Berita

Tingkatkan Keselamatan Pasien, RS Paru Respira Sukses Gelar Kegiatan “Pitstop Praktik PPI” 2026

BANTUL– Sebagai wujud komitmen nyata dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang bermutu, sehat, dan aman bagi seluruh masyarakat, Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta sukses menyelenggarakan kegiatan edukasi interaktif bertajuk “Pitstop Praktik Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)”. Kegiatan yang diikuti oleh para tenaga kesehatan dan petugas rumah sakit ini berlangsung dengan tertib dan dinamis pada Selasa, 23 Juni 2026.

Kegiatan ini diinisiasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat pemahaman serta kedisiplinan seluruh elemen rumah sakit dalam menerapkan prosedur PPI yang benar. Dengan mengusung moto “Bersih, Aman, Selamat”, acara ini menegaskan pentingnya sinergi bersama untuk melindungi pasien, petugas medis, serta lingkungan rumah sakit dari risiko infeksi nosokomial.

Rangkaian Kegiatan dan Pembagian Zona “Pitstop”

Acara diawali dengan persiapan matang dari panitia, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi briefing bersama seluruh peserta yang bertempat di Aula Amarta. Untuk memastikan setiap materi tersampaikan secara mendalam dan aplikatif, simulasi pelaksanaan Pitstop dibagi ke dalam 4 stasiun (zona) utama dengan fokus kompetensi yang berbeda:

  • Pit Stop 1: Hand Hygiene dan Pemakaian APDPetugas kembali diuji dan disegarkan ingatannya mengenai 6 langkah cuci tangan yang benar menurut standar WHO serta prosedur pemasangan dan pelepasan Alat Pelindung Diri (APD) secara steril.
  • Pit Stop 2: Pemilahan Limbah dan Spill KitZona ini berfokus pada ketepatan memilah limbah medis dan non-medis, serta kesigapan dalam menggunakan spill kit untuk menangani tumpahan cairan tubuh atau zat infeksius secara aman.
  • Pit Stop 3: Penyuntikan / Flebotomi yang AmanStasiun yang menekankan aspek patient safety tinggi, melatih kembali teknik pengambilan sampel darah (flebotomi) dan penyuntikan obat guna mencegah terjadinya cedera jarum suntik (needle stick injury).
  • Pit Stop 4: Dekontaminasi Alat Kesehatan Pasca PakaiPeserta mempraktikkan alur pembersihan, disinfeksi, hingga sterilisasi peralatan medis setelah digunakan pada pasien agar siap digunakan kembali dalam kondisi steril.

Untuk memacu adrenalin dan menjaga kedisiplinan waktu layaknya tim balap di area pit stop, jalannya simulasi diatur secara ketat oleh Petugas Timer yang bertindak sebagai penanda waktu mulai, berakhir, hingga momen pergantian stasiun.

Komitmen Pelayanan yang Kuat

Melalui kegiatan penyegaran praktik seperti ini, RS Paru Respira berharap budaya pencegahan infeksi bukan lagi sekadar kewajiban regulasi, melainkan telah menjadi gaya hidup dan prosedur tetap yang melekat pada setiap tindakan medis.

Jemput Bola ke Hargotirto Kokap Kulon Progo: RS Paru Respira Hadirkan Layanan Deteksi Dini TB di Tengah Masyarakat

Kokap Senin 22 Juni 2026, Upaya eliminasi Tuberculosis (TB) terus digencarkan hingga ke pelosok daerah. Sebagai langkah nyata dalam mempercepat penemuan kasus dan memutus rantai penularan, tim medis dari RS Paru Respira melaksanakan kegiatan Active Case Finding (ACF) di Desa Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo.

Kegiatan jemput bola ini merupakan inisiatif strategis untuk mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan jangkauan menuju fasilitas kesehatan primer maupun rujukan.

Mendekatkan Akses, Mempercepat Penanganan

Dalam kegiatan ACF ini, tim RS Paru Respira tidak hanya melakukan edukasi, tetapi juga terjun langsung melakukan pemeriksaan fisik serta skrining gejala kepada warga yang berisiko. Dengan membawa layanan langsung ke desa, diharapkan kasus TB yang selama ini belum terdeteksi atau “tersembunyi” dapat segera ditemukan.

Penemuan kasus secara aktif di tingkat komunitas sangat krusial. Semakin cepat seorang pasien TB ditemukan, semakin cepat pula pengobatan diberikan, sehingga peluang kesembuhan meningkat dan potensi penularan kepada keluarga serta lingkungan sekitar dapat ditekan.

