Berita

Semarakkan HUT RI ke-81, RS Paru Respira Bagikan Bendera Merah Putih untuk Memupuk Semangat Nasionalisme

Bantul — (15/8)Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, RS Paru Respira turut berpartisipasi aktif memeriahkan momentum bersejarah ini melalui aksi pembagian bendera Merah Putih.

Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan komitmen nyata RS Paru Respira dalam menumbuhkan semangat nasionalisme, rasa cinta tanah air, serta mempererat tali persatuan dan kebersamaan di lingkungan rumah sakit maupun masyarakat sekitar.

Pembagian bendera dilakukan secara langsung kepada para pegawai, pengunjung, hingga pasien yang berada di area RS Paru Respira. Suasana kekeluargaan dan antusiasme tampak mewarnai jalannya aksi simpatik tersebut.

Menjaga Semangat Kemerdekaan dan Kebersamaan

Melalui aksi ini, pihak manajemen RS Paru Respira berharap dapat menularkan energi positif dan menginspirasi banyak pihak untuk terus menyemarakkan bulan kemerdekaan.

“Pembagian bendera Merah Putih ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ajakan bagi kita semua untuk terus merawat semangat kebangsaan. Kami berharap seluruh pegawai dan masyarakat dapat menyemarakkan peringatan HUT RI ke-81 ini dengan mengibarkan bendera Merah Putih di lingkungan masing-masing,” ujar perwakilan manajemen RS Paru Respira.

Selain memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat, RS Paru Respira berkomitmen untuk terus hadir dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan sosial serta peringatan hari besar nasional demi menjaga rasa persatuan bangsa.

Merdeka!

Strategi Komprehensif Penanggulangan TBC: RS Paru Respira Perkuat Perubahan Diagnosis, Terapi, hingga Edukasi Pasien

Amarta (15/08/2026) — Sebagai upaya mendukung percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC), Rumah Sakit (RS) Paru Respira menggelar kegiatan sosialisasi mendalam mengenai penatalaksanaan TBC terkini. Acara ini dihadiri oleh tenaga medis, pemerhati kesehatan, serta masyarakat guna menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas layanan penanganan TBC di fasilitas kesehatan.

Penanggulangan TBC memerlukan langkah komprehensif mulai dari akurasi diagnosis, penanganan efek samping obat, edukasi psikososial pasien, hingga tata laksana khusus pada pasien dengan kondisi penyerta seperti HIV.

Sosialisasi ini berfokus pada percepatan penanggulangan TBC dengan mengupas tuntas empat pilar utama penanganan TBC modern, yang meliputi:

  • Perubahan Penegakan Diagnosis dan Terapi TBC Sensitif Obat (SO) & Resisten Obat (RO): Membahas pembaruan standar pemeriksaan agar diagnosis lebih cepat dan akurat serta pemilihan rejimen terapi yang tepat.
  • Manajemen Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT): Memberikan panduan praktis mengenali dan mengatasi berbagai efek samping obat selama masa pengobatan.
  • Edukasi Pasien TB: Strategi komunikasi terapeutik dan pendampingan psikososial untuk memastikan pasien patuh berobat hingga sembuh.
  • Penatalaksanaan TBC pada Koinfeksi HIV: Panduan klinis penanganan pasien yang mengalami TBC sekaligus HIV secara bersamaan guna menekan angka morbiditas dan mortalitas.

Acara ini menghadirkan para pakar klinis dan tenaga kesehatan profesional dari RS Paru Respira yang ahli di bidangnya masing-undang:

  • dr. Ramaniya Kirana, Sp.P — Memaparkan materi mengenai Perubahan Penegakan Diagnosis dan Terapi TBC SO dan TBC RO.
  • dr. Diana Septiyanti, Sp.P — Menjelaskan materi seputar Efek Samping OAT dan Penanganannya.
  • Atikah Rasa Fauzia, S.Kep.Ns — Membawakan sesi penting mengenai Edukasi Pasien TB dari sudut pandang keperawatan.
  • dr. Dian Fitria Kusumawardani, Sp.PD — Mengupas tuntas Penatalaksanaan TBC pada HIV berdasarkan pedoman medis terbaru.

Kegiatan sosialisasi ini dilangsungkan sebagai bagian dari program berkala RS Paru Respira dalam rangka memperkuat jejaring layanan kesehatan paru di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya guna mencapai target eliminasi TBC nasional.

