Berita

Tingkatkan Keselamatan Lingkungan Kerja, RS Paru Respira Gelar Praktik K3RS 2026

Bantul-(21/8)Rumah Sakit Khusus Paru (RSKP) Respira secara konsisten berkomitmen menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan siap menghadapi berbagai situasi darurat. Komitmen ini diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan Praktik K3RS (Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit) 2026 yang diikuti oleh seluruh staf dan jajaran pegawai.

Pelaksanaan kegiatan K3RS ini bertujuan untuk memastikan seluruh tenaga kesehatan maupun non-kesehatan di lingkungan rumah sakit memiliki pemahaman mendalam serta keterampilan praktis mengenai prosedur keselamatan kerja dan tanggap darurat sesuai SOP yang berlaku.

Fokus Utama Pelatihan K3RS 2026

Dalam rangkaian praktik K3RS tahun ini, peserta dibekali dengan tiga materi utama yang krusial bagi operasional rumah sakit:

  • Penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan): Pelatihan teknis mengenai cara mengoperasikan APAR dengan tepat dan cepat saat terjadi indikasi bahaya kebakaran di area rumah sakit.
  • Pengelolaan Utilitas Rumah Sakit: Penanganan dan pengawasan sistem kelistrikan, ketersediaan air, serta sistem pendukung operasional lainnya untuk menjamin keberlangsungan layanan medis tanpa hambatan.
  • Simulasi Bencana dan Evakuasi: Uji kesiapsiagaan, prosedur evakuasi pasien dan staf, serta manajemen tanggap darurat saat terjadi situasi krisis atau bencana alam.

Mewujudkan Lingkungan Rumah Sakit yang Lebih Selamat

Melalui pelatihan dan simulasi ini, RSKP Respira menekankan tiga pilar utama keselamatan:

  1. Lindungi Diri dan Orang Lain: Kesadaran bersama untuk saling menjaga keamanan staf, pasien, dan pengunjung.
  2. Pahami Prosedur dan SOP: Penerapan langkah kerja yang terstruktur demi meminimalkan risiko kecelakaan kerja.
  3. Tanggap Cepat, Selamat Bersama: Kepastian respons sigap dalam menangani setiap potensi bahaya di lapangan.

Dengan terselenggaranya Praktik K3RS 2026 ini, RSKP Respira siap memberikan pelayanan kesehatan prima yang didukung oleh standar keselamatan dan kenyamanan lingkungan kerja terbaik.

RS Paru Respira Gelar IHT K3RS 2026: Tingkatkan Kompetensi Demi Wujudkan Budaya Kerja Aman dan Pelayanan Bermutu

Tingkatkan Mutu Pelayanan dan Keselamatan Kerja, RS Paru Respira Gelar IHT K3RS 2026

Bantul – Keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan rumah sakit merupakan salah satu fondasi utama dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang prima dan tepercaya. Memahami pentingnya hal tersebut, RS Paru Respira Yogyakarta secara resmi menggelar kegiatan In House Training Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (IHT K3RS) 2026 pada Kamis (20/08/2026).

Berlangsung di Ruang Amartha RS Paru Respira sejak pukul 07.30 hingga 13.00 WIB, agenda rutin tahunan ini melibatkan seluruh lini elemen karyawan, baik tenaga medis, tenaga kesehatan lainnya, hingga staf pendukung non-medis.

Pada penyelenggaraan tahun ini, IHT K3RS mengusung tema “Penguatan Kompetensi dan Profesionalisme Menuju Budaya Kerja Aman, Sehat dan Produktif”. Tema ini dipilih sebagai bentuk penegasan komitmen RS Paru Respira dalam membangun lingkungan kerja yang tidak hanya responsif terhadap tindakan medis, tetapi juga proaktif dalam memitigasi serta mengelola risiko keselamatan di area rumah sakit.

Pentingnya Penerapan Budaya K3 di Rumah Sakit

Rumah sakit merupakan tempat kerja dengan potensi risiko yang kompleks, mulai dari bahaya biologis, fisik, kimia, hingga ergonomi dan psikososial. Oleh karena itu, penguatan kompetensi K3 bagi seluruh staf menjadi langkah krusial. Melalui paparan materi dan diskusi interaktif dalam pelatihan ini, jajaran RS Paru Respira diajak untuk lebih peka terhadap potensi bahaya di lingkungan kerja masing-masing.

Adapun beberapa poin penting dan tujuan utama yang disoroti dalam pelaksanaan IHT K3RS 2026 ini meliputi:

  • Peningkatan Pemahaman & Kompetensi: Memastikan seluruh insan rumah sakit memahami standar operational prosedur (SOP) keselamatan kerja yang berlaku secara konsisten.
  • Penumbuhan Budaya Kesadaran K3: Mengubah pola pikir dari sekadar menggugurkan kewajiban regulasi menjadi sebuah kesadaran bersama untuk saling menjaga keselamatan sesama rekan kerja.
  • Pencegahan Kecelakaan Kerja & PAK: Menerapkan langkah preventif secara terukur untuk meminimalkan potensi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
  • Penciptaan Lingkungan Kerja Ideal: Mewujudkan ekosistem kerja yang aman, sehat, nyaman, serta produktif sehingga para pegawai dapat memberikan performa terbaiknya.
  • Keberlanjutan Mutu Pelayanan: Menjamin bahwa mutu serta keamanan pelayanan kesehatan bagi pasien dan pengunjung senantiasa terjaga sesuai standar mutu nasional.

