Berita

Olahraga di Bulan Puasa: Tetap Aktif, Tetap Aman, dan Tetap Bertenaga

Oleh : Nur Handayani, S.KM

Bulan puasa membawa perubahan besar pada pola makan, jam tidur, dan ritme aktivitas harian. Tidak sedikit orang memilih mengurangi bahkan menghentikan olahraga karena khawatir lemas, pusing, atau dehidrasi. Padahal, dengan strategi yang tepat, olahraga tetap bisa dilakukan secara aman dan justru membantu menjaga kebugaran selama Ramadan. Kuncinya bukan berhenti bergerak, tetapi menyesuaikan waktu, jenis, dan intensitas latihan.

               Secara fisiologis, saat berpuasa tubuh akan menggunakan cadangan energi secara bertahap. Setelah beberapa jam tanpa asupan makanan, kadar gula darah menurun dan tubuh mulai memanfaatkan glikogen serta lemak sebagai sumber energi. Dalam kondisi ini, olahraga ringan hingga sedang masih dapat ditoleransi dengan baik oleh individu sehat. Bahkan, aktivitas fisik yang teratur membantu menjaga metabolisme, massa otot, dan kebugaran jantung.

               Waktu olahraga yang tepat saat puasa menjadi pertanyaan yang paling sering muncul. Secara umum, ada tiga waktu yang direkomendasikan. Pertama, 30–60 menit sebelum berbuka puasa. Waktu ini cocok untuk olahraga ringan karena setelah selesai, tubuh dapat segera mengganti cairan dan energi. Kedua, 1–2 jam setelah berbuka puasa, ketika tubuh sudah mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Ini adalah waktu paling ideal untuk latihan dengan intensitas sedang. Ketiga, setelah sahur, namun hanya untuk aktivitas sangat ringan seperti peregangan atau jalan santai, karena risiko dehidrasi di siang hari tetap perlu dipertimbangkan.

               Lalu, olahraga seperti apa yang aman dilakukan? Untuk kebanyakan orang, aktivitas aerobik ringan seperti jalan cepat, bersepeda santai, atau senam low impact sangat dianjurkan. Selain itu, latihan kekuatan dengan beban ringan hingga sedang juga bermanfaat untuk mempertahankan massa otot. Yoga dan pilates menjadi pilihan baik karena membantu fleksibilitas sekaligus relaksasi. Bagi yang sudah terbiasa berlatih intensitas tinggi, latihan tersebut tetap bisa dilakukan, tetapi sebaiknya dipindahkan ke waktu setelah berbuka.

               Durasi olahraga selama puasa sebaiknya dibatasi sekitar 30–45 menit. Intensitas dapat dijaga pada tingkat ringan hingga sedang, ditandai dengan masih bisa berbicara saat berolahraga tanpa terengah-engah berat. Prinsip ini membantu mencegah kelelahan berlebihan serta menjaga keseimbangan cairan tubuh.

               Asupan nutrisi juga sangat menentukan keberhasilan olahraga saat puasa. Saat berbuka, awali dengan air putih dan makanan ringan yang mudah dicerna, kemudian lanjutkan dengan makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta sayur dan buah. Saat sahur, pilih makanan tinggi serat dan protein agar energi bertahan lebih lama. Kecukupan cairan dari waktu berbuka hingga sahur sangat penting untuk mencegah dehidrasi saat beraktivitas di siang hari.

Beberapa tips aman berolahraga saat puasa antara lain:

  • Hindari olahraga di bawah terik matahari langsung.
  • Gunakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat.
  • Perhatikan tanda bahaya seperti pusing berat, mual, jantung berdebar tidak normal, atau pandangan kabur.
  • Prioritaskan kualitas tidur agar pemulihan tubuh optimal.
  • Jangan memaksakan diri jika tubuh terasa sangat lemah.

               Olahraga saat puasa bukan hanya berdampak pada fisik, tetapi juga kesehatan mental. Aktivitas fisik terbukti membantu meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, dan memperbaiki kualitas tidur. Dalam suasana Ramadan yang penuh aktivitas ibadah dan sosial, tubuh yang tetap bugar tentu mendukung produktivitas dan kekhusyukan.

