Dukung Pengembangan Ilmu Pengetahuan bidang Kesehatan, RS Paru Respira Gelar Presentasi Rencana Penelitian Teknik Pernapasan untuk Pasien PPOK
BANTUL – Dalam upaya terus meningkatkan kualitas layanan rehabilitasi bagi pasien paru, Rumah Sakit Paru (RS Paru) Respira Yogyakarta menggelar pertemuan presentasi rencana penelitian pada hari ini, Kamis, 7 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Amartha Lantai 3 ini berfokus pada inovasi teknik pernapasan bagi penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK).
Inovasi Teknik Pursed-Lip Breathing
Penelitian yang dipaparkan oleh Scholastica Fina Aryu Puspasari, Ns., M.Kep. dari Stikes Panti Rapih ini mengangkat judul yang cukup krusial bagi dunia medis, yakni:
“Uji Efektivitas Model I:E Rasio Pada Teknik Pursed-Lip Breathing Terhadap Outcome Pernapasan Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis.”
Penelitian ini bertujuan untuk menguji bagaimana pengaturan rasio inspirasi dan ekspirasi (I:E Rasio) dalam teknik pernapasan bibir dirapatkan (pursed-lip breathing) dapat memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap perbaikan pola napas pasien. Sebagaimana diketahui, PPOK merupakan kondisi kronis yang membutuhkan manajemen pernapasan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup penderitanya.
Komitmen RS Paru Respira terhadap Riset
Direktur RS Paru Respira, dr. Tri Setiana Kusumadewi, Sp. PD, dalam keterangan resminya melalui surat undangan bernomor B/400.14.4.4/XXX/D13.5, menegaskan pentingnya kolaborasi akademis dalam lingkungan rumah sakit. Presentasi ini menjadi wadah diskusi antara peneliti dan praktisi medis di RS Paru Respira guna memastikan rencana penelitian berjalan sesuai standar klinis dan memberikan manfaat nyata bagi pasien.
Detail Kegiatan:
- Waktu: Kamis, 7 Mei 2026 | 12.30 WIB – Selesai.
- Lokasi: Ruang Amartha Lt.3, RS Paru Respira, Bantul.
- Fokus Utama: Optimalisasi teknik pernapasan pada pasien PPOK.
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan RS Paru Respira dapat terus menjadi pusat keunggulan (center of excellence) dalam penanganan penyakit paru di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui pendekatan berbasis bukti (evidence-based medicine).







Write a Comment