Komitmen untuk Pasien dan Masyarakat

Melalui momentum pelaksanaannya, RS Paru Respira terus mempertegas slogan keselamatan internalnya: “Utamakan Keselamatan Kerja Demi Kita, Keluarga, dan Pasien”.

Manajemen RS Paru Respira berharap, usainya kegiatan pelatihan ini dapat semakin memperkokoh profesionalisme para karyawan dalam memberikan pelayanan kesehatan paru terbaik, aman, dan berkualitas tinggi bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya secara berkelanjutan.

MALAS GERAK APAKAH TIDAK SEHAT?

Mari, Mulai Aktif dari Hal-Hal Kecil!

Oleh:Nur Handayani, S.KM

Pernahkah Anda berniat beristirahat sejenak, tetapi tanpa terasa sudah berjam-jam duduk sambil menggulir media sosial? Di tengah kesibukan kuliah, pekerjaan, tugas, rapat daring, hingga hiburan digital, duduk terlalu lama dan minim bergerak memang mudah menjadi kebiasaan. Sesekali beristirahat tentu bukan masalah. Namun, ketika sebagian besar waktu dalam sehari dihabiskan tanpa banyak bergerak, tubuh kehilangan kesempatan untuk memperoleh berbagai manfaat aktivitas fisik.

Aktivitas fisik tidak selalu berarti olahraga berat atau harus pergi ke pusat kebugaran. Menurut World Health Organization (WHO), aktivitas fisik mencakup berbagai gerakan tubuh yang menggunakan energi, termasuk berjalan kaki, bersepeda, bermain, melakukan pekerjaan rumah tangga, serta aktivitas rekreasi. Artinya, berjalan kaki ke minimarket, menggunakan tangga, membersihkan kamar, bersepeda, atau berjalan ketika memiliki kesempatan pun merupakan bagian dari aktivitas fisik. Jadi, aktivitas fisik tidak harus selalu identik dengan olahraga yang melelahkan. Setiap gerakan tetap berarti.

Mengapa Tubuh Perlu Bergerak?

Ketika tubuh terlalu lama berada dalam kondisi pasif, berbagai dampak terhadap kesehatan dapat muncul. Kurangnya aktivitas fisik berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit tidak menular, antara lain penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes melitus tipe 2, serta beberapa jenis kanker. WHO juga menempatkan aktivitas fisik yang tidak memadai sebagai salah satu faktor risiko penting bagi kesehatan.

Karena itu, bergerak bukan hanya tentang menjaga berat badan atau penampilan. Aktivitas fisik merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan, kebugaran, dan kualitas hidup dalam jangka panjang. Tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Ketika gerakan semakin jarang menjadi bagian dari keseharian, kesempatan tubuh untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas fisik juga semakin berkurang.

Ketika Rutinitas Membuat Tubuh Terlalu Lama Diam

               Bagi generasi muda dan pekerja, tantangannya sering kali bukan karena tidak mengetahui pentingnya aktivitas fisik. Kesibukan dan kebiasaan menggunakan perangkat digital justru membuat aktivitas duduk semakin sulit disadari.Duduk mengerjakan tugas, bekerja di depan komputer, mengikuti rapat daring, menonton film, bermain gim, hingga menggulir media sosial dapat membuat waktu berlalu tanpa terasa.

   Dalam kondisi seperti ini, aktivitas fisik sering kali baru dilakukan ketika sudah memiliki waktu luang. Padahal, waktu luang yang panjang belum tentu selalu tersedia. Karena itu, kebiasaan bergerak tidak harus menunggu adanya waktu khusus. Gerakan dapat disisipkan di tengah rutinitas yang sudah ada.

Tidak Harus Langsung Berat

               WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit per minggu, atau kombinasi keduanya. Selain itu, orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas penguatan otot yang melibatkan kelompok otot utama setidaknya dua hari dalam seminggu.

Rekomendasi tersebut merupakan target umum yang dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kemampuan, dan kebiasaan masing-masing. Namun, untuk mulai bergerak, seseorang tidak harus langsung mencapai target tersebut dalam satu waktu. Kebiasaan aktif dapat dibangun secara bertahap.

   Berjalan kaki selama 10–15 menit, melakukan peregangan setelah duduk cukup lama, memilih menggunakan tangga apabila memungkinkan, berjalan sebentar setelah belajar atau bekerja, melakukan pekerjaan rumah, atau bergerak mengikuti musik favorit dapat menjadi langkah awal yang sederhana. Sedikit tetapi konsisten jauh lebih baik daripada menunggu waktu yang sempurna untuk mulai bergerak.

Mulai dari Gerakan Kecil

               Aktivitas fisik tidak harus selalu dilakukan dalam waktu khusus. Gerakan dapat menjadi bagian alami dari rutinitas sehari-hari. Berjalan ketika menerima telepon, mengambil minum sendiri, memilih berjalan kaki untuk jarak yang memungkinkan, melakukan pekerjaan rumah, atau berjalan sebentar setelah belajar dan bekerja merupakan cara sederhana untuk membuat tubuh tetap aktif.