               Meski demikian, individu dengan kondisi medis tertentu seperti diabetes yang tidak terkontrol, penyakit jantung, gangguan tekanan darah, atau riwayat dehidrasi berat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menyusun program olahraga saat puasa. Penyesuaian khusus mungkin diperlukan agar tetap aman.

               Pada akhirnya, puasa dan olahraga bukan dua hal yang bertentangan. Dengan pengaturan waktu yang tepat, pemilihan jenis olahraga yang sesuai, serta perhatian pada nutrisi dan hidrasi, tubuh tetap bisa aktif dan sehat sepanjang bulan Ramadan. Bergeraklah dengan bijak—bukan nekat—agar manfaat puasa dan olahraga dapat dirasakan secara optimal.

Referensi :

World Health Organization. (2020). Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour.

American College of Sports Medicine. (2021). ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang dan Aktivitas Fisik.

Mayo Clinic. (2022). Exercising While Fasting: Safety and Hydration Considerations.

Menakar Tanggung Jawab: Ustadz Setyo Susilo Kupas Tuntas Perkara Amanah di Masjid Al Husna

BANTUL – Memasuki pekan kedua Ramadhan 1447 H, girah spiritual karyawan RS Paru Respira serta masyarakat Kelurahan Palbapang terus meningkat. Hal ini terlihat dalam agenda rutin Kajian Keislaman Respi Ramadhan yang digelar pada Kamis siang (26/02/2026) di Masjid Al Husna, Palbapang, Bantul.

Menghadirkan narasumber kondang, Al Ustadz Setyo Susilo, kajian kali ini mengangkat tema yang cukup menggugah kesadaran: “Ke Mana Kau Bawa Amanahmu?”

Amanah: Bukan Sekadar Jabatan

Dalam tausiyahnya, Ustadz Setyo Susilo menekankan bahwa amanah sering kali disalahartikan hanya sebatas titipan barang atau jabatan struktural. Padahal, cakupan amanah dalam Islam jauh lebih luas, menyentuh setiap jengkal kehidupan manusia.

“Setiap embusan napas, kesehatan, hingga waktu luang yang kita miliki adalah amanah dari Allah SWT. Pertanyaannya bukan seberapa banyak yang kita dapatkan, tapi untuk apa semua itu kita gunakan?” ujar beliau di hadapan jamaah.

Beliau juga mengingatkan kutipan dari Al-Qur’an mengenai beratnya beban amanah yang bahkan gunung pun enggan memikulnya, namun manusia justru dengan berani mengambil tanggung jawab tersebut.

Poin Utama Kajian

Ustadz Setyo merangkum tiga aspek besar dalam membawa amanah:

  1. Amanah kepada Allah: Menjaga ketaatan dan menjauhi larangan-Nya di tengah godaan zaman yang semakin kompleks.
  2. Amanah kepada Sesama: Bagaimana peran kita sebagai orang tua, anak, tetangga, hingga pemimpin bagi dirinya sendiri.
  3. Amanah terhadap Diri Sendiri: Menjaga tubuh dan ruh agar tetap berada di jalan yang lurus.

Antusiasme Jamaah

Masjid Al Husna tampak diikuti oleh jamaah dari Karyawan RS Paru Respira dan Masyarakat sekitar. Suasana diskusi berlangsung hangat saat sesi tanya jawab, di mana banyak jamaah berkonsultasi mengenai dilema kejujuran di dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.

Kajian ini merupakan bagian dari rangkaian semarak Ramadhan 1447 H yang diinisiasi oleh panitia Respi untuk membekali umat dengan pemahaman agama yang mendalam namun relevan dengan tantangan masa kini.

Puasa dan Penyakit TB:

Apakah Penderita Tuberkulosis Aman Berpuasa Saat Ramadhan?

Oleh : Susilawati, SKM

Apakah penderita TB boleh berpuasa saat Ramadhan? Simak penjelasan medis lengkap tentang puasa dan tuberkulosis (TB), aturan minum obat, serta tips aman berpuasa bagi pasien TB.


Puasa dan Penyakit TB: Bolehkah Dilakukan?

Bulan Ramadhan adalah momen istimewa bagi umat Muslim. Namun bagi pasien Tuberkulosis (TB), muncul pertanyaan penting: apakah puasa aman bagi penderita TB?

