Category: Artikel

KOMITMEN RS PARU RESPIRA MENDUKUNG PENGGUNAAN ALAT MEDIS NON MERKURI

Oleh: Astuti Hernaning Puri Andayani, S.KM

Merkuri adalah logam bentuk cair yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Merkuri dapat masuk ke dalam manusia melalui hirupan udara terkontaminasi merkuri, bahan pangan mengandung merkuri dan penyerapan merkuri melalui kulit. Pajanan merkuri menyebabkan kerusakan otak, gangguan sistem saraf pusat, sumsum tulang belakang, ginjal dan hati. Bagi ibu hamil, pajanan merkuri masuk janin melalui plasenta sehingga menyebabkan kecacatan karena kerusakan saraf.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pengesahan Convention On Mercury (Konvensi Minamata Mengenai Merkuri) dan Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri merupakan komitmen Pemerintah untuk mengurangi penggunaan merkuri pada berbagai bidang. Bidang Kesehatan menggunakan mercury pada alat kesehatan seperti tensimeter, termometer, dan dental amalgam. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2019 tentang Penghapusan dan Penarikan Alat Bermerkuri di Fasilitas Pelayanan Kesehatan menyebutkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan wajib melakukan penghapusan alat bermerkuri.

Rumah Sakit Paru Respira Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan turut berpartisipasi dalam menyukseskan aksi nasional pengurangan dan penghapusan merkuri. Komitmen dan kerjasama seluruh pihak mulai dari Pimpinan, jajaran manajemen dan karyawan RS Paru Respira tercipta dengan baik. Berbagai upaya telah dilakukan seperti melakukan penarikan alat bermerkuri, mengganti dan menggunakan  alat tidak bermerkuri seperti termometer digital dan tensimeter digital, serta melakukan pengelolaan alat bermerkuri yang telah ditarik sesuai dengan peraturan perundangan. Sebagai wujud penghargaan terhadap upaya yang telah dilakukan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan penghargaan kepada RS Paru Respira sebagai Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang tidak menggunakan alat kesehatan bermerkuri tahun 2021 pada tanggal 10 November 2021 di Hotel Grand Dafam Rohan Yogyakarta.

Komitmen dan kerjasama seluruh citivas hospitalia RS Paru Respira merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang tidak menggunakan alat bermerkuri.

Gigi dan Mulutku Sehat di Masa Pandemi Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional 12 September 2021

Oleh: Nur Handayani, S.KM

Sudah gosok gigi kah Anda hari ini? Habis makan makanan manis belum gosok gigi? Kapan terakhir Anda ke dokter gigi? Mungkin ada beberapa diantara kita lupa belum menggosok giginya hari ini. Atau ada Sahabat paru yang saat ini sedang mengalami sakit gigi? Sahabat paru, dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 89 Tahun 2015, dinyatakan bahwa kesehatan gigi dan mulut adalah bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Fakta ini belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Di kehidupan masyarakat kita umumnya lebih memprioritaskan Kesehatan fisik dan mental. Padahal Kesehatan gigi dan mulut pun perlu untuk kita jaga. Gangguan Kesehatan gigi dan mulut dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Terlebih lagi saat ini kita masih dalam masa pandemi.

              Berdasarkan data Riskesdas 2018, Untuk kesehatan gigi dan mulut, Riskesdas 2018 mencatat proporsi masalah gigi dan mulut sebesar 57,6% dan yang mendapatkan pelayanan dari tenaga medis gigi sebesar 10,2%. Adapun proporsi perilaku menyikat gigi dengan benar sebesar 2,8%. Melihat kondisi tersebut menggambarkan bahwa Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih perlu peningkatan. Edukasi yang memadai, sinergi dari berbagai pihak diperlukan termasuk kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut akan menjadi harapan untuk dapat mencapai target Indonesia Bebas Karies 2030.

              Banyak hal yang berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut, antara lain faktor kebiasaan yang berhubungan dengan gigi dan mulut (sperti : kebiasaan merokok), cara menyikat gigi yang benar, faktor makanan, faktor lingkungan, faktor pelayanan kesehatan gigi dan faktor pengetahuan. Kebiasaan buruk seperti merokok sangat berpengaruh terhadap gangguan kesehatan gigi dan mulut. Merokok tidak hanya menimbulkan efek secara sistemik, tetapi juga dapat menyebabkan  timbulnya  kondisi  patologis  di  rongga  mulut.  Gigi  dan  jaringan  lunak rongga mulut, merupakan bagian yang dapat mengalami kerusakan akibat rokok. Penyakit  periodontal,  karies,  kehilangan  gigi,  resesi  gingiva,  lesi  prekanker,  kanker mulut,  serta  kegagalan  implan,  adalah  kasus-kasus  yang  dapat  timbul  akibat  kebiasaan merokok. Kebiasaan buruk lainnya bisa terjadi pada anak, kebiasaan menyusu sambil tidur adalah faktor pemicu terjadinya gangguan karies gigi pada anak. Perlu pembersihan gigi dan gusi anak setelah menyusu. Cara menyikat gigi yang benar juga musti diperhatikan. Seperti halnya yang lain, ibu hamil pun perlu menjaga kebersihan gigi dan mulut. Karena bila tidak dijaga dapat menimbulkan radang gusi. Radang gusi yang tidak ditangani dapat bertambah parah dan bisa menyebabkan infeksi ditempat lain. Penyakit gusi dapat mempengaruhi kesehatan janin. Perubahan gaya hidup dan pekembangan makanan dan jajanan untuk anak mewarnai munculnya gangguan kesehatan gigi terutama pada anak. Anak terkadang kelupaan untuk gosok gigi, didukung pula makan jajanan yang dapat merusak gigi sehingga beberapa mengalami gigi berlubang. Dalam masa pandemic seperti ini, membuat Sebagian orang merasa takut untuk memeriksakan kesehatan gigi dan mulutnya di pelayanan kesehatan. Akibatnya kesehatan gigi menjadi terabaikan. Hal-hal semacam di atas itulah yang kemudian berdampak pada kesehatan gigi dan mulut. Padahala kesehatan gigi dan mulut merupakan gerbang kesehatan untuk kesehatan secara umum. Gangguan kesehatan gigi dan mulut dapat mempengaruhi kerusakan organ tubuh lain seperti jantung dan paru.

