lupa, lakukan sesuai kemampuan dan hindari memaksakan diri.

  • Ciptakan Lingkungan yang Bersih

Udara segar adalah teman baik penderita PPOK. Hindari paparan asap rokok, polusi, debu, atau bahan kimia. Gunakan masker bila diperlukan dan pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik.

  • Disiplin dengan Obat dan Kontrol secara Rutin

Penderita PPOK biasanya mendapatkan obat inhaler atau terapi lain dari dokter. Gunakan sesuai petunjuk dan jangan lupa kontrol rutin untuk memantau perkembangan kesehatan paru.

  • Lindungi Diri dari Infeksi

Penderita PPOK lebih rentan terkena flu atau infeksi paru. Karena itu, menjaga perilaku hidup bersih dan sehat sangat dianjurkan seperti menjaga kebersihan tangan dengan melakukan cuci tangan dengan benar, menggunakan masker di tempat keramaian. Penderita PPOK juga bisa melakukan vaksinasi flu dan pneumonia.

  • Jaga Pikiran Tetap Positif

Hidup dengan PPOK bisa memicu stres atau cemas. Dukungan keluarga, komunitas pasien, atau sekadar melakukan hobi yang disukai dapat membantu menjaga kesehatan mental tetap baik.

PPOK memang penyakit kronis, tetapi bukan berarti penderita PPOK tidak bisa menikmati hidup. Dengan gaya hidup sehat, pengelolaan yang tepat, dan dukungan orang terdekat, penderita PPOK tetap bisa bernapas lebih lega dan menjalani hari-hari dengan penuh semangat.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI. (2021). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). (2024). Global Strategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Retrieved from https://goldcopd.org

World Health Organization. (2023). Chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Retrieved from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chronic-obstructive-pulmonary-disease-(copd)

Mayo Clinic. (2023). Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) – Lifestyle and home remedies. Retrieved from https://www.mayoclinic.org

4 Hal yang Terjadi karena Kebanyakan Scroll HP

Oleh : Nur Handayani, S.K.M

Di era digital, menggenggam ponsel dan terus scroll layar sudah jadi kebiasaan sehari-hari. Mulai dari bangun tidur hingga sebelum terlelap, tangan kita nyaris tak lepas dari gawai. Sayangnya, terlalu lama scroll HP tidak hanya menghabiskan waktu, tapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan. Inilah empat hal yang perlu diwaspadai.

  1. Mata Lelah dan Buram

    Terlalu lama menatap layar membuat mata bekerja lebih keras. Akibatnya muncul gejala digital eye strain seperti mata kering, perih, atau pandangan buram. Kondisi ini bisa makin parah bila pencahayaan sekitar kurang baik atau jarak pandang terlalu dekat.

    2. Nyeri Leher dan Punggung

    Kebiasaan menunduk saat scroll HP memicu text neck, yaitu nyeri pada leher, bahu, hingga punggung bagian atas. Jika berlangsung lama, postur tubuh bisa terganggu dan rasa sakit menjadi kronis.

    3. Gangguan Tidur

    Scroll HP sebelum tidur sering dianggap “teman pengantar tidur”, padahal cahaya biru dari layar menghambat produksi melatonin, hormon pengatur tidur. Akibatnya, kita susah terlelap, tidur jadi dangkal, dan keesokan harinya tubuh terasa lelah.

    4. Stres dan Kecemasan

    Tak jarang, tanpa sadar kita terjebak dalam doomscrolling, yaitu kebiasaan terus membaca berita atau konten negatif. Hal ini meningkatkan stres, membuat cemas, bahkan bisa menurunkan rasa percaya diri karena sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.

    Tips Sederhana Digital Detox

    • Tetapkan waktu khusus tanpa HP, misalnya satu jam sebelum tidur.
    • Gunakan aplikasi pengingat waktu layar agar tidak kebablasan.
    • Buat zona bebas gadget seperti meja makan atau kamar tidur.
    • Isi waktu luang dengan kegiatan nyata: olahraga ringan, membaca buku, atau ngobrol dengan keluarga.

    Mengurangi kebiasaan scroll HP bukan berarti anti teknologi, tetapi memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat. Dengan digital detox sederhana, kualitas tidur membaik, postur tubuh terjaga, pikiran lebih segar, dan hubungan sosial terasa lebih nyata.