Deteksi Dini: Kunci Utama Melawan TB

Tuberkulosis seringkali disepelekan karena gejalanya yang menyerupai penyakit pernapasan umum. Namun, jangan abaikan sinyal tubuh Anda.

Segera lakukan pemeriksaan jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala berikut:

  • Batuk yang tak kunjung sembuh lebih dari 2 minggu.
  • Batuk berdahak, terkadang disertai bercak darah.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Demam meriang berkepanjangan (terutama pada sore atau malam hari).
  • Keringat dingin di malam hari tanpa aktivitas fisik.
  • Nyeri dada atau sesak napas.

Bersama Memutus Rantai Penularan

Kegiatan di Desa Hargotirto ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara rumah sakit dan masyarakat adalah pondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari TB.

RS Paru Respira mengimbau masyarakat untuk tidak takut atau malu dalam memeriksakan diri. TB bukanlah penyakit kutukan, melainkan penyakit yang bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, disiplin, dan tuntas.

Mari kita jaga kesehatan diri dan orang-orang tercinta. Jika Anda atau keluarga mengalami batuk yang tak kunjung membaik, jangan tunda lagi—segera lakukan pemeriksaan ke puskesmas terdekat atau fasilitas kesehatan terpercaya.

Ingat, deteksi dini adalah langkah paling efektif untuk menyelamatkan nyawa dan menciptakan masa depan yang lebih sehat.Upaya eliminasi Tuberculosis (TB) terus digencarkan hingga ke pelosok daerah. Sebagai langkah nyata dalam mempercepat penemuan kasus dan memutus rantai penularan, tim medis dari RS Paru Respira melaksanakan kegiatan Active Case Finding (ACF) di Desa Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo.

Kegiatan jemput bola ini merupakan inisiatif strategis untuk mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan jangkauan menuju fasilitas kesehatan primer maupun rujukan.

Mendekatkan Akses, Mempercepat Penanganan

Dalam kegiatan ACF ini, tim RS Paru Respira tidak hanya melakukan edukasi, tetapi juga terjun langsung melakukan pemeriksaan fisik serta skrining gejala kepada warga yang berisiko. Dengan membawa layanan langsung ke desa, diharapkan kasus TB yang selama ini belum terdeteksi atau “tersembunyi” dapat segera ditemukan.

Penemuan kasus secara aktif di tingkat komunitas sangat krusial. Semakin cepat seorang pasien TB ditemukan, semakin cepat pula pengobatan diberikan, sehingga peluang kesembuhan meningkat dan potensi penularan kepada keluarga serta lingkungan sekitar dapat ditekan.

Deteksi Dini: Kunci Utama Melawan TB

Tuberkulosis seringkali disepelekan karena gejalanya yang menyerupai penyakit pernapasan umum. Namun, jangan abaikan sinyal tubuh Anda.

Segera lakukan pemeriksaan jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala berikut:

  • Batuk yang tak kunjung sembuh lebih dari 2 minggu.
  • Batuk berdahak, terkadang disertai bercak darah.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Demam meriang berkepanjangan (terutama pada sore atau malam hari).
  • Keringat dingin di malam hari tanpa aktivitas fisik.
  • Nyeri dada atau sesak napas.

Bersama Memutus Rantai Penularan

Kegiatan di Desa Hargotirto ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara rumah sakit dan masyarakat adalah pondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari TB.

RS Paru Respira mengimbau masyarakat untuk tidak takut atau malu dalam memeriksakan diri. TB bukanlah penyakit kutukan, melainkan penyakit yang bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, disiplin, dan tuntas.

Mari kita jaga kesehatan diri dan orang-orang tercinta. Jika Anda atau keluarga mengalami batuk yang tak kunjung membaik, jangan tunda lagi—segera lakukan pemeriksaan ke puskesmas terdekat atau fasilitas kesehatan terpercaya.

Ingat, deteksi dini adalah langkah paling efektif untuk menyelamatkan nyawa dan menciptakan masa depan yang lebih sehat.

Napas Sehat untuk Hidup Berkualitas: Cara Menjaga Kesehatan Paru di Era Modern Mengapa Kesehatan Paru Penting?

Oleh: Susilawati,SKM

Paru-paru merupakan organ vital yang bekerja tanpa henti untuk memasok oksigen ke seluruh tubuh dan membuang karbon dioksida. Setiap hari, paru-paru orang dewasa dapat menghirup lebih dari 10.000 liter udara. Oleh karena itu, menjaga kesehatan paru sangat penting agar tubuh tetap bugar, produktif, dan terhindar dari berbagai penyakit pernapasan.