               Kebiasaan kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat membantu meningkatkan jumlah aktivitas fisik dalam sehari. Bergerak juga tidak selalu membutuhkan pakaian olahraga, tempat khusus, atau waktu yang panjang. Yang terpenting adalah memberikan tubuh kesempatan untuk bergerak di sela-sela aktivitas.Dengan demikian, aktivitas fisik tidak perlu dipandang sebagai kewajiban yang berat atau sesuatu yang harus dilakukan dengan terpaksa. Aktif bergerak dapat menjadi bagian dari keseharian yang sederhana, menyenangkan, dan realistis.

Gaya Hidup Sehat Dibangun Bersama

               Aktif bergerak merupakan salah satu bagian dari gaya hidup sehat, tetapi bukan satu-satunya. Tubuh membutuhkan dukungan dari berbagai kebiasaan baik yang dilakukan secara seimbang. Pola makan bergizi seimbang membantu memenuhi kebutuhan nutrisi. Tidur yang cukup memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri. Kemampuan mengelola stres membantu menjaga keseimbangan fisik dan mental. Menghindari rokok serta menjaga kesehatan mental juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan kualitas hidup. Tidak ada satu kebiasaan yang dapat menggantikan kebiasaan sehat lainnya. Kesehatan dibangun dari berbagai pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Bergerak dengan Cara yang Disukai

   Setiap orang memiliki kemampuan, kondisi, dan kesukaan yang berbeda. Ada yang merasa nyaman berjalan kaki, bersepeda, berenang, menari, bermain olahraga bersama teman, atau melakukan latihan kekuatan. Tidak perlu mengikuti aktivitas yang dilakukan orang lain jika aktivitas tersebut tidak sesuai dengan kemampuan atau minat. Pilihlah aktivitas yang aman, nyaman, menyenangkan, dan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Ketika aktivitas fisik terasa menyenangkan, menjadikannya sebagai kebiasaan akan menjadi lebih mudah.

   Bagi seseorang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau mengalami keluhan saat melakukan aktivitas fisik, pemilihan jenis dan intensitas aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan dapat dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Rebahan Boleh, Bergerak Jangan Lupa

               Beristirahat setelah menjalani aktivitas sepanjang hari merupakan hal yang wajar. Rebahan, menikmati hiburan, atau sekadar bersantai dapat menjadi bagian dari waktu istirahat. Namun, tubuh tetap membutuhkan gerakan agar tidak terus-menerus berada dalam kondisi pasif. Satu langkah kecil dapat menjadi awal yang berarti. Berdiri dari kursi setelah duduk cukup lama, berjalan beberapa menit, melakukan peregangan, menggunakan tangga, atau melakukan pekerjaan rumah dapat menjadi kesempatan untuk membuat tubuh lebih aktif.

               Tidak perlu menunggu perubahan besar. Tidak perlu langsung melakukan aktivitas yang berat. Mulailah dari gerakan sederhana yang dapat dilakukan hari ini, kemudian lakukan secara bertahap dan konsisten. Pada akhirnya, hidup sehat bukan tentang menjadi sempurna. Hidup sehat adalah tentang memberikan perhatian kepada tubuh melalui berbagai kebiasaan baik yang dapat dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa menit bergerak mungkin terasa kecil. Namun, ketika dilakukan berulang kali, gerakan kecil tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, terbentuk gaya hidup. Dan dari gaya hidup yang lebih aktif, terbuka peluang untuk memiliki tubuh yang lebih sehat dan kehidupan yang lebih berkualitas.

Referensi

  1. World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: World Health Organization.
  2. World Health Organization. (2024). Physical activity. WHO.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  5. World Health Organization. (2020). Healthy diet. WHO.

Tips Menjaga Paru-Paru Tetap Sehat di Musim Kemarau

Penulis : Ayesha Amanda Larasati (Mahasiswa PKL – D!V Promkes UNY)
Editor : Shukhalita Swasti A.,S.KM

Musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering di sejumlah
wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak
musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli-September 2026.
Musim kemarau ditandai dengan kondisi cuaca yang lebih kering, minimnya curah hujan, serta
pergerakan udara yang cenderung melambat. Kondisi ini menyebabkan polutan lebih mudah
terakumulasi di atmosfer.
Namun, musim kemarau tidak hanya identik dengan cuaca panas. Musim kemarau yang panjang
kerap disertai peningkatan konsentrasi debu dan partikel polutan di udara, sementara kualitas udara
merupakan salah satu komponen lingkungan yang sangat menentukan derajat kesehatan
masyarakat. Pencemaran udara akibat aktivitas manusia seperti transportasi bermotor, kegiatan
industri, pembangunan perkotaan, serta pembakaran bahan bakar dan limbah secara terbuka, yang
mana telah menyebabkan penurunan kualitas udara di berbagai wilayah.
Penurunan kualitas udara tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada
anak-anak yang sistem pernapasannya masih berkembang dan cenderung lebih sensitif
dibandingkan orang dewasa. Paparan debu berlebih dapat menyebabkan iritasi saluran napas,
memperburuk asma dan bronkitis, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA).
Dampak polusi udara tidak berhenti pada keluhan sesaat. Paparan yang berlangsung terus-menerus
dapat menyebabkan perubahan fungsi paru, baik yang masih dapat dipulihkan maupun yang
bersifat permanen. Bahkan, polusi udara juga berisiko memengaruhi kesehatan jantung.
Sejumlah faktor risiko dapat memperberat dampak polusi udara terhadap kesehatan, di antaranya:

