Category: Artikel

BANTUAN HIDUP DASAR

Oleh dr. Ni Made Erna P

Kejadian henti napas dan henti jantung dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, serta dapat menimpa siapa saja. Bila seseorang yang mengalami henti napas dan henti jantung tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka otak dan jantung akan mengalami kematian dalm waktu 4-10 menit. Sehingga sangat penting kita memahami cara melakukan Bantuan Hidup Dasar yang tepat.

Bantuan Hidup Dasar  adalah serangkaian usaha awal untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada seseorang yang mengalami henti nafas dan atau henti jantung (cardiac arrest).

Bantuan hidup dasar harus bisa dilakukan oleh seluruh civitas hospitalia.

Tujuan dari melakukan Bantuan Hidup dasar adalah:

  • Mencegah berhentinya pernafasan
  • Mencegah berhentinya sirkulasi atau
  • Memberikan bantuan external terhadap

 sirkulasi dan ventilasi dari pasien yang

 mengalami henti jantung atau henti nafas

 melalui resusitasi jantung paru ( RJP)

Bantuan Hidup Dasar diusahakan dilakukan secepat mungkin karena jika terjadi keterlambatan 1 menit, kemungkinan berhasil mencegah kematian adalah 98%. Terlambat 3 menit, kemungkinannya menurun sampai 50%. Dan jika terlambat sampai 10 menit, hanya ada 1% kemungkinan dapat menyelamatkan korban henti jantung dan henti napas.

Selain harus cepat memulai resusitasi jantung paru (RJP), sangat penting juga bagi kita untuk memahami cara           melakukan resusitasi jantung paru yang berkualitas.

Syarat RJP dikatakan berkualitas adalah :

  1. Kompresi di titik tengah dada dengan siklus 30:2 (30x kompresi, 2x napas buatan)
  2. Kedalaman kompresi sekitar 5-6 cm
  3. Kecepatan kompresi 100-120x/menit
  4. Beri kesempatan dada untuk mengembang sempurna stelah kompresi
  5. Interupsi minimal Bebaskan jalan napas dengan posisi head tilt, chin lift (dahi didongakkan, dagu ditahan), atau posisi jaw thrust(menahan tulang rahang) apabila curiga ada trauma leher.
  6. Berikan ventilasi secara adekuat.
  7. Jika alat defibrillator sudah datang, segera lakukan cek irama dan kejut jantung jika memungkinkan.

RSP Respira secara rutin melaksanakan pelatihan BHD untuk seluruh karyawan dan pekerja di lingkungan rumah sakit. Dengan tujuan agar seluruh jajaran karyawan dan pekerja mampu melakukan pertolongan segera apabila menemukan kejadian henti jantung dan atau henti napas di lingkungan rumah sakit maupun di luar rumah sakit.

Oleh sebab itu peserta tidak hanya terbatas pada petugas medis, akan tetapi melibatkan seluruh karyawan baik medis dan non medis, serta pekerja di lingkungan rumah sakit (juru parkir, satpam, petugas kebersihan, bagian laundry, bagian dapur)  Pada acara ini seluruh peserta diajarkan cara melakukan resusitasi jantung paru yang berkualitas.

Langkah-langkah RJP

D  Danger yaitu pastikan keamanan penolong, pasien, lingkungan

R  Respon,cek kesadaran/respon korban, kemudian .

S   Shout, yaitu minta tolong,

C  Circulation lakukan kompresi segera

A  Airway adalah membebaskan jalan napas

B  Breathing. Yaitu memberikan pernapasan buatan

Ayo Dukung Ibu Sukses Menyusui

By : Nur Handayani, SKM

Penilaian keluarga sehat yang menjadi program Kementrian kesehatan terdiri dari 12 indikator. Salah satu indicator tersebut adalah bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI). Pada setiap tanggal 1-7 Agustus diperingati sebagai Pekan ASI Sedunia. Pada tahun 2019 ini Mengambil tema Pekan ASI Sedunia adalah “Empower Parents Enable Breastfeed”, sedangkan Kementrian Kesehatan Mengambil tema “Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui” dengan slogan “Ayo Dukung Ibu Sukses Menyusui”. Tujuan dari tema ini adalah demi menciptakan kesadaran bahwa menyusui bukan hanya tugas ibu, melainkan tugas kedua orangtua. Artinya, ayah juga wajib terlibat dalam membantu kenyamanan anak dan ibu menyusui. Selain itu, kampanye ini juga menekankan pentingnya kebijakan ramah keluarga agar memungkinkan pemberian ASI, serta membantu orangtua dalam mengasuh dan menjalin ikatan dengan anak-anak sejak awal kehidupan.

              Momentum Pekan Asi Sedunia merupakan salah satu upaya WHO dan UNICEF untuk mendukung ibu menyusui seluruh dunia. WHO mengkampanyekan bahwa ASI adalah nutrisi terbaik bagi bayi hingga berusia enam bulan. Sehingga WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif di enam bulan pertama kehidupan bayi dan dilanjutkan hingga berusia dua tahun atau lebih dengan dilengkapi makanan pendamping ASI (MPASI).

            ASI merupakan susu terbaik untuk bayi karena memiliki kandungan gizi lengkap; seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, serta vitamin. Berikut komposisi dari ASI:

  • ASI mengandung air sebanyak 87.5%, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu lagi mendapat tambahan air walaupun berada di tempat yang mempunyai suhu udara panas. Kekentalan ASI sesuai dengan saluran cerna bayi, sedangkan susu formula lebih kental dibandingkan ASI. Hal tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya diare pada bayi yang mendapat susu formula
  • Kolostrum

Kolostrum merupakan ASI yang keluar pertama kali pada 1-5 hari pasca melahirkan. Kolostrum yang berwarna kekuningan ini mengandung immunoglobulin A yang tinggi. Bayi yang baru lahir perlu mengeluarkan mekonium, yaitu tinja yang terakumulasi sebelum lahir untuk mengurangi risiko penyakit kuning. Kolostrum membantu proses ini dengan berperan sebagai cairan pencahar alami. Meski hanya beberapa tetes, kandungan ASI pertama yang sering disebut sebagai imunisasi pertama bayi ini juga memiliki kadar gula dan kadar lemak lebih rendah daripada ASI yang muncul kemudian.