Di era modern saat ini, kesehatan paru menghadapi berbagai tantangan, seperti polusi udara, paparan asap rokok, kurangnya aktivitas fisik, serta meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk menjaga fungsi paru tetap optimal.

Faktor yang Dapat Mengganggu Kesehatan Paru

1. Merokok dan Paparan Asap Rokok

Merokok merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit paru seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), kanker paru, dan bronkitis kronis. Bahkan perokok pasif juga berisiko mengalami gangguan kesehatan paru akibat menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar.

2. Polusi Udara

Polusi dari kendaraan bermotor, industri, pembakaran sampah, maupun debu dapat masuk ke saluran napas dan menyebabkan iritasi hingga kerusakan paru jika terpapar dalam jangka panjang.

3. Kurangnya Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik yang rendah dapat menurunkan kapasitas paru dan kebugaran tubuh secara keseluruhan.

4. Infeksi Saluran Pernapasan

Penyakit seperti influenza, pneumonia, tuberkulosis (TB), dan COVID-19 dapat memengaruhi fungsi paru, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Cara Menjaga Kesehatan Paru

1. Berhenti Merokok

Berhenti merokok merupakan langkah terbaik untuk melindungi paru-paru. Manfaat berhenti merokok dapat dirasakan sejak beberapa jam pertama dan risiko penyakit paru akan terus menurun seiring waktu.

2. Rutin Berolahraga

Olahraga membantu meningkatkan kapasitas paru dan efisiensi penggunaan oksigen oleh tubuh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150 menit per minggu.

Jenis olahraga yang baik untuk kesehatan paru antara lain:

  • Jalan cepat
  • Bersepeda
  • Jogging
  • Senam
  • Berenang
  • Latihan pernapasan

3. Hindari Paparan Polusi

  • Gunakan masker saat kualitas udara buruk.
  • Hindari aktivitas fisik berat di area dengan polusi tinggi.
  • Tidak membakar sampah sembarangan.
  • Menanam pohon dan menjaga lingkungan tetap hijau.

4. Terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat

  • Rajin mencuci tangan.
  • Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Istirahat yang cukup.

5. Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala

Pemeriksaan kesehatan paru penting dilakukan terutama bagi:

  • Perokok aktif maupun mantan perokok.
  • Individu yang sering terpapar debu atau bahan kimia.
  • Penderita asma atau PPOK.
  • Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan atau sesak napas.

Kenali Tanda Bahaya Gangguan Paru

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami:

  • Batuk lebih dari 2 minggu.
  • Batuk berdarah.
  • Sesak napas yang semakin memberat.
  • Nyeri dada saat bernapas.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Mudah lelah dan aktivitas terganggu.

Deteksi dini dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan dan mencegah komplikasi yang lebih berat.

Peran Masyarakat dalam Menjaga Kesehatan Paru

Menjaga kesehatan paru bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga seluruh masyarakat. Lingkungan yang bebas asap rokok, udara yang bersih, serta budaya hidup aktif merupakan investasi penting untuk kesehatan generasi sekarang dan masa depan.

Mari bersama-sama menjaga kesehatan paru dengan menerapkan gaya hidup sehat, aktif bergerak, dan menghindari faktor risiko penyakit pernapasan. Karena dengan paru yang sehat, kita dapat bernapas lega, beraktivitas optimal, dan menikmati hidup yang lebih berkualitas.

Referensi

  1. World Health Organization (WHO) – Physical Activity Guidelines
  2. World Health Organization (WHO) – Tobacco and Lung Health
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  4. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)

Tingkatkan Mutu Layanan dan Keselamatan Pasien, RS Paru Respira Yogyakarta Gelar In House Training PPI 2026

