Category: Artikel

Generasi Millenial 4.0 Pahlawan Eliminasi TBC

Oleh: Arifah Budi Nuryani

Generasi millenial yang berdaya saing diharapkan mampu berkontribusi dalam program eliminasi TBC di era industri 4.0. Pada era ini generasi millenial sangat terbuka kesempatannya untuk belajar, berlatih, berinovasi, berimajinasi, berkarya serta berkontribusi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta keikutsertaan dalam pendidikan kesehatan. Generasi millenial yang sangat akrab dengan teknologi dan dunia automasi diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam pembangunan di bidang kesehatan melalui upaya promotif dan preventif  P2 TBC (Pencegahan dan Pengendalian TBC). Generasi millenial ini harus dibekali dengan pendidikan kesehatan dalam hal ini yang berkaitan dengan bahaya TBC agar mampu mendukung keberhasilan program eliminasi TBC.

Sejak era Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, peran serta potensi besar generasi muda telah diakui oleh Presiden Ir. Soekarno. “Beri Aku Sepuluh Pemuda, Niscaya Akan Kuguncangkan Dunia”. Kutipan pidato tersebut menyiratkan pesan yang sangat kuat bahwa pemuda bisa menciptakan perubahan yang sangat besar bagi Bangsa Indonesia. Generasi muda saat ini lebih sering kita kenal dengan istilah generasi millenial. Millenial generation atau generasi millenial, memang tidak memiliki demografi khusus, namun para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun lahir. Penggolongan ke dalam generasi millenial mencakup mereka yang lahir pada tahun 1980 hingga awal tahun 2000-an.

William Strauss dan Neil Howe percaya bahwa setiap generasi mempunyai karakteristik umum yang akan menjadi karakter generasi itu sendiri dengan 4 pola yang berulang. Mereka berhipotesis bahwa generasi millenial akan mirip dengan generasi yang lebih berwawasan sipil dengan empati yang kuat terhadap komunitas lokal dan global. Bangsa Indonesia sangatlah mengharapkan peran generasi millenial untuk menjadi agen perubahan (Agent of Change). Harapan tersebut tercipta mengingat generasi millenial memiliki ide-ide yang selalu segar, pemikiran yang kreatif dan inovatif yang diyakini akan mampu mendorong terjadinya transformasi dunia ini ke arah yang lebih baik melalui berbagai upaya hingga tercipta perubahan dan perkembangan.

Berbicara mengenai generasi millenial mengingatkan pada fakta bonus demografi yang dimiliki Indonesia. Bonus demografi merupakan suatu kondisi struktur penduduk usia produktif sangat besar, sementara  proporsi penduduk yang  tidak produktif  semakin kecil  dan belum banyak. Penduduk tidak produktif merupakan penduduk yang berusia  kurang dari 14 tahun dan di atas 64 tahun. Dilihat dari struktur demografinya, pada tahun 2020-2030 Indonesia berpeluang untuk  mengalami bonus demografi. Negara ini akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif.  Penduduk dengan usia tidak produktif berkurang menjadi 60 juta jiwa. Hal ini berarti bahwa 10 orang usia produktif hanya akan menanggung  3 – 4 orang usia tidak produktif.  Namun, ibarat pedang bermata dua, di samping bonus demografi di Indonesia bisa memberikan dampak positif bagi tujuan pembangunan nasional, dapat juga memberikan dampak negatif pada upaya pembangunan bangsa. Tanpa diiringi sumber daya manusia yang baik, bonus demografi tersebut akan menjadi beban bangsa.

Beban bangsa yang dimaksud satunya ialah beban dalam pencegahan dan pengendalian penyakit. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia menargetkan eliminasi TBC di tahun 2030. Jika negara tidak mempersiapkan diri untuk mengahdapi tantangan besarnya angka kejadian TBC di Indonesia, maka bonus demografi menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat di Indonesia, demikian seperti dikutip dari pernyataan Menteri Kesehatan dr. Nila F. Moeloek bahwa bonus demografi yang diprediksi menjadi generasi emas Indonesia akan berbalik menjadi bencana jika kita tidak bermitra untuk mengakhiri TBC.