Sosialisasi diselenggarakan di RS Paru Respira, sebuah rumah sakit rujukan terkemuka yang berkomitmen penuh dalam pelayanan kesehatan paru dan pernapasan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penerapan materi dari para narasumber dijabarkan melalui langkah-langkah taktis berikut:

  • Akurasi & Kecepatan Diagnosis (dr. Ramaniya Kirana, Sp.P): Peralihan menuju metode deteksi dini yang lebih sensitif (seperti Tes Cepat Molekuler/TCM) menjadi kunci utama untuk membedakan secara cepat antara TBC Sensitif Obat dan TBC Resisten Obat demi pemilihan terapi yang tepat sasaran.
  • Mitigasi Efek Samping (dr. Diana Septiyanti, Sp.P): Pasien dibekali pemahaman mengenai efek samping ringan hingga berat dari OAT (seperti gangguan lambung atau perubahan warna urine), disertai langkah penanganan medis yang tepat agar pasien tidak panik dan memutuskan menghentikan pengobatan secara sepihak.
  • Pendekatan Edukasi Holistik (Atikah Rasa Fauzia, S.Kep.Ns): Peran perawat sangat vital dalam memberikan dukungan moril, memastikan keteraturan minum obat melalui Pengawas Menelan Obat (PMO), serta memberikan edukasi pencegahan penularan di lingkungan rumah tangga.
  • Integrasi Terapi Koinfeksi (dr. Dian Fitria Kusumawardani, Sp.PD): Penanganan pasien TBC dengan HIV memerlukan sinkronisasi pengobatan Antiretroviral (ARV) dan OAT secara hati-hati untuk meminimalkan risiko interaksi obat serta efek simpang (rebound inflamasi).

Catatan Penting: Keberhasilan penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada kecanggihan medis di rumah sakit, melainkan juga sinergi yang kuat antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan lingkungan sosial untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia Bebas TBC.

Penguatan Mutu Layanan Kesehatan: Mengintip Situasi Terkini Penanggulangan TBC RO di DIY Melalui Audit Klinis Kolaboratif

RS Paru Respira Amarta (13/08/2026) . Penanggulangan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) di Indonesia, termasuk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menghadapi tantangan kompleks mulai dari kepatuhan pasien, manajemen efek samping, hingga hambatan psikososial dan stigma. Guna mendongkrak angka keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate) dan mengevaluasi mutu layanan secara komprehensif, sebuah langkah strategis lintas sektor diwujudkan melalui Audit Klinis Layanan TBC RO.

Kegiatan utama yang disoroti adalah Audit Klinis Layanan TBC RO (Tuberkulosis Resistan Obat). Audit klinis ini merupakan proses evaluasi dan peninjauan secara sistematis terhadap rekam medis, tata laksana klinis, kepatuhan pedoman nasional, serta respons pengobatan pasien.

Dalam kerangka penanggulangan TBC RO terkini, fokus utama diarahkan pada penerapan rejimen pengobatan jangka pendek (6 bulan) yang memberikan manfaat lebih baik bagi pasien maupun tenaga kesehatan. Namun, evaluasi mendalam tetap diperlukan guna menekan angka kegagalan dan kasus putus obat (loss to follow-up) yang masih menjadi tantangan di lapangan.

Keberhasilan penanggulangan TBC RO di DIY tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi pentahelix yang melibatkan berbagai unsur penting, antara lain:

  • Tenaga Ahli Klinis Eksternal dari RSUP Dr. Kariadi: Berperan sebagai expert reviewer yang memberikan supervisi, pandangan objektif, serta asistensi klinis tingkat lanjut.
  • Dinas Kesehatan DIY & Dinas Kesehatan Kab. Bantul: Sebagai pemangku kebijakan wilayah yang mengoordinasikan regulasi, sinkronisasi data kohort, dan distribusi logistik layanan kesehatan.
  • Tim TB RO RS Paru Respira DIY: Sebagai garda terdepan fasilitas kesehatan rujukan yang mengelola perawatan langsung bagi pasien TBC RO.
  • Komunitas Siklus Indonesia & Yayasan TERBESAR (Yayasan Penyintas Tuberkulosis Terbesar Yogyakarta): Organisasi berbasis komunitas dan paguyuban penyintas yang memegang peranan krusial dalam memberikan dukungan psikososial, pendampingan minum obat, pelacakan kontak, serta penghapusan stigma bagi pasien TBC RO.

Program dan intervensi audit klinis ini berpusat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta , dengan cakupan implementasi yang menyentuh fasilitas kesehatan rujukan utama seperti RS Paru Respira serta fasyankes pendukung di tingkat kabupaten/kota.

