Author: <span>anton</span>

Hati-Hati,  Lindungi Anak dan Remaja dari Target Pasar Industri Rokok

Oleh : Nur Handayani, S.KM

 Tingginya angka perokok di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah bangsa Indonesia. Bahkan sekarang perokok muda makin meningkat. Laporan Kementerian Kesehatan RI pada konferensi pers Hari Tanpa Tembakau (HTT) Sedunia 2023, jumlah perokok di Indonesia meningkat pada periode 2013 hingga 2019, terutama pada usia anak dan remaja yaitu lebih dari 2%. Bertambahnya jumlah perokok di kalangan anak dan remaja tentu perlu ditelaah lebih lanjut. Namun, bertambahnya jumlah perokok ini tentu membuat kita perlu mencegahnya. Karena tidak bisa dipungkiri, sekarang banyak kita temui anak-anak sekolah yang sudah mulai merokok di usianya yang masih muda.

Rokok seperti yang kita ketahui sangat berbahaya bagi kesehatan. Namun, walaupun berbahaya, kegiatan marketing dari produk ini tidak pernah mati. Bahkan iklan nya bisa kita lihat dengan mudahnya, misalnya saja di baliho-baliho jalan-jalan besar, bahkan ada beberapa yang menyasar didekat sekolah. Industri rokok tentu mempunyai alasan mengapa iklan tersebar hingga berada di sekitar sekolah. Menyebarnya iklan ini lebih kepada tujuan marketing yang menyasar tidak hanya kepada orang dewasa namun bisa menyasar juga kepada anak dan remaja.

Strategi iklan rokok yang dikemas sedemikian rupa kreatif, sisipan-sisipan nilai positif dan pesan-pesan yang dibuat sedemikian rupa sehingga membekas di pikiran dan menambah ketertarikan anak muda untuk mencoba rokok. Ini kemudian yang membuat muncul perokok-perokok pemula dari usia muda. Makin banyak muncul perokok pemula menambah keuntungan bagi industri rokok. Karena semakin muda usia perokok, kelak perokok pemula dengan usia muda sudah merokok, akan sulit melepas rokok saat dewasa nantinya.

Strategi marketing industri rokok tidak berhenti disitu saja, industri rokok juga memberikan dukungan terhadap beberapa kegiatan yang melibatkan anak dan remaja, misalnya saja sponsor acara-acara musik, film, seni, dan olahraga, serta CSR di berbagai bidang. Sehingga akan memunculkan citra positif tentang industri rokok dimata anak dan remaja. Faktor-faktor tersebut diatas ini yang kemudian menjadi perhatian untuk kita semua bahwa dunia anak dan remaja sangat dekat dengan industri rokok. Dimana ini akan memudahkan anak dan remaja masuk dalam daftar pelanggan industri rokok.

Kondisi demikian perlu kita cermati sehingga kita dapat mengetahui faktor apa saja yang menjadi pendorong anak dan remaja dari rokok. Selain strategi marketing industri rokok, harga rokok yang terbilang murah, ada beberapa faktor penyebab perilaku merokok pada anak dan remaja :

1.        Tekanan sosial

Remaja sering merasa tekanan dari teman-teman sebayanya untuk mencoba merokok. Merokok bisa dianggap sebagai cara untuk menunjukkan kemandirian, menyesuaikan diri dengan kelompok teman, atau bahkan sebagai tindakan yang keren atau dewasa.

2.        Faktor Genetik dan Psikologis

Beberapa remaja mungkin memiliki predisposisi genetik yang membuat mereka lebih rentan terhadap kecanduan nikotin. Selain itu, faktor psikologis seperti rasa ingin tahu, pencarian sensasi, atau ketidakmampuan untuk mengatasi stres dapat mendorong mereka untuk mencoba merokok.

3.        Iklan dan media

Iklan rokok dan penggambaran merokok dalam media dapat memengaruhi persepsi remaja terhadap merokok. Ketika merokok digambarkan sebagai sesuatu yang menarik, kuat, atau berkelas, remaja mungkin merasa tertarik untuk mencoba.

4.        Aksesibilitas

Ketersediaan rokok juga merupakan faktor penting. Jika remaja mudah mendapatkan akses ke rokok, baik melalui teman-teman, saudara kandung, atau toko yang tidak mematuhi peraturan usia, mereka lebih mungkin mencobanya.

5.        Kurangnya Kesadaran tentang Risiko Kesehatan

Beberapa remaja mungkin kurang menyadari risiko kesehatan yang terkait dengan merokok. Mereka mungkin merasa bahwa mereka masih muda dan tidak akan merasakan dampak buruknya dalam jangka pendek.

6.        Pengaruh keluarga

Jika anggota keluarga dekat merokok, remaja memiliki risiko lebih tinggi untuk mencoba merokok. Keluarga yang merokok bisa memberikan contoh yang memengaruhi perilaku anak-anak mereka.

7.        Gengsi sosial

Merokok kadang-kadang dianggap sebagai tindakan yang menunjukkan kedewasaan atau status sosial yang lebih tinggi. Ini bisa membuat beberapa remaja mencoba merokok untuk merasa “dewasa” atau “berkelas.”

8.        Kurangnya Pengetahuan Tentang Penghentian Merokok

Remaja mungkin kurang tahu tentang seberapa sulit menghentikan kebiasaan merokok jika sudah terlanjur mencoba. Mereka mungkin tidak menyadari betapa adiktifnya nikotin

                  Fase anak kemudian berkembang menjadi remaja kehidupannya dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain tekanan sosial, lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar, dimana akan mempengaruhi keputusan mereka tentang rokok. Perilaku merokok anak dan remaja perlu mendapat perhatian dan dapat segera diatasi. Karena pencegahan perilaku merokok pada anak dan remaja akan mengurangi risiko kesehatan jangka panjang.     

                  Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan anak dan remaja untuk mencegah perilaku merokok, antara lain :

·         Hindari berkumpul dengan teman – teman yang sedang merokok

·         Yakinlah,bahwa rokok bukan satu – satunya sarana pergaulan

·         Jangan malu mengatakan bahwa diri kita bukan perokok

·         Perbanyak mencari informasi tentang bahaya rokok

·         Hindari sesuatu yang terkait tentang rokok ( sponsor, iklan, poster, rokok gratis )

·         Lakukan hal – hal positif lainnya, seperti : olahraga, membaca atau hobi lain yang menyehatkan

Selain cara di atas, pencegahan perilaku merokok tidak saja menjadi tanggung jawab anak dan remaja itu sendiri, perlu ada dukungan peran tidak saja dari orang tua, pemerintah, tetapi semua warga Indonesia. Peran orangtua dibutuhkan anak, minimal orangtua tidak memberikan contoh sebagai perokok, karena anak adalah peniru ulung. Pemerintah dapat memberikan peran dengan membuat regulasi tentang rokok dan memberikan edukasi. Kita pun dapat memberikan dukungan dengan memberikan contoh perilaku hidup sehat dan tidak merokok.