Secara medis, puasa dan penyakit TB bukanlah hal yang saling bertentangan, tetapi pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien dan pengobatan yang sedang dijalani.

Apa Itu Penyakit Tuberkulosis (TB)?

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru. TB menular melalui percikan dahak saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

Pengobatan TB membutuhkan waktu minimal 6 bulan dengan konsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) secara rutin dan teratur. Kepatuhan minum obat sangat penting untuk mencegah kegagalan terapi dan resistensi obat.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pasien TB harus mengonsumsi obat tanpa putus selama masa pengobatan untuk memastikan kesembuhan optimal.

Apakah Penderita TB Boleh Berpuasa?

Jawabannya: Boleh, dengan syarat.

Puasa bagi penderita TB diperbolehkan apabila:

  • Kondisi pasien stabil.
  • Tidak mengalami efek samping berat dari obat.
  • Jadwal minum obat dapat disesuaikan (misalnya 1 kali sehari).
  • Telah mendapatkan izin dari dokter yang merawat.

Beberapa dokter paru menyatakan bahwa pasien TB yang minum obat sekali sehari dapat mengatur konsumsi obat saat sahur atau setelah berbuka, selama tidak mengganggu efektivitas terapi.

Kapan Pasien TB Tidak Dianjurkan Berpuasa?

Pasien TB sebaiknya menunda puasa apabila:

  • Masih dalam fase awal pengobatan (fase intensif).
  • Mengalami efek samping berat seperti mual hebat, muntah, atau pusing berat.
  • Mengalami penurunan berat badan signifikan.
  • Kondisi tubuh sangat lemah.

Dalam ajaran Islam, orang yang sakit mendapatkan keringanan untuk mengganti puasa di hari lain atau membayar fidyah jika tidak mampu berpuasa.

Cara Aman Menjalani Puasa bagi Penderita TB

1. Tetap Minum Obat TB Secara Teratur

Minum obat TB tidak boleh terlewat. Konsultasikan dengan dokter untuk menyesuaikan jadwal obat selama Ramadhan.

2. Penuhi Nutrisi Saat Sahur dan Berbuka

Penderita TB membutuhkan asupan tinggi protein, vitamin, dan mineral untuk mempercepat pemulihan. Pastikan konsumsi:

  • Protein (telur, ikan, ayam, kacang-kacangan)
  • Sayur dan buah
  • Cairan minimal 8 gelas antara berbuka hingga sahur

3. Hindari Dehidrasi

Dehidrasi dapat memperburuk kondisi tubuh selama masa pemulihan TB.

4. Waspadai Tanda Bahaya

Segera konsultasi ke fasilitas kesehatan jika muncul:

  • Batuk semakin parah
  • Demam berkepanjangan
  • Berat badan turun drastis
  • Tubuh terasa sangat lemas

Puasa dan TB: Mana yang Lebih Utama?

Dalam kondisi tertentu, menjaga kesehatan dan keberhasilan pengobatan lebih utama. Kegagalan minum obat TB dapat menyebabkan resistensi obat (TB RO) yang pengobatannya jauh lebih lama dan kompleks.

Karena itu, keputusan berpuasa harus berdasarkan pertimbangan medis dan kondisi individu.

Kesimpulan

  • Puasa dan penyakit TB bisa berjalan bersamaan, asalkan kondisi pasien stabil dan pengobatan tetap teratur.
  • Konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan sebelum memutuskan berpuasa.
  • Jangan pernah menghentikan obat TB tanpa arahan dokter atau tenaga medis.

Jika Anda atau keluarga sedang menjalani pengobatan TB dan ingin berpuasa, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis paru di RS Paru Respira untuk memastikan kondisi tetap aman dan terapi tetap optimal.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Informasi Pengobatan Tuberkulosis dan Kepatuhan Minum Obat.
  2. World Health Organization (WHO). Tuberculosis Fact Sheet.
  3. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Kementerian Kesehatan RI.

Perkuat Spiritual di Bulan Suci, RS Paru Respira Gelar Kajian “Respi Ramadhan” di Pekan Pertama Ramadhan

BANTUL – Dalam rangka menyambut dan mengisi kemuliaan bulan suci Ramadhan 1447 H, RS Paru Respira menyelenggarakan agenda rutin kajian keislaman bertajuk “Respi Ramadhan”. Memasuki pekan pertama, kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 19 Februari 2026, bertempat di Masjid Kelurahan Palbapang, Bantul.