​BANTUL – Dalam rangka memperkuat komitmen terhadap mutu pelayanan kesehatan serta menjamin keselamatan pasien dan petugas medis, Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta secara resmi menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) bagi seluruh karyawan pada tahun 2026.
​Kegiatan yang menjadi agenda krusial rumah sakit ini dilaksanakan secara komprehensif, memadukan metode penyampaian materi secara teoretis maupun simulasi praktik lapangan. Berdasarkan rencana pelaksanaan, sesi pemberian Teori diselenggarakan pada hari Kamis, 18 Juni 2026, yang dilakukan secara daring memanfaatkan platform Zoom Meeting. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh lini karyawan dapat menyerap landasan keilmuan dan regulasi terbaru seputar PPI secara efektif tanpa mengganggu jalannya pelayanan langsung di rumah sakit.
​Guna memantapkan pemahaman keilmuan yang telah didapatkan, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan sesi Praktik lapangan yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yaitu pada hari Selasa dan Kamis, tanggal 23 dan 25 Juni 2026. Sesi pemantapan psikomotorik ini akan dipusatkan secara luring di Aula Amarta serta area Selasar RS Paru Respira Lantai 3. Pada tahap pelaksanaan ini, para karyawan akan dibekali simulasi langsung mengenai langkah-langkah konkret pencegahan infeksi di lingkungan fasilitas kesehatan. Seluruh rangkaian kegiatan, baik teori maupun praktik, berlangsung secara produktif pada pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB.
​Materi inti dalam pelatihan berkala ini mencakup beberapa pilar utama penanganan infeksi di rumah sakit, di antaranya adalah kepatuhan kebersihan tangan (hand hygiene), penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang standar, manajemen dekontaminasi alat medis, serta tata kelola pemilahan sampah dan limbah medis yang aman bagi lingkungan kerja. Pemilahan sampah biologis dan non-biologis yang tepat menjadi salah satu sorotan utama demi mencegah terjadinya kontaminasi silang di area rumah sakit.
​Penerapan prinsip Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) bukan lagi sekadar pelengkap prosedur administratif, melainkan pilar utama dan budaya kerja yang wajib diinternalisasi oleh setiap insan kesehatan demi mewujudkan keselamatan pasien yang optimal.
​Melalui penyelenggaraan IHT PPI ini, manajemen RS Paru Respira Yogyakarta berharap seluruh karyawan—baik tenaga medis, paramedis, hingga staf penunjang non-medis—memiliki kesiapsiagaan yang tinggi serta standardisasi tindakan yang seragam. Langkah preventif yang konsisten diharapkan mampu menekan risiko infeksi rumah sakit (Healthcare-Associated Infections/HAIs) seminimal mungkin, sekaligus terus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu dan keamanan layanan di RS Paru Respira Yogyakarta

Wujudkan Lingkungan Sekolah Bebas TBC, RS Paru Respira Gelar Penyuluhan SkriningTBC di SLB Pembina Yogyakarta

YOGYAKARTA — Dalam upaya menekan angka penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC) di lingkungan pendidikan, Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menggelar kegiatan penyuluhan, skrining, dan deteksi dini penyakit TBC. Kegiatan edukatif ini dilaksanakan di Aula SLB Pembina Yogyakarta pada Rabu (17/06/2026).

Acara yang mengusung tema “Bersama Mewujudkan Lingkungan Sekolah yang Sehat dan Bebas dari TBC” ini menyasar seluruh elemen penting di sekolah, mulai dari jajaran guru, tenaga kependidikan, hingga orang tua atau wali murid. Kehadiran para peserta ini diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dan mencegah penularan TBC, baik di lingkungan sekolah maupun di dalam keluarga masing-masing.

Kegiatan ini turut didukung penuh oleh Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) serta program TOSS TBC (Temukan TBC, Obati Sampai Sembuh). Melalui program ini, pihak RS Paru Respira menekankan pentingnya empat langkah utama penanganan TBC di masyarakat, yaitu:

  1. Kenali gejalanya: Memahami tanda-tanda awal tubuh terpapar bakteri TBC.
  2. Lakukan skrining: Pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk deteksi dini.
  3. Segera periksa ke fasilitas kesehatan: Mengambil tindakan medis secepatnya jika ditemukan indikasi kuat.
  4. Dukungan kita, kesembuhan bersama: Memberikan motivasi moral dan sosial kepada penderita agar patuh obat.

Pihak penyelenggara juga menekankan tiga poin penting (“INGAT!”) kepada seluruh peserta yang hadir:

  • TBC bisa menyerang siapa saja: Tidak memandang usia maupun status sosial, sehingga kewaspadaan bersama sangat diperlukan.
  • TBC bisa dicegah: Melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta lingkungan yang bersih.
  • TBC bisa disembuhkan: Penyakit ini memiliki harapan sembuh total asalkan dideteksi sejak dini dan diobati secara teratur hingga tuntas.

Melalui slogan “Temukan TBC, Obati Sampai Sembuh!”, RS Paru Respira mengajak seluruh warga sekolah untuk aktif saling menjaga dan tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TBC.

Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai program skrining TBC maupun layanan kesehatan paru, RS Paru Respira menyediakan saluran komunikasi resmi melalui akun Instagram @rsprespira, layanan tanggap WhatsApp di nomor 08970377779, serta kanal edukasi video di YouTube Rs Paru Respira Official.