              Beberapa survei dilakukan pada masa pandemi seperti sekarang ini. Salah satunya oleh pihak Unilever. Head of Sustainable Living Beauty and Personal Care and Home Care, Unilever Indonesia Foundation Drg. Ratu Mirah Afifah, GCClindent, MDSc mengatakan pandemi COVID-19 telah menyebabkan perubahan besar terhadap rutinitas sehari-hari masyarakat di seluruh dunia. Penelitian terkini mengenai dampak pandemi pada kebiasaan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut masih terbatas. Khusus di Indonesia pihaknya melakukan survei kepada 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas. Hasil survei menunjukkan sikap dan perilaku di masa pandemi ternyata 7 dari 10 orang mengatakan selama pandemi mereka lebih fokus pada kesehatan dan kesejahteraan menyeluruh. Menurut hasil survei, terjadi peningkatan dari kebiasaan-kebiasaan seperti makan makanan yang sehat, berolahraga, mengurangi merokok, dan mengurangi minum minuman beralkohol. Selain itu dampak COVID-19 terhadap kebiasaan merawat gigi telah terjadi penurunan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari dibandingkan hasil survei tahun 2018. Kemudian kebiasaan buruk meningkat selama di rumah yakni 2 dari 5 orang dewasa mengaku tidak menyikat gigi seharian, dan ada 7 dari 10 orang menghindari pergi ke dokter gigi. Kebiasaan tersebut mudah ditiru oleh anak-anak, ia mengungkapkan apabila orang tua tidak menyikat gigi dua kali sehari anak-anak 7 kali lebih memungkinkan untuk tidak menyikat gigi.              

            Hasil survei tersebut tentu bukan hasil yang menggembirakan. Karena ternyata faktanya, kesehatan gigi dan mulut penting juga kita jaga. Cara supaya kesehatan gigi dan mulut kita terjaga adalah dengan menyikat gigi. Sikat gigi direkomendasikan dilakukan 2 kali sehari. Waktu yang ideal menggosok gigi adalah setelah sarapan dan sebelum tidur. Lama menggosok gigi minimal tiga menit dengan gerakan memutar dari area gusi yang berwarna merah ke arah gigi yang berwarna putih. Sikat gigi sebaiknya diganti setiap 3 bulan sekali. Jika sikat gigi rusak sebelum 3 bulan itu berarti seseorang menyikat gigi terlalu keras dan penuh tekanan, sebaliknya jika sikat gigi tidak rusak setelah 3 bulan itu berarti seseorang tidak menyikat gigi dengan benar. Penting untuk menggosok lidah, karena pada permukaan lidah banyak terdapat bakteri yang dapat menyebabkan bau mulut. Nutrisi juga mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut. Makanan dan minuman yang tinggi akan gula dan asam seperti permen, minuman berkarbonasi, dan soda dapat dengan mudah membuat zat asam dalam mulut meningkat. Penting untuk mengkonsumsi lebih banyak sayur dan buah dan minum lebih banyak air. Pemeriksaan gigi direkomendasikan dilakukan setiap enam bulan sekali. Pada masa pandemi Covid-19, konsultasi juga dapat dilakukan melalui telemedicine atau secara online. Jika akan berkunjung ke dokter gigi sebaiknya membuat janji terlebih dahulu dengan syarat tidak sedang demam, batuk, maupun pilek. Nah, sahabat paru yuk mulai kebiasaan menyikat gigi dengan benar dan waktu yang tepat. Agar kesehatan gigi dan mulut kita terjaga.

Daftar Pustaka

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Potret Sehat Indonesia dari Riskesdas 2018. www.kemkes.go.id tangggal 2 November 2021

Arie Novarina, Ruslan Burhani. 2013. Perkembangan jajanan memperburuk kesehatan gigi anak. www.antaranews.com tanggal 6 September 2013

 Nanien Yuniar, Monalisa. 2018. Alasan Ibu Hamil Harus Jaga Kesehatan Gusi. www.antaranews.com tanggal 29 Juni 2018

Astuti, Indriyani. 2018. Kesehatan Gigi Masyarakat Indonesia Mengkhawatirkan. https://mediaindonesia.com tanggal 4 November 2018

Drg. Wiena Manggala Putri. 2020. Kapan Waktu yang Tepat untuk Menyikat Gigi? https://www.klikdokter.com tanggal 12 Mei 2020

Wisnu Adhi Nugroho, Zita Meirina. 2019. PDGI: kondisi kesehatan gigi-mulut penduduk Indonesia menurun. https://www.antaranews.com tanggal 25 Januari 2019

Putri Kusuma, Andina Rizkia. Pengaruh Merokok Terhadap Kesehatan
Gigi Dan Rongga Mulut. http://www.unissula.ac.id

_______________. Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia 2021, Pepsodent Kampanyekan Senyum Sehat untuk Hidup Lebih Sehat.2021. https://www.liputan6.com tanggal 20 Maret 2021

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2021. Survey Menunjukkan Kebiasaan Gosok Gigi Menurun Saat Pandemi COVID-19. https://www.kemkes.go.id tanggal 19 Maret 2021

Drg. Fransisca Kariyanto, Sp. Perio. 2021. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut di Masa Pandemi. https://www.rsmardirahayu.com tanggal 22 April 2021

Olahraga apa yang aman di Masa Pandemic Covid-19 ?

Oleh: Shukhalita Swasti Astasari, S,KM

Pandemi Covid-19 hingga saat ini belum berakhir, ditengah pandemic Covid-19, kita perlu untuk menjaga kesehatan kita. Menurut para ahli, kita harus menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan untuk meminimalisir resiko tertular Covid-19. Salah satu upaya untuk menjaga kesehatan adalah dengan berolahraga. Pentingkah olahraga di kondisi pandemic Covid-19 ini? Ya, olahraga tentu sangat penting. Berolahraga atau melakukan aktivitas fisik membuat tubuh lebih bugar dan sehat sehingga daya tahan tubuh lebih kuat dan dapat mengurangi resiko tertular virus.

Dikutip dari International Journal of Cardiovascular Science, olahraga atau aktivitas fisik, terutama pada intensitas dan durasi sedang, dapat mendukung respon imun dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Sedangkan, olahraga dengan intensitas tinggi dan berkepanjangan tidak disarankan untuk dilakukan karena dapat menyebabkan imunosupresi atau menurunkan imunitas tubuh.

Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa olahraga atau aktivitas fisik dapat mencegah terjadinya gangguan mental yang dialami oleh sebagian orang karena adanya penerapan karantina dan isolasi, maupun jaga jarak (physical dystancing) akibat pandemik Covid-19. Gangguan mental tersebut misalnya depresi, kecemasan, sindrom kelelahan dan stress. Aktivitas fisik / Olahraga menghasilkan endorfin, bahan kimia di otak Kita yang meremajakan pikiran dan tubuh Kita, dan itu dapat membantu meningkatkan semua aspek kesehatan. Selain meningkatkan mood dan meningkatkan kualitas tidur, olahraga juga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Berikut ini jenis olahraga yang terbilang aman dilakukan untuk di rumah selama pandemic COVID-19, yaitu:

  1. Kardio. Jenis olahraga kardio adalah olahraga yang efektif membakar lemak dan membuat tubuh berkeringat. Untungnya olahraga ini bisa dilakukan di rumah sehingga mengurangi risiko kamu terjangkit COVID-19. Jika memiliki treadmill, sepeda statis atau alat kardio lainnya di rumah, maka bisa dimanfaatkan. Namun, jangan khawatir, lompat tali atau skipping juga bisa menjadi alternative
  2. Senam Aerobik. Jika tidak memiliki alat latihan kardio, olahraga satu ini juga menjadi pilihan yang menarik untuk dilakukan selama di rumah. Kita bisa melakukan senam zumba misalnya, dengan mengikuti video tutorial atau bahkan bersama teman-teman di rumah masing-masing lewat video conference. Instruktur olahraga aerobik tetap memberikan gerakan-gerakan yang membuat tubuh berkeringat sehingga tubuh menjadi lebih bugar. Senam aerobik juga mampu meredakan gejala depresi dan gangguan cemas yang dihadapi selama pandemi ini.
  3. Yoga. Olahraga ini mungkin terkesan mudah dan sederhana. Namun, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, olahraga ini juga tergolong efektif membakar lemak dan membuat tubuh berkeringat. Bonusnya lagi, beberapa gerakan yoga dapat membuat kamu lebih tenang dan santai. Sehingga kecemasan yang sering muncul selama pandemi ini bisa berkurang. Beberapa manfaat yoga lainnya adalah menjaga metabolisme tubuh, meningkatkan pernapasan, memperkuat energi serta vitalitas. Kamu bisa melakukannya di rumah dengan mengikuti video tutorial yang banyak tersedia di internet.

Yuk Olahraga, agar badan lebih bugar dan sehat !

Sumber :

https://ijcscardiol.org
https://dinkes.batam.go.id

Gimana Sih Isolasi Mandiri di Rumah Yang Baik dan Benar Sesuai Prosedur

Oleh : Susilawati, SKM

Kamu Positif Covid 19, jangan panik,  bersikap tenang,  karena panik dapat membuat hormon kamu berantakan.  Panik dapat menyebabkan lambung menjadi iritasi, Hipertensi , Psikis gelisah dan lain sebagainya yang dapat membuat kacau metabolisme tubuhmu. Bagi kamu yang positif covid 19 dan tidak bergejala hingga bergejala ringan dan tidak mendapatkan fasilitas isolasi terpusat, kamu dapat melakukan isolasi mandiri sendiri di rumah dengan prosedur yang baik dan benar.

            Lamanya waktu isolasi mandiri yang harus dijalani oleh pasien positif covid 19 tanpa gejala adalah 10 hari isolasi sejak tes antigen atau PCR positif covid 19. Sementara lamanya  waktu isolasi yang harus dijalani pasien positif covid 19 dengan gejala ringan adalah 10 hari isolasi plus 3 hari yang sudah bebas dari berbagai gejala. Untuk Pasien kontak erat, durasi isolasi mandiri 14 hari sejak kontak dengan kasus positif covid 19.

            Beberapa hal yang harus dilakukan  saat menjalankan isolasi mandiri :

  1. Tinggal di rumah dan jangan pergi bekerja atau ke ruang publik
  2. Gunakan kamar terpisah di rumah dari anggota keluarga lainnya
  3. Jika memungkinkan, upayakan menjaga jarak dari anggota keluarga lain
  4. Gunakan selalu masker selama masa isolasi mandiri
  5. Lakukan pengukuran suhu harian dan observasi gejala klinis, seperti batuk atau kesulitan bernafas
  6. Hindari pemakaian bersama peralatan makan, perlengkapan mandi dan sprei
  7. Terapkan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan mengkonsumsi makanan bergizi, rutin melakukan kebersihan tangan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
  8. Berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi
  9. Jaga kebersihan rumah dengan cairan desinfektan
  10. Hubungi segera fasilitas kesehatan jika memburuk agar mendapatkan perawatan lebih lanjut

Perlu dicatat jika kadar oksigen 90% atau lebih tetapi di bawah 94%, segera hubungi tenaga kesehatan atau minta perawatan di rumah sakit. Bila kadar oksigen di bawah 90%, itu berarti pasien mengalami covid 19 berat. Segera hubungi penyedia layanan kesehatan atau minta segera dirawat di rumah sakit.

Berhenti Merokok Sekarang dan Selamanya “Commit to Quit” Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021

Oleh : Nur Handayani, SKM

Hari tanpa tembakau sedunia diperingati setiap tanggal 31 Mei. Peringatan kali ini merupakan tahun kedua diperingati masih kondisi pandemi Covid-19. Hari tanpa tembakau sedunia diperingati dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penggunaan tembakau terutama rokok. Dalam sebatang rokok terkandung didalamnya 4000 zat kimia beracun dan 43 diantaranya mengandung zat karsinogenik. Racun utama pada rokok : tar, nikotin, dan karbon monoksida. Bisa dikatakan hampir semua bahan yang terdapat dalam rokok adalah racun yang berbahaya bagi tubuh manusia, apalagi bila banyak batang rokok yang dihisap selama bertahun-tahun.

  Sudah sering digaungkan gambaran bahaya rokok terhadap kesehatan tubuh seseorang. Dari efek jangka pendek seperti gigi dan jari yang menguning, bau napas dan mulut, mata merah, hingga penyakit berbahaya seperti penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker paru. Walaupun sering digaungkan bahaya rokok, tapi jumlah perokok tiap tahunnya di Indonesia selalu meningkat. Data Riskesdas 2018, prevalensi merokok pada remaja usia 10-19 tahun meningkat dari 7,2% di tahun 2013 menjadi 9,1% pada 2018. Merokok dari usia muda inilah yang dapat memicu menjadi perokok aktif hingga usia lanjut.

  Masalah rokok masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Bayangkan saja  Diperkirakan  sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal akibat rokok. Dan perlu diingat, pandemi Covid-19 belum berakhir, perokok memiliki risiko yang lebih besar terkena kasus yang parah atau bahkan meninggal akibat COVID-19. Ini yang kemudian memicu sebagian perokok untuk berhenti. Saat ini setidaknya, sekitar 60 persen perokok (sekitar 780 juta orang) telah menyatakan keinginannya untuk berhenti. Tapi sayang, hanya ada sekitar 30 persen saja yang memiliki akses alat yang membantu mereka agar penyembuhan bisa berjalan sukses.     Menurut  WHO jumlah  perokok  yang  berhenti  dengan kemauan  sendiri  atau  tanpa  bantuan  pada  tahun  2011  sekitar  70,7%  dan  7% memilih  melalui  konseling (WHO,  2012).