Perlu kita ketahui bersama bahwa tuberkulosis atau yang sering kita dengar dengan istilah TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri penyebab TBC cenderung menyerang paru-paru, namun bakteri ini juga mampu menyerang organ lain di tubuh, seperti laring, tulang, selaput otak, ginjal, kelenjar getah bening, serta saluran pencernaan.

Pada tahun 2017  terdapat 1,3 juta kasus kematian akibat TBC dengan HIV negatif, dan sekitar 300.000 kasus kematian akibat TBC dengan HIV posistif. Berdasarkan laporan WHO Global Report pada tahun 2018, insidensi kasus TBC di Indonesia mencapai 842.000 kasus dengan angka kematian mencapai 107.000 kasus. Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan tertinggi ketiga di dunia untuk beban kasus TBC setelah India dan Cina. Risiko penularan TBC dapat dikurangi jika semua pasien TBC dapat ditemukan dan diobati sampai sembuh. Akan tetapi, dewasa ini, Balitbang Kemenkes menemukan bahwa dari 842.000 kasus, baru 53% yang ternotifikasi dan diobati, sisanya belum diobati atau sudah diobati namun belum dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan. Selain itu, TBC kebal obat atau dalam dunia kesehatan dikenal dengan multi drugs resistant TB (MDR TB) serta TBC yang menyerang orang HIV posistif atau TB HIV juga merupakan masalah terkait tuberkulosis yang perlu mendapat perhatian. Estimasi insiden TB HIV sebesar 36.000 kasus, dengan mortalitas 9.400 kasus, sedangkan TB MDR diperkirakan sebanyak 23.000 kasus.

Berikut ini adalah data penyakit TBC dari WHO. Dari ketiga negara dengan angka kejadian TBC terbesar di dunia, yaitu India, China, dan Indonesia. Berdasarkan data tersebut dapat kita lihat bahwa angka kecakupan pengobatan TBC dan angka keberhasilan pengobatan TBC di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Cina bahkan India. Namun begitulah fakta yang terjadi di Indenesia.

Gb 3. Data Penyakit TBC Di Indonesia
Gb 1. Data Penyakit TBC Di China

Gb 2. Data Penyakit TBC Di India

TBC memberikan dampak yang sangat besar terhadap kondisi sosial dan keuangan pasien, keluarga dan masyarakat, yang tentu saja hal ini akan berpengaruh pada kesehatan masyarakat dalam skala nasional maupun global. Sebagian besar infeksi TBC terjadi pada usia produktif antara 15 dan 54 tahun, yang secara langsung akan berpengaruh pada produktivitas penderitanya. Meskipun diagnosis dan pengobatan tuberkulosis gratis, pasien TBC harus menanggung biaya transportasi, akomodasi, gizi dan kerugian akibat ketidakmampuan untuk bekerja yang mengakibatkan kehilangan penghasilan. Beban keuangan yang tinggi dapat menyebabkan pasien tidak mendapatkan diagnosis, tidak memulai pengobatan, bahkan dapat berhenti pengobatan. Kondisi tersebut akan berisiko tinggi menularkan penyakit TBC ke orang lain dan yang lebih fatal lagi dapat berkembang menjadi TBC kebal obat atau Multidrug Resistant TB (MDR-TB).

Beban terbesar dari kerugian yang dialami oleh pasien TBC merupakan dampak dari kehilangan waktu produktif karena kecacatan dan kematian dini. Beban TBC di Indonesia per tahun sebesar Rp. 24,7 Milyar, sedangkan TBC MDR yaitu 5,5 milyar. Dampak kerugian ekonomis akibat penyakit TBC sekitar 130,5 milyar, TB-MDR sebesar 6,2 milyar. Selain itu, TBC juga berdampak pada sektor swasta, seperti pada skala makro dimana suatu korporasi dapat mengalami penurunan produktivitas akibat kematian prematur dan kesakitan yang dialami oleh pekerja karena TBC.