Pelaksanaan audit klinis dan evaluasi kohort TBC RO ini berjalan secara berkesinambungan sepanjang tahun 2025 dan 2026. Mengingat dinamika penanganan kasus yang terus diperbarui menyesuaikan pedoman Kementerian Kesehatan RI, koordinasi rutin antar-fasyankes dan komunitas diadakan secara berkala—baik secara tatap muka maupun hibrida—untuk memastikan tidak ada pasien yang luput dari pantauan medis.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa kegiatan audit klinis dan penguatan jejaring TBC RO ini sangat krusial dilakukan di DIY:

  • Belum Tercapainya Target Keberhasilan Optimal: Meskipun ada perbaikan tren kesehatan, angka keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate) masih harus terus didorong naik guna mencegah mortalitas dan resistensi obat yang lebih parah (Extensively Drug-Resistant TB / XDR-TB).
  • Identifikasi Masalah Dini: Audit klinis bertujuan mendeteksi secara dini kendala klinis maupun hambatan program (seperti manajemen efek samping obat yang berat) agar intervensi dapat segera dieksekusi.
  • Peran Strategis Komunitas: Pasien TBC RO membutuhkan dukungan mental yang kuat. Keterlibatan komunitas seperti Yayasan TERBESAR dan Siklus Indonesia terbukti efektif mencegah pasien drop out (putus berobat) berkat pendekatan humanis dari sesama penyintas.

Penanggulangan TBC RO di DIY dijalankan melalui serangkaian langkah taktis dan terpadu:

  1. Review Rekam Medis Komprehensif: Tim ahli klinis eksternal (RSUP Dr. Kariadi) bersama tim internal RS Paru Respira menelaah riwayat pengobatan pasien, hasil uji kepekaan obat, hingga kecocokan dosis.
  2. Penguatan Jejaring Layanan dan Kohort: Dinkes DIY dan Dinkes Kab. Bantul memperkuat sinkronisasi sistem pencatatan nasional serta memperketat evaluasi kohort berkala.
  3. Pendampingan Berbasis Komunitas: Kader dari Komunitas Siklus Indonesia dan Yayasan TERBESAR mendampingi pasien secara langsung di lapangan, memastikan kepatuhan minum obat (KPMO), serta merangkul keluarga pasien untuk meminimalisir stigma sosial di tengah masyarakat.

Situasi penanggulangan TBC RO di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan progres yang progresif berkat sinergi yang solid antara pemerintah, rumah sakit rujukan, tenaga ahli eksternal, dan gerakan komunitas. Melalui Audit Klinis Layanan TBC RO, mutu pelayanan kesehatan diharapkan terus meningkat, sehingga eliminasi TBC di Yogyakarta pada tahun 2030 bukan lagi sekadar target, melainkan kenyataan yang dapat diwujudkan bersama.

Pelatihan In-House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) ke-4: Kunci Tanggap Darurat Henti Jantung Lewat Simulasi Praktis Pentingnya Kesiapsiagaan Menghadapi Kegawatdaruratan Medis

RS Paru Respira, RuangAmarta (12/08/2026) – Kesehatan dan keselamatan jiwa merupakan prioritas utama di berbagai lingkungan, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan maupun area publik. Henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan menimpa siapa saja tanpa mengenal waktu.

Sebagai langkah taktis dalam meningkatkan mutu keselamatan pasien serta membekali tenaga kerja agar sigap menghadapi situasi krisis, program In-House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) diadakan secara berkala bagi tenaga medis maupun non-medis.

In-House Training Bantuan Hidup Dasar (IHT BHD) adalah program pelatihan internal untuk melatih keterampilan dasar penyelamatan nyawa. Dalam pelatihan ini, fokus utama pembelajaran berkisar pada penanganan kondisi darurat seperti:

  • Henti Jantung (Cardiac Arrest): Kondisi ketika jantung mendadak berhenti berdetak, menyebabkan pasokan darah dan oksigen ke otak serta organ vital terhenti total.
  • Sistem Code Blue: Kode darurat internal rumah sakit atau instansi yang diaktifkan seketika untuk memanggil tim medis khusus kegawatdaruratan kardiorespirasi.
  • Resusitasi Jantung Paru (RJP / CPR): Rangkaian teknik kompresi dada dan bantuan napas guna mengalirkan darah beroksigen secara buatan ke organ vital.

Pelatihan ini wajib diikuti oleh seluruh unsur civitas hospitalia atau staf instansi—tidak hanya dokter dan perawat, melainkan juga tenaga non-medis seperti staf administrasi, petugas keamanan (security), hingga petugas kebersihan (cleaning service). Pelatihan ini dipandu oleh instruktur tersertifikasi atau dokter spesialis anestesi/kegawatdaruratan yang ahli di bidangnya.

IHT BHD umumnya diselenggarakan di dalam area instansi terkait, seperti di aula utama rumah sakit, puskesmas, atau balai diklat perusahaan guna memastikan seluruh skenario evakuasi dan simulasi terintegrasi langsung dengan kondisi tata ruang tempat kerja sehari-hari.

Pelatihan ini dilaksanakan secara berkala sesuai dengan kalender mutu institusi, terutama sebagai persiapan menghadapi audit akreditasi tahunan atau sebagai program penyegaran (refreshment course) kompetensi karyawan secara rutin setiap tahunnya.