  Banyak  tantangan  yang  harus  dilalui perokok  untuk  berhasil  berhenti  merokok  karena  perokok  akan  merasa  cemas, marah  dan  depresi  ketika  tidak  merokok  untuk  sementara  waktu (Taylor et  al.,2014). Sangat   sedikit   perokok   yang   bisa   berhenti merokok   dalam   waktu   yang spontan.   Hal   tersebut   dikarenakan   pengaruh dari   lingkungan   teman   sebaya, merasa diasingkan jika tidak merokok saat berkumpul bersama teman, munculnya perasaan ketidakmampuan untuk berhenti merokok serta adanya kemampuan daya beli  terhadap  rokok.  Hal  tersebut  yang  menyebabkan  perokok mengklaim  bahwa berhenti  merokok sangat sulit dan  membutuhkan  usaha  yang  lebih  keras  untuk berhasil berhenti merokok(Jannone, &O‘Connell, 2007;Weinstein et al.,2004).

  Menurut Heydari et al., (2014) metode berhenti merokok ada dua yaitu metode  dengan  bantuan  obat  atau  terapi  dan  tanpa pengobatan.  Metode  menggunakan  obat  dan  terapi  tersebut  berupa  terapi pengganti    nikotin    (NRT)    (permen    karet,    tablet    sublingual,    pelega tenggorokan,  inhaler  dan  semprotan  hidung), Champix,  Zybandan  obat-obatan yang diresepkan seperti Bupropion dan Varenicline. Metode lainnya  adalah  metode tanpa  obat  misalnya  akupuntur,  konseling perawat  dan  melalui  telepon  serta  usaha  sendiri. Data  dari Global  Adult  Tobacco  Survei bahwa berhenti  merokok  tanpa  bantuan  merupakan  metode  yang  paling  banyak dilakukan di Indonesia dibandingkan metode-metode lainnya (WHO, 2012).

             Keinginan untuk berhenti merokok senada dengan tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini yaitu “Commit to Quit” atau berkomitmen untuk berhenti merokok. Momentum ini bisa dijadikan momentum dimana perokok dapat berkomitmen untuk berhenti merokok. Karena dengan berhenti merokok, manfaatnya langsung dapat dirasakan langsung. Setidaknya, setelah 20 menit ketika berhenti merokok, detak jantung secara otomatis akan menurun. Dalam 12 jam, tingkat karbon monoksida dalam darah pun turun menjadi normal. Dalam 2-12 minggu sirkulasi pasti akan ikut membaik dan fungsi paru-paru pun ikut meningkat. Kalau dalam waktu 1-9 bulan, batuk dan sesak napas dijamin akan ikut berkurang. Lalu dalam 5-15 tahun, risiko stroke seseorang pun bisa ikut berkurang menjadi bukan perokok. Kalau dalam 10 tahun, tingkat kematian akibat kanker paru-paru hanya sekitar setengah dari perokok.

            Keinginan berhenti merokok bukan perkara yang mudah bagi perokok tapi bukan hal mustahil bila ada kemauan yang kuat. Kebiasaan merokok yang bertahun-tahun membuat perokok sulit melepas kebiasaan buruk tersebut. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan perokok ketika memutuskan untuk berhenti merokok, antara lain :  Bulatkan Tekad Berhenti Merokok, Membiasakan Berhenti Merokok, Kenali Waktu dan Situasi Kapan Sering Merokok, Mintalah Dukungan dari Keluarga dan Kerabat, Tahan Keinginan dengan Menunda, Berolahraga secara Teratur, Konsultasi dengan Dokter. Yuk, jadikan Hari Tanpa Tembakau Sedunia kali ini menjadi momentum untuk HIDUP SEHAT TANPA ROKOK.

Daftar Pustaka

Jannone, L., & O‘Connell, K. A. (2007). Coping strategies used by adolescents during  smoking  cessation. The Journal  of  School  Nursing :  The  Official Publication of the National Association of School Nurses, 23(3), 177–184.

Kemenkes.  (2018).  Riset  Kesehatan  Dasar  (Riskesdas)  2018.

Taylor, G., McNeill, A., Girling, A., Farley, A., Lindson-Hawley, N., & Aveyard, P.  (2014).  Change  in  mental  health  after  smoking  cessation:  systematic review  and  meta-analysis. BMJ  (Clinical  Research  Ed.), 348(February), g1151.

Taylor, S. E. (2014). Health Psychology [8th Edition]. New York: McGraw-Hill.

Taylor, S. E., &Stanton, A. L. (2007). Coping Resources, Coping Processes, and Mental Health. Annual Review of Clinical Psychology, 3(1), 377–401.

Weinstein,  N.,  Slovic,  P.,  &  Gibson,  G.  (2004).  Accuracy  and  optimism  in smokers‘ beliefs about quitting. Nicotine  &  Tobacco  Research, 6(6),  375–380.

World  Health  Organization.  (2012). Global  Adult  Tobacco Survey:  Indonesia Report 2011.

Heydari, G., Masjedi, M., Ahmady, A. E., Leischow, S., Lando, H., Shadmehr, M. B.,  &  Fadaizadeh,  L.  (2014).  A  comparative  study  on  tobacco  cessation methods:   A   quantitative   systematic   review. International   Journal   of Preventive Medicine, 5(6), 673–678.

Promkes, Kemkes. (2018).7 Tips Ampuh Berhenti Merokok Bagi Anda yang Perokok Berat. https://promkes.kemkes.go.id 29 Mei 2018

Desiree, Anastasia. (2021). WHO Beberkan 4 Fakta Jelang Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021. https://www.idntimes.com 2 Mei 2021

Reskiaddin, La Ode. (2018). MENGAPA SAYA BERHENTI MEROKOK? Kajian Kualitatif Mengenai Dukungan Sosial dan Mekanisme Coping untuk Berperilaku Sehat. Yogyakarta : Tesis Program Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Peran Perempuan dalam Penanggulangan Covid-19

Oleh : Shukhalita Swasti Astasari, S.KM

Kemajuan jaman telah banyak mengubah pandangan tentang perempuan di Indonesia. Pandangan yang menyebutkan bahwa perempuan hanya berhak mengurus rumah telah berubah dengan adanya emansipasi yang menyebabkan perempuan memperoleh hak yang sama dengan laki-laki. Perjuangan untuk memiliki pemikiran dan tindakan yang modern bagi perempuan dengan tegas diserukan oleh RA. Kartini.

Perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam berusaha dan bekerja, laki-laki dan perempuan dapat bekerja sama dalam berbagai bidang kehidupan. Kemampuan perempuan semakin tampak dalam berbagai pekerjaan dan profesi serta kualitas pekerjaannya pun tidak lebih rendah daripada laki-laki. Kemajuan dan karir yang dicapai perempuan jelas melalui perjuangan tanpa perbedaan atau diskriminasi gender.

Perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki bukan berarti perempuan harus meninggalkan tugas nya sebagai seorang perempuan, misalnya saja menjadi seorang ibu. Dengan demikian perempuan memiliki peran ganda yaitu menjadi wanita karir dengan tanpa meningggalkan kodrat kewanitaannya.