                  Mulai sekarang yuk kita ambil langkah yang mampu dilakukan untuk mencegah munculnya perokok-perokok pemula, sehingga dapat mencegah munculnya risiko penyakit tidak menular kelak. Jagalah anak-anak kita dengan mengupayakan edukasi tentang bahaya rokok, memberikan kehangatan keluarga dan menciptakan lingkungan yang bebas rokok.

 

Referensi

 Kementrian Kesehatan RI. 2018. Apa faktor yang mendorong seseorang merokok ? https://p2ptm.kemkes.go.id/ tanggal 4 Juni 2018

Kementrian Kesehatan RI. 2018. Cara menghindari pengaruh untuk merokok. https://p2ptm.kemkes.go.id/ tanggal 4 Juni 2018

Kementrian Kesehatan RI. 2023. Perokok Muda: Mengungkap Faktor-Faktor yang Mendorong Remaja untuk Merokok. https://yankes.kemkes.go.id/ tanggal 19 Oktober 2023

Kementrian Kesehatan RI. 2023. Kaum Muda ASEAN Jadi Target Utama Industri Rokok. https://www.kemkes.go.id/ tanggal 25 Agustus 2023

FisipUI. 2018. Membongkar Strategi Industri Rokok yang Menjerat Anak dan Remaja. https://uiupdate.ui.ac.id/ tanggal 14 November 2018

CNNIndonesia. 2020. WHO: Industri Rokok Jadikan Remaja Sebagai Target Pasar. https://www.cnnindonesia.com/ tanggal 29 Mei 2020

Kementrian Kesehatan RI. 2020. Apa sebab remaja menjadi target pemasaran rokok? yuk, Simak. https://p2ptm.kemkes.go.id/ tanggal 30 Oktober 2020

Rokom Kementrian Kesehatan RI. 2013. Tanya Jawab: Perokok Remaja dan Bahayanya. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/ tanggal 5 November 2013

Dampak Perubahan Iklim pada Kesehatan Lansia: Ancaman yang Tak Terlihat

Oleh : Arifah B, SKM

Perubahan iklim memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung meliputi peristiwa cuaca ekstrem seperti paparan panas dan dingin, serta bencana alam yang sangat mempengaruhi kesehatan orang lanjut usia. Dampak tidak langsung mencakup pencemaran udara dan air, serta perubahan ekosistem yang mendukung penularan patogen melalui air, udara, makanan, dan vektor.

 

Bukti kuat menunjukkan bahwa efek langsung dan tidak langsung ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kronis, penyakit menular, penyakit yang ditularkan melalui air, malnutrisi, dan masalah kesehatan mental. Lansia berisiko lebih tinggi terkena dampak perubahan iklim dibandingkan populasi lainnya. Mereka rentan terperangkap di lingkungan buruk atau setelah kejadian ekstrem seperti banjir atau kekeringan, akibat kurangnya pendapatan, mobilitas, disabilitas, atau kelemahan. Orang lanjut usia juga berisiko lebih tinggi terkena penyakit terkait panas dan dingin, yang diperparah oleh hidup sendirian, komorbiditas, dan pengobatan. Selain itu, mereka lebih rentan mengalami dehidrasi dibandingkan orang muda karena perubahan fisiologis terkait penuaan, dan sangat rentan terhadap penyakit akibat virus dan bakteri.

 

Secara umum, dampak pada kesehatan lansia bervariasi dalam hal efek, waktu, dan ketahanan. Misalnya, peristiwa ekstrem seperti gelombang panas cenderung menyebabkan kejadian kardiovaskular segera, sementara gelombang dingin sering mengakibatkan penyakit pernapasan tertunda. Peristiwa banjir menyebabkan kematian akibat tenggelam, sementara kekeringan terkait dengan malnutrisi jangka panjang serta penyakit mental.

 

Dehidrasi ringan pada lansia dapat mempengaruhi kinerja mental dan ingatan, menyebabkan kelemahan, pusing, dan peningkatan risiko jatuh, sedangkan dehidrasi akut dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Oleh karena itu, berkurangnya akses air bersih selama kekeringan berdampak serius bagi lansia. Efek tidak langsung seperti peningkatan polusi udara dan penurunan kualitas udara dikaitkan dengan insiden penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), bronkitis kronis, asma, dan emfisema, sementara itu air yang terkontaminasi menyebabkan penyakit diare seperti disentri, hepatitis, kolera, dan tifus yang sering fatal bagi lansia.

 

Kurangnya gizi akibat pola makan buruk selama kekeringan memperburuk dampak kesehatan jangka panjang. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, lansia sangat rentan terhadap ketidakamanan pangan dan kekurangan akses sumber daya untuk produksi pangan, sering mengonsumsi makanan dengan nutrisi rendah dan terkontaminasi, yang menyebabkan tingginya penyakit dan kematian. Bahkan di negara berpenghasilan tinggi, malnutrisi pada lansia masih dapat terjadi, penurunan nutrisi bisa meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes dan penyakit jantung.

 

Perubahan iklim adalah tantangan serius bagi kesehatan lanjut usia, dengan dampak langsung dan tidak langsung yang berpotensi memperburuk kondisi kesehatan mereka. Dampak ini tidak hanya mencakup masalah kesehatan fisik seperti penyakit kardiovaskular, pernapasan, dan malnutrisi, tetapi juga menyentuh aspek mental dan emosional. Lansia rentan terperangkap dalam lingkungan yang buruk atau setelah bencana alam, dengan akses yang terbatas terhadap sumber daya dan bantuan.

 

Penting untuk mengembangkan program tanggap bencana yang lebih inklusif dan memperhitungkan kebutuhan khusus populasi lanjut usia. Dengan demikian, upaya mitigasi dan adaptasi dapat lebih efektif melindungi mereka dari dampak perubahan iklim yang semakin meresahkan. Dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan, perlindungan terhadap orang tua harus menjadi prioritas, karena mereka adalah bagian penting dari masyarakat yang harus diperhatikan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

 

Sumber:

Harper, Sarah. 2023. The Implications on Climate Change for the Health of Older Adults. https://link.springer.com/article/10.1007/s12062-023-09425-6