    Referensi

    Kementerian Kesehatan RI. (2022). Bijak Gunakan Gadget untuk Kesehatan Mental. Jakarta: Kemenkes RI.

    Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2018). Associations Between Screen Time and Lower Psychological Well-Being Among Children and Adolescents. Preventive Medicine Reports, 12, 271–283.

    World Health Organization (WHO). (2021). Digital Health and Well-Being.

    Anak Batuk Enggak Sembuh-Sembuh?Waspadai Penyebab Tersembunyi di Baliknya!

    Oleh : Sukhalita. S.K.M

    Semua manusia memiliki sistem pertahanan tubuh untuk melindungi diri dari bahaya benda asing, termasuk kuman penyebab penyakit. Beberapa respon tersebut antara lain berkedip, bersin, dan batuk. Masing-masing respon tersebut memiliki tujuan masing-masing, tak terkecuali batuk.
    Batuk merupakan kondisi yang umum terjadi. Semua kelompok usia bisa saja mengalami kondisi ini, tergantung faktor risiko yang dimiliki masing-masing orang. Batuk umumnya tidak berbahaya, tetapi bisa saja merupakan gejala dari kondisi yang memerlukan pertolongan medis. Jadi, kupas tuntas tentang batuk dalam artikel ini, supaya tidak salah langkah!
    Apa itu Batuk?
    Batuk adalah bentuk respon alami tubuh untuk melindungi saluran pernapasan, khususnya paru-paru, dari kuman maupun benda asing serta membersihkan jalan napas. Beberapa kondisi bisa memicu terjadinya batuk, baik karena kuman penyebab penyakit, peningkatan produksi dahak, adanya benda asing, bahkan kanker.
    Umumnya, batuk bukan merupakan masalah serius karena biasanya dapat sembuh sendiri dalam waktu sekitar dua minggu. Namun, ada juga batuk yang berlangsung selama berbulan-bulan dan dapat menjadi tanda adanya penyakit yang lebih serius.
    Untuk mencegah kesalahan dalam penanganan dan mendapatkan perawatan yang tepat, penting untuk mengenali penyebab batuk.

    1. ISPA
      Penyebab paling umum dari batuk kronis pada anak-anak adalah infeksi saluran pernapasan atas. Ini dapat disebabkan oleh salah satu dari lebih dari 100 virus flu.
      “Anak-anak biasanya mengalami sekitar 8-10 kali pilek dalam setahun selama 5-7 hari,” kata William Berger, MD, profesor klinis di departemen pediatri University of California kepada Parents.
      Beberapa gejala batuk kronis akibat flu yang perlu diketahui para orangtua, antara lain:
       demam ringan hingga berat
       ada lendir yang memicu refleks muntah
       batuk parah dengan frekuensi yang lebih lama daripada flu biasa.
    2. ASMA
      Asma dapat menjadi penyebab batuk kronis pada anak karena peradangan dan penyempitan saluran napas yang membuatnya lebih sensitif terhadap pemicu seperti debu, asap, udara dingin, atau aktivitas fisik. Kondisi ini memicu batuk kering berulang, terutama pada malam hari atau saat anak beraktivitas, dan sering disertai sesak napas, napas berbunyi (mengi), serta rasa berat di dada. Karena gejalanya dapat datang dan pergi, asma sering tidak langsung dikenali, sehingga penting bagi orang tua untuk mewaspadai batuk yang sering kambuh dan memeriksakan anak ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat.
    3. POLUSI UDARA DAN ASAP ROKOK
      Paparan asap rokok dan polusi udara dapat membuat anak mudah batuk karena keduanya mengiritasi saluran pernapasan, memicu peradangan, dan meningkatkan produksi lendir. Zat berbahaya dalam asap rokok serta partikel polutan merusak silia (rambut halus pelindung paru) sehingga kotoran dan kuman lebih mudah menumpuk. Akibatnya, saluran napas anak menjadi lebih sensitif dan rentan infeksi, sehingga tubuh merespons dengan batuk untuk membersihkannya.
      Sumber :
      Fadli, dr. Rizal. 2024. Batuk. Halodoc.
      Fensynthia, dr. Gracia. 2025. Menyikapi Batuk pada Anak. Alodokter.
      Puskesmas Kuta Selatan. 2022. 4 Penyebab Batuk Kronis pada Anak-anak