  • Karbohidrat

Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir 2 kali lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu formula.

  • Protein

Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi. Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri dari protein whey dan Casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein Casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi

  • Lemak

Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibanding dengan susu sapi dan susu formula. Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Terdapat beberapa perbedaan antara profil lemak yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi atau susu formula. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan pada perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI juga mengandung banyak asam lemak rantai panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan saraf dan retina mata

  • Karnitin

Kartinin yang terkandung dalam ASI memiliki peran membantu proses pembentukan energi. Hal ini diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh

  • Vitamin dan Mineral

ASI juga kaya akan vitamin dan mineral. Vitamin E berfungsi untuk ketahanan sel darah merah. Vitamin A untuk kekebalan tubuh dan pertumbuhan si kecil. Terdapat pula vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B, C, dan asam folat yang berfungsi untuk perkembangan otak dan daya tahan tubuh. Untuk kandungan mineralnya, antara lain kalsium yang berfungsi untuk perkembangan tulang dan otot, serta mengandung zinc untuk membantu metabolisme

              Melihat kandungan ASI di atas, tentunya bisa diketahui bahwa ASI merupakan nutrisi terbaik. Ada periode yang dinamakan 1000 hari pertama kehidupan, yaitu 270 hari selama dalam kandungan dan 730 hari pertama setelah bayi yang dilahirkan. Pada masa tersebut, merupakan periode emas yaitu masa dimana menentukan kualitas kehidupan. Karena pada saat itulah, terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dibanding usia lain. Nah, saat itulah anak mempunyai hak untuk mendapatkan ASI. Di Indonesia proporsi Inisiasi Menyusui Dini (IMD) berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 berada pada angka 34,5% dan pada tahun 2018 telah mengalami peningkatan menjadi 58,2%. Sedangkan Proporsi ASI eksklusif masih menurut Riskesdas 2018 berada pada angka 37,3%.

              Kalau menilai proporsi ASI eksklusif ternyata angka tersebut masih sangat kurang. Masih banyak orangtua di Indonesia yang menyepelekan hal menyusui padahal hal ini dapat memberi banyak manfaat untuk bayi bahkan membawa manfaat bagi ibu. Menurut Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, hal menyusui ini perlu diperbaiki karena menyangkut masalah masa depan negara. Anak yang lahir di Indonesia nantinya akan menjadi sumber daya manusia dan jika mereka tidak sehat, akan menjadi masalah bagi negara. Bahkan Presiden Jokowi juga menyatakan keprihatinannya karena masih ditemukan kasus stunting di Indonesia yang salah satunya karena kurangnya pemberian asi pada bayi. Menurut presiden, Titik dimulainya pembangunan SDM adalah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan anak usia sekolah. Ini merupakan umur emas untuk mencetak manusia Indonesia unggul ke depan.  

              Menyusui bukanlah hal yang mudah, butuh dedikasi, usaha dan waktu. Selain itu juga butuh dukungan dari banyak hal. Dukungan dari ayah sebagai suami, keluarga, petugas kesehatan, masyarakat serta lingkungan mempunyai andil dalam keberhasilan ibu untuk menyusui. Itulah kemudian Kementrian Kesehatan menaruh isu penting pada Pekan ASI Sedunia tahun 2019 ini, yaitu Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui.  Kenapa ayah dikaitkan peran dalam keberhasilan menyusui? Pada saat menyusui untuk pertama kalinya, tidak semua bayi langsung pandai menyusu. Belum lagi bila ternyata saat harus menyusui, tetapi ASI nya belum keluar. Ini kemudian bisa menyebabkan ibu stress menghadapi situasi yang ada. Awal menyusui umumnya ibu lebih emosional. Bila ibu stress, justru akan memperburuk jumlah ASI yang dihasilkan. Dikutip dari Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, Satu dari lima ibu memutuskan untuk berhenti menyusui karena kurangnya dukungan. Oleh karena itulah dalam proses menyusui, ibu perlu dukungan dari ayah dan keluarga.              

              Dikutip dari facebook AyahASI, ada beberapa tips “jadi ayah baru” untuk membantu ibu menyusui, antara lain :

  • Ikut mengasuh bayi
  • Membantu mengurus pekerjaan rumah tangga, misalnya bikin kopi sendiri, mencuci piring sendiri.
  • Saling bercerita, misal berkomunikasi antara ayah dan ibu tentang pengasuhan bayi
  • Bagi tugas jaga malam, misalnya bergantian waktu berjaga malam saat pengasuhan bayi antara ayah dan ibu, ayah bisa menyiapkan asi perahan untuk diberikan ke bayi saat si ibu kelelahan
  • Minta bantuan, misal ayah bisa meminta bantuan konselor ASI saat ibu ada kesulitan dalam hal menyusui.