Kembali Fit Setelah Ramadan dan Lebaran

Oleh : Kristiriyandini, SKM

Selama sebulan puasa dibulan ramadhan, umat islam mengalami perubahan pola makan dan perubahan jam tidur, setelah itu dilanjutkan dengan lebaran .Saat lebaran, berbagai hidangan ringan dan berat tersedia dihampir setiap rumah. Berbagai makanan bersantan, daging-dagingan dan berbagai macam kue kering menjadi hidangan yang kadang tanpa sadar kita konsumsi secara berlebihan karena tersedia didepan mata kita. Perubahan pola makan dan pola tidur baik saat ramadan maupun lebaran, hendaklah kita sikapi dengan bijak agar tubuh kita tetap fit dan kembali menjalankan aktifitas seperti hari biasa. Lalu upaya apa saja yang bisa kita lakukan agar tubuh kita tetap kembali fit setelah ramadan dan lebaran? Berikut ini beberapa tips yang bisa kita upayakan :

 

    1. Kembalikan pola tidur agar kembali teratur

Selama berpuasa sebulan lamanya, jam tidur semakin pendek karena harus bangun sahur. Saat lebaran, perjalanan mudik dan suasana berkumpul dengan keluargapun mungkin juga mengurangi jam tidur kita, ditambah lagi lelah selama perjalanan mudik. Setelah ramadan dan lebaran, alangkah baiknya memperbaiki jadwal tidur kembali kurang lebih 8 jam sehari. Hal ini dilakukan agar badan tetap bugar dan kembali dapat beraktifitas dan bkerja seperti biasanya. Pola tidur yang teratur tersebut juga akan akan mampu menjaga imunitas tubuh, sehingga tubuh kita tidak mudah terkena penyakit.

 

    • Imbangi dengan Olahraga

Tak cukup hanya dengan pola tidur yang teratur. Perlu diimbangi juga dengan melakukan olahraga. Di Indonesia sendiri, kita direkomendasikan untuk melakukan olahraga selama 150 menit dalam seminggu atau 30 menit setiap hari atau minimal 3-5 hari dalam seminggu. U.S. Department of Health and Human Services juga merekomendasikan untuk melakukan olahraga selama setidaknya 150 menit per minggu. Apabila kita baru memulai olahraga jangan langsung memkasakan dengan durasi yang lama dan olahraga yg berat. Olahraga dengan durasi minimal 10 hingga 15 menit bisa kita lakukan diawal kegiatan olahraga kita., kemudian durasi berolahraga bisa dibangun pelan-pelan. Perlu juga memberi jeda hari tanpa berolahraga untuk beristirahat

 

    • Perbanyak Zat Gizi dan Serat

Untuk memperbaiki konsumsi makanan menjadi lebih padat gizi setelah menjalani puasa dan lebaran, alangkah baiknya memperbanyak zat gizi dan serat. Terdapat sebuah rumusan dalam memenuhi gizi protein sesuai kebutuhan badan masing-masing, yakni rumus 0,8 sampai dengan 1,2 dikali berat badan (BB) saat ini. Misalnya, 1x 50 kg (BB) berarti membutuhkan protein sebanyak 50 gram/hari. Untuk meningkatkan sistem imun, tubuh membutuhkan zat gizi makro dan mikro. Zat makro mencakup protein, lemak, dan karbohidrat, sedangkan yang mikro mencakup vitamin dan mineral. Kedua jenis gizi ini berperan sebagai imun booster, sedangkan khusus zat gizi makro menjadi pendukung utama produksi sel dalam tubuh, sehingga tubuh membutuhkan protein. Jangan lupa juga untuk membatasi lemak, mengurangi kolesterol dan hindari makan gorengan. Penting untuk perbanyak serat dari sayur, buah, biji-bijian.

 

    • Terapkan Mindful Eating

Makan berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas hingga berbagai penyakit kronis seperti diabetes hingga penyakit jantung. Agar lebih waspada dengan jumlah porsi makan, terapkan mindful eating yang dapat membantu untuk mengontrol jumlah makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Apa yang dimakhsud mindful eating? Mindful eating adalah praktik makan penuh perhatian dengan menjaga kesadaran penuh saat mengonsumsi makanan maupun minuman. Hindari multitasking atau ngobrol saat makan, supaya sadar dengan porsi yang dikonsumsi dan dapat menikmati rasa makanan. Selain itu, jangan abaikan respons tubuh. Mindful eating ini memang seharusnya kita terapkan dalam keseharian kita.

 

    • Cukupi kebutuhan air minum

Air adalah salah satu sumber daya alam yang paling penting untuk makhluk hidup setelah oksigen. Setidaknya 80% tubuh manusia terdiri dari cairan. Itulah faktor utama yang menyebabkan air lebih penting dari nutrisi apapun dalam tubuh. Saat Ramadan kita kadang kurang bisa mengatur jumlah air yang seharusnya kita konsumsi untuk memenuhi kebutuhan tubuh.  Oleh karena itu, hendaknya kita perbaiki kebiasaan ini. Air minum adalah nutrisi yang sangat penting. Tubuh memerlukan konsumsi air mineral 1 – 2,5 liter atau sama dengan 6 – 8 gelas sehari.

Namun, kebutuhan air setiap individu akan sangat beragam dan berbeda, tergantung dari kegiatan fisik, berat badan, usia, iklim, dan pola makan.

 

    • Puasa

Puasa Syawal memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan. Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof Hardiansyah menjelaskan bahwa puasa Syawal merupakan cara Allah SWT mendidik umat Islam untuk merawat disiplin dan kebaikan yang telah diraih saat ramadan. Momen puasa Syawal merupakan kesempatan menyiapkan diri untuk menjaga disiplin di bulan yang akan dating, terutama untuk merawat kondisi tubuh yang semakin bagus dibanding sebelum puasa ramadan. Selain puasa syawal, dibulan-bulan lain kita juga bisa melakukan ibadah puasa lainnya seperti puasa Senin dan Kamis, karena ternyata dari sisi medis, puasa memiliki banyak manfaat. Adapun manfaatnya yakni sebagai berikut:

 

    1. Mengontrol Gula Darah

Puasa dapat membantu mengurangi resistensi terhadap insulin serta kadar gula darah berlebih. Hal ini dapat terjadi karena insulin membantu mengontrol kadar gula darah dalam tubuh dengan cara membawa gula menuju sel tubuh dan menjadikannya sebagai sumber energi.

 

    • Mengurangi Peradangan

Puasa diketahui dapat mengurangi peradangan. Peradangan sendiri terjadi saat sistem imun sedang melawan infeksi dalam tubuh.

 

    • Meningkatkan Kesehatan Jantung

Puasa juga baik untuk kesehatan jantung. Mengubah pola makan (puasa) dan gaya hidup merupakan cara untuk mengurangi risiko penyakit jantung.

 

    • Meningkatkan Fungsi Otak

Tidak hanya menjaga kesehatan jantung, puasa juga dipercaya mempunyai manfaat yang mampu meningkatkan fungsi otak.

 

    • Membantu Menurunkan Berat Badan

Puasa dapat meningkatkan metabolisme dengan cara memperbanyak kadar neurotransmitter norepinefrin berkontribusi pada pengurangan berat badan.