    PENYAKIT YANG SERING MUNCUL DI MUSIM PANCAROBA

    Oleh : Susilawati, S.K.M

    Apa sih Penyakit yang Sering Muncul di Musim Pancaroba

    Musim pancaroba adalah periode transisi antara satu musim ke musim berikutnya, misalnya dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Pada masa ini, suhu, kelembapan, angin, dan kondisi lingkungan berubah secara cepat, sehingga tubuh kita menjadi lebih rentan terhadap infeksi saluran  pernapasan.

    Penyakit seperti flu, batuk, dan nyeri badan yang muncul bersama demam sering kali disebabkan oleh virus atau kuman yang menyerang sistem pernapasan dan sistem imun tubuh kita yang melemah karena adaptasi terhadap perubahan cuaca.

    Contohnya, Influenza (flu) adalah salah satu infeksi virus yang menular dan bisa menyerang ketika kondisi tubuh dan lingkungan kurang optimal.  Sedangkan Common Cold (pilek biasa) adalah infeksi saluran pernapasan atas yang juga sering muncul.

    Karena perubahan cuaca:

    • Suhu turun mendadak menyebabkan tubuh “terkejut”, sistem imun melemah.
    • Kelembapan tinggi atau angin dingin menyebabkan virus lebih mudah menyebar.
    • Perpindahan antara ruangan dingin/AC dan luar panas dapat menyebabkan stres pada tubuh.
    • Aktivitas di dalam ruangan lebih sering dapat menjadikan risiko penularan lebih besar.

    Dengan demikian, munculnya demam + flu + batuk + badan ngilu‐ngilu di musim pancaroba merupakan pola yang cukup umum.

    Gejala Umum

    Gejala yang sering muncul pada kondisi seperti ini antara lain adalah:

    • Demam (naik suhu tubuh) atau terasa menggigil.
    • Batuk, bisa batuk kering atau berdahak.
    • Pilek atau hidung tersumbat / meler.
    • Sakit tenggorokan.
    • Nyeri otot dan sendi (badan ngilu‐ngilu, pegal‐pegal) ,sering muncul pada flu.
    • Kelelahan, rasa lemas.
    • Kepala pusing atau sakit kepala.
    • Kadang mual atau muntah pada anak‐anak (jika infeksinya agak berat).

    Catatan penting: Gejala‐gejala ini juga bisa muncul pada berbagai penyakit lain (misalnya infeksi bakteri, pneumonia, COVID‐19), sehingga jika gejala berat atau berlangsung lama, sebaiknya konsultasi ke tenaga medis.


     Pengobatan

    Pengobatan ringan (di rumah)

    Untuk kondisi ringan, beberapa hal yang dapat dilakukan:

    • Istirahat cukup, jangan dipaksakan aktivitas berat.
    • Minum banyak air putih agar tubuh tetap terhidrasi.
    • Konsumsi makanan bergizi, hangat (sup, air hangat) untuk membantu pemulihan.
    • Atur udara di ruangan: jangan terlalu dingin/dingin berlebih, jaga kelembapan.
    • Jika ada hidung tersumbat, berkumur dengan air hangat atau gunakan larutan saline (nasal drop) jika perlu.
    • Untuk nyeri badan/otot bisa menggunakan obat pereda nyeri/pegal ringan setelah konsultasi ke dokter atau apotek.

    Perawatan medis

    • Jika infeksi virus (seperti flu), biasanya pengobatan adalah simptomatik (mengurangi gejala) karena banyak virus tidak punya obat khusus yang tersedia untuk semua orang.
    • Jika muncul komplikasi atau gejala berat (sesak napas, demam tinggi >3 hari, batuk berdarah, dsb)  segera ke dokter.
    • Penting: Antibiotik tidak selalu diperlukan karena mayoritas kasus batuk/pilek/flu disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Penggunaan antibiotik secara sembarangan dapat menyebabkan resistensi bakteri.

