Tingkatkan Standar Pelayanan, RS Paru Respira laksanakan Pemaparan Laporan Budaya Keselamatan
BANTUL – Dalam rangka memperkuat komitmen terhadap keamanan pasien (patient safety), RS Paru Respira menyelenggarakan agenda penting berupa pemaparan Laporan Budaya Keselamatan pada Selasa, 14 April 2026. Acara yang bertempat di Aula Pertemuan RS Paru Respira ini diikuti oleh jajaran direksi, komite keselamatan pasien, serta kepala instalasi dan unit kerja.
Budaya keselamatan pasien merupakan fondasi utama dalam operasional rumah sakit. Pemaparan ini bertujuan untuk memotret sejauh mana nilai-nilai keselamatan telah tertanam dalam aktivitas sehari-hari setiap tenaga medis maupun non-medis di lingkungan rumah sakit.
Fokus pada Perbaikan Berkelanjutan
Menghadirkan narasumber dr. Nungki Dian Pratiwi, sesi ini mengupas tuntas data hasil survei dan observasi lapangan terkait budaya keselamatan. Dalam pemaparannya, dr. Nungki menjelaskan bahwa menciptakan lingkungan yang aman memerlukan transparansi dan keberanian untuk melaporkan setiap insiden tanpa rasa takut akan sanksi (non-punitive culture).
“Budaya keselamatan adalah tentang bagaimana kita belajar dari kesalahan. Kita tidak hanya melihat angka, tetapi memahami perilaku organisasi. Dengan laporan yang akurat, kita dapat merancang sistem yang lebih kuat untuk mencegah terjadinya kesalahan yang sama di masa depan,” jelas dr. Nungki.
Poin-Poin Utama Laporan
Laporan yang dipaparkan mencakup beberapa dimensi krusial, di antaranya:
- Keterbukaan Komunikasi: Sejauh mana staf merasa nyaman mendiskusikan potensi bahaya atau kesalahan yang terjadi saat memberikan pelayanan.
- Dukungan Manajemen: Peran aktif pimpinan dalam memprioritaskan keselamatan di tengah dinamika pelayanan kesehatan.
- Respons Terhadap Kesalahan: Peralihan fokus dari menyalahkan individu menjadi perbaikan sistem secara menyeluruh.
- Beban Kerja dan Staf: Analisis pengaruh rasio jumlah tenaga terhadap risiko keselamatan kerja.
Langkah Strategis ke Depan
Hasil dari laporan ini akan menjadi dasar bagi RS Paru Respira untuk menyusun rencana tindak lanjut (RTL) yang konkret. Integrasi antara teknologi informasi, seperti optimalisasi SIMRS dalam pelaporan insiden, dan pelatihan berkelanjutan bagi staf menjadi agenda prioritas ke depan.
Direktur RS Paru Respira dalam sambutannya menegaskan bahwa evaluasi berkala seperti ini adalah wujud nyata dari akuntabilitas rumah sakit kepada publik. Dengan budaya keselamatan yang kuat, RS Paru Respira optimis dapat memberikan pelayanan yang tidak hanya bermutu tinggi, tetapi juga memberikan rasa aman yang maksimal bagi seluruh pasien dan keluarga.