Sedangkan menurut Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jateng, ada beberapa pihak yang dapat memberikan dukungan kepada ibu menyusui. Beberapa pihak tersebut, antara lain :

  1. Tenaga kesehatan :
  • Memberikan informasi tentang keuntungan menyusui saat pemeriksaan kehamilan
  • Membantu kontak kulit/IMD ibu dan bayi segera setelah bayi lahir
  • Membantu untuk mengenal tanda lapar bayi
  • Mengenalkan berbagai posisi menyusui
  • Mengecek pelekatan menyusui
  • Dukung ibu untuk melanjutkan menyusui
  • Membantu mengatasi masalah menyusui
  • Yakinkan bahwa ASI yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi selama 6 bulan pertama
  • Tidak mempromosikan produk-produk pelanggar kode WHO yang dapat menghambat proses menyusui.
  • Fasilitas kesehatan :
  • Membuat kebijakan adanya kontak kulit segera/IMD dan rawat gabung segera setelah bayi lahir
  • Melatih tenaga kesehatan untuk menjadi konselor menyusui
  • Tidak bekerjasama dan mempromosikan produk pelanggar kode WHO yang dapat menghambat menyusui
  • Memastikan kebijakan berjalan dengan baik
  • Bekerja sama dengan komunitas pendukung menyusui untuk membantu ibu menyusui setelah pulang dari faskes dan meningkatkan dukungan pelayanan faskes.
  • Ayah :
  • Memastikan istri cukup istirahat
  • Membantu menyendawakan bayi setelah menyusu, menggendong bayi, membantu memandikan dan mengganti popok bayi
  • Menemani bermain anak-anak yang lebih besar
  • Belanja dan memasak
  • Membelikan masakan kesukaan ibu
  • Menjadi tempat curhat istri

Banyak hal yang berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Tapi bila mengingat banyaknya manfaat dari ASI, tentulah itu menjadi hal penting sebagai investasi untuk generasi penerus kita. Berikut beberapa manfaat ASI :

  • ASI dapat mengurangi tingkat depresi pada ibu.
  • ASI meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi.
  • ASI membantu memperkuat ikatan emosional antara anak dan ibu mereka.
  • ASI membuat anak lebih cerdas
  • ASI mengurangi risiko obesitas
  • ASI menjadikan anak-anak berperilaku lebih baik
  • Nutrisi dalam ASI membantu otak anak berkembang sempurna dan lebih baik daripada nutrisi dalam susu formula.
  • ASI membantu ibu menurunkan berat badan.
  • ASI mengurangi risiko kanker pada ibu, terutama kanker payudara dan indung telur.
  • ASI membantu keluarga menghemat anggaran rumah tangga karena gratis.

Begitu besar manfaat ASI, bahkan bisa mencegah stunting. Dengan menyusui merupakan investasi besar untuk masa depan anak. Manfaat ASI jangka panjang adalah menunjang kesehatan mental anak. Salah satu penelitian tahun 2010, anak-anak yang disusui akan terhindar dari autisme, menarik diri dari pergaulan, gangguan cara berpikir, kenakalan remaja dan sikap agresif. Selain itu, bayi akan jarang sakit, memiliki SQ,EQ dan IQ lebih tinggi. Oleh karena itu, jika menginginkan generasi yang hebat, salah satu nya adalah dengan menyusui dan tentunya diimbangi dengan pola asuh yang tepat. Yuk dukung ibu sukses menyusui!!

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sekarsari, Bebby. 2016. 4 Tantangan Ibu Menyusui. www.1health.id tanggal 14 Oktober 2016
  2. _____.2016. 5 Tantangan Ibu Menyusui. www.littlebaby.co.id tanggal 3 Februari 2016
  3. Kementrian Kesehatan RI. 2016. Berikan ASI Eksklusif Agar Anak Sehat dan Cerdas. www.depkes.go.id tanggal 5 Agustus 2016
  4. Kementrian Kesehatan RI. 2018. Pengetahuan dan Tekad Kuat Ibu Berdampak Pada Keberhasilan Menyusui. www.depkes.go.id tanggal 21 Agustus 2018
  5. Kementrian Kesehatan RI. 2016. Beri ASI Sampai 2 Tahun Untuk Wujudkan Keluarga Sehat. www.depkes.go.id tanggal 10 Agustus 2016
  6. Kementrian Kesehatan RI. 2018. Rahasia Anak Berkembang Optimal dan Tidak Mudah Sakit : beri ASI Eksklusif dan Pola Asuh yang Tepat. www.depkes.go.id tanggal 20 Agustus 2018
  7. Dewi, Marsia. 2016. Hari-hari Awal Menyusui. https://aimi-asi.org tanggal 6 Oktober 2016
  8.  Fitria, Linda. 2018. Pekan ASI Sedunia 2018, Mengulik Segudang Manfaat ASI Bagi Ibu dan Anak. www.grid.id tanggal 2 Agustus 2018
  9. Iswandiari, Yuliati. 6 Hal yang Wajib Anda Ketahui di Minggu Pertama Menyusui. www.hellosehat.com
  10. Rezkisari, Indira. 2015. Tantangan Ibu Menyusui. www.republika.co.id tanggal 12 Februari 2015
  11. Andriani, Dewi. 2018. Kualitas ASI Maksimal Jika Ibu Rileks dan Tidak Stress Saat Menyusui. https://m.bisnis.com tanggal 1 Agustus 2018
  12. Kementrian Kesehatan RI. 2017. Menyusui Dapat Menurunkan Angka Kematian Bayi. www.depkes.go.id tanggal 9 Agustus 2017
  13. Tips Jadi Ayah Baru dari facebook AyahAsi
  14. Dukungan Untuk Ibu Menyusui dari facebook AIMI Jateng

Kementrian Kesehatan RI. 2018. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018.

Mengapa Tubuh Penderita TBC Cenderung Kurus?

Fitri Purwaningsih, AMG

Anda masih ingat dengan nama-nama besar seperti voltaire, Sir Walter scott, Edgar Allan Poe, Frederic Chopin, Leanec, atau Anton Chekov? Dan Tahukah anda bahwa mereka tercatat meninggal karena terinfeksi penyakit tuberkulosis?

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri tuberkulosis. Pada awal abad ke-19, penyakit ini menyerang benua eropa dan amerika dengan angka kematian ( mortalitas ) yang cukup tinggi yaitu 400 orang dari 100.000 penduduk. Sekarang, WHO tahun 2013 melaporkan bahwa tahun 2012 ada sekitar 8,6 juta orang mengidap TB, sekitar 75% berada di Afrika. Data juga mencatat 75% penderita TB adalah mereka yang berusia produktif secara ekonomi ( usia 15 -50 tahun ).