Pemerintah telah mengeluarkan program TOSS TB (Temukan dan Obati Sampai Sembuh) sebagai upaya untuk eliminasi TBC. Namun, upaya promotif dan preventif untuk mengakhiri TBC tetap harus digalakkan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui program pendidikan kesehatan. Prinsip promosi kesehatan yaitu melakukan tindakan promotif dan preventif atau pencegahan sedini mungkin. Tindakan pencegahan TBC yang dilakukan melalui upaya pendidikan kesehatan akan melibatkan kerjasama dari berbagai sektor, termasuk diantaranya yaitu sektor pendidikan.

Peran generasi milenial yang sudah sangat akrab dengan teknologi dapat disalurkan dengan turut serta aktif dalam pencegahan penularan TBC dimulai dari pendidikan kesehatan mengenai TBC sehingga para pemuda millenial menyadari bahwa TBC sangat berbahaya. Pendidikan kesehatan dapat berdampak pada perubahan perilaku sehingga pemuda milenial dapat turut serta dalam eliminasi TBC 2030.

Dengan dibekali pendidikan kesehatan mengenai TBC, para generasi millenial akan mengetahui hal-hal yang harus dilakukan jika mengetahui jika diri atau keluarga, kerabat, maupun teman mengalami tanda dan gejala penyakit TBC. Jika hal buruk (seperti tertular TBC) terjadi, maka dapat segera memeriksakan diri di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Begitu pula motivasi untuk sembuh lebih mungkin untuk meningkat jika para millenial sudah memiliki pengetauan tentang TBC, sebab artinya mereka dapat menjadi penyemangat agar penderita TBC tidak mengalami putus obat, yang berakibat pada berkembangnya kasus TBC menjadi TBC kebal obat. Dan yang lebih berbahaya lagi, bahwa penderita TBC yang tidak terobati secara tuntas akan tetap memungkinkan untuk menular pada orang lain.

Pendidikan kesehatan tantang TBC juga dapat dilakukan melalui berbagai aplikasi berbasis android, seperti misalnya TBpedia, sembuh TB, bye TB, yang tidak hanya memuat informasi mengenai penyakit TBC namun juga dilengkapi dengan fitur pengingat untuk minum obat TBC. Tidak menutup kemungkinan, jika para generasi millenial juga dapat menunjukkan karya dan inovasi seperti menciptakan berbagai aplikasi yang lebih baik daripada beberapa aplikasi tersebut untuk mendukung eliminasi TBC.

Sudah saatnya kita para pemuda, generasi millenial menyadari bahaya TBC. Kita harus menyadari bahwa siapapun berisiko untuk tertular TBC karena TBC tidak mengenal gender, usia, jabatan maupun pekerjaan kita. Buka mata dan bangun dari mimpi panjang bahwa stigma TBC hanya menyerang orang kalangan menengah ke bawah. Bukan waktunya lagi untuk bersantai-santai dalam menghadapi bahaya TBC. Mari kita ubah mindset kita menjadi paradigma sehat. Memang tidak mudah untuk mengatasi masalah pengobatan TBC di Indonesia, tetapi kita bisa bersama-sama mengambil langkah promotif dan preventif untuk mencegah penularan TBC. Mulailah dari sekarang untuk kita berperan aktif menyadarkan orang-orang di sekitar kita tentang bahaya TBC. Bersama-sama kita bisa mencegah penularan TBC. Kita harus membuktikan bahwa generasi millenial mampu mengguncangkan Indonesia dengan mewujudkan Indonesia bebas TBC dan program eliminasi TBC 2030 bukan hanya sekadar impian. Dimulai dari diri kita sendiri, karena kita semua berisiko. Menjadi pahlawan tak hanya harus menenteng senjata di medan perang, tetapi menyukseskan program eliminasi TBC juga dapat menjadi pahlawan bagi banyak orang. Bersama generasi millenial 4.0, Indonesia bebas TBC.

Daftar Pustaka

Aji, Purnama Tirta. 2019. Peran Generasi Millenial Bagi NKRI. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia:  https://setkab.go.id/peran-generasi-milenial-bagi-nkri-2/. Diakses pada 8 September 2019.

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI. 2018. Kerjasama Mulisektor untuk Menurunkan Stunting dan Eliminasi TB. http://www.depkes.go.id/article/print/18112300002/kerjasama-multi-sektor-untuk-menurunkan-stunting-dan-eliminasi-tb.html. Diakses pada 10 September 2019.

