Tips Menjaga Paru-Paru Tetap Sehat di Musim Kemarau
Penulis : Ayesha Amanda Larasati (Mahasiswa PKL – D!V Promkes UNY)
Editor : Shukhalita Swasti A.,S.KM
Musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering di sejumlah
wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak
musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli-September 2026.
Musim kemarau ditandai dengan kondisi cuaca yang lebih kering, minimnya curah hujan, serta
pergerakan udara yang cenderung melambat. Kondisi ini menyebabkan polutan lebih mudah
terakumulasi di atmosfer.
Namun, musim kemarau tidak hanya identik dengan cuaca panas. Musim kemarau yang panjang
kerap disertai peningkatan konsentrasi debu dan partikel polutan di udara, sementara kualitas udara
merupakan salah satu komponen lingkungan yang sangat menentukan derajat kesehatan
masyarakat. Pencemaran udara akibat aktivitas manusia seperti transportasi bermotor, kegiatan
industri, pembangunan perkotaan, serta pembakaran bahan bakar dan limbah secara terbuka, yang
mana telah menyebabkan penurunan kualitas udara di berbagai wilayah.
Penurunan kualitas udara tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada
anak-anak yang sistem pernapasannya masih berkembang dan cenderung lebih sensitif
dibandingkan orang dewasa. Paparan debu berlebih dapat menyebabkan iritasi saluran napas,
memperburuk asma dan bronkitis, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA).
Dampak polusi udara tidak berhenti pada keluhan sesaat. Paparan yang berlangsung terus-menerus
dapat menyebabkan perubahan fungsi paru, baik yang masih dapat dipulihkan maupun yang
bersifat permanen. Bahkan, polusi udara juga berisiko memengaruhi kesehatan jantung.
Sejumlah faktor risiko dapat memperberat dampak polusi udara terhadap kesehatan, di antaranya:
- Usia balita (0-5 tahun)
Paru-paru balita masih dalam tahap perkembangan, dan anak yang lahir prematur memiliki
risiko yang lebih tinggi. - Riwayat alergi atau asma
Debu merupakan salah satu pemicu (trigger) utama serangan asma dan rinitis alergi. - Lokasi tempat tinggal
Tinggal di dekat jalan raya yang tidak beraspal, area konstruksi, atau lahan kosong yang
kering meningkatkan risiko paparan debu. - Kondisi rumah
Rumah dengan ventilasi buruk, karpet tebal, atau gorden yang jarang dibersihkan dapat
menjadi tempat menjebaknya debu. - Kebiasaan merokok
Asap rokok yang bercampur dengan debu menciptakan efek sinergis yang jauh lebih
beracun bagi saluran pernapasan, terutama pada anak.
Berbagai faktor risiko tersebut menegaskan pentingnya menjaga dan mempertahankan kualitas
kesehatan tubuh selama musim kemarau panjang berlangsung. Beberapa langkah yang dapat
dilakukan antara lain:
- Cek kualitas udara secara berkala
- Gunakan masker saat kualitas udara memburuk
- Perbanyak minum air putih serta batasi konsumsi alkohol atau kafein
- Hindari asap rokok dan sumber polusi lainnya
- Kurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara buruk dan tutup ventilasi saat tingkat
polusi tinggi - Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
- Lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus
- Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika muncul keluhan pernapasan
Merujuk pada poin terakhir, penting untuk mengetahui tanda-tanda yang mengharuskan seseorang
segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Jangan tunda untuk memeriksakan ke dokter jika mengalami tanda-tanda berikut:
- Batuk yang menetap lebih dari 2 minggu, terutama jika semakin memberat pada malam
atau pagi hari. - Sesak napas ditandai dengan tarikan dinding dada bagian bawah masuk ke dalam (retraksi),
lubang hidung kembang kempis, atau tampak kesulitan berbicara akibat napas yang
pendek. - Mata merah, bengkak, atau keluar kotoran mata (belek) yang tidak kunjung membaik
meski sudah dibersihkan. - Demam tinggi disertai batuk produktif (berdahak), yang dapat mengindikasikan
pneumonia. - Anak tampak lemas, menolak menyusu atau makan, atau produksi urine berkurang yang
mana merupakan tanda dehidrasi atau infeksi berat. - Sianosis (kebiruan pada bibir atau kuku), kondisi ini gawat darurat dan memerlukan
penanganan segera.
REFERENSI
1. Jannah, R. (2026, 19 Juli). Kemarau ekstrem ancam kesehatan pernapasan. NU Online.
https://www.nu.or.id/nasional/kemarau-ekstrem-ancam-kesehatan-pernapasan-vJ8Xy
2. Media Indonesia. (2026, 26 Juni). Musim kemarau, Bicara Udara luncurkan Knowledge Hub
polusi udara. https://mediaindonesia.com/humaniora/904620/musim-kemarau-bicaraudara-luncurkan-knowledge-hub-polusi-udara
3. Rahmadania, S. R. (2026, 19 Juni). Waspada kemarau panjang di RI, Kemenkes bagikan tips jaga
kesehatan tubuh. detikHealth. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-
8537572/waspada-kemarau-panjang-di-ri-kemenkes-bagikan-tips-jaga-kesehatan-tubuh
4. Rumah Sakit Pusat Pertamina. (2026, 11 Juni). Panduan menjaga kesehatan anak dari polusi debu
musim kemarau. https://rspp.co.id/artikel-detail-1180-Panduan-Menjaga-Kesehatan-Anakdari-Polusi-Debu-Musim-Kemarau.html
5. Najwa, H., Lende, J., Akbar, M., Safa, S., Atfal, B., & Hadiatun, N. (2026). Jurnal Sains Natural
(JSN) Hubungan Kualitas Udara dengan Kejadian ISPA pada Dewasa: Analisis Kluster
Epidemiologi dan Uji Korelasi Biostatistik (The Relationship Between Air Quality and the
Incidence of Acute Respiratory Infections (ARI) in Adults: Epidemiological Cluster
Analysis and Biostatistical Correlation Test). Agustus, (2). https://doi.org/10.35746/v4i2.970