            TB paru  berkaitan dengan kasus kurang gizi. Seseorang dengan berat badan kurang dari 35kg beresiko 4 kali lebih besar tertular TB. Indek Massa Tubuh ( IMT ) kurang dari 18,5kg/m² memang cenderung mudah sakit. Dan sebaliknya, TB dapat menyebabkan seseorang menderita kurang gizi. Ada penelitian di India yang menunjukkan bahwa penderita TB 7 kali beresiko mempunyai IMT kurang dari 18,5 kg/m². Bahkan penderita TB dengan IMT kurang dari 17 kg/m² sering terkait dengan mortalitas. Jadi, gizi buruk dapat meningkatkan insiden dan mortalitas TB dan sebaliknya TB dapat memperburuk status gizi seseorang.

            Pada saat seseorang terdiagnosa TB, dalam tubuhnya mengalami perubahan metabolisme untuk mengaktifasi sistem  imun sebagai respon terhadap infeksi kuman. Perombakan-perombakan sel ( katabolisme ) juga meningkat. Adanya batuk kronis dalam waktu lama, bahkan bisa sampai batuk darah, demam, sesak nafas, depresi  dan kelelahan. Diperparah juga dengan produksi dahak yang mengganggu jalan nafas dan penurunan berat badan. Namun, nafsu makan justri turun bahkan hilang akibat menurunnya konsentrasi leptin dalam darah.

            Perubahan metabolik yang juga terjadi adalah anabolic block. Anabolik blok adalah kondisi dimana asam amino tidak dapat dibangun menjadi susunan protein yang lebih komplek. Seperti yang kita tahu, protein mempunyai fungsi yang sangat penting. Seperlima dari tubuh kita adalah protein. Protein sangat berperan dalam kerja hormon, enzim, matrik sel dan sebagainya. Keberadaan protein yang tidak bisa digantikan oleh zat gizi yang lain adalah fungsinya sebagai pembangun dan pengatur sel-sel dan jaringan tubuh.

            Jika tubuh  tidak mampu memenuhi kebutuhan energi dari asupan makanan maka ia akan mengambil dari  cadangan yang berupa lemak. Dan jika simpanan lemak tidak cukup maka kekurangan energi akan dipenuhi dari perombakan protein yang berada dalam jaringan sel dan otot tubuh, termasuk otot pada jantung dan saluran nafas. Jadi penderita TB cenderung berbadan kurus sebagai dampak dari hiperkatabolisme dan  peningkatan metabolisme tubuh lainnya. Anoreksia atau kehilangan nafsu makan bukan semata-mata sebagai faktor psikologis, tetapi perubahan kondisi fisik akan mempengaruhi kemampuan makan penderita TB.

Kombinasi antara pengobatan TB dan terapi nutrisi sangat diperlukan. Obat TB dikenal dengan OAT atau Obat Anti Tuberkulosis, sementara terapi nutrisi ditetapkan dengan mempertimbangkan  kemampuan makan dan derajat gizi buruk penderitanya. Insiden TB akan menurun dengan meningkatnya IMT.

Pemberian makan yang berlebihan ( Overfeeding ) pada penderita kurang gizi justru dapat memperburuk hipermetabolisme, meningkatkan stres oksidatif dan meningkatkan komplikasi dan kematian. Ketika pasien mulai makan, pola metabolisme berubah lagi dari lemak ke karbohidrat. Produksi insulin meningkat, dan perubahan fisiologi lainnya yang bisa mengakibatkan morbiditas dan mortalitas meningkat. Gangguan cairan, defisiensi vitamin, aritmia jantung,  gagal nafas dan jantung kongestif sering dilaporkan selama proses refeeding ini.

Terapi gizi yang tepat dapat memperbaiki respon imun dan mengembalikan fungsi organ-organ vital. Berat badan akan berangsur-angsur normal seiring menghilangnya peradangan akibat infeksi pada fase  penyembuhan.

Terapi gizi juga disesuaikan dengan keluhan penderita, apakah ada mual, anoreksia, sedang menderita penyakit lain yang mengharuskannya menjalani diet atau terapi lain seperti hipertensi, terapi insulin, kemoterapi dan sebagainya. Berapa banyak makanan yang sanggup dihabiskan dalam paling tidak 5 hari terakhir. Apakah ada pengurangan berat badan tanpa sebab yang disengaja dalam 3-5 bulan terakhir. Berapa IMTnya. Penderita TB dengan IMT kurang dari 14 kg/m² beresiko sangat tinggi untuk mengalami refeeding syndrom.

Secara umum kebutuhan kalori untuk penderita TB sekitar 35-40 kkal/BBI/hari. Dengan komposisi karbohidrat 45-65%, lemak 25-35% dan Protein 15-30%. Mikronutrien yang harus diperhatikan adalah Retinol, Vitamin C, vitamin E, zat besi, zink, selenium dan antioksidan. Kebutuhan cairan sekitar 25-35 ml/kg/hari.

Cara pemberian makannya juga perlu disesuaikan. Dimulai dari makanan bertekstur encer kemudian pelan-pelan konsentrasi ditingkatkan seiring hilangnya anoreksia dan meningkatnya kemampuan makan.

Penderita TB dengan nafsu makan yang baik dan tingkat asupan sekitar 75-100% dari kebutuhan perhari dapat makan seperti biasa atau boleh jika menginginkan makanan lunak.

Apabila asupan baru sekitar 50-75% sebaiknya diberi formula enteral tambahan seperti susu dalam dietnya, untuk menambah asupan kalori tetapi tidak menyebabkan kelelahan makan. Pilih makanan yang padat gizi seperti arem-arem, bubur kacang ijo, jus buah dan sebagainya. Makanlah dalam porsi kecil tetapi sering. Tidak perlu terlalu memaksa harus makan padat dalam jumlah besar, paling tidak terpenuhi 50% kebutuhan perhari terpenuhi kemudian berangsur-angsur ditingkatkan sekitar 200-300 kkal setiap 3-4 hari sampai tercapai target yang ditetapkan.