    Pencegahan

    Karena kondisi mudah menular dan mudah muncul di musim pancaroba, langkah pencegahan sangat penting. Berikut beberapa tips:

    • Cuci tangan secara rutin dengan sabun & air mengalir, terutama sebelum makan, setelah dari tempat umum, atau setelah memegang benda‐bersama.
    • Hindari menyentuh wajah (mata, hidung, mulut) dengan tangan yang belum dicuci.
    • Tutup mulut dan hidung saat batuk/bersin, idealnya dengan tisu atau bagian dalam lengan atas, bukan dengan tangan langsung.
    • Gunakan masker ketika berada di tempat ramai atau saat ada banyak orang batuk‐pilek di sekitar.
    • Jaga kondisi tubuh: istirahat cukup, makan bergizi, hindari stres berlebih agar sistem imun tetap baik.
    • Hindari asap rokok dan lingkungan berasap karena dapat menurunkan daya tahan saluran pernapasan.
    • Jika tersedia dan direkomendasikan, lakukan vaksinasi influenza (terutama bagi kelompok rentan: lansia, anak kecil, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis).
    • Jaga kebersihan lingkungan rumah: ventilasi baik, hindari lembap, saat pancaroba perhatikan agar ruangan nggak terlalu dingin atau berangin terus‐menerus.

    Sumber :

    Musim Pancaroba Datang, Waspadai Gangguan Pernapasan Ini!

    Oleh : Nur Handayani, S.KM

    Cuaca Tidak Menentu, Kok Jadi Gampang Sesak dan Batuk?

    Belakangan ini, cuaca di berbagai daerah terasa sulit ditebak. Pagi bisa panas terik, siang tiba-tiba hujan deras, lalu malamnya udara menjadi lembap dan dingin. Kondisi cuaca yang berubah-ubah seperti ini sering disebut sebagai musim pancaroba. Tak sedikit orang mengeluhkan lebih mudah terkena batuk, pilek, atau bahkan sesak napas di masa seperti ini. Tapi, apa sebenarnya hubungan antara cuaca tidak menentu dan kesehatan paru-paru kita?

    Mengapa Cuaca Bisa Mempengaruhi Pernapasan?

    Perubahan suhu dan kelembapan udara dapat memengaruhi cara kerja sistem pernapasan. Udara dingin dan lembap, misalnya, bisa memicu penyempitan saluran napas pada beberapa orang, terutama penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Selain itu, cuaca ekstrem juga berdampak pada kualitas udara. Ketika hujan turun setelah periode panas panjang, debu dan polutan di udara bisa naik dan terhirup oleh manusia, memicu iritasi di saluran napas.

    Tidak hanya itu, perubahan cuaca seringkali diiringi dengan penurunan daya tahan tubuh. Virus penyebab infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), seperti influenza dan rhinovirus, lebih mudah menular di lingkungan yang lembap dan padat. Akibatnya, jumlah penderita batuk, pilek, dan sesak napas meningkat saat musim pancaroba tiba.

    Penyakit yang Sering Muncul Saat Cuaca Tidak Menentu

    Beberapa penyakit yang sering muncul atau kambuh saat cuaca tidak stabil antara lain:

    • Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) – Ditandai dengan batuk, pilek, demam, dan tenggorokan kering.

    • Asma – Cuaca dingin, debu, dan polusi dapat memicu kambuhnya gejala asma.

    • Bronkitis – Radang saluran napas akibat infeksi atau paparan polusi udara.

    • Alergi saluran napas – Debu, serbuk, dan jamur mudah berkembang di cuaca lembap.

    • Pneumonia – Infeksi paru yang menyebabkan sesak napas dan demam tinggi.

    Langkah Pencegahan dan Tips Menjaga Paru Tetap Sehat

    Meski cuaca tidak bisa kita kendalikan, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan paru-paru agar tetap optimal. Berikut beberapa langkah mudah yang bisa diterapkan:

    1. Gunakan masker saat berada di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara sedang buruk.

    2. Perbanyak minum air putih untuk menjaga kelembapan saluran napas.

    3. Jaga kebersihan rumah, terutama sirkulasi udara dan ventilasi.

    4. Hindari rokok dan paparan asap, termasuk asap kendaraan dan pembakaran sampah.

    5. Konsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang mengandung vitamin C dan antioksidan.

    6. Istirahat cukup dan olahraga ringan secara rutin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

    7. Pertimbangkan vaksinasi influenza atau pneumonia untuk perlindungan tambahan.

    Kapan Harus ke Dokter Paru?