Pelatihan ini sangan krusial karena :

  • Golden Period (Waktu Emas): Kerusakan otak permanen atau kematian dapat terjadi dalam waktu 5 hingga 6 menit jika pasien henti jantung tidak segera mendapatkan pertolongan.
  • Standar Akreditasi: Sertifikasi BHD merupakan syarat mutlak pemenuhan mutu fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Membangun Budaya Keselamatan (Safety Culture): Memastikan setiap individu memiliki keberanian dan refleks tanggap darurat alih-alih panik saat menghadapi korban tidak sadarkan diri.

Pelatihan ini menggabungkan teori dan simulasi praktis langsung menggunakan manekin medis. Praktik lapangan mengikuti alur penanganan baku Chain of Survival:

  1. Safety & Response Check (3A & Cek Kesadaran):
    • Memastikan 3A (Aman diri, Aman lingkungan, Aman pasien).
    • Mengecek respons korban dengan menepuk bahu dan memanggil suara keras, serta memeriksa ada tidaknya napas normal.
  2. Aktivasi Bantuan / Code Blue:
    • Jika di rumah sakit, segera aktifkan Code Blue melalui telepon darurat internal, atau hubungi nomor darurat 119 jika di fasilitas umum
  3. Pelaksanaan CPR / RJP Berkualitas Tinggi (High-Quality CPR):
    • Kompresi Dada: Dilakukan di tengah dada dengan kedalaman 5 hingga 6 cm (untuk orang dewasa).
    • Kecepatan Kompresi: Ritme stabil antara 100 hingga 120 kali per menit.
    • Recoil Sempurna: Berikan kesempatan dada mengembang kembali secara penuh di setiap tekanan.
    • Rasio Bantuan: Menerapkan siklus kompresi dan ventilasi napas buatan sesuai protokol (contohnya 30 kali kompresi berbanding 2 kali tiupan napas/ventilasi).
  4. Evaluasi dan Penggunaan AED: Mengintegrasikan alat Automated External Defibrillator (AED) jika alat tersebut telah tersedia di lokasi kejadian.

Catatan Penting: Keberhasilan resusitasi sangat bergantung pada kecepatan tindakan awal penolong. Melalui simulasi langsung di dalam IHT BHD, otot dan mental peserta dilatih terlatih merespons secara otomatis demi menyelamatkan nyawa sesama.

Sosialisasi Standar Akreditasi untuk Pelayanan Prima di Rumah Sakit Paru Respira

Selasa (11/08/2026) Komitmen terhadap mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien terus ditingkatkan oleh Rumah Sakit Paru Respira Sebagai langkah nyata dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, manajemen Rumah Sakit Paru Respira belum lama ini menggelar kegiatan Sosialisasi Standar Akreditasi Rumah Sakit.

Kegiatan strategis ini dirancang untuk memperkuat pemahaman seluruh pegawai terhadap instrumen akreditasi terbaru, sekaligus menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Pelayanan Prima (Service Excellence) di seluruh unit kerja rumah sakit.

Sosialisasi Standar Akreditasi Rumah Sakit yang berfokus pada implementasi mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Program ini mencakup pemahaman mendalam mengenai pemenuhan elemen penilaian akreditasi, mulai dari tata kelola rumah sakit, manajemen fasilitas, hingga peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien (PMKP).

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh jajaran manajemen, tenaga medis (dokter dan perawat), tenaga kesehatan penunjang, hingga staf administrasi dan pelayanan umum di lingkungan Rumah Sakit Paru Respira. Keterlibatan lintas profesi ini memastikan bahwa standar akreditasi dipahami dan dijalankan secara kolaboratif oleh seluruh elemen rumah sakit.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari agenda rutin berkala rumah sakit untuk memastikan kesiapan institusi dalam menghadapi evaluasi mutu berkelanjutan serta menjaga konsistensi standar operasional prosedur (SOP) harian.

Sosialisasi dilaksanakan melalui metode kombinasi, mulai dari pemaparan materi oleh narasumber ahli mutu rumah sakit, diskusi kelompok terpumpun (FGD), hingga evaluasi pemahaman melalui simulasi pelayanan di masing-masing unit kerja.

Setiap kepala unit dan penanggung jawab pelayanan diwajibkan untuk menerjemahkan standar akreditasi ke dalam bentuk panduan operasional praktis yang dapat langsung diaplikasikan dalam melayani pasien sehari-hari.

Komitmen Berkelanjutan Rumah Sakit Paru Respira

Melalui kegiatan sosialisasi standar akreditasi ini, Rumah Sakit Paru Respira optimis dapat terus menghadirkan pelayanan kesehatan paru yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia secara berkesinambungan menjadi kunci utama bagi RS Paru Respira untuk senantiasa menjadi fasilitas kesehatan rujukan yang tepercaya di Yogyakarta dan sekitarnya.