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI. 2019. Sektor Swasta Upayakan Model Baru Atasi TBC. http://www.depkes.go.id/article/view/19080400001/sektor-swasta-upayakan-model-baru-atasi-tbc.html. Diakses pada 8 September 2019.

Handayani, Nur. 2019. Mensana Informasi Kesehatan dan Media Sehat. Yogyakarta: Dinas Kesehatan DIY.

Media Indonesia. 2019. Eliminasi Tuberkulosis 2030 Perlu Sinergi Lintas Sektor. https://mediaindonesia.com/read/detail/254412-eliminasi-tuberkulosis-2030-perlu-sinergi-lintas-sektor. Diakses pada 9 September 2019.

Moeloek. Nila F. 2016. Bonus Demografi dan Investasi Pembangunan Kesehatan dan Gizi. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20161028/2318577/bonus-demografi-dan-investasi-pada-pembangunan-kesehatan-dab-gizi/. Diakses pada 9 September 2019.

WHO. 2018. Global Tuberculosis Report 2018. https://www.who.int/tb/publications/global_report/en/. Diakses pada 10 September 2019.

FISIOTERAPI DADA PADA ANAK ANAK

Oleh : Prayitno.S.ST.Ftr

Pada tulisan sebelumnya telah kami sampaikan mengenai tehnik – tehnik terapi untuk mengeluarkan dahak yang dapat diterapkan pada orang dewasa. Bagaimana dengan penanganan fisioterapi dada pada anak anak?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka pada pembahasan kali ini akan kami fokuskan kepada bagaimanakah teknik fisioterapi dada untuk anak anak terutama usia dibawah tiga tahun yang belum dapat mengeluarkan dahak sendiri.

Banyaknya anak dibawah lima tahun yang mengalami / terkena penyakit paru yang dapat kami lihat dari kunjungan Poli Anak RSP Respira yang semakin hari semakin banyak yang berkunjung dan priksa bahkan sampai dirawat, bisa dijadikan sebuah gambaran betapa semakin bertambahnya anak anak yang mengalami penyakit paru. Mengapa demikian? Umumnya penyakit paru menghampiri mereka yang memiliki daya imunitas yang rendah atau sering terpapar oleh polusi yang dapat memudahkan terserang penyakit paru.

Usia anak dibawah lima tahun memiliki kecenderungn daya imunitas yang belum kuat sehingga mudah sekali terserang batuk, flu, demam dll, dampak dari kondisi tersebut menjadikan nafsu makan juga menurun, anak menjadi sulit makan bahkan kadang sampai harus dipaksa untuk makan, yang kemudian diikuti dengan penurunan berat badan, sehingga anak yang terkena penyakit paru biasanya sulit untuk menaikkan berat badannya sebelum kondisi parunya membaik.

Masalah paru pada anak yang sering ditemukan adalah napasnya grok-grok yang menandakan adanya dahak di saluran pernapasan. Dahak tersebut harus dikeluarkan agar tidak menjadikan masalah dikemudian hari. Dahak yang tidak keluar tentunya dapat mengakibatkan pemburukan kondisi keluhan batuk akan mnejadi lebih sering, bahkan kadang disertai sesak napas dampaknya anak menjadi lemah dan tidak ada nafsu makan, yang pada akhirnya dapat menurunkan berat badan bahkan bila terjadi dalam jangka panjang dapat menjadikan adanya gangguan pada tumbuh kembangnya.

Fisioterapi dada pada anak ditujukan untuk meningkatkan pengeluaran mukus diantaranya menggunakan teknik postural drainage, perkusi / vibrasi / tapotemen. Pemberian tindakan fisioterapi dada pada anak sangat sederhana dan mudah dilakukan namun diperlukan keberanian dan memahami pemeriksaan auskultasi paru pada pada anak untuk menentukan area paru sisi makan yang banyak dahaknya.

Berikut ini akan kami jelaskan mengenai teknik postural drainage dan tapotemen yang dilakukan untuk membantu mengeluarkan dahak pada anak anak.