 

    • Meningkatkan Hormon Pertumbuhan

Tidak hanya menurunkan berat badan, puasa juga dapat meningkatkan hormon pertumbuhan. Salah satunya yakni meningkatkan hormon pertumbuhan kekuatan otot.

 

    • Mencegah Kanker

Puasa dapat membantu sel tubuh membersihkan diri melalui proses yang disebut autofagi. Autofagi adalah proses di mana sel mencerna bagian dalam dirinya yang rusak atau yang tidak lagi diperlukan.

Nah itulah beberapa langkah untuk menjaga tubuh tetap bugar setelah Ramadan dan lebaran. Jadi langkah mana saja yang sudah mulai kamu ambil?. Kalau kamu bisa konsisten dengan langkah-langkah ini, tentu ini akan membawa dampak positif bagi badan

Sumber Pustaka:

https://lifestyle.kompas.com/read/2023/04/26/132122620/3-tips-hidup-sehat-dan-bugar-setelah-lebaran-menurut-ahli-gizi?page=all

https://ayosehat.kemkes.go.id/8-langkah-menuju-pola-hidup-sehat

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5556586/Mindful Eating: The Art of Presence While You Eat

 

Tetap Sehat dan Bugar di Bulan Puasa

By : Nur Handayani, S.KM

Tidak Terasa, kita sudah akan bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Persiapan apa nih yang sahabat paru siapkan dalam menyambut bulan Ramadhan kali ini? Bulan Ramadhan adalah bulan dimana umat muslim menjalankan ibadah puasa. Dalam berpuasa, umat muslim tidak makan dan minum dari terbit matahari hingga terbenamnya matahari. Ini yang kemudian seringkali menjadi tantangan bagi banyak orang dalam menjaga kesehatan. Terutama dengan perubahan pola makan dan minum selama periode puasa. Penting untuk tetap memperhatikan asupan nutrisi agar tubuh tetap bugar dan sehat. Berikut adalah beberapa tips dan trik yang efektif untuk tetap sehat di bulan puasa:

Peran Sahur Sangat Penting

Sahur adalah waktu penting untuk mempersiapkan tubuh menghadapi puasa seharian, sehingga usahakan selalu makan sahur. Pilihlah makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, serta vitamin dan mineral. Penting untuk tidak merokok dan memperbanyak makan makanan berserat seperti buah dan sayuran. Perbanyak minum air putih 8-10 gelas mulai buka puasa sampai sahur. Hindari mengkonsumsi makanan berminyak, Makanan berminyak menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah, sehingga aliran oksigen menjadi berkurang dan mengakibatkan mengantuk pada siang hari. Selain itu, makanan ini akan meningkatkan risiko kenaikan kolesterol dalam tubuh Anda. Selain itu, penumpukkan lemak bisa membuat berat badan naik saat puasa. Lebih baik pilih makanan yang direbus, dikukus, atau dipepes yang biasanya lebih rendah lemak. 

Saat Berbuka Puasa

Saat berbuka puasa hendaklah makan secukupnya. Langsung memakan banyak makanan hanya akan membuat perut sesak, makanlah secara bertahap, mulai dari air putih, dan sedikit makanan manis. Upayakan berbuka dengan yang manis alami tanpa gula, seperti kurma. Ketika makan malam, makanlah secukupnya. Jangan karena perut kosong seharian, pola makan kita  balas dendam. Makan terlalu banyak saat malam hari menyebabkan obesitas. Hindari juga minum kopi dan soda karena membuat sulit tidur & menimbun banyak lemak.

Olahraga

Walaupun puasa, sebaiknya olahraga tetap dijalankan dengan cara berolahraga ringan. Hindari olahraga yang berjenis endurance (daya tahan fisik) dan yang berkenaan dengan kecepatan, karena bisa menguras energi. Cukup lakukan aktivitas fisik yang ringan, seperti yoga, jalan kaki, maupun stretching. Lakukan olahraga secara rutin minimal 30 menit agar badan tetap bugar. Saat melakukan olahraga, jangan lupa perhatikan apakah tubuh mampu melanjutkannya atau tidak. Waktu olahraga yang disarankan adalah waktu mendekati waktu berbuka puasa.

Cukup Istirahat

Saat menjalankan puasa, pola tidur kita berubah. Bila kita tidak mensiasatinya, tentu badan menjadi gampang lelah. Jika harus bangun pagi untuk menyiapkan makan sahur, maka jangan tidur terlalu malam untuk keperluan yang tidak penting. Kurang tidur akan memengaruhi kinerja otak sehingga menghambat aktivitas Anda nantinya.

Kendalikan Stres

Stres seringkali melanda kita saat ada tekanan dalam hidup, tekanan dalam pekerjaan atau mungkin ada tekanan dalam sekolah. Selama berpuasa untuk mengurangi stress, kita bisa lebih mendekatkan diri dengan Tuhan melalui memperbanyak ibadah.

Cek Kesehatan secara berkala terutama pada penderita penyakit tertentu

Jangan lupa tetap kontrol tekanan darah dengan rutin bagi penderita hipertensi, kontrol gula darah secara teratur bagi penyandang Diabetes, dan kontrol secara rutin untuk penyakit tidak menular lainnya.

Dengan mengikuti tips di atas, diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan selama bulan puasa. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya.

Referensi

5 Tips Agar Tetap Bugar saat Puasa Selama di Rumah Saja. https://hellosehat.com/

Pantang Lemas, Ini 9 Tips agar Tubuh Tetap Fit Saat Berpuasa! https://hellosehat.com/

Kementrian Kesehatan. Media Sehat Puasa.  https://kesmas.kemkes.go.id/

Kementrian Kesehatan. 2018. Tips Sehat Selama Bulan Ramadhan. https://promkes.kemkes.go.id/ tgl 4 Juni 2018

Maklumat Pelayanan RS Paru Respira 2024

Menyambut Hari Tuberkulosis Sedunia: Tantangan dan Tips Berpuasa bagi Pasien Tuberkulosis selama Bulan Ramadan

Oleh : Shukhalita Swasti Astasari, S.KM

Tuberkulosis berada di peringkat ke-13 sebagai penyebab kematian, sementara termasuk penyakit menular kedua terbanyak setelah COVID-19. Diperkirakan ada sekitar 10,6 juta kasus tuberkulosis (TBC) di seluruh dunia pada tahun 2021. Hari Tuberkulosis Sedunia jatuh pada tanggal 24 Maret tahun ini, yang bersamaan dengan awal bulan suci Ramadan. Bagaimana para pasien TBC menghadapi tantangan berpuasa selama bulan Ramadan?