  1. Usia balita (0-5 tahun)
    Paru-paru balita masih dalam tahap perkembangan, dan anak yang lahir prematur memiliki
    risiko yang lebih tinggi.
  2. Riwayat alergi atau asma
    Debu merupakan salah satu pemicu (trigger) utama serangan asma dan rinitis alergi.
  3. Lokasi tempat tinggal
    Tinggal di dekat jalan raya yang tidak beraspal, area konstruksi, atau lahan kosong yang
    kering meningkatkan risiko paparan debu.
  4. Kondisi rumah
    Rumah dengan ventilasi buruk, karpet tebal, atau gorden yang jarang dibersihkan dapat
    menjadi tempat menjebaknya debu.
  5. Kebiasaan merokok
    Asap rokok yang bercampur dengan debu menciptakan efek sinergis yang jauh lebih
    beracun bagi saluran pernapasan, terutama pada anak.

Berbagai faktor risiko tersebut menegaskan pentingnya menjaga dan mempertahankan kualitas
kesehatan tubuh selama musim kemarau panjang berlangsung. Beberapa langkah yang dapat
dilakukan antara lain:

  1. Cek kualitas udara secara berkala
  2. Gunakan masker saat kualitas udara memburuk
  3. Perbanyak minum air putih serta batasi konsumsi alkohol atau kafein
  4. Hindari asap rokok dan sumber polusi lainnya
  5. Kurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara buruk dan tutup ventilasi saat tingkat
    polusi tinggi
  6. Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
  7. Lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus
  8. Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika muncul keluhan pernapasan

Merujuk pada poin terakhir, penting untuk mengetahui tanda-tanda yang mengharuskan seseorang
segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Jangan tunda untuk memeriksakan ke dokter jika mengalami tanda-tanda berikut:

  1. Batuk yang menetap lebih dari 2 minggu, terutama jika semakin memberat pada malam
    atau pagi hari.
  2. Sesak napas ditandai dengan tarikan dinding dada bagian bawah masuk ke dalam (retraksi),
    lubang hidung kembang kempis, atau tampak kesulitan berbicara akibat napas yang
    pendek.
  3. Mata merah, bengkak, atau keluar kotoran mata (belek) yang tidak kunjung membaik
    meski sudah dibersihkan.
  4. Demam tinggi disertai batuk produktif (berdahak), yang dapat mengindikasikan
    pneumonia.
  5. Anak tampak lemas, menolak menyusu atau makan, atau produksi urine berkurang yang
    mana merupakan tanda dehidrasi atau infeksi berat.
  6. Sianosis (kebiruan pada bibir atau kuku), kondisi ini gawat darurat dan memerlukan
    penanganan segera.

REFERENSI
1. Jannah, R. (2026, 19 Juli). Kemarau ekstrem ancam kesehatan pernapasan. NU Online.
https://www.nu.or.id/nasional/kemarau-ekstrem-ancam-kesehatan-pernapasan-vJ8Xy
2. Media Indonesia. (2026, 26 Juni). Musim kemarau, Bicara Udara luncurkan Knowledge Hub
polusi udara. https://mediaindonesia.com/humaniora/904620/musim-kemarau-bicara￾udara-luncurkan-knowledge-hub-polusi-udara
3. Rahmadania, S. R. (2026, 19 Juni). Waspada kemarau panjang di RI, Kemenkes bagikan tips jaga
kesehatan tubuh. detikHealth. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-
8537572/waspada-kemarau-panjang-di-ri-kemenkes-bagikan-tips-jaga-kesehatan-tubuh

4. Rumah Sakit Pusat Pertamina. (2026, 11 Juni). Panduan menjaga kesehatan anak dari polusi debu
musim kemarau. https://rspp.co.id/artikel-detail-1180-Panduan-Menjaga-Kesehatan-Anak￾dari-Polusi-Debu-Musim-Kemarau.html
5. Najwa, H., Lende, J., Akbar, M., Safa, S., Atfal, B., & Hadiatun, N. (2026). Jurnal Sains Natural
(JSN) Hubungan Kualitas Udara dengan Kejadian ISPA pada Dewasa: Analisis Kluster
Epidemiologi dan Uji Korelasi Biostatistik (The Relationship Between Air Quality and the
Incidence of Acute Respiratory Infections (ARI) in Adults: Epidemiological Cluster
Analysis and Biostatistical Correlation Test). Agustus, (2). https://doi.org/10.35746/v4i2.970

Peringati HUT ke-81 RI, RS Paru Respira Gelar Upacara Bendera Khidmat untuk Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

BANTUL – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rumah Sakit Paru Respira melaksanakan Upacara Pengibaran Bendera Sang Merah Putih pada Senin, 17 Agustus 2026. Upacara berlangsung dengan khidmat di halaman depan RS Paru Respira dan diikuti oleh segenap jajaran manajemen, tenaga medis, serta staf pelayanan kesehatan.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara pada kesempatan kali ini adalah dr. Tri Setiana Kusumadewi, Sp.PD, Subsp.PMK (K).