Dalam masa pandemic Covid-19 saat ini, peran perempuan sangat penting. Terbukti dari banyaknya perempuan yang ikut aktif dalam penanganan Covid-19 di berbagai sector. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengatakan, berdasarkan keterangan dari Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada April 2020, jumlah dokter laki-laki dan perempuan yang menangani pandemi rasionya seimbang.

“Peran perempuan dalam kehidupan sosial sehari-hari juga tidak dapat dikesampingkan, terutama dalam pencegahan dan penanganan Covid-19,” kata Bintang dalam keterangan rilis di Jakarta. Selama pandemi Covid-19, lanjut dia, perempuan pun ikut maju di garda terdepan sebagai tenaga kesehatan.”

Beliau berpendapat, meski mengemban tugas domestik dan harus meninggalkan keluarga, perempuan rela mengabdi dan berkorban menyelamatkan nyawa. “Tenaga kesehatan yang merupakan garda terdepan, telah menyumbangkan jasa yang luar biasa hingga tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Perjuangan ini nyatanya tidak terlepas dari peran perempuan,” terang dia. Bintang menuturkan, andil perempuan dalam kehidupan sosial juga sangat besar, seperti memastikan kondisi kesehatan keluarganya, hingga membawa perubahan sosial terkait peningkatan pengetahuan dan kedisiplinan di lingkungan sekitar. Dengan begitu, kata dia, upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 pada klaster keluarga dapat dilakukan dengan lebih efektif melalui pemberdayaan perempuan sebagai agen keluarga.

Begitu banyak peran perempuan dalam berbagai bidang terutama kesehatan, yaitu ikut berperan serta dalam penanggulangan covid-19 baik sebagai tenaga kesehatan, maupun sebagai ibu yang mendukung pencegahan dan penanganan Covid-19 di tingkat keluarga.

Sumber :

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. 2015. Peran Perempuan di Berbagai Bidang.https://up45.ac.id/artikel/peran-perempuan-di-berbagai-bidang/. Diakses pada tanggal 27/04/2021

Prabowo, Dani & Adiyta NR. 2020. Menteri PPPA Peran Perempuan Dalam Penanganan Covid-19 Tak Dapat Dikesampingkan. https://nasional.kompas.com/read/2020/12/18/11212091/menteri-pppa-peran-perempuan-dalam-penanganan-covid-19-tak-dapat. Diakses pada tanggal 27/04/2021.

Anda Perokok? Waspadai PPOK!

Oleh: Arifah Budi Nuryani, S.KM

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. PPOK dapat disebabkan oleh berbagai hal, namun penyebab PPOK yang paling utama yaitu merokok. Kondisi PPOK  tidak boleh dianggap sepele karena penyakit ini menyerang paru-paru dan dapat berdampak yang sangat berbahaya, bahkan bisa berujung pada kematian. Ironisnya, penyebab utama penyakit ini ternyata adalah kebiasaan merokok. 

PPOK terjadi karena adanya peradangan paru yang kemudian berkembang dalam jangka waktu panjang sehingga menyebabkan aliran udara dari paru-paru terhalang. Pengidap PPOK mengalami kesulitan bernapas karena adanya pembengkakan dan lendir atau dahak. 

Risiko PPOK meningkat pada orang-orang yang sudah lanjut usia dan aktif merokok dalam jangka waktu yang lama. PPOK menyerang orang yang merokok secara aktif maupun pasif sebagai akibat dari paparan asap rokok.

Secara umum proses rokok dapat menyebabkan kerusakan saluran pernafasan adalah bahwa di dalam asap rokok terdapat ribuan zat berbahaya yang sangat merugikan kesehatan. Zat-zat berbahaya tersebut masuk saluran pernafasan selanjutnya menempel pada saluran pernapasan, yang lambat laun dapat bertumpuk di saluran pernapasan sehingga menyebabkan infeksi. Sementara itu produksi mucus makin bertambah banyak dan kondisi ini sangat kondusif untuk tumbuh kuman. Apabila kondisi tersebut berlanjut maka akan terjadi radang dan penyempitan saluran nafas serta berkurangnya elastisitas. Besar kecilnya intensitas dan waktu paparan zat-zat berbahaya dalam asap rokok akan berpengaruh terhadap kondisi saluran pernafasan. Semakin sering terpapar asap rokok maka akan mempercepat terjadinya kerusakan saluran pernapasan. Kondisi inilah yang menyebabkan perokok rentan mengalami PPOK.

PPOK berkembang secara perlahan dan tidak menunjukkan gejala khusus pada tahap awal. Gejala PPOK muncul ketika sudah terjadi kerusakan yang signifikan pada paru-paru.

Sejumlah gejala yang biasanya dialami oleh penderita PPOK adalah batuk tidak kunjung sembuh yang dapat disertai dahak, napas tersengal-sengal (terutama saat melakukan aktivitas fisik), berat badan menurun, nyeri dada, mengi, dan lemas.

Untuk mencegah terjadinya PPOK, salah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan yaitu dengan berhenti merokok secara total dan juga menghindari paparan asap rokok. Selain itu sebaiknya hindari penyebab-penyebab lain yang dapat menyebabkan PPOK seperti paparan debu serta polusi udara, dan jangan lupa untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Referensi:

Adrian, Kevin dr. 2020. Ketahui Penyebab PPOK dan Langkah Pencegahannya. https://www.alodokter.com/ketahui-penyebab-ppok-dan-langkah-pencegahannya

Kemenkes RI. 2008. KMK Nomor 1022/2008 tentang Pendoman Pengendalian Penyakit Paru Obstruktif Kronis. https://persi.or.id/wp-content/uploads/2020/11/kmk10222008.pdf

Tamin, Rizki dr. 2020. Penyakit Paru Obstruktif Kronis. https://www.alodokter.com/penyakit-paru-obstruktif-kronis#:~:text=Penyakit%20paru%20obstruktif%20kronis%20(PPOK,adalah%20bronkitis%20kronis%20dan%20emfisema.

Tim Halodoc. 2019. Seberapa Buruk Dampak Rokok terhadap PPOK?. https://www.halodoc.com/artikel/seberapa-buruk-dampak-rokok-terhadap-ppok Susanti, Putri Fitriana Eka. 2015. Influence of Smoking on Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/612

Hari Kesehatan Dunia 7 April Dunia yang Lebih Adil dan Sehat

Oleh: Kristi Riyandini, SKM

Hari Kesehatan Dunia atau World Health Day dirayakan setiap tahun pada tanggal 7 April. Perayaan ini juga dilakukan untuk menandai didirikannya organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) pada tahun 1948. Pada tahun 1948, WHO mengadakan Majelis Kesehatan Dunia untuk pertama kalinya. Pada agenda tersebut, majelis memutuskan untuk merayakan 7 April sebagai Hari Kesehatan Dunia yang dirayakan pertama kalinya pada 1950. World Health Day ini setiap tahun memperhatikan topik kesehatan tertentu yang menjadi perhatian orang-orang di seluruh dunia.