Berpuasa adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu melakukannya, namun ada kelonggaran bagi orang sakit, termasuk penderita tuberkulosis (TBC), yang dapat menggantinya di lain hari. Keputusan untuk berpuasa kembali diserahkan kepada pasien TBC, dengan mempertimbangkan kondisi kesehatannya. Jika efek samping obat membuat puasa tidak memungkinkan, pasien TBC resisten obat dapat tidak berpuasa dan membayar fidyah atau menggantinya di waktu lain. Pasien TBC dapat berpuasa dengan menjaga jadwal minum obat, bahkan dengan memindahkannya ke waktu malam atau sebelum sahur.

Bagi mereka yang dapat berpuasa, hal tersebut dapat meningkatkan imunitas terhadap TBC dengan membunuh kuman penyebabnya, Mycobacterium tuberculosis. Puasa juga menyebabkan perubahan pada pola makan dan kualitas makanan, yang merupakan stressor bagi tubuh dan merangsang respon imun. Respons tubuh selama puasa meliputi perubahan endokrin, sistem saraf, dan sistem imun, yang meningkatkan pertahanan tubuh terhadap infeksi TBC. Melalui puasa, sistem imun merespons secara optimal, menghambat infeksi TBC pada bagian tubuh yang sehat. Selain itu, puasa terbukti meningkatkan metabolisme dan pertahanan tubuh secara keseluruhan.

 

Penderita TBC yang tidak dapat berpuasa karena efek samping obat yang berat, seperti pada pasien TBC resistan obat, diperbolehkan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu. Mereka disarankan untuk membayar fidyah atau menggantinya di waktu lain. Orang dengan tuberkulosis boleh berpuasa, asalkan tetap teratur minum obat setiap hari. Jadwal minum obat yang semestinya pagi atau siang dapat dipindahkan ke malam hari.

 

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan pasien TBC saat berpuasa, diantaranya :

·        Pasien harus tidur cukup minimal 7 jam per hari,

·        Lakukan olahraga rutin minimal 5 hari dalam 1 minggu (sekitar 30 menit per harinya),

·        Hindari rokok dan konsumsi alkohol. Selain alkohol diharamkan bagi umat muslim, alkohol juga dapat berinteraksi dengan obat-obat TBC.

·        Batasi pengonsumsian minuman yang mengandung soda maupun kafein, seperti kopi atau the.

·        Saat sahur, sebaiknya hindari makanan yang berminyak,

·        Perbanyak makanan berserat seperti buah dan sayur, serta minum air putih (1 gelas setelah bangun tidur dan saat sahur).

·        Kemudian saat berbuka, minum air putih (1 gelas saat: berbuka, setelah sholat maghrib, makan malam, sholat isya, sholat tarawih, dan sebelum tidur).

Namun perlu diperhatikan bahwa pengaturan minum air putih ini ditujukan bagi pasien TBC tanpa komorbid (penyakit penyerta). Jika pasien memiliki komorbid selain TBC, misalnya mengalami penyakit jantung, maka perlu ada pengaturan asupan cairan sesuai dengan petunjuk dokter. Pasien juga disarankan untuk mengonsumsi makanan sesuai dengan porsi gizi seimbang, yang terdiri dari 1/3 bagian piring berisi makanan pokok, 1/3 bagian piring berisi sayuran, 1/6 bagian piring berisi buah-buahan, dan 1/6 piring berisi lauk pauk hewani dan nabati.

Kiat pengobatan pasien TB, yaitu:

·        Obat dosis tunggal: diminum secara teratur 1 jam-30 menit sebelum sahur. Obat ini dianjurkan untuk diminum sebelum sahur untuk memaksimalkan kerja obat saat perut kosong.

·        Obat dosis terbagi atau obat lepasan (terdiri dari beberapa jenis obat yang tidak bisa diminum secara bersamaan): diminum secara teratur, ada yang diminum pada saat berbuka puasa, ada yang diminum setelah makan malam, dan sisanya diminum saat setelah sahur.

Jika obat memiliki dosis 2×1,maka dapat dibagi dengan 1 (satu) dosis diminum saat sahur dan 1 (satu) dosis saat berbuka puasa. Sedangkan untuk obat dengan dosis 3×1 atau 4×1, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter guna mempertimbangkan kemungkinan mengubah dosis menjadi 1×1 atau 2×1.

 

Sumber :

·        https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/178/puasa-bagi-penderita-penyakit-tb-paru-

·        https://www.halodoc.com/artikel/puasa-sehat-tingkatkan-imun-pengidap-tbc-begini-cara-kerjanya

·        https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/berita/seminar-awam-bicara-sehat-puasa-pada-pasien-tb-aapakah-bisa-mengganggu-pengobatan

·        Syarifah, Fitri. 2023. Yang Harus Diperhatikan Pasien Tuberkulosis Jika Ingin Puasa Ramadhan. https://www.liputan6.com/

Emang Ada TB Kelenjar ? Ada Dong

Oleh : Susilawati, SKM

TBC Kelenjar itu apa ya?

 

TBC Kelenjar adalah Penyakit yang disebabkan oleh Bakteri Mycobacterium Tuberculosis atau bakteri penyebab Tuberculosis. Bakteri ini menyerang kelenjar getah bening pada tubuh manusia, ditandai dengan pembesaran atau pembengkakan pada area tertentu. Biasanya menyerang kelenjar pada bagian leher dan sekitarnya. Diantara kasus TBC Kelenjar, kasus terbanyak terjadi pada kelenjar getah bening di leher.

                Kondisi ini umumnya menular saat seseorang menghirup udara yang terkontaminasi Mycobacterium Tuberculosis atau kuman TBC. Dari paru-paru, kuman TBC dapat berpindah ke kelenjar getah bening terdekat, termasuk kelnjar getah bening di leher. TBC Kelenjar ini masih banyak ditemukan di Negara berkembang dengan angka penderita TBC yang masih tinggi.

                TBC kelenjar dapat menyerang orang dewasa, lansia, maupun ank-anak, terlebih mereka yang mengalami kelemahan sistem kekebalan tubuh. Salah satu tanda khas dari TBC Kelenjar ini, adalah munculnya benjolan pada bagian leher atau kepala. Biasanya benjolan ini akan membesar seiring berjalannya waktu dan tidak nyeri.

 

Apasih Gejala dan Tanda TBC Kelenjar Itu ?

·         Gejala Utama : Pembesaran kelenjar getah bening, tersering disekitar leher, ketiak, lipat paha dan sekitar rahang.

·         Demam

·         Batuk

·         Penurunan Berat Badan

·         Nafsu makan menurun

·         Mudah lelah

·         Keringat banyak terutama di malam hari

 

Gimana sih cara mengetahui seseorang terkena TBC Kelenjar?