Dalam amanatnya, dr. Tri Setiana menegaskan pentingnya semangat kemerdekaan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Tema peringatan HUT ke-81 RI tahun ini, “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, hendaknya dihayati dan diwujudkan secara nyata oleh seluruh jajaran civitas hospitalia RS Paru Respira melalui komitmen pelayanan yang profesional, berorientasi pada keselamatan pasien, serta ber-AKHLAK.

“Mengisi kemerdekaan bagi kita di sektor pelayanan kesehatan adalah dengan terus berkarya, bekerja sepenuh hati, menjaga persatuan, serta memberikan akses pelayanan kesehatan paru yang berkualitas dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat,” ungkapnya.

Prosesi pengibaran Sang Merah Putih berlangsung aman, tertib, dan penuh rasa nasionalisme. Seluruh peserta upacara tampak penuh semangat mengikutinya dari awal hingga selesai.

Melalui momentum peringatan kemerdekaan ini, RS Paru Respira terus berkomitmen untuk mendukung pembangunan kesehatan nasional menuju Nusantara Baru, Indonesia Maju.

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di RS Paru Respira 🇮🇩✨

Senin, 17 Agustus 2026, RS Paru Respira melaksanakan Upacara Pengibaran Sang Merah Putih di halaman RS Paru Respira. Upacara berlangsung khidmat dengan dr. Tri Setiana Kusumadewi, Sp.PD, Subsp.PMK (K) bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Mari terus melangkah bersama, mengisi kemerdekaan dengan karya, menjaga persatuan, dan memberikan pelayanan kesehatan terbaik untuk mewujudkan Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81! 🎉 Nusantara Baru, Indonesia Maju!

Semarakkan HUT RI ke-81, RS Paru Respira Bagikan Bendera Merah Putih untuk Memupuk Semangat Nasionalisme

Bantul — (15/8)Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, RS Paru Respira turut berpartisipasi aktif memeriahkan momentum bersejarah ini melalui aksi pembagian bendera Merah Putih.

Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan komitmen nyata RS Paru Respira dalam menumbuhkan semangat nasionalisme, rasa cinta tanah air, serta mempererat tali persatuan dan kebersamaan di lingkungan rumah sakit maupun masyarakat sekitar.

Pembagian bendera dilakukan secara langsung kepada para pegawai, pengunjung, hingga pasien yang berada di area RS Paru Respira. Suasana kekeluargaan dan antusiasme tampak mewarnai jalannya aksi simpatik tersebut.

Menjaga Semangat Kemerdekaan dan Kebersamaan

Melalui aksi ini, pihak manajemen RS Paru Respira berharap dapat menularkan energi positif dan menginspirasi banyak pihak untuk terus menyemarakkan bulan kemerdekaan.

“Pembagian bendera Merah Putih ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ajakan bagi kita semua untuk terus merawat semangat kebangsaan. Kami berharap seluruh pegawai dan masyarakat dapat menyemarakkan peringatan HUT RI ke-81 ini dengan mengibarkan bendera Merah Putih di lingkungan masing-masing,” ujar perwakilan manajemen RS Paru Respira.

Selain memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat, RS Paru Respira berkomitmen untuk terus hadir dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan sosial serta peringatan hari besar nasional demi menjaga rasa persatuan bangsa.

Merdeka!

Strategi Komprehensif Penanggulangan TBC: RS Paru Respira Perkuat Perubahan Diagnosis, Terapi, hingga Edukasi Pasien

Amarta (15/08/2026) — Sebagai upaya mendukung percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC), Rumah Sakit (RS) Paru Respira menggelar kegiatan sosialisasi mendalam mengenai penatalaksanaan TBC terkini. Acara ini dihadiri oleh tenaga medis, pemerhati kesehatan, serta masyarakat guna menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas layanan penanganan TBC di fasilitas kesehatan.

Penanggulangan TBC memerlukan langkah komprehensif mulai dari akurasi diagnosis, penanganan efek samping obat, edukasi psikososial pasien, hingga tata laksana khusus pada pasien dengan kondisi penyerta seperti HIV.

Sosialisasi ini berfokus pada percepatan penanggulangan TBC dengan mengupas tuntas empat pilar utama penanganan TBC modern, yang meliputi:

  • Perubahan Penegakan Diagnosis dan Terapi TBC Sensitif Obat (SO) & Resisten Obat (RO): Membahas pembaruan standar pemeriksaan agar diagnosis lebih cepat dan akurat serta pemilihan rejimen terapi yang tepat.
  • Manajemen Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT): Memberikan panduan praktis mengenali dan mengatasi berbagai efek samping obat selama masa pengobatan.
  • Edukasi Pasien TB: Strategi komunikasi terapeutik dan pendampingan psikososial untuk memastikan pasien patuh berobat hingga sembuh.
  • Penatalaksanaan TBC pada Koinfeksi HIV: Panduan klinis penanganan pasien yang mengalami TBC sekaligus HIV secara bersamaan guna menekan angka morbiditas dan mortalitas.