RS Paru Respira Gelar Pelatihan Preceptorship dan Mentorship

Bantul, 15 Juni 2026 – Dalam upaya terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui pendampingan klinis yang terstandar, RS Paru Respira menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Preceptorship dan Mentorship bagi para pembimbing lahan (preseptor dan mentor).

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah perawat dan tenaga kesehatan senior yang bertugas membimbing mahasiswa praktik serta pegawai baru di lingkungan rumah sakit. Pelatihan ini menjadi langkah strategis RS Paru Respira untuk memastikan proses transfer ilmu, keterampilan, serta penanaman budaya kerja profesional berjalan dengan efektif.

Fokus Pengembangan Kompetensi

Pelatihan ini dirancang untuk membekali para pembimbing dengan teknik-teknik pendampingan yang lebih modern dan suportif. Beberapa materi utama yang disampaikan meliputi:

  • Metode Komunikasi Efektif: Membangun hubungan antara pembimbing dan peserta didik agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif.
  • Teknik Evaluasi Klinis: Memberikan umpan balik yang konstruktif untuk meningkatkan kompetensi klinis praktikan.
  • Peran Preseptor vs. Mentor: Memahami perbedaan peran dalam memberikan dukungan teknis (preceptorship) serta dukungan pengembangan karier dan psikososial (mentorship).
  • Budaya Keselamatan Pasien: Mengintegrasikan standar prosedur operasional rumah sakit ke dalam setiap proses bimbingan.

Pembimbing lahan adalah garda terdepan dalam membentuk profesional medis masa depan. Melalui pelatihan ini, kami berharap para preseptor dan mentor di RS Paru Respira semakin percaya diri dalam membimbing, sehingga kualitas pelayanan kepada pasien tetap terjaga dan terus meningkat,” ujar perwakilan manajemen RS Paru Respira di sela-sela acara.

Dampak Bagi Pelayanan

Dengan selesainya pelatihan ini, RS Paru Respira berkomitmen untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang berkesinambungan. Selain meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat adaptasi pegawai baru dan mahasiswa praktik, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada peningkatan mutu keselamatan pasien di RS Paru Respira.

Kegiatan pelatihan yang berlangsung penuh semangat ini ditutup dengan sesi simulasi kasus, di mana para peserta mempraktikkan langsung strategi bimbingan yang telah dipelajari untuk menghadapi tantangan nyata di lapangan.

Tingkatkan Mutu Layanan, RS Paru Respira Gelar Sosialisasi Hak Pasien, Komunikasi Efektif, dan Manajemen Nyeri

BANTUL, 2 Juni 2026 – Rumah Sakit (RS) Paru Respira Yogyakarta terus berkomitmen dalam mentransformasi mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan pasien. Sebagai langkah nyata, manajemen RS Paru Respira menyelenggarakan rangkaian kegiatan Sosialisasi Hak Pasien dan Keterlibatan Keluarga (HPK), Komunikasi Efektif (KE), serta Manajemen Nyeri bagi seluruh jajaran tenaga medis dan staf rumah sakit.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung di aula pertemuan RS Paru Respira ini bertujuan untuk menyelaraskan persepsi standar akreditasi rumah sakit, sekaligus memastikan setiap pasien mendapatkan hak-haknya secara penuh selama menjalani masa perawatan.

Memperkuat Tiga Pilar Pelayanan Rumah Sakit

Dalam sambutannya, pihak manajemen RS Paru Respira menekankan bahwa integrasi antara kepatuhan terhadap hak pasien, kecakapan komunikasi, dan ketepatan tata laksana nyeri merupakan kunci utama dalam menciptakan patient-centered care (pelayanan yang berfokus pada pasien).

Adapun tiga topik utama yang dibahas dalam sosialisasi intensif ini meliputi:

  • Hak Pasien dan Keterlibatan Keluarga (HPK):Sosialisasi ini mengingatkan kembali pentingnya menghormati privasi pasien, perlindungan terhadap harta benda, hak menolak pengobatan, serta yang tidak kalah penting adalah keterlibatan aktif pihak keluarga dalam proses pengambilan keputusan klinis.
  • Komunikasi Efektif (KE):Para staf medis, mulai dari dokter, perawat, hingga tenaga administrasi, kembali disegarkan mengenai teknik komunikasi efektif, seperti metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) dan Read Back (TBAK) saat melakukan operan tugas maupun verifikasi instruksi medis demi mencegah terjadinya kesalahan fatal (medical error).
  • Manajemen Nyeri:Sebagai rumah sakit khusus yang melayani banyak kasus respirasi kronis dan onkologi paru, pengelolaan rasa nyeri menjadi hal yang sangat krusial. Sosialisasi ini berfokus pada asesmen nyeri secara berkala menggunakan skala terstandar serta intervensi yang cepat dan tepat, baik melalui terapi farmakologi (obat-obatan) maupun non-farmakologi.