                Diagnosis penyakit ini umumnya dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan penelusuran riwayat penyakit oleh dokter. Jika diduga menderita TBC Kelenjar, dokter akan menyarankan pemeriksaan penunjang berupa biopsi ( pengambilan sampel jaringan ) terhadap benjolan. Untuk membantu diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan berupa rontgen dada, CT scan pada leher, tes darah dan pemeriksaan biakan kuman TBC. Setelah hasil pemeriksaan keluar, dokter dapat merekomendasikan pengobatan kepada pasien.

 

Bagaimana sih cara mengobati TBC Kelenjar ?

                Pengobatan TBC Kelenjar sama dengan pengobatan TBC biasa. Lama pengobatan bervariasi antara 6-12 bulan tergantung kondisi pasien. Setelah beberapa minggu diberi obat, penyakit ini kebanyakan sudah tidak menular dan penderita merasakan kondisi tubuhnya sudah jauh lebih baik. Kendati badan sudah terasa lebih enteng, tapi setiap pasien TBC Kelenjar perlu merampungkan pengobatan sampai batas waktu yang sudah di rekomendasikan oleh dokter.

 

                Apabila pengobatan tidak tuntas, bakteri penyebab TBC bisa resisten atau kebal obat. Pasien TBC resisten obat perlu mengulangi pengobatan dari awal dengan masa pengobatan yang lebih lama dan dengan obat yang lebih keras. Tuberkulosis atau TBC Kelenjar dapat dicegah dengan menjaga sistem daya tahan tubuh tetap prima, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menjalani gaya hidup sehat, serta mengonsumsi asupan bergizi cukup dan seimbang.

Bagaimana kita bisa mengenali batuk TBC?

Oleh: Gina Lutviana, Paula Sivananda, Irmayani

TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman bakteri Mycobacterium Tuberculosis.  TBC adalah penyakit menular, bakteri Tuberculosis (TB) dapat menyebar dengan cara yang sama dengan flu, tetapi penularannya tidak mudah. Infeksi TB biasanya menyebar antar anggota keluarga yang tinggal serumah. Pasien aktif (orang yang terinfeksi TB) dapat menularkan TBC kepada 10-15 orang disekelilingnya setiap tahun. Seseorang bisa terinfeksi saat duduk disamping penderita di dalam bus atau kereta api. Penyakit ini ditularkan melalui cairan atau cipratan air liur yang dikeluarkan seseorang dari hidung atau mulut saat bersin, batuk, bahkan berbicara dari seseorang yang terinfeksi kuman TB. Kuman TB ini menyebar ke udara saat penderita batuk atau bersin. Di udara kuman TBC akan melayang selama 1 sampai 2 jam. Sebagian bakteri akan mati akibat terkena sinar matahari dan sebagian menyebar bersama angin. Kuman TBC akan bertahan selama berjam-jam bahkan berbulan-bulan ketika berada diruangan lembab dan gelap. Gejala paling khas yang ditimbulkan penyakit tuberkulosis yaitu batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Keluhan batuk TBC dan batuk biasa tentu berbeda. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali perbedaan batuk biasa dengan batuk TBC.

Batuk merupakan respon alami dari tubuh sebagai sistem pertahanan untuk mengeluarkan benda asing seperti bakteri dan virus yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, batuk yang berkepanjangan mengindikasikan suatu gejala yang patut kita waspadai. Batuk lama dapat mengindikasikan terdapat masalah pada saluran pernapasan. Berikut adalah perbedaan batuk biasa dengan batuk yang disebabkan oleh kuman TBC:

  1. Berdasarkan penyebabnya

Batuk biasa pada umumnya disebabkan oleh virus, polusi, asma, dan penyakit-penyakit lainnya. Beberapa orang akan mengalami batuk jika memiliki saluran pernapasan yang sensitif dan terpapar udara yang kotor. Ketika tubuh terinfeksi virus ini, saluran pernapasan menjadi meradang yang menghasilkan batuk sebagai respons tubuh untuk membersihkan lendir dan bahan asing dari saluran pernapasan. Sedangkan, TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini tersebar melalui udara. Selain paru, bakteri ini dapat menyerang organ lain di tubuh seperti kelenjar getah bening, tulang belakang, lapisan otak, hingga ke saluran pencernaan. Penyakit ini sangat mudah menular melalui udara yang terpapar bakteri. Penularan akan lebih rentan terjadi jika penderita TBC tidak menutup mulut dengan benar ketika batuk atau bersin.

  • Lama batuk dan warna dahak

Pada batuk biasa yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti flu atau pilek. Batuk cenderung berlangsung dalam rentang waktu singkat, biasanya hanya beberapa hari hingga maksimal dua minggu. Selama periode ini, batuk dapat bersifat kering atau produktif dengan dahak, yang umumnya berwarna putih atau kuning.

Di sisi lain, batuk TBC menunjukkan karakteristik yang berbeda. Batuk yang terkait dengan TBC memiliki durasi yang lebih panjang, yaitu setidaknya tiga minggu atau bahkan lebih lama. Selama periode ini, batuk cenderung berdahak yang dapat memiliki beberapa perbedaan dari batuk biasa. Dahak yang muncul dalam kasus TBC dapat mengalami perubahan warna menjadi kuning kehijauan atau bahkan berdarah. Adanya darah dalam dahak menjadi salah satu ciri khas yang membedakan batuk TBC dari batuk biasa.

Oleh karena itu, jika seseorang mengalami batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu dengan dahak berwarna berdarah atau mencurigakan, penting untuk segera mencari evaluasi medis yang mendalam untuk mengidentifikasi kemungkinan tuberkulosis.

Sedangkan batuk biasa, pada umumnya bisa sembuh dalam beberapa hari tanpa harus melakukan perawatan khusus.Salah satu perbedaan batuk TBC dengan batuk biasa adalah durasi lamanya batuk. Batuk TBC biasanya berlangsung lebih dari 2 minggu. Sementara itu batuk biasa pada umumnya sembuh dalam beberapa hari tanpa harus meminum obat tertentu atau melakukan perawatan, tergantung dari penyebabnya.

  • Tahap munculnya batuk

Tahap kemunculan batuk dapat menjadi perbedaan batuk TBC dengan batuk biasa. Batuk biasa umumnya muncul secara tiba-tiba, lalu menghilang dengan cepat dalam beberapa hari.

Sementara itu, penderita TBC melalui dua tahapan setelah terinfeksi, yakni tahap awal dan tahap aktif. Pada tahap awal, bakteri sudah masuk masuk ke dalam paru, tetapi belum menyebabkan keluhan dan belum menularkan karena bakteri belum aktif. Saat memasuki tahap aktif, penderita akan mengalami keluhan seperti batuk yang cukup parah. Pada tahap ini, penyakit TBC dapat menular kepada orang lain. Nah, waktu peningkatan dari tahap awal ke tahap aktif berbeda-beda, tergantung dari sistem imunitas masing – masing individu. Jika daya tahan tubuh lemah, orang tersebut menjadi sakit TBC, namun bila daya tahan tubuh kuat, orang tersebut akan tetap sehat.