Tahun 2021 ini, di tengah pandemi global Covid-19, tema Hari Kesehatan Dunia adalah “Building a fairer, healthier world” (Membangun dunia yang lebih adil dan lebih sehat). Dalam perayaan ini, WHO mengundang masyarakat global untuk turut serta bergabung dalam kampanye membangun dunia yang lebih adil dan lebih sehat.

Menurut WHO, dalam situasi pandemi ini, ada beberapa kelompok masyarakat yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dengan sedikit pendapatan harian, memiliki kondisi perumahan dan pendidikan yang lebih buruk, lebih sedikit peluang kerja, mengalami ketidaksetaraan gender yang lebih besar, serta memiliki sedikit atau tidak ada akses ke lingkungan yang aman, air dan udara bersih, ketahanan pangan dan layanan kesehatan. Hal ini mengakibatkan penderitaan yang tidak perlu serta kematian dini.

WHO juga mengungkapkan bahwa Covid-19 telah menghantam semua negara, tetapi dampaknya paling parah diderita oleh komunitas yang sudah rentan, yang lebih mudah terpapar penyakit, dan cenderung tidak memiliki akses ke layanan perawatan kesehatan yang berkualitas.“WHO berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap orang, di mana pun, dapat mewujudkan hak atas kesehatan yang baik,” tulis WHO di laman resminya.

Hak atas Kesehatan merupakan Hak Asasi Manusia. Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) pasal 25 yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak atas taraf kehidupan yang memadai untuk kesehatan, kesejahteraan dirinya sendiri dan keluarganya. Pada lingkup nasional Hak atas kesehatan juga dinyatakan dalam UUD 1945, Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Pandemi Covid-19 dan Hak Atas Kesehatan

Pandemi Covid-19 yang telah setahun lebih berlangsung tentunya memberikan dampak yang luar biasa disegala aspek, Pandemi Covid-19 turut  memberikan dampak terhadap hak asasi manusia. Amnesty International Indonesia mencatat setidaknya ada empat hak asasi manusia yang terdampak akibat pandemi global ini salah satunya adalah hak atas kesehatan.

Apa yang saat ini bisa kita lakukan sebagai pribadi untuk bisa mewujudkan hak kesehatan diri dan orang lain?

Dalam masa pandemi Covid-19 ini, mematuhi dan melaksanakan protokol kesehatan 5 M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak, Menghindari Kerumunan, dan Mengurangi Mobilitas) dimanapun kita berada adalah salah satu cara kita memenuhi hak kesehatan atas diri kita dan orang lain. Dengan menerapkan protokol kesehatan 5M, artinya kita telah membantu dalam menekandan memutus kemungkinanan terjadinya penularan Covid-19 dari orang satu ke yang lain. Membantu pemerintah dalam memutus rantai penularan Covid-19 adalah tugas kita semua. Mari lindungi diri, keluarga dan lingkungan untuk membangun dunia yang lebih sehat.  

Sumber :

World Health Organization: World Health Day http://www.who.int/mediacentre/events/annual/world_health_day/en/. Diakses 6 Maret 2021

Perwira, Indra. Memahami Kesehatan Sebagai Hak Asasi Manusia. https://referensi.elsam.or.id/wpcontent/uploads/2014/12/Kesehatan_Sebagai_Hak_Asasi_Manusia.pdf. Diakses 6 Maret 2021

LBH Masyarakat : Buku Saku Hak Atas Kesehatan. https://lbhmasyarakat.org/wp-content/uploads/2020/01/Buku-Saku-Hak-Atas-Kesehataan.pdf. Diakses 6 Maret 2021

Amnesty International: COVID-19 dan Hak Asasi Manusia. https://www.amnesty.id/covid-19-dan-hak-asasi-manusia/.Diakses 6 Maret 2021

https://www.who.int/westernpacific/news/events/world-health-day

Wikipedia : Hari Kesehatan Sedunia. https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kesehatan_Sedunia diakses 6 Maret 2021

Setiap Detik Berharga, Selamatkan Bangsa dari Tuberkulosis

Oleh : Nur Handayani, SKM

Masa pandemi Covid-19 belum berakhir. Kita masih tetap harus menerapkan protokol kesehatan 5 M, yaitu Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan dan Mengurangi mobilitas. Pada saat pandemi kita terfokus hanya dengan pencegahan dan penanganan terkait Covid-19. Tapi kewaspadaan terhadap Covid-19 jangan sampai membuat kita lengah dengan beberapa penyakit, salah satunya penyakit Tuberkulosis atau TBC.

                  TBC adalah penyakit  infeksi  menular  yang  disebabkan  oleh  bakteri Mycobacterium  tuberkulosis,  yang dapat  menyerang  berbagai  organ,  terutama paru-paru. Kuman  ini  berbentuk  batang,  mempunyai  sifat khusus  yaitu  tahan  terhadap  asam  pada  pewarnaan.  Oleh  karena  itu  disebut  pula sebagai  Basil  Tahan  Asam  (BTA). Basil  ini  tidak  berspora sehingga  mudah  dibasmi  dengan  pemanasan,  sinar  matahari  dan  sinar  ultraviolet, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang  gelap  dan  lembab.  Dalam  jaringan  tubuh  kuman  ini  dapat  dormant,  tertidur dalam beberapa tahun.

                  Mengacu pada, WHO Global TB Report tahun 2020, masih terdapat 10 juta orang didunia jatuh sakit  karena TBC dan menyebabkan 1,2 juta orang meninggal karenanya. Ditambah  lagi, 251 ribu orang yang meninggal karena TBC disertai dengan HIV positif. Indonesia termasuk delapan Negara yang menyumbang 2/3 kasus TBC diseluruh dunia, Indonesia menempati posisi kedua setelah India dengan kasus sebanyak 845.000 dengan kematian sebanyak 98.000 atau setara dengan 11 kematian/jam. Mengingat tingginya kasus dan beban kematian akibat tuberkulosis,dunia telah berkomitmen untuk bebas TBC pada tahun 2050.

                  Mengatasi kasus TBC dan beban kematian akibat TBC, tentu menjadikan penanganan yang tidak main-main. Tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah dalam pencegahan dan penanganan penyakit TBC tapi juga seluruh elemen masyarakat. Ada beberapa populasi yang rentan terhadap penyakit TBC, antara lain orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah terutama orang dengan HIV-AIDS (ODHA), orang dengan kekurangan gizi atau malnutrisi, orang yang sedang menjalani terapi antikanker atau sedang menjalani dialisis dan anak-anak. Penularan TBC pada anak biasanya terjadi karena penularan dari orang dewasa yang kemudian infeksi bakteri terbawa oleh seorang anak yang kemungkinan akan kambuh di saat ia dewasa atau bahkan pada saat usia anak yang membuat anak tersebut harus menjalani pengobatan selama 6 bulan dengan dosis orang dewasa. Berdasarkan laporan WHO diperkirakan sebanyak 1,12 juta anak didunia terinfeksi TBC. TBC menular melalui percikan ludah dari seorang penderita kepada orang yang berada didekatnya.  Salah satu populasi yang mempunyai risiko tinggi terjadinya penularan TBC adalah pada anak dan balita. Sistem imunitas anak masih belum optimal sehingga mereka memiliki risiko lebih tinggi untuk sakit TBC.