Tingkatkan Kesiapsiagaan Darurat, RS Paru Respira Gelar In House Training Bantuan Hidup Dasar (BHD) 2026

BANTUL – Rumah Sakit Khusus Paru (RSKP) Respira menggelar kegiatan In House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada Senin, 10 Agustus 2026. Mengusung tema “Tingkatkan Pengetahuan, Siap Tanggap, Selamatkan Nyawa”, pelatihan ini berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 13.00 WIB di Ruang Amartha RS Paru Respira.

Kegiatan ini diselenggarakan guna meningkatkan kompetensi, kewaspadaan, serta kesiapsiagaan seluruh jajaran civitas hospitalia dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan medis secara cepat, tepat, dan terukur.

Menghadirkan Narasumber Ahli

Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu:

  1. dr. Nur Ika Anggraini

  2. dr. Amri Hasan Fauzi

Kedua pemateri memberikan pemaparan materi komprehensif sekaligus mendampingi para peserta dalam sesi simulasi dan praktik langsung.

Fokus Materi dan Sesi Praktik

Dalam kegiatan ini, para peserta dibekali materi teori dan keterampilan teknis Bantuan Hidup Dasar yang mencakup:

  • Pengenalan Rantai Kelangsungan Hidup: Pemahaman alur penanganan darurat yang efektif dan sistematis.

  • Penilaian Respons & Pernafasan: Langkah penting awal untuk mengidentifikasi kondisi kritis pasien atau korban.

  • Resusitasi Jantung Paru (RJP / CPR): Praktik teknik High Quality CPR untuk menjaga sirkulasi darah dan oksigen.

  • Penggunaan AED (Automated External Defibrillator): Tata cara pengoperasian alat kejut jantung otomatis.

  • Penanganan Tersedak (Choking): Teknik pertolongan pertama pada sumbatan jalan napas.

Melalui penyelenggaraan IHT BHD ini, RS Paru Respira terus berkomitmen untuk memperkuat kualitas pelayanan medis dan memastikan keselamatan pasien (patient safety) serta pengunjung di lingkungan rumah sakit terjamin secara optimal.

Untuk informasi dan layanan RS Paru Respira, silakan kunjungi website resmi kami di rsprespira atau hubungi WhatsApp Customer Service di 08970377779.

Sukses Tingkatkan Kesiapsiagaan Medis, RS Respira Gelar In-House Training Bantuan Hidup Dasar (IHT BHD)

Yogyakarta, 6 Agustus 2026 — Dalam upaya nyata untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat medis, Rumah Sakit Paru (RS) Respira sukses menyelenggarakan kegiatan In-House Training Bantuan Hidup Dasar (IHT BHD). Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 06 Agustus 2026 ini berjalan dengan lancar, tertib, dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta.

Pelatihan berkala ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan RS Respira dalam memastikan seluruh tenaga medis maupun non-medis selalu siap tanggap dalam memberikan pertolongan pertama yang cepat dan tepat.

Sesi Materi dan Narasumber Ahli

Kegiatan IHT BHD ini menghadirkan narasumber serta instruktur yang kompeten di bidangnya untuk membekali para peserta dengan pengetahuan teoretis sekaligus keterampilan praktis:

  • Materi Code Blue & Henti JantungSesi pemaparan materi utama disampaikan secara mendalam oleh dr. Nur Ika Setyowati Anggraeni. Beliau memaparkan prosedur standar penanganan Code Blue serta langkah-langkah kritis dalam mengenali dan menangani pasien henti jantung di lingkungan fasilitas kesehatan.
  • Simulasi & Praktik RJP/CPRSesi interaktif berupa simulasi dan praktik langsung Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) dipandu secara profesional oleh Paula Sivananda, S.Kep., Ns. Pada sesi ini, para peserta berkesempatan mempraktikkan teknik kompresi dada dan bantuan napas yang benar sesuai standar medis terkini menggunakan alat peraga (manikin).

Komitmen untuk Keselamatan Pasien

Melalui penyelenggaraan pelatihan ini, manajemen RS Respira berharap seluruh civitas hospitalia—baik tenaga medis maupun staf pendukung—semakin terampil, sigap, dan memiliki rasa percaya diri tinggi dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan di area rumah sakit.

Pelatihan berkala seperti ini akan terus rutin dilaksanakan sebagai bagian dari budaya mutu keselamatan pasien (patient safety), demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang prima, cepat, dan berorientasi penuh pada keselamatan jiwa di RS Respira.

Asap Manis, Bahaya Nyata: Membongkar Mitos di BalikVape dan Rokok

Oleh : Nayla Zahra Gusnindy Putri (Mahasiswa PKL DIV Promkes – UNY)

Disunting Oleh : Tim PKRS

Vape sering digambarkan sebagai versi “modern” dan “lebih aman” dari rokok konvensional. Tapi benarkah di balik uap yang beraroma manis, tampilan yang kekinian, dan menarik, serta anggapan bahwa vape lebih aman dibanding rokok konvensional membuat banyak orang beralih. Namun benarkah kedua hal ini berbeda ?