  • Gejala lain yang menyertai

Perbedaan batuk TBC dengan batuk biasa dapat dilihat dari gejala penyerta yang muncul. Penyakit TBC biasanya disertai gejala lain, sedangkan batuk biasa umumnya tidak disertai gejala-gejala lain yang khas. Gejala penyerta batuk TBC, antara lain: batuk terus menerus, kadang disertai darah, demam meriang yang hilang timbul, menggigil, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, nyeri dada dan sesak napas. Sementara gejala penyerta dari batuk biasa umumnya hanya demam ringan, sakit kepala atau bahkan tanpa gejala penyerta.

  • Waktu pengobatan

Penyakit TBC dapat disembuhkan. Namun, penting bagi pasien untuk meminum obat secara teratur dan disiplin selama 6-9 bulan atau lebih lama tergantung ada tidaknya organ lain yang ikut terinfeksi bakteri TBC. TBC yang resisten obat akan lebih sulit diobati, biayanya lebih mahal, dan bisa berakibat fatal. Obat anti TBC lini pertama yang membentuk inti dari rejimen pengobatan adalah: Isoniazid, Rifampisin, Etambutol dan Pirazinamid. Rejimen pengobatan TBC terdiri dari fase intensif selama dua bulan, diikuti dengan fase lanjutan selama empat atau enam bulan (atau lebih lama lagi). Sementara itu, pengobatan batuk jenis lainnya akan bergantung dari penyebabnya. Jika batuk disebabkan oleh bakteri lain, biasanya dokter akan memberikan obat antibiotik selama 5-14 hari tergantung dari jenis bakterinya, sementara bila penyebabnya virus atau alergi hanya diberikan obat-obatan suportif untuk mengurangi gejala.

Referensi:

Aditama T. Tuberkulosis, Diagnosis, Terapi dan Masalah. Jakarta: Lab Mikrobakteriologi RSUP Persahabatan; 2013. 249.

Danususanto (2011). Buku saku ilmu penyakit paru. Jakarta: EGC. hal:139- 154.

Darliana D, Keilmuan B, Medikal K. Manajemen Pasien Tuberculosis Paru. Idea Nurs J. 2011;2(1):27–31.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. 2011.

Maitra K dan Kumar V.(2007). Paru dan saluran nafas, Dalam : Kumar V, Cortan R, Robbins S (7). Buku ajar patologi robbins dalam volume 2, Jakarta : EGC. hal: 544.

PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia). 2006. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Indah Offset Citra Grafika. Jakarta

Setiati S et. al. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. VI. Jakarta: Interna Publishing; 2017. 863–868.

Widyanto, F. C. & Triwibowo, C. trend disease trend penyakit saat ini. (CV. Trans Info Media, 2013).

Maitra K dan Kumar V.(2007). Paru dan saluran nafas, Dalam : Kumar V, Cortan R, Robbins S (7). Buku ajar patologi robbins dalam volume 2, Jakarta : EGC. hal: 544.

Kerentanan Penularan HIV-AIDS Pada Ibu Rumah Tangga

Oleh: Nur Handayani, S.KM

HIV, yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menargetkan dan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dengan menyerang sistem kekebalan tubuh, HIV melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. Meskipun belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit HIV, terdapat berbagai pengobatan yang dapat memperlambat perkembangan penyakit dan memungkinkan penderita untuk menjalani kehidupan yang lebih normal dan sehat. Ketika HIV berkembang menjadi tahap akhir, kondisi ini dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), di mana tubuh hampir tidak memiliki kemampuan untuk melawan infeksi. Adapun penyebabnya HIV-AIDS adalah :

– Hubungan seksual tanpa pelindung dengan orang yang terinfeksi.

– Penggunaan bersama jarum suntik yang terkontaminasi.

– Dari ibu ke anak selama kehamilan, saat melahirkan, atau melalui ASI.

– Transfusi darah yang terkontaminasi.

                  Kasus HIV-AIDS di Indonesia pertama kali muncul sekitar tahun 1987. Dalam pperkembangannya, jumlahnya semakin naik. Berdasarkan laporan tahunan Kementrian Kesehatan kasus HIV-AIDS hingga September 2022, Orang dengan HIV (ODHIV) yang bertahan dalam ARV hanya 51%; dari yang tidak mengalami pengobatan, 54% mangkir dan 6% menghentikan ARV, sedangkan 40% mengalami kematian. Untuk tahun 2023 ini, masih menurut Kementrian Kesehatan, jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV mencapai 35%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kasus HIV pada kelompok lainnya seperti suami pekerja seks dan kelompok MSM (man sex with man).

                  Tingginya kasus HIV-AIDS pada ibu rumah tangga berkaitan dengan banyak hal. Berikut beberapa hal yang berhubungan dengan kerentanan ibu rumah tangga terhadap penularan HIV-AIDS, antara lain :

  • Pendidikan dan pengetahuan

Pendidikan ibu dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu tentang HIV-AIDS. Ibu dengan pendidikan rendah cenderung kurang pengetahuan tentang HIV-AIDS. Masih pada ibu dengan pendidikan rendah, cenderung melakukan tindak pencegahan yang rendah dikarenakan kurangnya kepedulian ataupun kesadaran tentang risiko terinfeksi HIV-AIDS. Selain itu juga bisa terjadi kekeliruan pengetahuan dan pemahaman tentang HIV-AIDS.  Sedangkan ibu yang berpendidikan dapat mempengaruhi wawasan ibu tentang pendidikan seks, penyakit menular seksual, sehingga mampu melakukan pencegahan penyakit seksual.

  • Ekonomi

Pekerjaan dan pendapatan berhubungan dengan kemudahan mencari dan mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Semaikin baik pekerjaan dan pendapatan dapat mempengaruhi ibu memperoleh informasi HIV-AIDS yang benar dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Faktor ekonomi yang sulit dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan dapat memaksa ibu untuk menjadi pekerja seks. Ini yang kemudian ibu menjadi rentan dalam penularan HIV-AIDS.

  • Sikap dan perilaku

Sikap dipengaruhi salah satunya oleh pendidikan. Semakin baik pendidikan ibu, semakin positif sikap yang terbentuk. Ibu dapat berperan dalam upaya pencegahan HIV-AIDS. Disini perlu peran promosi kesehatan yang mendorong ibu mau dan mampu dalam melakukan upaya pencegahan HIV-AIDS. Sedangkan untuk perilaku, berkaitan erat dengan pendidikan dan sikap. Semakin baik pendidikan dan sikap ibu,akan memudahkan dalam upaya mencegah perilaku berisiko terhadap HIV-AIDS.