Apabila penderita hanya mampu makan kurang dari 50% kebutuhannya dalam waktu lebih dari 10 hari, sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk memperbaiki asupannya. Tim terapi gizi akan memberi penanganan yang tepat, apakan melalui terapi nasogastrik ( NGT ) atau nutrisi parenteral.

“Mencegah lebih baik daripada mengobati”

DAFTAR PUSTAKA

  1. KEPMENKES RI NOMOR HK.01.07/MENKES/393/2019

TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TATA LAKSANA

MALNUTRISI PADA DEWASA, 2019

  • SHEBA DENISICA NASUTION, MALNUTRISI DAN ANEMIA PADA PENDERITA TUBERKULOSIS, 2015
  • PRINSIP DASAR ILMU GIZI, SUNITA ALMATSIER, 2004

FISIOTERAPI PADA PARU PARU


Oleh: Prayitno,Ftr

Fisioterapi merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu/ kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehiduan dnegan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan ( fisik, elektroterapis dan mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi.( PMK no 65 tahun 2015). Fisioterapis adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan fisioterapi sesuai dengan peraturan yang berlaku dan secara sah legal dapat memberikan layanan tindakan fisioterapi ( promotif, preventif, kuratif dan rehailitatif) sesuai dengan permasalahan yang dihadapi pasien

Fisioterapi pada paru atau biasa disebut dengan fisioterapi dada merupakan salah satu penanganan fisioterapi yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan saluran pernapasan. Fisioterapi pada paru tidak hanya diberikan dalam rangka membersihkan saluran pernapasan karena adanya dahak/ mukus, namun juga bagaimana mengembalikan fungsi paru agar dapat bekerja secara optimal dalam memenuhi kebutuhan tubuh, orang yang mengalami sakit paru merasakan mudah lelah dan mudah ngos-ngosan/ menggeh – menggeh, dengan mendapatkan tindakan dari seorang fisioterapis maka fungsi dari paru dapat dijaga dan dimaksimalkan.

            Dalam memberikan layanan fisioterapis akan selalu melakukan pemeriksaan terlebih dahulu guna menentukan tujuan dari terapi yang akan dilakukan dan menentukan metode/modalitas/ peralatan yang digunakan. Pada kondisi penyakit paru problematik/ pemasalahan yang sering dihadapi oleh fisioterapi diantaranya adalah pasien kesulitan saat mengeluarkan dahak, dada terasa penuh, nafas menjadi tidak teratur ( perubahan pola napas), rasa kaku dan tegang pada otot didada, dan juga pasien merasa mudah lelah dan sesak saat beraktivitas.

Berikut beberapa latihan/tindakan yang digunakan dalam rangka mengatasi permasalahan yang sering dihadapi pasien paru. Pada kesempatan ini kami uraikan mengenai tehnik terapi untuk mengeluarkan dahak.

  1. Postural drainage

Postural drainage merupakan salah satu tehnik yang digunakan untuk mengalirkan sputum/ dahak yang berada di dalam paru agar mengalir ke saluran pernapasan yang besar sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan. Tindakan ini dilakukan selama minimal 20 menit untuk satu bagian lobus paru dan dilakukan pemeriksaan suara paru terlebih dahulu untuk menentukan posisi yang tepat. Dilakukan sehari sebanyak 2 kali pada pagi dan sore hari.

  • Tapotemen/perkusi

Teknik ini berupa tepukan yang ritmis dan terah ke bagian paru, tujuannya adalah untuk menggetarkan paru sehingga bila ada dahak yang lengket pada dinding saluran napas dapat terlepas dan mengalir kesaluran napas yang lebih besar. Tapotemen biasanya dilakukan bersamaan degan pemberian postural drainage. Tidak semua kondisi paru boleh diberikan tapotemen / perkusi ada hal hal perlu diperhatikan dalam pemberian tindakan ini diantaranya adanya suara mengi/ wheezing karena dapat menyebabkan keluhan sesak semakin bertambah jika tidak dilakukan secara tepat, batuk darah karena dapat menambah perdarahan. Ritme yang teratur dan frekuensi yang tepat menjadi hal yang harus dilakukan tidak sekedar kerasnya tepukan yang diberikan ke dada baik dari depan maupun dari belakang. Bila melakukan perkusi sebaiknya jumlah tepukan mencapai 25 kali dalam 10 detik agar hasil lebih maksimal, selama 3-5 menit untuk tiap bagian dari paru paru.

  • Vibrasi

Vibrasi dengan menggetarkan sangkar dada, diberikan setelah pemberian postural drainage dan aplikasi tapotemen, vibrasi digunakan untuk meningkatkan dan mempercepat aliran sekret di dalam paru. Vibrasi dilakukan pada saat pasien ekspirasi, dimana sebelumnya pasien diminta tarik napas dalam kemudian saat ekspirasi diberikan vibrasi sampai akhir ekspirasi. Dengan frekuensi 4-5 kali getaran.

  • Latihan Batuk efektif

Latihan batuk efektif digunakan untuk mengeluarkan dahak yang sudah terkumpul ke saluran pernapasan yang besar, setelah dilakukan prosedur postural drainase, tapotemen dan vibrasi. Batuk efektif adalah tehnik batuk yang diharapkan dapat mengeluarkan dahak, tidak seperti batuk pada umumnya batuk efektif terbukti lebih bisa dan banyak mengeluarkan dahak. Bagaimanakah cara melakukanannya, pertama ambil posisi duduk tegak atau berdiri, kemudian tarik napas dalam sebanyak 3 kali kemudian bernapas dengan pernapasan biasanya kemudian tarik napas dan batukkan sebanyak 2 kali secara berturut turut tanpa ada jeda (dalam satu kali tarik napas kemudian dibatukkan sebanyak 2 kali berturut turut tanpa jeda) . Batuk dilakukan 2 kali berturut turut bertujuan untuk melepaskan perlengketan sputum/dahak pada saluran pernapasan dan batuk yang kedua ntuk mengeluarkan mukus dari paru paru.  Saat keluar dahak jangan lupa tutuplah mulut dengan sapu tangan / tisu kemudian buang ke tempat sampah dan cuci tangan untuk meminimalkan penularan.