Acara ini menghadirkan para pakar klinis dan tenaga kesehatan profesional dari RS Paru Respira yang ahli di bidangnya masing-undang:

  • dr. Ramaniya Kirana, Sp.P — Memaparkan materi mengenai Perubahan Penegakan Diagnosis dan Terapi TBC SO dan TBC RO.
  • dr. Diana Septiyanti, Sp.P — Menjelaskan materi seputar Efek Samping OAT dan Penanganannya.
  • Atikah Rasa Fauzia, S.Kep.Ns — Membawakan sesi penting mengenai Edukasi Pasien TB dari sudut pandang keperawatan.
  • dr. Dian Fitria Kusumawardani, Sp.PD — Mengupas tuntas Penatalaksanaan TBC pada HIV berdasarkan pedoman medis terbaru.

Kegiatan sosialisasi ini dilangsungkan sebagai bagian dari program berkala RS Paru Respira dalam rangka memperkuat jejaring layanan kesehatan paru di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya guna mencapai target eliminasi TBC nasional.

Sosialisasi diselenggarakan di RS Paru Respira, sebuah rumah sakit rujukan terkemuka yang berkomitmen penuh dalam pelayanan kesehatan paru dan pernapasan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penerapan materi dari para narasumber dijabarkan melalui langkah-langkah taktis berikut:

  • Akurasi & Kecepatan Diagnosis (dr. Ramaniya Kirana, Sp.P): Peralihan menuju metode deteksi dini yang lebih sensitif (seperti Tes Cepat Molekuler/TCM) menjadi kunci utama untuk membedakan secara cepat antara TBC Sensitif Obat dan TBC Resisten Obat demi pemilihan terapi yang tepat sasaran.
  • Mitigasi Efek Samping (dr. Diana Septiyanti, Sp.P): Pasien dibekali pemahaman mengenai efek samping ringan hingga berat dari OAT (seperti gangguan lambung atau perubahan warna urine), disertai langkah penanganan medis yang tepat agar pasien tidak panik dan memutuskan menghentikan pengobatan secara sepihak.
  • Pendekatan Edukasi Holistik (Atikah Rasa Fauzia, S.Kep.Ns): Peran perawat sangat vital dalam memberikan dukungan moril, memastikan keteraturan minum obat melalui Pengawas Menelan Obat (PMO), serta memberikan edukasi pencegahan penularan di lingkungan rumah tangga.
  • Integrasi Terapi Koinfeksi (dr. Dian Fitria Kusumawardani, Sp.PD): Penanganan pasien TBC dengan HIV memerlukan sinkronisasi pengobatan Antiretroviral (ARV) dan OAT secara hati-hati untuk meminimalkan risiko interaksi obat serta efek simpang (rebound inflamasi).

Catatan Penting: Keberhasilan penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada kecanggihan medis di rumah sakit, melainkan juga sinergi yang kuat antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan lingkungan sosial untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia Bebas TBC.

Penguatan Mutu Layanan Kesehatan: Mengintip Situasi Terkini Penanggulangan TBC RO di DIY Melalui Audit Klinis Kolaboratif

RS Paru Respira Amarta (13/08/2026) . Penanggulangan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) di Indonesia, termasuk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menghadapi tantangan kompleks mulai dari kepatuhan pasien, manajemen efek samping, hingga hambatan psikososial dan stigma. Guna mendongkrak angka keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate) dan mengevaluasi mutu layanan secara komprehensif, sebuah langkah strategis lintas sektor diwujudkan melalui Audit Klinis Layanan TBC RO.

Kegiatan utama yang disoroti adalah Audit Klinis Layanan TBC RO (Tuberkulosis Resistan Obat). Audit klinis ini merupakan proses evaluasi dan peninjauan secara sistematis terhadap rekam medis, tata laksana klinis, kepatuhan pedoman nasional, serta respons pengobatan pasien.

Dalam kerangka penanggulangan TBC RO terkini, fokus utama diarahkan pada penerapan rejimen pengobatan jangka pendek (6 bulan) yang memberikan manfaat lebih baik bagi pasien maupun tenaga kesehatan. Namun, evaluasi mendalam tetap diperlukan guna menekan angka kegagalan dan kasus putus obat (loss to follow-up) yang masih menjadi tantangan di lapangan.

Keberhasilan penanggulangan TBC RO di DIY tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi pentahelix yang melibatkan berbagai unsur penting, antara lain:

  • Tenaga Ahli Klinis Eksternal dari RSUP Dr. Kariadi: Berperan sebagai expert reviewer yang memberikan supervisi, pandangan objektif, serta asistensi klinis tingkat lanjut.
  • Dinas Kesehatan DIY & Dinas Kesehatan Kab. Bantul: Sebagai pemangku kebijakan wilayah yang mengoordinasikan regulasi, sinkronisasi data kohort, dan distribusi logistik layanan kesehatan.
  • Tim TB RO RS Paru Respira DIY: Sebagai garda terdepan fasilitas kesehatan rujukan yang mengelola perawatan langsung bagi pasien TBC RO.
  • Komunitas Siklus Indonesia & Yayasan TERBESAR (Yayasan Penyintas Tuberkulosis Terbesar Yogyakarta): Organisasi berbasis komunitas dan paguyuban penyintas yang memegang peranan krusial dalam memberikan dukungan psikososial, pendampingan minum obat, pelacakan kontak, serta penghapusan stigma bagi pasien TBC RO.