Acara ini dihadiri oleh jajaran karyawan rumah sakit, serta jamaah sekitar. Kajian ini merupakan bagian dari komitmen RS Paru Respira untuk memberikan keseimbangan antara pelayanan medis yang prima dengan penguatan aspek spiritual bagi seluruh pegawainya.

Menyiapkan Hati Bersama Al Ustadz Arifin Ridin, Lc

Pada pertemuan ini, panitia menghadirkan Al Ustadz Arifin Ridin, Lc sebagai pemateri. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya persiapan hati dan mental dalam menghadapi bulan Ramadhan agar ibadah yang dijalankan tidak sekadar menjadi rutinitas fisik belaka.

“Ramadhan adalah momentum transformasi diri. Bagi tenaga kesehatan, melayani pasien dengan ikhlas adalah bagian dari ibadah yang pahalanya dilipatgandakan di bulan ini,” ujar Ustadz Arifin dalam salah satu kutipan ceramahnya.

Beliau juga memaparkan fikih praktis seputar puasa serta bagaimana menjaga produktivitas kerja di lingkungan rumah sakit meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.

Sinergi Spiritual dan Pelayanan Kesehatan

Kajian “Respi Ramadhan” rencananya akan terus dilaksanakan secara rutin setiap pekannya selama bulan suci ini. Selain sebagai sarana tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu), kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antara civitas hospitalia RS Paru Respira dengan warga Kelurahan Palbapang.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh karyawan RS Paru Respira dapat menjalankan tugas pelayanan kesehatan dengan semangat “kesembuhan pasien adalah prioritas, dan keikhlasan adalah fondasi”, selaras dengan nilai-nilai islami yang dipelajari dalam kajian.

RS Paru Respira Perkuat Legalitas Aset, Serah Terima Sertifikat Tanah sisa terdampak pengembangan RS Paru Respira di Palbapang Rampung

BANTUL – Langkah strategis dalam penataan aset dan pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan kembali dilakukan oleh Rumah Sakit Paru Respira. Pada Jumat (13/02/2026), telah dilaksanakan seremoni serah terima sertifikat tanah sisa terdampak pengembangan RS Paru Respira yang bertempat di wilayah Kelurahan Palbapang, Bantul.

Penyerahan sertifikat ini merupakan tindak lanjut dari proses administrasi pertanahan setelah dilakukannya perluasan lahan rumah sakit untuk peningkatan fasilitas pelayanan publik.

Sinergi Manajemen dan Pemerintah Desa

Acara tersebut dihadiri langsung oleh perwakilan Direktur RS Paru Respira, jajaran manajemen rumah sakit, serta Bapak Lurah Palbapang. Pertemuan ini menandai selesainya proses legalitas formal atas sisa lahan yang sebelumnya masuk dalam area terdampak pengembangan.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan manajemen RS Paru Respira menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kelurahan Palbapang atas pendampingan dan kerja sama yang baik selama proses administrasi berlangsung.

“Kepastian hukum atas aset tanah ini sangat penting bagi kami. Hal ini tidak hanya soal administrasi, tetapi juga sebagai landasan bagi pengembangan rumah sakit ke depannya agar tetap selaras dengan tata ruang dan kemanfaatan bagi warga sekitar,” ujar perwakilan Manajemen RS Paru Respira.

Komitmen Pelayanan dan Tertib Administrasi

Di sisi lain, Bapak Lurah Palbapang menyambut baik penyelesaian proses ini. Menurutnya, sinergi antara instansi kesehatan dan pemerintah desa sangat diperlukan agar pembangunan yang dilakukan memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat setempat.

Beberapa poin penting dari hasil pertemuan ini meliputi:

  • Legalitas Terjamin: Seluruh dokumen sisa lahan kini telah memiliki status hukum yang jelas.
  • Transparansi Aset: Bagian dari komitmen RS Paru Respira dalam menjaga akuntabilitas pengelolaan aset negara.
  • Hubungan Baik: Mempererat hubungan kelembagaan antara pihak rumah sakit dengan pemangku wilayah di Palbapang.