    Segera periksakan diri ke dokter bila kamu mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, sesak napas yang makin berat, nyeri dada, atau dahak bercampur darah. Pemeriksaan fungsi paru, rontgen dada, atau konsultasi dengan dokter spesialis paru dapat membantu menemukan penyebab dan penanganan yang tepat.

    Cuaca yang tidak menentu memang bisa membuat tubuh lebih rentan terhadap gangguan pernapasan. Namun, dengan gaya hidup sehat dan kewaspadaan sejak dini, paru-paru kita tetap bisa terlindungi. Jangan ragu untuk memeriksakan kondisi pernapasan ke fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Paru agar mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat waktu. Menjaga paru berarti menjaga napas kehidupan.

    Referensi

    1. World Health Organization (WHO). (2023). Air Pollution and Health.
    2. Kementerian Kesehatan RI. (2024). Situasi ISPA di Indonesia.
    3. Ikatan Dokter Indonesia (IDI). (2024). Panduan Penanganan ISPA dan Asma.
    4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2023). How Weather Affects Respiratory Health.
    5. Journal of Pulmonary Medicine (2023). Seasonal Impacts on Respiratory Diseases.

    BERNAPAS UNTUK MASA DEPAN, JAGA KESEHATAN PARU-PARU KITA

    Oleh : Susilawati, S.K.M

           Setiap hari, rata-rata orang dewasa bernapas sekitar 20.000 kali. Sebagian besar dari kita melakukannya tanpa berpikir. Namun, di balik setiap tarikan dan hembusan napas, ada organ luar biasa yang bekerja tanpa henti yaitu paru-paru.

    Paru-paru berfungsi sebagai sistem penyaringan dan pertukaran gas vital bagi tubuh. Mereka mengambil oksigen dari udara yang kita hirup dan mengalirkannya ke seluruh tubuh melalui darah. Oksigen ini menjadi bahan bakar bagi setiap sel, organ, dan jaringan. Pada saat yang sama, paru-paru membuang produk limbah berupa karbon dioksida.

    Mengingat perannya yang sangat krusial, menjaga kesehatan paru-paru adalah salah satu investasi terbaik untuk kualitas hidup dan umur panjang.

    Kesehatan paru-paru kita terus-menerus ditantang oleh faktor lingkungan dan gaya hidup. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu :

    • Asap Rokok : Merokok adalah penyebab utama penyakit paru-paru yang dapat dicegah, termasuk kanker paru dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Asap rokok mengandung ribuan zat kimia beracun yang merusak struktur paru-paru, melumpuhkan sistem pembersihan alaminya, dan menyebabkan peradangan kronis. Perokok pasif juga berisiko tinggi.
    • Polusi Udara (Ancaman Tak Terlihat): Partikel halus dari asap kendaraan, emisi industri, pembakaran sampah, dan debu jalanan dapat terhirup dalam-dalam ke paru-paru. Paparan jangka panjang dapat menyebabkan asma, PPOK, dan bahkan kanker paru. Polusi di dalam ruangan (dari asap dapur, jamur, bahan kimia pembersih) juga sama berbahayanya.
    • Infeksi Pernapasan: Virus seperti influenza dan SARS-CoV-2, serta bakteri penyebab pneumonia dan tuberkulosis (TBC), dapat menyebabkan kerusakan serius pada jaringan paru-paru. Infeksi yang berulang atau parah dapat meninggalkan bekas luka permanen.
    • Paparan di Tempat Kerja (Risiko Tersembunyi): Pekerja di sektor konstruksi, pertambangan, pertanian, dan manufaktur sering terpapar debu silika, asbes, asap kimia, dan zat berbahaya lainnya yang dapat menyebabkan penyakit paru akibat kerja.