Beberapa teknik tersebut diatas bisa dilakukan secara teratur selama produksi mukus/ dahak masih banyak, namun menjadi kurang efektif jika yang terjadi batuk kering.

Selamat mencoba dan melakukan teknik tersebut.

Untuk  lebih jelasnya bisa menghubungi Unit Fisioterapi di RSP Respira.

Masih ada permasalahan lain yang akan kita bahas namun akan kami lanjutkan pada eposide selanjutnya diantaranya mengenai bagaimana melalukan latihan pernapasan yang benar dan latihan untuk mengembalikan kemampuan paru yang mengalami penurunan akibat sait paru paru.

Daftar Pustaka

  1. Barbara A. Webber, Jenifer A, Pryor,Physiotherapy technique, Physiotherapy for respiratory and cardiac problem, secong edition, churchill livingstone, singapore 1998.
  2. Badget, D.;Casselbeny, C.: Chest Physiotheraphy in A Practical guide to Pediatric Intensive Care 2nd Edition 1984.
  3. Slamet sumarno, Teknik fasilitasi dan strategi kontrol respirasi, Temu ilmiah fisioterapi XIX, Yogyakarta 2004
  4. Worjodiarjo, M.: peran fisioterapi dalam penanganan penyakit obstruksi pada anak. Dalam kumpulan naskah Temu Ilmiah Tahunan Fisioterapi

Sayangi Parumu, Buang Rokokmu

Oleh Kristi Riyandini, SKM

Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia, 43 diantaranya bersifat karsinogen. Tidak ada kadar paparan minimal dalam asap rokok/tembakau yang “aman”. Berdasarkan WHO, tembakau merupakan penyebab terbesar kematian pada penyakit yang dapat dicegah. WHO memperkirakan bahwa penggunaan tembakau  saat ini bertanggung jawab atas kematian sekitar enam juta orang di seluruh dunia setiap tahun dengan banyak dari kematian ini terjadi sebelum waktunya. Total ini termasuk sekitar 600.000 orang yang juga diperkirakan meninggal akibat efek perokok pasif. Meskipun sering dikaitkan dengan kesehatan yang buruk, cacat dan kematian akibat penyakit kronis yang tidak menular, merokok tembakau juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit menular. Berdasarkan laporan WHO, China dan India memiliki angkat perokok tertinggi di dunia, masing-masing dengan 307 juta dan 106 juta perokok, dari total 1,1 miliar perokok di kalangan orang dewasa, diikuti oleh Indonesia dengan 74 juta.

Indonesia menghadapi permasalahan yang serius terkait rokok tembakau. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, 62,9% laki-laki usia 15 tahun keatas mengkonsumsi tembakau hisap dan kunyah, sementara konsumsi pada wanita sebanyak 4,8%, atau totalnya konsumsi rokok penduduk usia 15 tahun keatas sebanyak 33,8%. Prevalensi merokok pada penduduk umur 10-18 tahun di Indonesia diperkirakan mencapai 9,1%, hasil ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan Riskesdas tahun 2013 yang berada pada angka 7,2 %. Hasil Riskesdas ini berarti menunjukkan bahwa perokok Indonesia usia muda mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ketahun. Hasil Riskesdas juga menunjukkan dua pertiga laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok. Indonesia menyumbang separuh dari jumlah perokok dewasa di kawasan Asia.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diprakarsai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperingati setiap tahun di seluruh dunia setiap tanggal 31 Mei. Tahun ini HTTS mengusung tema “Tobacco and Lung Health“, menyoroti isu dampak rokok pada kesehatan paru-paru. Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif tembakau terhadap kesehatan paru-paru orang dari kanker hingga penyakit pernapasan kronis serta fungsi mendasar paru-paru untuk kesehatan dan kesejahteraan semua orang. Asap rokok memberikan dampak  pada kesehatan paru-paru seperti serangan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), emfisema, dan kanker. Penyakit yang berhubungan dengan jantung, strok dan penyakit gangguan reproduksi dan kehamilan juga dapat diakibatkan dari pengunaan rokok.

Kebiasaan merokok adalah penyebab utama tingginya kasus kanker paru di Indonesia. Sebelum berubah menjadi kanker, biasanya rokok akan merusak fungsi paru secara perlahan. Kerusakan paru paling awal yang dapat dialami para perokok aktif adalah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). PPOK adalah penyakit kerusakan paru yang terjadi akibat penyumbatan di dalamnya, sehingga tidak dapat berfungsi normal kembali. Faktor resiko utama seseorang terkena PPOK adalah paparan asap rokok, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif. Perokok pasif juga memiliki resiko yang sama, asap rokok sama jahatnya dengan kandungan yang ada di dalamnya. Proses terjadinya hampir sama dengan para perokok aktif, jadi asap mengandung zat beracun yang bisa terhirup masuk ke dalam paru. Semakin sering dan lama orang menghirup asap rokok, maka akan kian banyak juga zat beracun yang masuk ke dalam tubuhnya. Lama-kelamaan, kerusakan terjadi dan akhirnya penyakit paru obstruktif kronis pun muncul.