                  Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis atau TBC Sedunia. Di tanggal inilah pertama kalinya Robert Koch menemukan bakteri TBC (Mycobacterium tuberculosis). Hari TBC sedunia diperingati untuk menggugah kepedulian semua orang terkait pemahaman tentang penyakit TBC dan upaya pencegahannya. Tema hari TBC sedunia tahun 2021 adalah “The Clock is Ticking..”, yang memiliki makna semakin terbatasnya waktu untuk mencapai target eliminasi TBC 2030. Sedangkan tema nasional adalah Setiap Detik Sangatlah Berharga Untuk Dapat Mengeliminasi Kasus TBC, Selamatkan Bangsa dari Tuberkulosis. Posisi kedua dengan peringkat terbanyak kasus penyakit TBC  membuat Indonesia harus segera mempercepat eliminasi TBC. Mengapa eliminasi TBC 2030 penting dilakukan karena ada beberapa alasan, antara lain :

  1. TBC merupakan penyakit infeksi yang sangat mudah menular sehingga adanya arus globalisasi, transportasi, dan migrasi penduduk antar negara membuat TBC menjadi ancaman serius bagi dunia
  2. Pengobatan TBC tidak mudah dan membutuhkan biaya yang cukup tinggi
  3. TBC yang tidak ditangani hingga tuntas menyebabkan resistensi obat
  4. TBC menular dengan mudah, yakni melalui udara yang berpotensi menyebar di lingkungan keluarga, tempat kerja, sekolah dan tempat umum lainnya
  5. Anak yang terbukti terinfeksi TBC laten, jika tidak diobati dengan benar akan menjadi kasus TBC, dimasa dewasanya dan akan menjadi sumber penularan baru

                  Masa pandemi sekarang ini membuat sebagian besar orang dilanda ketakutan. Kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, kecuali bila ada keperluan mendesak. Begitu juga dengan penderita TBC, tentu mengalami hal yang sama. Ada ketakutan terkena virus Covid-19. Ada ketakutan pula bila harus berobat ke pelayanan kesehatan. Ketakutan tersebut tentunya beralasan karena virus Covid-19 mudah menular ketika terjadi kontak erat. Beberapa gejala TBC seperti batuk, demam, dan merasa lemas juga dialami pasien Covid-19. Covid-19 menyadarkan kita betapa rentannya jika pasien TBC tidak berobat, karena daya tahan tubuh dan kondisi paru mereka juga lebih rentan terinfeksi, Jadi penderita tetap harus menjalani pengobatan rutin sesuai anjuran dokter. Karena kunci dari kesembuhan salah satunya adalah rutin melakukan pengobatan hingga dinyatakan sembuh. Penderita TBC yang melakukan pengobatan melalui pelayanan kesehatan pada masa pandemik tetap harus menerapkan protokol kesehatan 5 M. Pemerintah telah menyediakan pelayanan kesehatan TBC dengan tata laksana sedemikian rupa, sehingga diharapkan penderita TBC tetap mendapatkan pelayanan dan tidak terjadi putus obat. Penanganan kasus TBC harus serius mengingat kasus TBC terbanyak 75% terjadi pada usia produktif yaitu sekitar 15-54 tahun dimana Lebih dari 25 persen pasien TBC dan 50 persen pasien TBC resisten obat beresiko kehilangan pekerjaan mereka karena penyakit ini. Kesulitan ekonomi yang secara langsung dan tidak langsung diakibatkan oleh TBC menimbulkan halangan akses terhadap diagnosis dan pengobatan dapat meningkatkan risiko penularan infeksi di masyarakat. Situasi ini tentu menghambat pembangunan nasional.

                  Begitu besarnya dampak dari banyaknya kasus TBC tidak saja menjadi tanggungjawab sektor kesehatan, tapi juga menjadi tanggungjawab semua sektor pemerintahan serta tanggungjawab semua individu. Setiap individu hendaknya memperbanyak informasi tentang penyakit TBC sehingga mampu mengenali gejala TBC dan dapat mencegah penularan penyakit TBC. Kenali gejala TBC seperti batuk lebih dari 2 minggu, mengalami sesak pada pernafasan, berkeringat pada malam hari tanpa aktifitas dan mengalami penurunan berat badan. Lakukan pula pencegahan terhadap penularan TBC dengan menerapkan etika batuk dan bersin seperti : gunakan masker bila batuk dan bersin, tutup mulut dan hidung dengan tisu atau dapat menggunakan lengan atas bagian dalam, buang tisu yang telah digunakan ke dalam tempat sampah, dan cucilah tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir. Salah satu pendekatan yang dapat mencegah penularan TBC berupa Temukan dan Obati Sampai Sembuh TBC (TOSS TBC). Dengan TOSS TBC ini diharapkan ada partisipasi dan kepedulian setiap individu untuk sama-sama mencegah penularan TBC. Begitu menemukan ada orang terdekat atau diri sendiri yang dicurigai mengalami gejala TBC bisa langsung mendatangi pelayanan kesehatan terdekat untuk pemeriksaan. Deteksi dini akan lebih memudahkan memutuskan rantai penularan TBC.

                  Penanganan TBC yang dilakukan pemerintah dengan kerjasama semua sektor dan setiap individu diharapkan akan membawa Indonesia bebas TBC. Setiap detik sangat berharga dalam upaya mengeliminasi TBC. Ke depan Indonesia dapat mewujudkan generasi yang sehat dan unggul bebas TBC sejak dini. Ayo bersama kita lawan tidak hanya Covid-19 tapi juga TBC. Indonesia sehat Bebas TBC.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kementrian Kesehatan RI. 2019. Apa itu TOSS TBC dan Kenali Gejala TBC. https://promkes.kemkes.go.id tanggal 18 Juli 2019
  2. Kementrian Kesehatan RI. 2020. Pasien TBC Harus Lebih Waspadai Corona. https://www.kemkes.go.id tanggal 24 Maret 2020
  3. ____. 2020. Bersama Menuju ELiminasi TBC dan Melawan Covid-19. https://htbs.tbindonesia.or.id/ tanggal 24 Maret 2020
  4. Kementrian Kesehatan. 2020. Protokol Tentang Pelayanan TBC selama masa Pandemi Covid-19 tanggal 30 Maret 2020
  5. Kementrian Kesehatan RI. 2020.  Penanggulangan Tbc Di Masa Pandemi Covid-19 tanggal 22 Sepyember 2020
  6. Sapto Adhi, Irawan. 2020. 5 Gejala TBC yang Perlu Diwaspadai. https://health.kompas.com tanggal 26 Oktober 2020
  7. Kementrian Kesehatan. 2021. Panduan Peringatan Hari Tb Sedunia 24 Maret 2021