Dengan rampungnya penyerahan sertifikat ini, RS Paru Respira kini memiliki fondasi yang semakin kuat untuk melanjutkan agenda pembangunan fasilitas kesehatan yang lebih modern dan komprehensif bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

Sambut Ramadhan 1447 H, RS Paru Respira Gelar Kajian Spiritual Bersama Ustad Ibnu Sutopo Yuwono, S.T. M.S.i

BANTUL – Dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari, Rumah Sakit Paru (RSP) Respira Yogyakarta menggelar agenda kajian rohani bertajuk “Menyongsong Ramadan”. Acara ini berlangsung khidmat pada hari ini, Kamis (12/2), bertempat di Masjid Al Husna, Kalurahan Palbapang, Bantul.

Kegiatan yang dimulai sesaat setelah pelaksanaan salat Zuhur berjamaah ini menghadirkan penceramah ternama, Ustad Ibnu Sutopo Yuwono, S.T, M.S.i. Kajian ini diikuti oleh jajaran manajemen, karyawan RSP Respira, serta warga sekitar Kalurahan Palbapang.

Sinergi Rumah Sakit dan Masyarakat

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua IKM (Ikatan Keluarga Muslim) RS Paru Respira. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya persiapan spiritual bagi tenaga kesehatan dan staf rumah sakit agar dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan maksimal di tengah kesibukan melayani pasien.

Senada dengan hal tersebut, Lurah Palbapang, Bantul, yang turut hadir memberikan sambutan, mengapresiasi inisiatif RSP Respira dalam menyelenggarakan kegiatan positif di lingkungan Palbapang. Beliau berharap kolaborasi antara instansi kesehatan dan warga desa dapat terus terjalin erat melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan seperti ini.

Bekal Ilmu Menuju Bulan Suci

Memasuki acara inti, Ustad Ibnu Sutopo Yuwono dalam tausiyahnya memaparkan strategi menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup. Beliau mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan momentum untuk melakukan transformasi diri menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

“Persiapan terbaik menyambut Ramadan adalah dengan memperdalam pemahaman fiqih puasa serta menata niat agar setiap aktivitas, termasuk memberikan pelayanan kesehatan, bernilai ibadah di sisi Allah SWT,” ujar Ustad Ibnu dalam salah satu poin ceramahnya.

Kajian ini ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan mendatang. Melalui kegiatan ini, RS Paru Respira berharap dapat meningkatkan motivasi spiritual karyawannya serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di lingkungan sekitar rumah sakit.

Pemenuhan Sarana dan Prasarana Pengembangan Rumah Sakit Paru Respira

Sabtu, 07 Februari 2026, Rapat Pengemebangan Rumah sakit untuk pemenuhan sarana dan prasarana pengembangan Rumah Sakit Paru Respira diselenggarakan sebagai upaya strategis dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan serta pengembangan fasilitas rumah sakit secara berkelanjutan. Rapat ini membahas kebutuhan sarana dan prasarana yang diperlukan guna menunjang operasional rumah sakit, peningkatan kapasitas layanan, serta pemenuhan standar pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam rapat tersebut dilakukan evaluasi terhadap kondisi sarana dan prasarana yang telah tersedia, identifikasi kebutuhan pengembangan, serta perencanaan pengadaan fasilitas yang disesuaikan dengan prioritas dan kemampuan sumber daya. Selain itu, dibahas pula sinkronisasi rencana pengembangan dengan visi dan misi Rumah Sakit Paru Respira sebagai pusat pelayanan kesehatan paru yang profesional dan berkualitas.

Melalui rapat ini diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi dan langkah tindak lanjut yang terarah dan terukur dalam rangka mendukung pengembangan Rumah Sakit Paru Respira, sehingga mampu memberikan pelayanan yang optimal, aman, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

STRESS EATING

Oleh : Nur Handayani, SKM

Apa itu stress eating ?

Stress eating adalah keinginan untuk makan saat stres walau sebenarnya tidak lapar. Pada sebagian orang, makan merupakan salah satu cara meredakan stres. Meski kelihatannya tidak berbahaya, stress eating bisa menimbulkan masalah pada kesehatan, apalagi jika sudah menyebabkan obesitas.