Jika melihat dampak yang ditimbulkan dari rokok terhadap tubuh kita, rasanya sayang sekali apabila seseorang masih meneruskan kebiasaan merokoknya. Berhenti merokok dan lepas dari kecanduan nikotin memang sulit, tetapi sulit bukan berarti berarti kita tidak bisa. Kebiasaan merokok ini tidak memiliki efek positif satupun, sehingga mari kita jadikan momen hati tanpa tembakau sedunia ini menjadi momen yang akan diperingati setiap hari, jadikan setiap harimu menjadi hari tanpa rokok, sayangi parumu, sayangi orang-orang disekitarmu dengan tidak merokok.

Pentingnya Cegah Stunting Demi Masa Depan Anak Bangsa

Pentingnya Cegah Stunting Demi Masa Depan Anak Bangsa

Oleh : Nur Handayani, SKM

PKRS – RS Paru Respira Yogyakarta

                Belakangan ini Kementrian Kesehatan gencar berkampanye tentang stunting dengan slogannya “Cegah Stunting, Ini Penting”. Kata stunting itu sendiri bagi orang awam terkesan asing. Mungkin bagi kita pun juga demikian. Sebenarnya apa sih stunting itu? Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dimulai dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Stunting merupakan kondisi dimana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Balita pendek (stunting) dapat diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Balita pendek adalah balita dengan status gizi yang berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut umurnya bila dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005, nilai Z score nya kurang dari -2SD dan dikategorikan sangat pendek jika nilai z-scorenya kurang dari -3SD.

 

             Terjadinya stunting seringkali tidak disadari oleh orang tua, setelah anak berusia dua tahun baru terlihat ternyata balita tersebut pendek. Stunting terjadi karena adanya masalah gizi kronis yang akibat asupan gizi yang kurang dan terjadi cukup lama. Terkadang orang tua kurang menyadari hal tersebut, mereka menganggap anak mereka sudah cukup makan tanpa memperhatikan kandungan gizi asupan yang diberikan ke anak. Diperkirakan ada 162 juta balita pendek pada tahun 2012. Jika tren berlanjut tanpa upaya penurunan, diproyeksikan akan menjadi 127 juta pada tahun 2025. Dalam skala dunia, anak stunting terbanyak di Asia (56%) dan Afrika ( 36%). Di Indonesia sendiri, berdasarkan Riskesdas 2013 terdapat 37,2% anak stunting. Bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai angka 35,6%, maka tidak ada penurunan untuk angka stunting. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi dengan presentase terendah untuk anak stunting, selain provinsi Kepulauan Riau (26,3%) dan DKI Jakarta (27,5%).

            Kemudian pada tahun 2015 diadakan Pemantauan Status Gizi (PSG) oleh kementrian Kesehatan dimana hasil data yang diperoleh 29% balita Indonesia termasuk kategori pendek, dimana provinsi Nusa Tenggara Timur berada pada level tertinggi untuk kasus balita pendek/stunting.

            Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya stunting pada anak. Dalam situs Adoption Nutrition penyebab stunting ada 5 yaitu :

  1. Kurang gizi kronis dalam waktu lama
  2. Retardasi pertumbuhan intrauterine
  3. Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori
  4. Perubahan hormon yang dipicu oleh stress
  5. Sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak

Menurut UNICEF, penyebab terjadinya stunting ada dua yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung meliputi asupan makanan dan keadaan kesehatan. Sedangkan penyebab tidak langsung meliputi ketersediaan dan pola konsumsi rumah tangga, pola pengasuhan anak, sanitasi lingkungan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Faktor-faktor tersebut ditentukan oleh sumber daya manusia, ekonomi dan organisasi melalui faktor pendidikan. Penyebab paling mendasar dari tumbuh kembang anak adalah masalah politik, ideologi, dan sosial ekonomi yang dilandasi oleh potensi sumber daya yang ada.

            Sedangkan menurut Tuft dalam The World Bank stunting disebabkan oleh tiga faktor yaitu faktor individu yang meliputi asupan makanan, berat badan lahir dan keadaan kesehatan; faktor rumah tangga yang meliputi kualitas dan kuantitas makanan, sumber daya, jumlah dan struktur keluarga, pola asuh, perawatan kesehatan dan pelayanan; serta faktor lingkungan yang meliputi infrastruktur sosial ekonomi, layanan pendidikan dan layanan kesehatan.

            Mungkin kita bertanya seberapa penting mecegah stunting, sehingga menyebabkan Kementrian Kesehatan merasa perlu berkampanye tentang pencegahan stunting. Masalah stunting dalam suatu negara ternyata kompleks. Stunting bisa menjadi gambaran indikator keberhasilan kesejahteraan, pendidikan dan pendapatan masyarakat. Dampaknya sangat luas sebut saja dampak terhadap ekonomi, kecerdasan, kualitas dan dimensi bangsa yang berefek pada masa depan anak. Menilik dari kondisinya, stunting merupakan gangguan pertumbuhan. Anak yang lebih pendek dari temn-teman seusianya, pertanda ada masalah pada pertumbuhannya. Anak stunting yang dialami anak dibawah usia dua tahun, harus segera ditangani segera dan tepat. Karena bila penanganan terlambat dan tidak tepat, stunting menjadi sulit dikembalikan ke semula atau normal.     

            Kejadian anak stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungan dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi pada ibu hamil. Ibu hamil disini sebenarnya tidak terlepas dari riwayat kehidupan sebelumnya saat menjadi remaja putri. Status gizi remaja putri atau pra nikah memiliki kontribusi besar pada kesehatan dan keselamatan kehamilan dan kelahiran, apabila remaja putri menjadi ibu. Pada saat janin dalam kandungan hingga usia dua tahun, terjadi pembentukan sel otak hingga 70%. Jika anak mengalami gangguan pertumbuhan, pembentukan sel otak menjadi terganggu. Akibatnya bisa berpengaruh terhadap penurunan intelegensia (IQ). Tidak berhenti disitu, stunting juga menyebabkan tumbuh kembang anak terhambat, penurunan fungsi kognitif anak, penurunan fungsi kekebalan tubuh bahkan saat dewasa mempunyai resiko terkena penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi dan obesitas. Stunting berdampak tidak saja pada kondisi fisik yang pendek dimana secara estetika kurang menarik, tetapi juga pada kecerdasan, produktifitas dan prestasinya saat kelak dewasa. Inilah yang menjadikan dampak yang bahaya dan kompleks bagi masa depan anak bangsa.   