Terapkan Pola Hidup Sehat Untuk Bersama Cegah Kanker Peringatan Hari Kanker Sedunia Tahun 2021

Oleh : Nur Handayani, SKM

Kanker…..kata ini mungkin sering terdengar di telinga sebagai hal yang mengerikan. Penyakit kanker memang masih menjadi penyebab ketiga kematian terbanyak di Indonesia setelah penyakit jantung dan stroke. Selain itu penyakit kanker merupakan salah stu penyakit yang banyak menghabiskan pembiayaan yang mahal. Kanker paru salah satu kanker yang paling mematikan di dunia diantara kanker lainnya. Kasus kanker di Indonesia kini telah mencapai 4,8 juta pada 2018. Kasus terbanyak adalah payudara, serviks, dan paru. Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi tumor/kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1.4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Prevalensi kanker tertinggi adalah di provinsi DI Yogyakarta 4,86 per 1000 penduduk, diikuti Sumatera Barat 2,47 79 per 1000 penduduk dan Gorontalo 2,44 per 1000 penduduk.

            Berkaitan dengan kanker, setiap tanggal 4 Februari diperingati sebagai hari kanker sedunia. Peringatan hari kanker ini dicetuskan untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya pengetahuan tentang penyakit kanker sehingga dapat berupaya untuk mencegah penyakit tersebut. Diperingatinya hari kanker sedunia diawali dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dunia Pertama di Paris yang mengusung topik tentang melawan kanker. Pada pertemuan ini, para pemimpin lembaga pemerintah dan organisasi kanker dari seluruh dunia menandatangani Piagam Paris Against Cancer, sebuah dokumen yang berisi 10 artikel yang menguraikan komitmen global koperasi. Artikel tersebut berisi hal terkait untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker, untuk investasi berkelanjutan dalam dan kemajuan penelitian, pencegahan, dan pengobatan kanker. Tema untuk tahun 2021 adalah “I am and I Will. Together. All our actions matter.” Tema ini dimaksudkan bahwa ajakan kepada setiap individu untuk berbuat dan menyebarkan hal positif khususnya pencegahan kanker. Dan aksi bersama-sama menciptakan hal positif tentang pencegahan kanker secara berkelanjutan diharapkan akan berdampak luas ke lingkungan sekitar kita.

            Penyakit Kanker merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan adanya sel/jaringan abnormal yang bersifat ganas, tumbuh cepat tidak terkendali dan dapat menyebar ke tempat lain dalam tubuh penderita. Sel kanker bersifat ganas dan dapat menginvasi serta merusak fungsi jaringan tersebut. Penyebaran (metastasis) sel kanker dapat melalui pembuluh darah maupun pembuluh getah bening. Sel penyakit kanker dapat berasal dari semua unsur yang membentuk suatu organ, dalam perjalanan selanjutnya tumbuh dan menggandakan diri sehingga membentuk massa tumor.

            Secara umum, ada dua faktor penyebab kanker yang paling sering terjadi, yaitu faktor internal (seperti, keturunan) dan faktor eksternal (misalnya, perubahan hormon, obesitas, kurang berolahraga, kebiasaan merokok, serta paparan radiasi, virus, dan bahan-bahan kimia). Beberapa gejala kanker antara lain :

  • Munculnya benjolan yang tidak lazim
  • Perubahan kulit
  • Masalah pada kelenjar getah bening
  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Batuk atau sesak napas berkepanjangan
  • Munculnya rasa sakit tanpa sebab
  • Perdarahan tidak normal

Penyakit kanker bisa terjadi di segala usia. Penyakit ini sangat ditakuti. Beberapa yang dapat menjadi faktor risiko antara lain :

  • Riwayat keluarga
  • Usia

Usia di atas 65 tahun lebih berisiko untuk mengalami kanker

  • Kebiasaan buruk

Seperti mengonsumsi alkohol berlebihan, merokok, paparan sinar matahari berlebihan, obesitas, dan seks yang tidak aman.

  • Kondisi kesehatan

Beberapa kondisi kesehatan kronis, seperti ulcerative colitis juga meningkatkan risiko munculnya kanker jenis tertentu.

  • Lingkungan hidup

Bahan kimia berbahaya seperti asbes dan benzena di rumah atau tempat kerja bisa menjadi faktor yang meningkatkan risiko penyakit ini

            Jumlah kasus kanker yang semakin meningkat dari tahun ke tahun dan menjadi beban dalam pembiayaan kesehatan, tentu perlu untuk kita semua bersama-sama melakukan pencegahan. Menurut WHO, sebanyak 40 persen kematian akibat kanker dapat dicegah. Sebagai hasilnya, meningkatkan kesadaran akan pencegahan kanker telah menjadi tujuan utama banyak organisasi kanker dan kesehatan di seluruh dunia, dan Hari Kanker Dunia telah datang untuk mewakili penegasan kembali tahunan akan pentingnya tujuan ini.

            Ada beberapa yang dapat kita lakukan untuk melakukan pencegahan, antara lain:

  • Stop Merokok
  • Hindari Asap rokok dan residu rokok
  • Hindari mengkonsumsi 4P (Pengawet, Perasa, Perwarna, dan pemanis buatan)
  • Hindari terpapar bahan kimia dan polusi terus-menerus
  • Rajin aktifitas fisik
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat
  • Cek kesehatan berkala

Yuk, mulai sekarang terapkan pola hidup sehat dan tebarkan semangat positif untuk pencegahan penyakit kanker.

DAFTAR PUSTAKA

  1. YKI Pusat. Apa itu Kanker? http://yayasankankerindonesia.org
  2. Kemenkes RI. 2020. Jenis Kanker ini Rentan Menyerang Manusia. https://www.kemkes.go.id tanggal 13 Januari 2020
  3. P2PTM Kemenkes RI. 2019. http://www.p2ptm.kemkes.go.id tanggal 5 Februari 2019
  4. Koesno, Dhita. Sejarah & Tema Hari Kanker Sedunia yang Diperingati 4 Februari 2021. https://tirto.id tanggal 27 januari 2021
  5. Fairuzzia, Jihan. 2020. Sejarah 4 Februari Menjadi Hari Kanker Sedunia. https://www.liputan6.com tanggal 4 Februari 2020
  6. Instagram Promkes Kemenkes RI 4 Februari 2021