Faktanya, baik rokok konvensional maupun vape sama-sama mengandung zat yang dapat membahayakan tubuh. Meski cara kerjanya berbeda, keduanya tetap dapat meningkatkan risiko gangguan pada paru-paru, jantung, pembuluh darah, hingga organ lainnya. Maka dari itu masyarakat perlu memahami fakta ilmiah mengenai bahaya dari dua produk ini.

Mengenal Vape dan Rokok Konvensional

Vape merupakan perangkat elektronik yang berfungsi memanaskan cairan (e-liquid) hingga menjadi aerosol atau uap yang dihirup pengguna. vape menghasilkan uap (aerosol) dari pemanasan cairan, bukan pembakaran.

Sementara itu, rokok merupakan lintingan atau gulungan tembakau yang digulung / dibungkus dengan kertas, daun, atau kulit jagung, biasanya dihisap seseorang setelah dibakar ujungnya. Rokok konvensional bekerja dengan membakar tembakau. Proses pembakaran ini menghasilkan asap yang mengandung ribuan zat kimia berbahaya.

Mengapa Vape dan Rokok Sama-Sama Berbahaya?

Masih Banyak masyarakat yang terjebak dengan kata “lebih aman” vape dari pada rokok. Padahal paparan jangka panjang terhadap vape maupun rokok membawa risiko nyata bagi hampir seluruh sistem tubuh:

  1. Kesehatan Paru                 : EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury), PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), bronkitis kronis, gangguan fungsi paru, Kanker Paru.
  2. Kesehatan Jantung            : PJK (Penyakit Jantung Koroner), Stroke, Hipertensi
  3. Kesehatan Otak                : gangguan perkembangan otak, kecanduan nikotin
  4. Kesehatan Mulut               : Kanker mulut, kanker tenggorokan,  penyakit gigi dan gusi
  5. Kehamilan                         : Gangguan kehamilan, kelahiran prematur

Kesimpulannya baik rokok maupun vape sama-sama dapat menyebabkan kerusakan serius pada tubuh. Perbedaannya hanya terletak pada seberapa cepat efek tersebut akan muncul.

Kandungan Berbahaya dalam Vape dan Rokok

Rokok dan Vape memilik perbedaan kandungan kimia. Rokok konvensional mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, sedangkan vape mengandung cairan kimia (e-liquid) yang menghasilkan senyawa toksik saat dipanaskan.

ROKOKVAPE
NikotinNikotin
TarPropilen Glikol (PG)
Karbon monoksida (CO)Gliserin Nabati (GN)
AmoniaZat perasa (flavoring)
FormaldehidaFormaldehida
BenzenaAsetaldehida
ArsenikAkrolein
TimbalNikel serta kromium

Meskipun pada vape tidak menghasilkan tar, efek jangka panjang dari zat-zat yang lain tetap memiliki potensi merusak paru-paru dan pembuluh darah.

Jangan Mudah Percaya Mitos tentang Vape

Salah satu anggapan yang masih banyak beredar adalah vape hanya menghasilkan uap air sehingga tidak berbahaya. Padahal aerosol yang dihasilkan vape mengandung berbagai zat kimia yang dapat masuk ke dalam paru-paru dan memberikan efek buruk bagi kesehatan.

Selain itu, banyak orang menganggap vape dapat menjadi cara aman untuk berhenti merokok. Pada kenyataannya, penggunaan vape justru dapat mempertahankan ketergantungan terhadap nikotin, bahkan pada sebagian orang menjadi awal munculnya kecanduan .

Langkah Nyata untuk Berhenti

Menghentikan kebiasaan merokok maupun vape memang membutuhkan waktu dan komitmen yang kuat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menghindari situasi yang memicu keinginan merokok, mengurangi konsumsi secara bertahap, memperbanyak aktivitas fisik, serta meminta dukungan dari keluarga dan orang terdekat. Dan bila diperlukan, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan terapi berhenti merokok yang sesuai.

Manfaat yang Menanti Setelah Berhenti

Nikotin memiliki efek kecanduan dan susah untuk mendorong orang untuk berhenti merokok. Namun, mengenali manfaat berhenti merokok bisa menjadi motivasi kuat untuk berhenti.