            Kementrian Kesehatan dalam fungsinya berupaya menekan angka stunting di Indonesia dengan upaya langsung (intervensi gizi spesifik) dan upaya tidak langsung (intervensi gizi sensitif). Intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan di sektor kesehatan, namun hanya berkontribusi 30%, sedangkan 70%nya merupakan kontribusi  intervensi gizi sensitif yang melibatkan berbagai sektor seperti ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial dan sebagainya. Upaya intervensi gisi spesifik untuk anak stunting difokuskan pada kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu 270 hari selama dalam kandungan/kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi yang dilahirkan. Saat inilah yang dinamakan “Periode Emas” dimana pada masa ini lah yang menentukan kualitas kehidupan anak.  

Upaya intervensi gizi baik spesifik maupun sensitif tersebut meliputi :

  1. Pada ibu hamil
  • Memperbaiki gizi dan kesehatan ibu hamil, bila ibu hamil dalam keadaan kurus atau telah mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut
  • Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan
  • Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit
  1. Pada saat bayi lahir
  • Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
  • Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI Eksklusif)
  1. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
  • Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih.
  • Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, imunisasi dasar lengkap
  1. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.
  2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. PHBS menurunkan kejadian sakit terutama penyakit infeksi yang dapat membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi, gizi sulit diserap oleh tubuh dan terhambatnya pertumbuhan.

            Melihat dampak dari stunting yang begitu kompleks mengancam masa depan anak bangsa, maka tugas untuk “Cegah Stunting” tdak saja pemerintah tetapi juga kita. Kita yang mempunyai remaja putri hendaklah lebih peduli terhadap asupan makanan sehari-hari. Kelak remaja putri kita lah yang mencetak generasi anak bangsa. Anak usia 10 tahun dimana sudah tidak mampu “dipaksa” untuk makan makanan sehat dan bergizi dan telah mengenal “uang saku” cenderung kurang bijaksana dalam memilih makanan. Perlu disini peran orang tua mengontrol asupan makanan anak. Bagi yang tengah hamil, yuk ibu pantau kesehatan ibu hamil. Ibu hamil cenderung merasa bebas makan apapun dan tanpa kontrol dengan alasan makanan adalah untuk dua orang. Padahal ibu hamil tetap harus menjaga asupan nya. Makan makanan bergizi, mengkonsumsi tablet tambah darah dan tetap berolahraga sesuai dengan kondisinya. Ibu hamil yang asupan gizinya baik diharapkan akan menghasilkan anak bangsa yang cerdas dan sehat. Pemberian ASI adalah salah satu upaya memutus rantai stunting. ASI merupakan asupan yang berisi kandungan gizi yang lengkap. Pemberian ASI adalah hak ibu dan bayi, perlu dukungan suami, keluarga, masyarakat, fasilitas kesehatan, lingkungan kerja bahkan hingga pemerintah.

            Gizi seimbang saat ini kurang pas bila berpatok pada 4 sehat 5 sempurna, karena seringkali kita salah memahami konsepnya. Pemahaman yang keliru yang menyebabkan tidak proporsionalnya asupan makanan, yaitu terlalu banyak gula dan karbohidrat, terlalu sedikit makanan berserat. Bukan itu saja, masih banyak dari kita yang mengabaikan pentingnya keseimbangan air dan olahraga. Pada sehari-hari seharusnya ada sekitar 50% piring kita berisi sayur dan buah, tapi di masyarakat itu belum menjadi kebiasaan. Ubah pola menu makan kita. Selain itu juga perlu didukung oleh sanitasi lingkungan, sanitasi air dan kebersihan. Tingkatkan pengetahuan dan wawasan keluarga tentang gizi. Percuma saja bila anak kita cuci tangan sebelum makan tetapi si ibu lupa tidak menutup makanan yang disediakan. Percuma bila dirumah dijaga kebersihannya tapi ternyata si anak membeli makanan diwarung dimana kandungan garam atau zat pewarnanya tinggi. Yuk, kita bersama-sama harus mulai sekarang peduli akan gizi tidak hanya pada keluarga kita saja, tetapi dengan sesama. Kita bersama cegah stunting demi masa depan anak bangsa “CEGAH STUNTING, INI PENTING”.

 

    

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kementrian Kesehatan RI. 2016. Situasi Balita Pendek. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI
  2. Arundhana, Andi Imam. 2012. Stunting. https://catatanseorangahligizi.wordpress/com
  3. Kumala Dewi, Bestari. 2017. Mengenal “Stunting” dan Efeknya Pada Pertumbuhan Anak. https://health.kompas.com tanggal 8 Februari 2017
  4. 2015. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Stunting. https://penyebabdaristuntin.blogspot.co.id tanggal 25 September 2015
  5. 2015. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Stunting. https://www. Indonesian-publichealth.com tanggal 25 April 2015
  6. Mita Etika, Nimas, dkk. Mengenal Stunting, Kondisi Tubuh Anak Pendek Yang Ternyata Berbahaya. https://hellosehat.com
  7. MCA Indonesia. 2015. Kenali Stunting dan Dampaknya Terhadap anak. https://dinkes.inhukab.go.id
  8. MCA Indonesia. Stunting dan Masa Depan Indonesia. mca-indonesia.go.id
  9. Kementrian Kesehatan RI. Laporan Hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013. Status Gizi Anak Balita. Jakarta ; Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. depkes.go.id
  10. World Health Organization. World Health Statistics 2012. apps.who.int