Respons Positif dan Komitmen Bersama

Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh para dokter spesialis, perawat, apoteker, hingga garda depan pelayanan seperti petugas pendaftaran. Melalui diskusi interaktif dan simulasi kasus langsung, para peserta diajak untuk mempraktikkan langsung cara penyampaian informasi yang empati kepada keluarga pasien serta penanganan cepat saat pasien mengeluhkan nyeri.

“Pelayanan yang unggul tidak hanya dinilai dari kecanggihan alat medis yang kita miliki, tetapi dari bagaimana kita memanusiakan pasien, mendengarkan keluhan mereka dengan efektif, dan memastikan mereka bebas dari rasa nyeri yang menyiksa,” ujar salah satu perwakilan tim mutu RS Paru Respira di sela-sela acara.

Langkah Strategis Menuju Transformasi Layanan

Pelaksanaan sosialisasi ini juga berjalan beriringan dengan rencana besar pengembangan fasilitas fisik dan penambahan kapasitas layanan yang tengah dipersiapkan oleh RS Paru Respira bersama Kementerian Kesehatan RI.

Dengan diperkuatnya pemahaman staf mengenai HPK, Komunikasi Efektif, dan Manajemen Nyeri, RS Paru Respira optimistis dapat terus menjadi “Sahabat Paru dan Pernapasan Anda” yang tepercaya, aman, dan ramah bagi seluruh masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. (Humas/RSParuRespira)

KONSUMSI MIE INSTAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN

Oleh : Nur Handayani, S.KM

Mie instan merupakan salah satu makanan praktis yang sangat populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kemudahan dalam penyajian, harga yang relatif murah, rasa yang beragam, serta ketersediaannya yang luas membuat mie instan menjadi pilihan makanan favorit bagi berbagai kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, mahasiswa, hingga pekerja dengan aktivitas padat. Dalam kondisi tertentu, mie instan sering dianggap sebagai solusi cepat untuk mengatasi rasa lapar.

Di balik popularitasnya, konsumsi mie instan yang terlalu sering perlu mendapatkan perhatian karena kandungan gizinya belum mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh secara seimbang. Sebagian besar mie instan mengandung karbohidrat dan
natrium dalam jumlah cukup tinggi, namun rendah protein, serat, vitamin, dan mineral. Pola konsumsi yang tidak terkontrol dapat memberikan dampak terhadap kesehatan,baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Kandungan Gizi Mie Instan

  1. Cepat Lapar dan Kurang Kenyang

Kandungan karbohidrat sederhana pada mie instan dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dengan cepat, tetapi juga turun dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat seseorang lebih cepat merasa lapar kembali dibandingkan setelah mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

  • Risiko Kelebihan Berat Badan

Konsumsi mie instan secara berlebihan, terutama tanpa diimbangi aktivitas fisik dan pola makan sehat, dapat memicu kelebihan kalori yang berujung pada peningkatan berat badan dan obesitas.

  • Tekanan Darah Tinggi

Asupan natrium yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko hipertensi. Jika berlangsung terus-menerus, hipertensi dapat memicu komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.

  • Kekurangan Nutrisi

Mie instan tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi harian apabila dikonsumsi sebagai makanan utama secara terus-menerus. Kekurangan protein, vitamin, dan mineral dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, serta menurunnya daya tahan tubuh.

  • Risiko Penyakit Tidak Menular

Pola makan yang tidak seimbang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, penyakit kardiovaskular,dan gangguan metabolisme lainnya.

Cara Mengonsumsi Mie Instan Secara Lebih Sehat


Meskipun memiliki beberapa risiko kesehatan, mie instan tidak harus dihindari sepenuhnya. Konsumsi mie instan masih    dapat dilakukan secara bijak dengan memperhatikan frekuensi dan cara penyajiannya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menambahkan sumber protein seperti telur, ayam, ikan, tahu, atau tempe.
  • Menambahkan sayuran seperti sawi, wortel, kubis, atau bayam agar kandungan serat dan vitaminnya meningkat.
  • Mengurangi penggunaan bumbu instan untuk menekan asupan natrium.
  • Tidak mengonsumsi mie instan terlalu sering atau menjadikannya makanan utama setiap hari.
  • Mengimbangi pola makan dengan konsumsi buah, air putih yang cukup, serta aktivitas fisik teratur.