  1. Daya tahan tubuh meningkat, sehingga mengurangi risiko terkena penyakit
  2. Raut wajah terlihat lebih muda dan segar
  3. Potensi stres berkurang
  4. Gigi terlihat lebih cerah dan bau mulut berkurang
  5. Hasrat seksual dan kesuburan meningkat

Kesimpulan

Baik rokok konvensional maupun vape sama-sama memiliki risiko terhadap kesehatan. Perbedaan bentuk dan cara penggunaannya tidak membuat salah satunya menjadi pilihan aman. Menghindari rokok dan vape merupakan langkah awal untuk menjaga kesehatan paru-paru, jantung, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Referensi

Alodokter. (n.d.). Lebih bahaya rokok atau vape? Ini fakta di baliknya. https://www.alodokter.com/lebih-bahaya-rokok-atau-vape-dan-fakta-dibaliknya

Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Cara berhenti merokok. https://ayosehat.kemkes.go.id/cara-berhenti-merokok

Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Masih kecanduan merokok? Simak tips berhenti merokok berikut. https://ayosehat.kemkes.go.id/masih-kecanduan-merokok-simak-tips-berhenti-merokok-berikut

Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Mengenal bahaya rokok elektrik (vape). https://ayosehat.kemkes.go.id/mengenal-bahaya-rokok-elektrik-vape

Halodoc. (n.d.). Lebih bahaya mana, rokok atau vape? Cek faktanya. https://www.halodoc.com/artikel/lebih-bahaya-mana-rokok-atau-vape-cek-fakta

Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta. (n.d.). Bahaya rokok elektrik (vape) dan pod. https://rsprespira.jogjaprov.go.id/bahayarokokelektrikvapedanpod/

In-House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) RS Paru Respira: Tingkatkan Kesiapsiagaan Melalui Teori dan Praktik Klinis

Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan serta keselamatan pasien, Rumah Sakit Paru Respira secara rutin menyelenggarakan kegiatan In-House Training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD). Pelatihan komprehensif ini dirancang khusus untuk memperbarui pengetahuan (refreshing knowledge) serta mengasah keterampilan seluruh tenaga kesehatan maupun non-kesehatan di lingkungan rumah sakit dalam menghadapi situasi darurat medis.

Pelatihan yang berlangsung interaktif ini menghadirkan narasumber dan instruktur ahli di bidangnya, yang membawakan materi secara sistematis mulai dari pengenalan awal kedaruratan hingga simulasi penanganan secara langsung.

1. Pemahaman Mendalam Mengenai CPR oleh Agung Rejeki, S.Kep., Ns., M.Kep.

Sesi pertama dalam rangkaian IHT BHD ini dibuka oleh Agung Rejeki, yang memaparkan materi inti mengenai Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau Bantuan Hidup Dasar.

Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa kecepatan dan ketepatan tindakan CPR merupakan faktor penentu utama dalam menyelamatkan nyawa pasien yang mengalami henti napas atau henti jantung. Beberapa poin penting yang disampaikan meliputi:

  • Prinsip Chain of Survival (Rantai Kelangsungan Hidup) dalam kegawatdaruratan kardiovaskular.
  • Langkah-langkah penilaian dini (Assessment) kondisi pasien sebelum melakukan tindakan.
  • Teknik kompresi dada (chest compressions) yang efektif, meliputi kedalaman, kecepatan, serta recoil dada yang sempurna guna memastikan aliran darah ke organ vital tetap terjaga.

2. Protap dan Respon Cepat Code Blue oleh dr. Amri Hasan

Materi dilanjutkan dengan topik krusial mengenai manajemen sistem darurat rumah sakit yang dibawakan oleh dr. Amri. Beliau mengupas tuntas pentingnya pengaktifan sistem Code Blue secara cepat dan terkoordinasi.

Dalam paparannya, dr. Amri menjelaskan bahwa Code Blue adalah kode darurat internal yang menandakan adanya pasien yang mengalami henti jantung atau henti napas di area rumah sakit dan memerlukan intervensi tim medis segera. Fokus utama dari materi ini meliputi:

  • Alur komunikasi dan pelaporan saat menemukan pasien tidak sadarkan diri.
  • Pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing anggota Tim Code Blue (mulai dari team leader, pengambil alih kompresi, pemberi ventilasi, hingga pengelola obat dan alat kejut jantung/AED).
  • Pentingnya koordinasi antarunit agar pertolongan darurat (response time) dapat dilakukan dalam hitungan menit.

3. Simulasi Klinis Henti Jantung dan Praktik CPR oleh Aris Andri, S.Kep., Ns.

Sebagai puncak dari rangkaian pelatihan IHT BHD, sesi pelatihan praktik dipandu langsung oleh Aris. Pada sesi ini, seluruh peserta diajak untuk mengaplikasikan teori yang telah didapat secara langsung melalui manekin (phantom) pelatihan.