Tanda stress eating

  • Merasa ingin makan walau tidak lapar, terutama saat sedang cemas, stres, atau banyak beban pikiran
  • Menginginkan makanan tertentu saat sedang stres, misalnya selalu ingin makan cokelat atau es krim saat sedang merasa tertekan.
  • Merasa ingin makan karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan
  • Merasa bahwa makan bisa membuat perasaan menjadi lebih baik
  • Menginginkan makanan tertentu yang cenderung manis atau pedas.
  • Selalu ingin makan meski tidak merasa lapar.
  • Terlalu malas untuk melakukan hal-hal lain.
  • Memiliki sugesti bahwa makan akan membuat perasaan dan pikiran menjadi lebih baik.

Mengapa junk food memberikan kenyamanan?

Merasa lapar saat stres adalah hal yang wajar, karena tubuh memproduksi lebih banyak kortisol yang juga dikenal sebagai ‘hormon lapar’. Stres juga dapat mengurangi tingkat ‘hormon kebahagiaan’, serotonin dan dopamin, yang dapat menimbulkan keinginan untuk mengonsumsi makanan tinggi gula atau lemak. Ketika mengonsumsi makanan tinggi gula atau lemak, otak Anda melepaskan lebih banyak serotonin dan dopamin, yang meningkatkan suasana hati dan mengurangi kecemasan. Namun, efeknya biasanya hanya berlangsung sebentar karena akar penyebab pemicu stres Anda tidak ditangani dengan baik. Perasaan stres biasanya akan kembali, dan Anda akan terjebak dalam siklus stress eating lagi.

Dampak stress eating

Cara mengatasi stress eating

  1. Ketahui penyebab stress
  2. Manajemen stress
  3. Merujuk ke ahli diet untuk menyusun rencana untuk mengelola kebiasaan makan Anda
  4. Merujuk ke psikolog atau psikiater untuk menilai kesehatan mental untuk menilai kesehatan mental dan masalah stress Anda
  5. Berolahraga
  6. Selalu sediakan makanan sehat
  7. Perbanyak minum air putih

Referensi

Kementrian Kesehatan RI. 2024. Mencegah Stress Eating. https://yankes.kemkes.go.id/ tanggal 28 Oktober 2024

Kementrian Kesehatan RI. 2021. Hindari mengalihkan emosi dengan banyak makan pada saat stres, bosan. https://p2ptm.kemkes.go.id/ tanggal 29 Desember 2021

Tim Medis Siloam Hospital. 2024. Mengenal Stress Eating, Keinginan Makan Berlebih saat Stres. https://www.siloamhospitals.com/ tanggal 22 Agustus 2024

Adrian, dr. Kevin. 2024. Stress Eating, Kecenderungan untuk Makan Berlebihan Saat Stres. https://www.alodokter.com/ tanggal 8 November 2024

Mount Elizabeth. 2019. Makan Berlebihan Karena Stres? Inilah yang Harus Dilakukan. https://www.mountelizabeth.com.sg/ tanggal 25 April 2019

dr. Fadhli Rizal Makarim. 2020. Begini 7 Cara Mudah Mengatasi Stress Eating. https://www.halodoc.com/ tanggal 16 April 2020

RS Paru Respira Raih Penghargaan BPJS Kesehatan atas Komitmen Transformasi Digital Pelayanan

YOGYAKARTA – RS Paru Respira kembali menorehkan prestasi gemilang dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan bagi masyarakat. Kali ini, BPJS Kesehatan secara resmi memberikan penghargaan bintang empat kepada RS Paru Respira atas komitmen luar biasa rumah sakit dalam mengimplementasikan transformasi digital kesehatan. Dalam sebuah acara resmi yang diselenggarakan di Hotel Grand Keisha, Yogyakarta, RS Paru Respira menerima penghargaan dari BPJS Kesehatan atas komitmennya dalam mengimplementasikan sistem pelayanan kesehatan berbasis digital.