Program dan intervensi audit klinis ini berpusat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta , dengan cakupan implementasi yang menyentuh fasilitas kesehatan rujukan utama seperti RS Paru Respira serta fasyankes pendukung di tingkat kabupaten/kota.

Pelaksanaan audit klinis dan evaluasi kohort TBC RO ini berjalan secara berkesinambungan sepanjang tahun 2025 dan 2026. Mengingat dinamika penanganan kasus yang terus diperbarui menyesuaikan pedoman Kementerian Kesehatan RI, koordinasi rutin antar-fasyankes dan komunitas diadakan secara berkala—baik secara tatap muka maupun hibrida—untuk memastikan tidak ada pasien yang luput dari pantauan medis.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa kegiatan audit klinis dan penguatan jejaring TBC RO ini sangat krusial dilakukan di DIY:

  • Belum Tercapainya Target Keberhasilan Optimal: Meskipun ada perbaikan tren kesehatan, angka keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate) masih harus terus didorong naik guna mencegah mortalitas dan resistensi obat yang lebih parah (Extensively Drug-Resistant TB / XDR-TB).
  • Identifikasi Masalah Dini: Audit klinis bertujuan mendeteksi secara dini kendala klinis maupun hambatan program (seperti manajemen efek samping obat yang berat) agar intervensi dapat segera dieksekusi.
  • Peran Strategis Komunitas: Pasien TBC RO membutuhkan dukungan mental yang kuat. Keterlibatan komunitas seperti Yayasan TERBESAR dan Siklus Indonesia terbukti efektif mencegah pasien drop out (putus berobat) berkat pendekatan humanis dari sesama penyintas.

Penanggulangan TBC RO di DIY dijalankan melalui serangkaian langkah taktis dan terpadu:

  1. Review Rekam Medis Komprehensif: Tim ahli klinis eksternal (RSUP Dr. Kariadi) bersama tim internal RS Paru Respira menelaah riwayat pengobatan pasien, hasil uji kepekaan obat, hingga kecocokan dosis.
  2. Penguatan Jejaring Layanan dan Kohort: Dinkes DIY dan Dinkes Kab. Bantul memperkuat sinkronisasi sistem pencatatan nasional serta memperketat evaluasi kohort berkala.
  3. Pendampingan Berbasis Komunitas: Kader dari Komunitas Siklus Indonesia dan Yayasan TERBESAR mendampingi pasien secara langsung di lapangan, memastikan kepatuhan minum obat (KPMO), serta merangkul keluarga pasien untuk meminimalisir stigma sosial di tengah masyarakat.

Situasi penanggulangan TBC RO di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan progres yang progresif berkat sinergi yang solid antara pemerintah, rumah sakit rujukan, tenaga ahli eksternal, dan gerakan komunitas. Melalui Audit Klinis Layanan TBC RO, mutu pelayanan kesehatan diharapkan terus meningkat, sehingga eliminasi TBC di Yogyakarta pada tahun 2030 bukan lagi sekadar target, melainkan kenyataan yang dapat diwujudkan bersama.

Pelatihan In-House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) ke-4: Kunci Tanggap Darurat Henti Jantung Lewat Simulasi Praktis Pentingnya Kesiapsiagaan Menghadapi Kegawatdaruratan Medis

RS Paru Respira, RuangAmarta (12/08/2026) – Kesehatan dan keselamatan jiwa merupakan prioritas utama di berbagai lingkungan, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan maupun area publik. Henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan menimpa siapa saja tanpa mengenal waktu.

Sebagai langkah taktis dalam meningkatkan mutu keselamatan pasien serta membekali tenaga kerja agar sigap menghadapi situasi krisis, program In-House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) diadakan secara berkala bagi tenaga medis maupun non-medis.

In-House Training Bantuan Hidup Dasar (IHT BHD) adalah program pelatihan internal untuk melatih keterampilan dasar penyelamatan nyawa. Dalam pelatihan ini, fokus utama pembelajaran berkisar pada penanganan kondisi darurat seperti:

  • Henti Jantung (Cardiac Arrest): Kondisi ketika jantung mendadak berhenti berdetak, menyebabkan pasokan darah dan oksigen ke otak serta organ vital terhenti total.
  • Sistem Code Blue: Kode darurat internal rumah sakit atau instansi yang diaktifkan seketika untuk memanggil tim medis khusus kegawatdaruratan kardiorespirasi.
  • Resusitasi Jantung Paru (RJP / CPR): Rangkaian teknik kompresi dada dan bantuan napas guna mengalirkan darah beroksigen secara buatan ke organ vital.

Pelatihan ini wajib diikuti oleh seluruh unsur civitas hospitalia atau staf instansi—tidak hanya dokter dan perawat, melainkan juga tenaga non-medis seperti staf administrasi, petugas keamanan (security), hingga petugas kebersihan (cleaning service). Pelatihan ini dipandu oleh instruktur tersertifikasi atau dokter spesialis anestesi/kegawatdaruratan yang ahli di bidangnya.

IHT BHD umumnya diselenggarakan di dalam area instansi terkait, seperti di aula utama rumah sakit, puskesmas, atau balai diklat perusahaan guna memastikan seluruh skenario evakuasi dan simulasi terintegrasi langsung dengan kondisi tata ruang tempat kerja sehari-hari.