Praktik ini mensimulasikan skenario nyata penanganan pasien henti jantung, yang mencakup:

  • Teknik pengecekan nadi karotis dan pernapasan dengan benar.
  • Praktik langsung melakukan kompresi dada dan pemberian bantuan napas (rescue breathing) sesuai standar pedoman internasional (American Heart Association / AHA terkini).
  • Penggunaan alat Automated External Defibrillator (AED) secara tepat dan aman.
  • Evaluasi post-praktik untuk memastikan setiap peserta menguasai teknik yang benar guna meminimalisasi kesalahan saat menghadapi situasi kedaruratan yang sesungguhnya di lapangan.

Orientasi Peserta Didik Baru Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Poltekes Kemenkes Surakarta di RS Paru Respira

Senin,03Agustus2026-Memasuki lingkungan klinis yang baru merupakan langkah awal yang krusial bagi setiap peserta didik, baik dokter muda, perawat, maupun tenaga kesehatan lainnya. Pengenalan terhadap lingkungan rumah sakit tidak hanya berfokus pada alur pelayanan medis, tetapi yang paling utama adalah pemahaman mendalam mengenai standar keselamatan pasien, pengelolaan obat, serta kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.

Di RS Paru Respira, pembekalan komprehensif melalui kegiatan Orientasi Peserta Didik Baru dirancang secara khusus untuk membekali tenaga kesehatan masa depan dengan tiga pilar utama rumah sakit: Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Kefarmasian, dan Kewaspadaan Bencana.

1. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI): Benteng Utama Mutu Pelayanan

Sebagai rumah sakit rujukan yang menangani berbagai kasus paru dan pernapasan, penerapan PPI di RS Paru Respira memegang peranan yang sangat vital. Peserta didik dibekali pemahaman bahwa perlindungan terhadap pasien, pengunjung, dan diri sendiri dimulai dari kepatuhan terhadap standar PPI.

  • Lima Momen Kebersihan Tangan (Five Moments for Hand Hygiene): Menjadi disiplin wajib yang harus diterapkan di setiap tindakan klinis guna memutus rantai penularan mikroorganisme.
  • Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang Tepat: Mengingat karakteristik penularan penyakit di fasilitas kesehatan paru, pemilihan dan penggunaan APD (masker N95, gowns, sarung tangan, pelindung mata) disesuaikan secara ketat berdasarkan tingkat risiko paparan dan jenis kewaspadaan (kewaspadaan standar, kontak, droplet, dan airborne).
  • Pengelolaan Limbah Medis dan Non-Medis: Peserta didik dilatih untuk memahami pemilahan sampah medis infeksius, benda tajam, dan limbah umum sesuai regulasi keselamatan lingkungan rumah sakit.

2. Tata Kelola Kefarmasian: Keamanan dan Ketepatan Pengobatan

Aspek kedua yang menjadi fokus utama orientasi adalah sistem pengelolaan dan pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Kesalahan dalam pemberian obat (medication error) adalah hal yang harus dihindari secara mutlak dalam praktik klinis.

  • Prinsip Benar Pemberian Obat: Peserta didik diingatkan kembali untuk selalu menerapkan prinsip keselamatan pasien, yaitu benar pasien, benar obat, benar dosis, benar cara pemberian, benar waktu, dan benar dokumentasi.
  • Peresepan dan Kolaborasi Interprofesional: Memahami alur peresepan elektronik maupun manual, pemahaman tentang obat-obat High Alert (obat dengan kewaspadaan tinggi), serta elektrolit pekat yang memerlukan pengawasan khusus dalam penyimpanan dan penggunaannya.
  • Pelaporan Insiden: Mendorong budaya keselamatan melalui keterbukaan pelaporan jika terjadi nyaris cedera (KNC) atau kejadian tidak diinginkan (KTD) terkait obat, guna melakukan evaluasi perbaikan sistem berkelanjutan.

3. Kewaspadaan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan): Siap Hadapi Krisis

Rumah sakit adalah fasilitas publik yang harus tetap siap siaga menghadapi berbagai potensi kedaruratan, baik yang bersumber dari internal (seperti kebakaran atau kebocoran bahan berbahaya) maupun eksternal (seperti gempa bumi atau wabah massal).

  • Kode Darurat (Emergency Codes): Peserta didik dikenalkan pada sistem kode darurat standar nasional yang berlaku di RS Paru Respira, seperti Code Red (kebakaran), Code Blue (henti jantung pada pasien dewasa/anak), Code Grey (ancaman keamanan), dan Code Black (ancaman bom atau temuan benda mencurigakan).
  • Jurang Evakuasi dan Titik Kumpul: Setiap peserta didik wajib mengetahui jalur evakuasi tercepat dan teraman di area tempat mereka bertugas, serta lokasi titik kumpul (assembly point) evakuasi darurat.
  • Peran dan Tanggung Jawab Saat Bencana: Melalui simulasi dan materi teoretis, peserta didik dibekali pemahaman mengenai peran spesifik mereka dalam struktur Hospital Disaster Plan (HDP) agar penanganan korban dapat berjalan cepat, terstruktur, dan efektif.