Penghargaan ini diserahkan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan RS Paru Respira dalam mengintegrasikan berbagai sistem pelayanan yang memudahkan pasien, khususnya peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Inovasi Digital untuk Kemudahan Pasien

Penghargaan yang ditandatangani oleh Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, Edwin Aristiawan, ini menyoroti lima poin utama keberhasilan RS Paru Respira dalam digitalisasi layanan, di antaranya:

  1. Integrasi Sistem Antrean Online: Memungkinkan pasien untuk mengambil nomor antrean dari rumah, sehingga mengurangi waktu tunggu di rumah sakit.
  2. Integrasi Sistem Klaim: Mempercepat proses administrasi klaim biaya pengobatan secara transparan dan akurat.
  3. Implementasi E-SEP: Digitalisasi Surat Eligibilitas Peserta (SEP) yang membuat proses registrasi menjadi jauh lebih praktis tanpa banyak berkas fisik.
  4. Fingerprint & Frista: Penggunaan teknologi biometrik untuk validasi identitas pasien yang lebih aman dan cepat.
  5. Implementasi Bridging Farmasi: Integrasi sistem data antara layanan medis dan bagian farmasi untuk memastikan ketersediaan dan kecepatan distribusi obat bagi pasien.

“Penghargaan ini merupakan bukti nyata dari kerja keras seluruh tim RS Paru Respira untuk menghadirkan layanan yang tidak hanya unggul secara medis, tetapi juga modern, cepat, dan efisien melalui pemanfaatan teknologi.”

Menuju Pelayanan yang Lebih Responsif

Dengan adanya integrasi sistem ini, RS Paru Respira berkomitmen untuk terus meminimalisir hambatan administrasi yang sering dialami pasien. Transformasi digital ini diharapkan dapat memberikan pengalaman berobat yang lebih nyaman dan transparan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pihak manajemen RS Paru Respira menyampaikan terima kasih kepada BPJS Kesehatan atas kepercayaan yang diberikan dan berjanji akan terus melakukan inovasi demi kepuasan pasien.


Informasi & Kontak RSK Paru Respira:

  • Instagram: @rsprespira
  • WhatsApp: 08970377779
  • YouTube: Rs Paru Respira Official

Perkuat Layanan Kesehatan Respirasi, Wamenkes RI Tinjau Rencana Pengembangan RS Paru Respira

BANTUL – Rumah Sakit Paru Respira menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benyamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, pada Kamis (29/1/2026). Kunjungan ini dilakukan dalam rangka peninjauan langsung lokasi dan kesiapan rencana pembangunan pengembangan fasilitas di RS Paru Respira.

Komitmen Peningkatan Infrastruktur Kesehatan

Dalam kunjungannya, Wamenkes dr. Benyamin menekankan pentingnya modernisasi infrastruktur rumah sakit khusus paru guna menjawab tantangan penyakit respirasi yang kian kompleks. Beliau meninjau beberapa titik strategis yang akan menjadi lahan pengembangan gedung baru.

“Pengembangan RS Paru Respira ini bukan sekadar menambah luas bangunan, tetapi harus menjadi bagian dari transformasi layanan rujukan respirasi yang terintegrasi, canggih, dan ramah pasien,” ujar dr. Benyamin di sela-sela peninjauannya.

Fokus Pengembangan Utama

Rencana pengembangan ini diproyeksikan mencakup beberapa aspek krusial, antara lain:

  • Peningkatan Kapasitas Tempat Tidur: Menambah daya tampung untuk pasien rawat inap.
  • Laboratorium Terpadu: Penyediaan fasilitas diagnostik dengan teknologi terkini.
  • Pusat Rehabilitasi Paru: Area khusus untuk pemulihan fungsi pernapasan pasca-sakit.
  • Efisiensi Alur Layanan: Redesain ruang untuk memastikan kenyamanan dan keamanan pasien (infeksius dan non-infeksius).

Sinergi Pusat dan Daerah

Direksi RS Paru Respira menyambut baik dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan. Pengembangan ini diharapkan mampu menjadikan RS Paru Respira sebagai pusat unggulan (center of excellence) kesehatan paru di wilayah DIY dan sekitarnya.

Pertemuan ini ditutup dengan sesi diskusi teknis mengenai linimasa pembangunan serta pemenuhan standar fasilitas kesehatan tingkat nasional. Dengan adanya dukungan langsung dari Kemenkes RI, proses pengembangan ini diharapkan dapat berjalan sesuai target demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat luas.