    Waspadai beberapa gejala yang sering muncul jika terjadi sesuatu yang salah pada paru-paru anda :

    • Batuk Kronis: Batuk yang berlangsung lebih dari 8 minggu.
    • Sesak Napas: Kesulitan bernapas atau merasa tidak cukup mendapatkan udara, terutama saat beraktivitas.
    • Produksi Dahak Berlebih: Menghasilkan banyak lendir atau dahak selama lebih dari sebulan.
    • Mengi (Wheezing): Suara siulan bernada tinggi saat Anda bernapas.
    • Batuk Darah: Mengeluarkan darah atau lendir bercampur darah saat batuk.
    • Nyeri Dada Kronis: Rasa sakit atau tidak nyaman di area dada yang berlangsung lebih dari sebulan, terutama yang memburuk saat bernapas atau batuk.

    Sebagian besar penyakit paru-paru dapat dicegah. Beberapa kebiasaan sehat ini dapat membantu anda  menjaga paru-paru tetap kuat.

    1. Katakan TIDAK pada Rokok: Jika Anda merokok, berhenti adalah hal terbaik yang bisa Anda lakukan. Jika tidak, jangan pernah memulainya. Hindari juga lingkungan yang penuh asap rokok.
    2. Jadikan Udara Bersih Prioritas:
      • Periksa  kualitas udara di area Anda dan kurangi aktivitas berat di luar ruangan saat polusi tinggi.
      • Gunakan masker jika kualitas udara buruk.
      • Pastikan rumah memiliki ventilasi yang baik. Buka jendela secara teratur dan pertimbangkan untuk menggunakan pembersih udara (air purifier).
    3. Berolahraga Secara Teratur: Aktivitas aerobik seperti jalan cepat, berlari, berenang, atau bersepeda melatih paru-paru Anda untuk menjadi lebih efisien dalam menggunakan oksigen. Olahraga memperkuat otot-otot pernapasan Anda.
    4. Makan Makanan Bergizi: Diet kaya antioksidan (ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran berwarna cerah) dapat membantu melindungi paru-paru dari kerusakan. Minum air putih yang cukup juga penting untuk menjaga lapisan lendir di saluran napas tetap tipis.
    5. Lakukan Vaksinasi dan Jaga Kebersihan:
      • Vaksinasi flu, pneumonia, dan COVID-19 dapat mencegah infeksi parah yang merusak paru-paru.
      • Sering mencuci tangan dengan sabun adalah cara efektif untuk mencegah penyebaran kuman penyebab infeksi pernapasan.
    6. Latih Pernapasan Anda: Latihan pernapasan dalam (seperti pernapasan diafragma) dapat membantu meningkatkan kapasitas paru-paru dan membersihkan lendir yang terperangkap.

    Kesehatan paru-paru adalah fondasi dari kehidupan yang aktif dan energik. Dengan membuat pilihan gaya hidup yang cerdas dan waspada terhadap ancaman di sekitar kita, kita dapat melindungi organ vital ini sepanjang hidup.

    Jangan menunggu sampai Anda merasa sesak untuk peduli. Mulailah menjaga setiap napas Anda, mulai hari ini.

    Sumber :

    https://www.halodoc.com/artikel/6-tips-yang-wajib-dicoba-untuk-menjaga-kesehatan-paru?srsltid=AfmBOopCRA7tppp6gnG9rA1bqCAxKkfwcqA-yKLaChNpeOISQ-k1P8Me

    https://id.wikipedia.org/wiki/Paru-paru

    Generasi Rebahan: Ancaman Nyata Bagi Kebugaran Anak Indonesia

    Oleh: Nur Handayani, S.KM

    Pernah mendengar istilah “Generasi Rebahan”? Istilah ini muncul seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Masa sekarang ini, semua hal berbau digital. istilah “generasi rebahan” untuk menggambarkan anak muda yang lebih senang duduk manis atau berbaring dengan gadget ketimbang bergerak aktif. Fenomena ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan ancaman nyata bagi kebugaran anak Indonesia. Dengan derasnya arus konten media sosial, hiburan tanpa batas, hingga layanan serba instan, tubuh anak-anak kita semakin jarang digerakkan sebagaimana mestinya.

    Potret Kebugaran Anak Indonesia

    Sejumlah survei menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan:

    • Berdasarkan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2023, dari 1.578 anak usia 10–15 tahun di 34 provinsi, kebugaran jasmani anak Indonesia masih tergolong kurang bugar.
    • Survei SKI 2023 menemukan bahwa 7–8 dari 10 peserta didik usia 13–17 tahun tidak aktif secara fisik minimal 60 menit per hari (76,2%).
    • Bahkan, 62% anak usia sekolah tidur kurang dari 8 jam per hari.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan bergerak. Jika dibiarkan, generasi muda akan menghadapi risiko kesehatan yang serius.