  • Sosial

Faktor sosial salah satu contohnya penggunaan kondom. Seringkali muncul pandangan buruk mengenai pemakain kondom. Individu bisa menjadi malu untuk membicarakan hal tersebut. Penggunaan kondom juga masih sering diasumsikan hanya digunakan oleh pekerja seks. Faktor sosial yang lain adalah gender. Ada anggapan bahwa pria menjadi pihak yang kuat dan wanita menjadi pihak yang tertindas dalam hubungan suami istri. Ketika istri terinfeksi HIV, pihak istri yang cenderung disalahkan. Padahal, tidak jarang penularan HIV-AIDS berasal dari suami. Pria cenderung tidak terbuka terhadap permasalahan seksual kepada istrinya, baik yang aman maupun berisiko. Dalam kehidupan rumah tangga perlu adanya keterbukaan termasuk hubungan suami istri, sehingga akan mudah untuk menghindari perilaku berisiko.

  • Usia

Usia mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu objek sehingga dapat dikatakan bahwa usia ibu akan mempengaruhi tingkat pemahaman dan dengan  risiko  dan  kondisi  yang  akan dialami oleh  seorang  ibu,  baik  dari  aspek fisiologis maupun dari aspek psikologis. Aspek fisiologis, seperti struktur organ atau kondisi hormonal seorang ibu. Sementara aspek psikologis, seperti pengalaman,  lingkungan,atau banyaknya informasi yang diperoleh terkait HIV/AIDS. Saat usia ibu matang ketika menikah, ibu dapat memahami risiko penularan HIV-AIDS dengan mengakses informasi HIV-AIDS yang benar.

                  Ibu yang terinfeksi HIV tidak hanya akan berdampak terhadap diri si ibu tetapi juga terhadap anak yang dilahirkan. Ibu dapat menularkannya kepada anak yang dilahirkannya. Penularan HIV melalui jalur ibu ke anak menyumbang sebesar 20-45% dari seluruh penularan HIV. Dampaknya, 45% bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV akan lahir dengan HIV dan sepanjang hidupnya menyandang status HIV positif. Untuk itu dibutuhkan tes HIV saat ibu hamil, salah satunya untuk mendeteksi penularan HIV-AIDS, sehingga dapat diupayakan pencegahan. Tapi berdasarkan data kementrian kesehatan, hanya 55% ibu hamil yang di tes HIV karena sebagian besar tidak mendapatkan izin suami untuk di tes.

                  Pencegahan penularan HIV-AIDS perlu diupayakan untuk menekan angka HIV-AIDS di Indonesia. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan HIV-AIDS, antara lain :

  • Perlunya ibu memberdayakan diri sehingga ibu mampu mengakses informasi HIV-AIDS yang benar sehingga dapat menghindari perilaku berisiko.
  • Perlunya memperkuat dasar agama untuk membentengi perilaku
  • Praktik Seks Aman. Selalu gunakan kondom saat berhubungan seksual untuk mengurangi risiko penularan HIV dan penyakit menular seksual lainnya.
  • Hindari Berbagi Jarum dan Alat Suntik. Jangan pernah berbagi jarum atau peralatan yang digunakan untuk menyuntikkan obat dengan orang lain. Ini adalah salah satu cara umum penularan HIV.
  • Tes dan Konseling. Lakukan tes HIV secara rutin jika Anda berisiko, dan konsultasikan dengan dokter tentang cara-cara pencegahan yang efektif.
  • Edukasi dan Kesadaran. Edukasi tentang HIV dan pentingnya pencegahan harus disebarkan luas. Ini termasuk mengedukasi tentang pentingnya penggunaan kondom, risiko berbagi jarum, dan pentingnya tes dini.
  • Penggunaan PrEP. Bagi mereka yang berisiko tinggi terkena HIV, penggunaan profilaksis pra-paparan (PrEP) bisa menjadi opsi. PrEP adalah obat yang diambil sebelum paparan HIV untuk mengurangi risiko infeksi.
  • Pengobatan Ibu Hamil. Wanita hamil yang terinfeksi HIV harus menjalani pengobatan khusus untuk mengurangi risiko penularan virus ke bayi yang belum lahir.
  • Penggunaan Perlengkapan Medis yang Steril. Pastikan bahwa setiap peralatan medis yang digunakan, seperti jarum untuk tindik atau tato, adalah steril untuk menghindari risiko penularan.

         Pencegahan penularan HIV-AIDS tidak saja menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga menjadi tanggung jawab kita semua. Karena tingginya kasus HIV-AIDS akan berdampak tidak saja pada sektor kesehatan, tapi juga sektor lainnya. Pencegahan bisa dimulai dari komunitas terkecil, yaitu keluarga. Perlunya ada porsi peran ibu dan peran ayah dalam berkontribusi dalam keluarga dan perlu keterbukaan suami istri dalam segala hal termasuk hubungan suami istri. Dan penting pula keluarga mendekatkan diri dengan Tuhan untuk membentengi perilaku keluarga.

Referensi

Adjrina Dawina Putri, dkk. 2022.  Kerentanan Ibu Rumah Tangga Di Indonesiaterhadap Hiv/Aids : Literature Review. PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 6, Nomor 3, Desember 2022

Kementrian Kesehatan. 2023. Kasus HIV dan Sifilis Meningkat, Penularan Didominasi Ibu Rumah Tangga. https://p2p.kemkes.go.id/ tanggal 20 Mei 2023

Kementrian Kesehatan. 2022. Ayo Cari Tahu Apa Itu HIV. https://yankes.kemkes.go.id/ tanggal 31 Juli 2022

Kementrian Kesehatan. HIV. https://ayosehat.kemkes.go.id/

Kementrian Kesehatan. AIDS. https://ayosehat.kemkes.go.id/

Dewi,D.M.S.K.,Wulandari,L.P.L.,and Wirawan,D.N. (2018). Determinan Sosial Kerentanan Perempuan Terhadap Penularan IMS dan HIV, Journal of Public Health Research and Community Health Development,2(1),pp.22–35.https://doi.org/10.20473/jphrecode.v2i1.16250

Octavianty,L.,Rahayu,A.,Rosadi,D.,and Rahman,F.(2015).Pengetahuan, Sikap Dan Pencegahan HIV/AIDS Pada Ibu Rumah Tangga‟, Jurnal Kesehatan Masyarakat,11(1),53.https://doi.org/10.15294/kemas.v11i1.3464

PIAGAM PENGHARGAAN

PIAGAM PENGHARGAAN PANRB SEBAGAI UNIT PENYELENGGARA PELAYANAN PUBLIK KATEGORI "PELAYANAN PRIMA 2023"