  1. Posisioning ( Postural Drainage)

Merupakan teknik yang digunakan dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi, dengan cara paru diposisikan sedemikain rupa untuk mengalirkan dahak dari saluran yang lebih kecil ke saluran yang lebih besar sehingga dahak lebih mudah saat dikeluarkan. Waktu yang digunakan untuk melakukan teknik postural drainge ini adalah 20 – 30 menit/bagian paru. Paru-paru  memiliki banyak cabang perjalanan saluran udara sehingga memiliki banyak posisi dalam melakukan postural drainage. Peralatan yang digunakan pada teknik ini bisa menggunakan bantal dan atau guling.

Berikut posisi postural draiange pada anak anak.

  1. Untuk paru kanan dan kiri bagian atas sisi depan.

anak diposisikan tidur terlentang dan bersandar (45 derajat) pada bantal/ dengan posisi seperti pada gambar

  • Untuk paru paru kanan dan kiri bagian atas sisi belakang

anak diposisikan duduk dengan memeluk guling/ bantal membentuk sudut 45 derajat seperti pada contoh gambar

  • Paru kana dan kiri bagian tengah sisi depan

Pada posisi ini anak cukup dengan tidur terlentang

  • Paru bagian tengah sisi belakang

anak diposisikan tidur tengkurap beralaskan bantal atau guling seperti gambar disamping

  • Paru bagian atas sisi kanan belakang

Anak diposisikan tidur tengkura dengan sedikit dimiringkan kerah kanan atau kiri dimana paru yang ada dahaknya diposisikan diatas

            Sedangkan untuk melakukan postural drainage untuk paru bagian bawah anak diposisikan kepala berada di bawah dan dilakukan secara hati hati agar tidak ada keluhan yang menyertai.

  • Percusion/Vibrasi/Tapotemen

Merupakan tepukan yang ritmis dan cepat pada area dada yang ditujukan untuk menggetarkan dahak yang ada didalam paru agar dahak lebih cepat mengalir ke saluran paru yang lebih besar. Berikut bentuk telapak tangan saat melakukan tapotemen

Dalam memberikan teknik ini tidak boleh terlalu keras, ritmik, lembut dan tidak menyakitkan bahkan anak bisa tertidur saat di lakukan tepukan ini,  telapak tangan diposisikan seperti mangkuk agar tidak sakit/panas dikulit( seperti tampak pada gamabar),jumlah tepukan yang disarankan adalah 25 kali tiap 10 detik. Dilakukan selama 3 sampai 5 menit perbagian paru yang akan dikeluarkan dahaknya.  Tepukan diberikan pada punggung anak atau dada depan bersamaan dengan posisi postural drainage.

Setelah diberikan tepukan ditambahkan vibrasi/getaran pada rongga dada dengan, dimanan vibrasi diberikan saaat ekspirasi

Membantu mengeluarkan dahak pada anak bisa dilakukan sendiri oleh orang tua sehingga dapat dilakukan sehari dua kali pagi setelah bangun tidur dan sore hari menjelang tidur bahkan bisa dilakukan sewaktu waktu bila mana perlu ( banyak dahak di paru paru).

Silahkan mencoba tips diatas, bila kurang jelas silahkan berkujung ke fisioterapi di RSP Respira.

Sumber :

Jeane A.D and Carole A.Graybill. : Cardiopulmonary physical therapy “ Physical therapy for the child with respiratory dysfunction., second edition, st louis, 1990,Philadelphia.

Sarapan Sehat Langkah Kecil Untuk Hidup Lebih Sehat

By : Nur Handayani, SKM

Sering terburu-buru berangkat beraktifitas dan ga sempat sarapan pagi? Terus saat harus beraktifitas perut berasa “keroncongan”? Atau kepala pusing berkunang-kunang karena kelaparan? Pernah merasakan itu semua? Pada umumnya orang yang melewatkan waktu sarapan pagi, pada waktu sekitar jam 9 atau 10 pagi perut mulai terasa kosong dan muncul rasa lapar. Ada banyak hal sehingga seseorang harus melewatkan waktu sarapan pagi, dari mulai alasan karena tidak ada waktu, bosan dengan menu sarapan yang itu-itu saja hingga alasan takut gemuk. Faktanya saat perut terasa sangat lapar, otak seakan memerintah untuk segera mengisi perut kosong kita. Begitu ada makanan, apapun itu akan kita lahap untuk mengganjal perut kosong. Orang dengan perut kosong menjadi tidak fokus dengan apa yang sedang dikerjakan. Sebenarnya itu manusiawi. Karena memang belum ada “bensin” yang masuk sebagai asupan energi untuk melakukan aktifitas.