    Dampak Kurang Aktivitas Fisik

    Kurangnya aktivitas fisik tidak hanya menurunkan kebugaran, tetapi juga membawa konsekuensi jangka panjang :

    • Kurangnya aktivitas fisik pada anak menimbulkan berbagai risiko kesehatan:
    • Obesitas

    Menurut Riskesdas 2018, prevalensi obesitas pada anak usia 5–12 tahun di Indonesia mencapai 18,8% dan angka ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

    • Menurunnya Kebugaran Jasmani

    Anak yang jarang bergerak mengalami penurunan kekuatan otot, fleksibilitas, dan daya tahan tubuh. Mereka juga lebih cepat lelah saat melakukan aktivitas sederhana.

    • Penyakit Tidak Menular (PTM)

    Kebiasaan rebahan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia muda.

    • Gangguan Mental dan Sosial

    WHO (2020) melaporkan bahwa screen time berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, serta berkurangnya interaksi sosial pada anak dan remaja.

    Rekomendasi WHO untuk Anak dan Remaja

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2020) memberikan panduan penting :

    • Anak dan remaja (5–17 tahun) melakukan aktivitas fisik intensitas sedang–berat minimal 60 menit per hari.
    • Membatasi waktu duduk berlebihan dan screen time rekreasional tidak lebih dari 2 jam per hari.

    Artinya, aktivitas fisik bukan hanya kebutuhan, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang harus dibiasakan sejak dini.

    Cara Mencegah “Generasi Rebahan”

    Beberapa langkah pencegahan yang dapat kita lakukan :

    • Jadwalkan Olahraga Teratur:

    Luangkan waktu setiap minggu untuk aktivitas fisik seperti berjalan, bersepeda, atau berenang minimal 150 menit per minggu atau 30 menit per hari.

    • Orang tua: membatasi penggunaan gawai, membiasakan olahraga bersama, serta memberi contoh gaya hidup aktif kepada anak-anaknya
    • Tingkatkan Aktivitas Sehari-hari, misalnya
    • Gunakan tangga daripada lift.
    • Lakukan pekerjaan rumah tangga, seperti berkebun.
    • Berdiri atau berjalan-jalan sebentar saat menonton televisi atau berbicara di telepon.
    • Perhatikan Waktu Duduk yang Panjang:
    • Sisihkan waktu setiap jam untuk melakukan peregangan ringan atau berjalan-jalan sebentar untuk melancarkan peredaran darah.
    • Jika pekerjaan membutuhkan duduk lama, cari cara untuk bergerak lebih sering saat istirahat, misalnya ke toilet atau mengambil air.
    • Manfaatkan Teknologi :

    Gunakan perangkat pelacak aktivitas atau aplikasi kebugaran di ponsel untuk memantau langkah Anda dan memotivasi diri untuk tetap aktif.

    • Cari Kegiatan yang Menyenangkan :

    Temukan hobi yang melibatkan aktivitas fisik, seperti menari, memasak, atau bersepeda, agar aktivitas lebih menyenangkan.

    “Generasi rebahan” bukan sekadar istilah populer, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan anak Indonesia. Jika tidak segera diatasi, generasi muda akan rentan terhadap masalah kesehatan fisik dan mental yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Membiasakan gaya hidup aktif sejak dini adalah investasi besar untuk Indonesia yang lebih sehat dan produktif.

    Referensi

    Kementerian Kesehatan RI. (2018). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

    World Health Organization. (2020). Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: WHO.

    Kementerian Kesehatan RI. (2022). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2021. Jakarta: Kemenkes RI.

    Tremblay, M. S., et al. (2016). Sedentary Behaviour Research Network (SBRN) Terminology Consensus Project. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 13(1), 75.

    Warsito, O., et al. (2021). “Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kebugaran Jasmani pada Anak Sekolah Dasar di Indonesia.” Jurnal Gizi dan Kesehatan, 13(2), 45–52.