Kesimpulan


Mie instan merupakan makanan praktis yang digemari masyarakat karena mudah disajikan dan memiliki rasa yang beragam. Namun, kandungan gizinya belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh secara seimbang. Konsumsi mie instan yang terlalu sering dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, seperti cepat lapar, peningkatan berat badan, hipertensi, hingga risiko penyakit tidak menular.

Oleh karena itu, konsumsi mie instan perlu dilakukan secara bijak dengan memperhatikan frekuensi, porsi, dan keseimbangan nutrisi. Penambahan sumber protein dan sayuran dapat membantu meningkatkan kualitas gizi makanan sehingga tubuh tetap memperoleh nutrisi yang dibutuhkan.

Daftar Pustaka

World Health Organization. (2012). Guideline: Sodium Intake for Adults and Children. Geneva: WHO.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kemenkes RI.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. (2023). The Nutrition Source. Boston: Harvard University.

Food and Agriculture Organization. (2019). Healthy Diet Guidelines. Rome: FAO. Almatsier, S. (2019). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Khidmat Peringati Hari Lahir Pancasila, Karyawan RS Paru Respira Teguhkan Semangat Pemersatu dan Perdamaian

​BANTUL – Mengawali bulan Juni dengan semangat kebangsaan, seluruh jajaran manajemen dan karyawan Rumah Sakit Paru Respira melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Upacara yang digelar di halaman utama rumah sakit ini diikuti dengan penuh khidmat oleh jajaran direksi, staf medis, paramedis, serta karyawan non-medis yang sedang tidak dalam jam dinas pelayanan langsung.
​Peringatan tahun ini mengusung tema yang sangat kuat, yaitu “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”. Tema ini menjadi refleksi penting bagi seluruh keluarga besar RS Paru Respira untuk terus merawat persatuan di lingkungan kerja serta menebarkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi akar perdamaian.
​Pancasila sebagai Kompas Pelayanan Kesehatan
​Bertindak sebagai Pembina Upacara, Direktur RS Paru Respira dalam amanatnya menyampaikan bahwa esensi Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan fondasi perdamaian sangat relevan dengan misi kemanusiaan di rumah sakit.
​”Rumah sakit adalah tempat bertemunya berbagai keberagaman, baik dari latar belakang karyawan maupun pasien yang kita layani. Dengan menjadikan Pancasila sebagai fondasi, kita menciptakan lingkungan pelayanan yang harmonis, damai, dan adil tanpa memandang perbedaan. Inilah bentuk nyata kita dalam menjaga persatuan bangsa.”
​Catatan Penting Peringatan Hari Lahir Pancasila di RS Paru Respira:
​Penyemat Pemersatu (Sila Ke-3): Menjaga soliditas dan kolaborasi erat antar-ruangan dan profesi di rumah sakit demi menghadirkan pelayanan kesehatan yang terintegrasi dan prima.
​Fondasi Kemanusiaan dan Perdamaian (Sila Ke-2): Memberikan pelayanan yang inklusif, ramah, dan penuh empati, guna menciptakan rasa aman dan damai bagi setiap pasien dan keluarga yang datang berobat.
​Komitmen Bersama: Menjadikan momentum kesaktian nilai Pancasila untuk menyatukan visi RS Paru Respira dalam menyehatkan masyarakat, khususnya dalam pelayanan kesehatan respirasi.
​Pelayanan Pasien Tetap Berjalan Prima
​Manajemen RS Paru Respira memastikan bahwa pelaksanaan upacara bendera ini sama sekali tidak mengganggu jalannya pelayanan publik. Petugas di area kritikal seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang rawat inap, dan fasilitas intensif tetap bersiaga penuh 24 jam melalui sistem pembagian tugas (shift) yang telah diatur sebelumnya.
​Upacara ditutup dengan doa bersama untuk persatuan bangsa Indonesia, kedamaian dunia, serta kesembuhan bagi seluruh pasien yang sedang menjalani perawatan di RS Paru Respira.
​Selamat Hari Lahir Pancasila 2026. Dari RS Paru Respira untuk Indonesia yang bersatu dan Dunia yang Damai!