            Sarapan merupakan asupan pertama kali setelah berjam-jam tidur di malam hari. Pada kondisi tersebut, gula darah dalam tubuh berada pada level terendah. Saat asupan masuk, organ tubuh langsung merespon. Sari-sari makanan akan beredar sebagai asupan energi yang diperlukan organ tubuh. Energi inilah yang jadi bekal beraktifitas sepanjang hari. Otak akan mudah berkonsentrasi lebih optimal dan kita tidak cepat mengantuk karena telah diisi “bensin”. Hal ini juga pernah diungkap oleh pakar gizi Dr. Leane, M.Sc (Jurnal non Penelitian Pentingnya Sarapan Terhadap Konsentrasi Belajar Siswa di Sekolah – handiqa97.blogspot.co.id)  bahwa sarapan yang memiliki komposisi gizi yang cukup dan seimbang merupakan hal penting sebagai asupan pertama setelah sepanjang malam tidur. Asupan ini menjadi cadangan energi dalam tubuh untuk menunjang aktifitas kita. Sarapan memasok kebutuhan energi cukup besar yaitu sekitar 35% kebutuhan energi. Jika pola makan sehari empat kali, sarapan memasok 25 kebutuhan energi.

Bagi para ibu di seluruh Indonesia, perlu dipahami bahwa sarapan penting sekali untuk bekal anak sekolah melakukan aktifitasnya. Anak yang memiliki sarapan pagi yang sehat, akan lebih siap menerima pelajaran, lebih mudah fokus, lebih bersemangat dan tidak lesu, daya tangkap pelajaran lebih optimal, kebutuhan untuk tumbuh kembang anak akan lebih baik, anak cenderung lebih sehat dan tentunya tidak akan mudah jajan sembarangan karena perut dalam kondisi terisi asupan makanan. Hal ini pernah disampaikan dalam International Journal of Food Science and Nutrition (dicuplik pada www.nestlenutrition-institute.org) dimana telah dilakukan penelitian di Eropa yang dilakukan pada anak Cypriot disimpulkan bahwa pemilihan jenis sarapan setiap pagi dapat memberikan pengaruh langsung pada berat badan anak dan kesehatan secara keseluruhan. Salah satu hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa pada beberapa sampel anak perempuan yang terbiasa sarapan pagi cenderung memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih rendah, kadar kolesterol dan tekanan darah diastole juga rendah.   

Selain berpengaruh terhadap daya tangkap otak, sarapan juga berkontribusi terhadap berkurangnya resiko diabetes. Orang yang menikmati sarapan pagi, gula darah dan insulin dalam tubuh mengalami peningkatan secara lambat. Sehingga gula darah tidak berada pada level yang tinggi dan hanya ada sedikit insulin dalam tubuh.  Orang dengan sarapan pagi, produksi enzim kolesterol berkurang, sehingga mendorong jantung bekerja secara normal. Resiko penyakit jantung juga berkurang. Untuk Anda yang melewatkan sarapan pagi hanya karena takut gemuk, mungkin akan ragu-ragu ketika akan sarapan. Ada beberapa penelitian memaparkan bahwa dengan sarapan pagi, akan membantu program diet dan menjaga berat badan kita. Secara umum, saat kita tidak sarapan, di waktu sekitar pukul 9 atau 10 pagi, perut memberi “sign” bahwa lapar. Akibatnya saat melihat makanan menjadi “over” atau berlebihan. Kemudian muncul kecenderungan kita lebih gampang memilih permen, makanan camilan tidak sehat atau minuman ringan untuk mengisi perut.  Inilah yang menjadikan pencernaan tidak sehat bahkan berat badan menjadi bertambah. Coba bayangkan, bila kita mengkonsumsi sarapan pagi yang sehat. Kita berada pada kondisi kenyang lebih lama atau dengan kata lain, menunda lapar lebih lama hingga waktu makan siang. Dan pada saat makan siangpun kita akan lebih bijak untuk memilih jenis makanan yang akan kita konsumsi. Hal ini juga senada yang diungkapkan oleh Tanya Zuckerbrot, R.D. ahli nutrisi penulis buku The F-Factor Diet (Kompas, 20 April 2011), dimana sarapan pagi yang sehat dapat meningkatkan metabolisme sehingga pembakaran kalori sepanjang hari lebih efisien. Sarapan dengan karbohidrat kompleks yang mengandung serat tinggi dan rendah gula akan dicerna dengan lambat, sehingga menyediakan energi yang konstan dan membuat Anda tidak cepat lapar.             