Pelatihan ini dilaksanakan secara berkala sesuai dengan kalender mutu institusi, terutama sebagai persiapan menghadapi audit akreditasi tahunan atau sebagai program penyegaran (refreshment course) kompetensi karyawan secara rutin setiap tahunnya.

Pelatihan ini sangan krusial karena :

  • Golden Period (Waktu Emas): Kerusakan otak permanen atau kematian dapat terjadi dalam waktu 5 hingga 6 menit jika pasien henti jantung tidak segera mendapatkan pertolongan.
  • Standar Akreditasi: Sertifikasi BHD merupakan syarat mutlak pemenuhan mutu fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Membangun Budaya Keselamatan (Safety Culture): Memastikan setiap individu memiliki keberanian dan refleks tanggap darurat alih-alih panik saat menghadapi korban tidak sadarkan diri.

Pelatihan ini menggabungkan teori dan simulasi praktis langsung menggunakan manekin medis. Praktik lapangan mengikuti alur penanganan baku Chain of Survival:

  1. Safety & Response Check (3A & Cek Kesadaran):
    • Memastikan 3A (Aman diri, Aman lingkungan, Aman pasien).
    • Mengecek respons korban dengan menepuk bahu dan memanggil suara keras, serta memeriksa ada tidaknya napas normal.
  2. Aktivasi Bantuan / Code Blue:
    • Jika di rumah sakit, segera aktifkan Code Blue melalui telepon darurat internal, atau hubungi nomor darurat 119 jika di fasilitas umum
  3. Pelaksanaan CPR / RJP Berkualitas Tinggi (High-Quality CPR):
    • Kompresi Dada: Dilakukan di tengah dada dengan kedalaman 5 hingga 6 cm (untuk orang dewasa).
    • Kecepatan Kompresi: Ritme stabil antara 100 hingga 120 kali per menit.
    • Recoil Sempurna: Berikan kesempatan dada mengembang kembali secara penuh di setiap tekanan.
    • Rasio Bantuan: Menerapkan siklus kompresi dan ventilasi napas buatan sesuai protokol (contohnya 30 kali kompresi berbanding 2 kali tiupan napas/ventilasi).
  4. Evaluasi dan Penggunaan AED: Mengintegrasikan alat Automated External Defibrillator (AED) jika alat tersebut telah tersedia di lokasi kejadian.

Catatan Penting: Keberhasilan resusitasi sangat bergantung pada kecepatan tindakan awal penolong. Melalui simulasi langsung di dalam IHT BHD, otot dan mental peserta dilatih terlatih merespons secara otomatis demi menyelamatkan nyawa sesama.

Sosialisasi Standar Akreditasi untuk Pelayanan Prima di Rumah Sakit Paru Respira

Selasa (11/08/2026) Komitmen terhadap mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien terus ditingkatkan oleh Rumah Sakit Paru Respira Sebagai langkah nyata dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, manajemen Rumah Sakit Paru Respira belum lama ini menggelar kegiatan Sosialisasi Standar Akreditasi Rumah Sakit.

Kegiatan strategis ini dirancang untuk memperkuat pemahaman seluruh pegawai terhadap instrumen akreditasi terbaru, sekaligus menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Pelayanan Prima (Service Excellence) di seluruh unit kerja rumah sakit.

Sosialisasi Standar Akreditasi Rumah Sakit yang berfokus pada implementasi mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Program ini mencakup pemahaman mendalam mengenai pemenuhan elemen penilaian akreditasi, mulai dari tata kelola rumah sakit, manajemen fasilitas, hingga peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien (PMKP).

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh jajaran manajemen, tenaga medis (dokter dan perawat), tenaga kesehatan penunjang, hingga staf administrasi dan pelayanan umum di lingkungan Rumah Sakit Paru Respira. Keterlibatan lintas profesi ini memastikan bahwa standar akreditasi dipahami dan dijalankan secara kolaboratif oleh seluruh elemen rumah sakit.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari agenda rutin berkala rumah sakit untuk memastikan kesiapan institusi dalam menghadapi evaluasi mutu berkelanjutan serta menjaga konsistensi standar operasional prosedur (SOP) harian.

Sosialisasi dilaksanakan melalui metode kombinasi, mulai dari pemaparan materi oleh narasumber ahli mutu rumah sakit, diskusi kelompok terpumpun (FGD), hingga evaluasi pemahaman melalui simulasi pelayanan di masing-masing unit kerja.

Setiap kepala unit dan penanggung jawab pelayanan diwajibkan untuk menerjemahkan standar akreditasi ke dalam bentuk panduan operasional praktis yang dapat langsung diaplikasikan dalam melayani pasien sehari-hari.

Komitmen Berkelanjutan Rumah Sakit Paru Respira

Melalui kegiatan sosialisasi standar akreditasi ini, Rumah Sakit Paru Respira optimis dapat terus menghadirkan pelayanan kesehatan paru yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia secara berkesinambungan menjadi kunci utama bagi RS Paru Respira untuk senantiasa menjadi fasilitas kesehatan rujukan yang tepercaya di Yogyakarta dan sekitarnya.