Perbandingan Konsumsi Rokok dan Real Food Ditinjau dari Aspek Kesehatan

Oleh : Nur Handayani. SKM

Perilaku konsumsi sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap kondisi kesehatan seseorang, terutama pada kelompok usia muda. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah penggunaan uang dalam jumlah yang sama untuk membeli rokok dibandingkan dengan membeli makanan sehat atau real food. Pilihan ini terlihat sederhana, namun memiliki konsekuensi yang sangat berbeda bagi tubuh dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dengan nominal yang relatif sama, misalnya sekitar Rp30.000, seseorang dapat membeli satu bungkus rokok atau satu porsi makanan bergizi yang terdiri dari karbohidrat, protein, dan sayuran. Perbandingan ini menjadi menarik karena keduanya memberikan dampak yang bertolak belakang terhadap kesehatan.

Rokok diketahui mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, di mana sebagian besar bersifat toksik dan karsinogenik. Zat seperti nikotin, tar, dan karbon monoksida berperan dalam merusak sistem pernapasan, jantung, dan pembuluh darah. Konsumsi rokok secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti kanker paru, penyakit jantung koroner, dan stroke.

Dari sisi fisiologis, nikotin dalam rokok dapat menyebabkan ketergantungan. Efek yang dirasakan seperti relaksasi atau penurunan stres hanyalah sementara, dan justru memperkuat siklus adiksi. Hal ini membuat seseorang cenderung mengulang konsumsi rokok secara terus-menerus.

Sebaliknya, real food merupakan makanan alami yang minim proses dan kaya akan zat gizi. Makanan seperti nasi, sayuran, buah, serta sumber protein seperti ayam, ikan, atau tempe mengandung nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi metabolisme secara optimal.

Dari sisi energi, makanan sehat memberikan asupan kalori yang dapat digunakan tubuh untuk beraktivitas. Karbohidrat menyediakan energi utama, protein berperan dalam perbaikan jaringan, dan lemak sehat mendukung fungsi organ. Berbeda dengan rokok yang tidak memberikan kontribusi energi sama sekali.

Dalam jangka pendek, konsumsi makanan sehat memberikan rasa kenyang, meningkatkan konsentrasi, serta menjaga stabilitas kadar gula darah. Sebaliknya, merokok justru dapat menurunkan kapasitas paru-paru sehingga suplai oksigen ke jaringan tubuh menjadi berkurang. Dalam jangka panjang, kebiasaan merokok berdampak pada penurunan kualitas hidup. Individu yang merokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit degeneratif yang memerlukan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Selain itu, produktivitas kerja juga dapat menurun akibat kondisi kesehatan yang memburuk.

               Sebaliknya, konsumsi makanan sehat secara konsisten dapat meningkatkan kualitas hidup. Tubuh menjadi lebih bugar, sistem imun lebih kuat, dan risiko penyakit menurun. Hal ini berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan secara keseluruhan. Dari perspektif ekonomi, kebiasaan membeli rokok setiap hari merupakan pengeluaran yang tidak memberikan nilai tambah bagi kesehatan. Jika dihitung dalam jangka panjang, biaya yang dikeluarkan untuk rokok dapat mencapai jumlah yang signifikan.

Jika dana tersebut dialihkan untuk membeli makanan sehat, maka hal ini dapat dianggap sebagai investasi kesehatan. Nutrisi yang baik akan membantu mencegah penyakit, sehingga mengurangi biaya pengobatan di masa depan. Generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan gaya hidup sehat. Kesadaran untuk memilih antara konsumsi rokok dan makanan sehat perlu ditanamkan sejak dini agar terbentuk kebiasaan yang baik.

Selain itu, tren gaya hidup sehat saat ini semakin berkembang. Banyak anak muda mulai menyadari pentingnya pola makan seimbang dan aktivitas fisik. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran pola pikir menuju kehidupan yang lebih sehat. Setiap keputusan kecil yang diambil setiap hari, termasuk dalam hal konsumsi, akan membentuk pola hidup jangka panjang. Oleh karena itu, memilih makanan sehat dibandingkan rokok merupakan langkah sederhana namun berdampak besar.

Dengan demikian, perbandingan antara membeli rokok dan real food dengan jumlah uang yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Pilihan terhadap makanan sehat tidak hanya memberikan manfaat bagi tubuh saat ini, tetapi juga menentukan kualitas hidup di masa depan.

Daftar Pustaka

World Health Organization. (2020). WHO Report on the Global Tobacco Epidemic.

Centers for Disease Control and Prevention. (2022). Health Effects of Cigarette Smoking.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Bahaya Merokok bagi Kesehatan.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. (2023). The Nutrition Source.

Food and Agriculture Organization. (2019). Healthy Diet Guidelines.

Gibney, M.J., et al. (2019). Introduction to Human Nutrition. Wiley-Blackwell.