Apakah Anda tahu kalau sarapan pagi bisa menjaga mood kita? Saat perut kosong dengan beban pekerjaan yang banyak tentu mendorong kita cepat stress. Namun, bila kondisi sudah sarapan, otak mendapat energi untuk bisa berkonsentrasi tanpa terpikir oleh kita rasa lapar, kita jauh lebih siap menjalani beban pekerjaan yang ada, mood jadi terjaga. Ternyata kalau kita uraikan ada banyak manfaat sarapan. Lalu sarapan seperti apa yang dapat menunjang hidup lebih sehat?

Agar hidup sehat, terapkan pola sarapan yang sehat. Lakukan sarapan sebelum jam 9 pagi, pilih sarapan yang rendah lemak, hindari daging-dagingan. Sayur dan buah-buahan yang mengandung serat adalah menu bagus untuk sarapan. Makanan yang tinggi protein seperti telur dan susu adalah makanan yang baik dikonsumsi untuk sarapan pagi. Hindari makan nasi terlalu banyak. Bila perlu konsumsi beras merah.  Beberapa makanan sehat yang bisa dikonsumsi saat sarapan antara lain, sayuran, buah-buahan, susu, telur, roti gandum, oatmeal, atau sedikit nasi dengan kombinasi sayuran. Berdasar pengalaman pribadi, pilihan buah sebagai sarapan dapat menunda lapar lebih lama. Dan pada saat makan siang, kita cenderung memilih menu makanan yang tidak sembarangan dan tidak “over” saat menyantapnya. Badan terasa lebih enteng. Intinya kita harus pilih menu makanan sarapan yang sehat.  Kandungan asupan sarapan pagi yang sehat akan menjadi nutrisi pertama setelah bangun tidur untuk mengawali hidup sehat Anda dan energi yang akan menopang aktifitas Anda sepanjang hari. Yuk Mulai biasakan sarapan sehat setiap pagi agar hidup kita lebih sehat

DAFTAR PUSTAKA

  1. Pentingnya Manfaat Sarapan Pagi yang Tak Boleh Diabaikan. http://mediskus.com
  2. 7 Manfaat Sarapan Pagi Bagi Kesehatan. http://manfaat.co.id tanggal 4 Agustus 2014
  3. Manfaat Sarapan Pagi bagi Kesehatan dan Kecerdasan Otak. http://www.metodesehat.com
  4. Minudin, Handiqa. Jurnal Non Penelitian Pentingnya Sarapan Terhadap Konsentrasi Belajar Siswa Di Sekolah. http://handiqa97.blogspot.co.id Desember 2015
  5. Pentingnya Sarapan. http://www.kompasiana.com tanggal 27 Januari 2015
  6. Erlina. Mengapa Makan Pagi (Sarapan) Sangat Penting?  http://www.kolomsehat.com
  7. Nofirna, Dina. Pentingnya Terhadap Konsentrasi Belajar Siswa di Sekolah. https://www.slideshare.net
  8. Maria Mexitalia, Hendriani Selina, Mohammad Syarofil Anam, Aya Yoshimura, Taro Yamauchi, Nurkukuh, Bambang Hariyana. Jurnal Gizi Klinik Indonesia : Perbedaan status gizi, kesegaran jasmani, dan kualitas hidup anak sekolah di pedesaan dan perkotaan.  http://www.ijcn.or.id Tanggal 4 April 2012
  9. 4 Alasan Harus Makan Pagi. http://lifestyle.kompas.com tanggal 20 April 2011